Halaman

“Kami adalah The Voice of Truth — berdiri atas kebenaran Kristus

Bermakna bahwa setiap suara, ajaran, dan langkah kami berpijak hanya pada kebenaran yang berasal dari Kristus, bukan dari pendapat manusia.

Kebenaran yang Ditanam di Awal Penciptaan

Sejak di taman Eden, Tuhan tidak hanya menciptakan manusia untuk hidup, tetapi juga untuk mengenal; sebab di antara pohon kehidupan dan pohon pengetahuan, Ia meletakkan pilihan moral yang melahirkan kesadaran akan kebenaran

Kebenaran tidak pernah gugur bersama manusia, sebab Tuhan tetap berdiri sebagai sumbernya

Kejatuhan manusia tidak menghapus terang kebenaran, karena kebenaran tidak bergantung pada makhluk, tetapi pada Sang Pencipta yang tidak berubah

Ketika nubuat menjadi wujud, maka iman berjumpa dengan bukti; dan dalam pribadi Kristus, bukti itu berbicara melalui kasih dan kebenaran

Menggambarkan bahwa penggenapan nubuatan adalah jembatan antara iman dan realitas yang hidup dalam Kristus.

Konsistensi Tuhan menjemput umat-Nya adalah cermin dari natur Ilahi yang tak berubah; seperti kebenaran, Ia tidak goyah oleh zaman

Filsafat ini menegaskan bahwa ketetapan Tuhan dan kebenaran adalah satu sifat yang sama, kekal dan tidak berubah

Selasa, 06 Januari 2026

DICIPTAKAN UNTUK DITOLONG, DISELAMATKAN UNTUK BERBUAH

Sejak awal keberadaannya, manusia tidak pernah berdiri sebagai entitas otonom. Ia tidak muncul dari dirinya sendiri, tidak menopang dirinya sendiri, dan tidak menuju kepenuhannya oleh kekuatan sendiri. Narasi penciptaan tidak dimulai dengan manusia yang mencari Tuhan, tetapi dengan Tuhan yang memulai manusia. “Berfirmanlah tuhan: Baiklah Kita menjadikan manusia” (Kejadian 1:26). Kalimat ini sendiri sudah menutup semua kemungkinan bahwa manusia adalah proyek mandiri. Manusia adalah hasil keputusan ilahi, bukan inisiatif eksistensial manusia.

    Ketika Adam ditempatkan di taman, Tuhan berkata, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia” (Kejadian 2:18). Di sini ketergantungan manusia dinyatakan bukan sebagai akibat dosa, tetapi sebagai struktur ciptaan. Adam belum jatuh, belum berdosa, belum rusak — namun ia tetap tidak lengkap tanpa penolong. Artinya, ketergantungan bukan kelemahan moral, melainkan hakikat ontologis manusia. Manusia diciptakan bukan untuk cukup dengan dirinya sendiri, melainkan untuk hidup dalam relasi yang ditopang oleh kehendak Tuhan.

    Ketika kejatuhan terjadi (Kejadian 3), ketergantungan itu tidak hilang — justru menjadi mutlak. Jika sebelum jatuh manusia bergantung dalam kemurnian, setelah jatuh ia bergantung dalam ketidakberdayaan. Adam dan hawa tidak mencari pemulihan; mereka bersembunyi. Mereka tidak meminta keselamatan; mereka menutupi diri. Dan yang paling menentukan: mereka tidak memiliki kapasitas untuk membalikkan keadaan mereka sendiri. Tidak ada doa pertobatan dalam Kejadian 3. Tidak ada pengakuan iman. Yang ada hanyalah inisiatif Tuhan yang mencari: “Di manakah engkau?” (Kejadian 3:9).

    Pertanyaan itu bukanlah permintaan informasi, tetapi pernyataan posisi. Manusia yang jatuh tidak pernah menjadi subjek penyelamatannya sendiri. Sejak semula, keselamatan selalu datang dari luar manusia, bukan dari dalam. Bahkan penutupan ketelanjangan Adam dan hawa pun bukan hasil usaha mereka; Tuhan sendiri yang membuatkan pakaian dari kulit (Kejadian 3:21). Ini bukan sekadar tindakan simbolik, tetapi deklarasi teologis: manusia tidak mampu menutupi akibat dosanya sendiri.

    Pola ini tidak berubah sepanjang sejarah Alkitab. Manusia selalu berada pada posisi membutuhkan penolong, pembebas, penyelamat. “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak” (Roma 3:10). “Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan tuhan” (Roma 3:23). Bahkan kehendak manusia sendiri digambarkan sebagai tidak berdaya: “Sebab keinginan memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik” (Roma 7:18).

    Maka keselamatan, menurut kesaksian Alkitab, bukan hasil kerja sama setara antara Tuhan dan manusia. Keselamatan adalah pekerjaan tunggal Tuhan. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian tuhan; itu bukan hasil pekerjaanmu” (Efesus 2:8–9). Teks ini tidak memberi ruang bagi manusia untuk mengklaim peran kausal dalam keselamatan. Iman pun tidak diposisikan sebagai prestasi manusia, melainkan sebagai sarana penerimaan atas karya Tuhan.

    Namun Alkitab tidak berhenti di sana. Setelah menutup semua pintu bagi kesombongan manusia, teks membuka satu pintu yang benar: buah keselamatan. “Karena kita ini buatan Tuhan, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Tuhan sebelumnya” (Efesus 2:10). Urutannya tidak boleh dibalik. Manusia tidak berbuat baik agar diselamatkan; manusia berbuat baik karena telah diselamatkan. Perbuatan bukan akar, melainkan buah. Bukan sebab, melainkan akibat.

    Di sinilah sering terjadi kekeliruan: manusia mencoba “mengerjakan keselamatan” dalam arti menyempurnakan apa yang tuhan belum selesaikan. Padahal Alkitab tegas: “Sudah selesai” (Yohanes 19:30). Kata tetelestai menunjukkan tindakan final, tuntas, tidak memerlukan tambahan. Maka ketika Paulus berkata, “Kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar” (Filipi 2:12), ia tidak sedang memanggil manusia untuk menyelamatkan diri, melainkan untuk menghidupi keselamatan yang sudah diberikan. Ayat berikutnya menutup semua kemungkinan salah tafsir: “Karena Tuhanlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan” (Filipi 2:13).

    Dengan demikian, seluruh kisah Alkitab bergerak dalam satu garis lurus: dari penciptaan hingga penebusan, manusia selalu berada dalam posisi menerima, bukan memproduksi. Ia menerima hidup, menerima hukum, menerima janji, menerima keselamatan, dan bahkan menerima kemampuan untuk berbuah. Tidak ada satu fase pun di mana manusia berdiri sebagai sumber.

  Jika manusia sejak awal membutuhkan penolong, maka dalam keselamatan ia membutuhkan Penolong yang mutlak. Dan ketika keselamatan itu telah dikerjakan sepenuhnya oleh Tuhan, manusia tidak dipanggil untuk menambahnya, melainkan untuk memancarkannya. Buah-buah kebenaran, kekudusan, dan kasih bukanlah mata uang untuk membeli keselamatan, tetapi tanda bahwa keselamatan itu sungguh telah hadir.

    Dalam terang ini, keselamatan bukan proyek moral, melainkan realitas ontologis baru. Manusia tidak sedang naik ke atas menuju Tuhan; Tuhan telah turun, bertindak, dan menyelesaikan. Dan manusia, seperti sejak awal, tetap berada di tempat yang sama: bergantung, ditopang, dan hidup oleh anugerah.

Haleluyah, Bapa Yesus memberkati kita semua,
—Ps. Christian Moses

Minggu, 04 Januari 2026

SEBELUM TUHAN ADA: KESAKSIAN KITAB SUCI TENTANG SANG ADA

Kitab Suci tidak memulai pengenalannya tentang Tuhan dari gelar, fungsi, atau relasi, melainkan dari keberadaan. Bahkan sebelum bahasa manusia mengenal kategori “Tuhan”, sebelum ciptaan menyediakan ruang bagi relasi penyembahan, sebelum ada waktu untuk menandai awal dan akhir, Kitab Suci secara diam-diam sudah berdiri di atas satu asumsi yang tidak pernah dijelaskan tetapi selalu dihadirkan: ada sesuatu yang ada dengan sendirinya. Bukan karena dipanggil, bukan karena diadakan, bukan karena dibutuhkan—melainkan karena Ia ada.

Ketika Musa bertanya tentang nama, pertanyaan itu lahir dari dunia relasional: manusia membutuhkan nama untuk menunjuk, membedakan, dan mengingat. Namun jawaban yang diterima Musa sama sekali tidak bergerak dalam wilayah itu. “Ehyeh Asher Ehyeh”—“AKU ADALAH AKU” (Keluaran 3:14). Teks Ibrani ini tidak memberi identitas naratif, tidak memberi silsilah, tidak memberi kategori. Ia menolak semua bentuk definisi yang biasa dipakai makhluk. Ia bukan jawaban fungsional, melainkan penyingkapan ontologis.

Di titik ini, Kitab Suci seolah berhenti berbicara dalam bahasa agama, dan mulai berbicara dalam bahasa keberadaan. “AKU ADALAH” bukan nama diri, sebab nama membedakan satu dari yang lain. Tetapi sebelum ada “yang lain”, tidak ada kebuTuhan untuk pembeda. Pernyataan ini menyatakan bahwa yang berbicara tidak berdiri di dalam jaringan sebab–akibat, tidak bergantung pada asal-usul, dan tidak menuju kepada tujuan di luar diri-Nya. Ia tidak mengatakan “Aku adalah Tuhanmu”, sebab relasi itu belum terbangun. Ia mengatakan “Aku ada”, sebab keberadaan-Nya tidak menunggu dunia untuk menjadi nyata.

Kitab Kejadian pun tidak pernah menjelaskan dari mana Ia datang. “Pada mulanya…” (Kejadian 1:1) adalah awal bagi ciptaan, bukan awal bagi Sang Ada. Teks itu tidak berkata “pada mulanya Ia menjadi”, melainkan langsung mengandaikan kehadiran-Nya sebagai subjek tindakan. Dengan demikian, Kitab Suci sejak kalimat pertamanya sudah memisahkan secara tegas antara awal waktu dan keberadaan yang melampaui waktu. Di sinilah istilah “Tuhan” mulai mungkin, sebab hanya setelah ada ciptaan, relasi Pencipta–ciptaan dapat dinamai.

Kesaksian para nabi dan rasul kemudian menggemakan pola yang sama. Dalam Wahyu 1:8 dan 22:13 terdengar suara yang menyatakan, “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir.” Namun ungkapan ini tidak boleh dibaca sebagai klaim kronologis semata, seolah Ia hanya berada di titik pertama dan terakhir dalam garis waktu. Alfa dan Omega adalah huruf, bukan angka. Ia adalah struktur keberadaan yang melingkupi seluruh realitas, bukan bagian dari realitas itu. Ia bukan “yang pertama lalu yang terakhir”, melainkan yang di dalam-Nya konsep pertama dan terakhir memperoleh makna.

Jika demikian, maka istilah “Tuhan” tidak mungkin bersifat primer. Kata itu bersifat relasional, dan relasi menuntut keberadaan lebih dari satu. Sebelum ada ciptaan, tidak ada yang dapat menempatkan diri sebagai makhluk. Maka sebelum ciptaan, Kitab Suci tidak berbicara tentang “Tuhan” sebagai peran, melainkan tentang Dia yang ada. Inilah sebabnya mengapa dalam Yesaya 43:10 tertulis, “Sebelum Aku tidak ada yang dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi.” Pernyataan ini bukan perbandingan antar-ilah, melainkan penegasan bahwa tidak ada eksistensi lain yang berdiri sejajar atau berasal dari sumber berbeda.

Keberadaan yang demikian tidak dapat dipahami sebagai komposit. Kitab Suci tidak pernah menyiratkan bahwa Sang Ada tersusun dari bagian-bagian, sebab segala yang tersusun membutuhkan penyusun. Mazmur 90:2 berkata, “Sebelum gunung-gunung dilahirkan… dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah.” Teks ini tidak memberi ruang bagi proses internal, perubahan esensi, atau pembagian hakikat. Ia adalah dari selama-lamanya sampai selama-lamanya—satu kesatuan keberadaan yang tidak melewati tahap menjadi.

Di sinilah kesaksian Yohanes menjadi sangat penting. Ketika Yesus berkata, “Sebelum Abraham ada, AKU ADA” (Yohanes 8:58), Ia tidak sedang mengklaim usia yang lebih tua, tetapi modus keberadaan yang berbeda. Abraham “ada” dalam bentuk menjadi: lahir, hidup, mati. Tetapi Sang Ada hadir tanpa konjugasi waktu. Yohanes tidak menulis “Aku telah ada”, melainkan sengaja mempertahankan bentuk kini. Dengan demikian, teks ini tidak menambahkan figur baru ke dalam keberadaan ilahi, tetapi memperlihatkan bahwa keberadaan yang sama kini hadir secara imanensi dalam sejarah.

Kitab Suci konsisten memperlihatkan bahwa gelar-gelar muncul mengikuti tindakan. “Elohim” tampil ketika penciptaan berlangsung (Kejadian 1:1). Nama perjanjian disingkapkan ketika relasi perjanjian dimulai (Keluaran 6:3). Sebutan “Bapa” baru bermakna ketika relasi penyelamatan diperkenalkan (Matius 6:9). Kehadiran sebagai Roh dikenali ketika penyertaan dialami (Yohanes 14:16–17). Semua ini menunjukkan satu pola yang tak pernah dilanggar: fungsi mengikuti keberadaan, bukan sebaliknya.

            Karena itu Kitab Suci tidak pernah mengatakan bahwa Sang Ada membutuhkan dunia untuk menjadi lengkap. “Jika Aku lapar, tidak akan Kukatakan kepadamu” (Mazmur 50:12). Pernyataan ini menutup segala kemungkinan bahwa penciptaan lahir dari kekurangan. Sang Ada tidak mencipta untuk menjadi Tuhan, tetapi menyatakan diri sebagai Tuhan setelah ciptaan ada. Penciptaan bukan kebuTuhan ontologis, melainkan ekspresi kedaulatan.

Maka, sebelum ada penyembah, Ia tidak kekurangan pujian. Sebelum ada dialog, Ia tidak kesepian. Sebelum ada relasi, Ia tidak kurang relasional. Kitab Suci tidak pernah menyiratkan bahwa keberadaan-Nya menunggu aktualisasi. Ia sempurna dalam diri-Nya sendiri. “Dari Dia dan oleh Dia dan kepada Dia segala sesuatu” (Roma 11:36) — bukan sebagai proses pemenuhan, tetapi sebagai arus yang bersumber dari kepenuhan.

Dengan demikian, kesaksian Kitab Suci membawa kita pada satu kesimpulan yang tidak dibangun oleh spekulasi filsafat, melainkan oleh teks itu sendiri: sebelum istilah Tuhan menjadi mungkin, yang ada hanyalah AKU ADA. Bukan sebagai konsep, bukan sebagai gelar, bukan sebagai struktur relasional, melainkan sebagai Keberadaan Murni—yang tidak berawal, tidak berakhir, tidak terbagi, tidak menjadi, dan tidak bergantung.

Dan ketika Sang Ada itu kemudian dikenal sebagai Tuhan oleh ciptaan-Nya, Kitab Suci tidak sedang mengatakan bahwa Ia berubah, melainkan bahwa ciptaanlah yang kini memiliki bahasa untuk menyebut Dia.

Haleluyah, Bapa Yesus memberkati kita semua,

— Ps. Christian Moses

Senin, 29 Desember 2025

KEBENARAN SEBAGAI HABITAT: ONTOLOGI HIDUP ORANG BENAR

“Hiduplah sebagaimana adanya orang benar, sebab habitat sejati kita bukan dosa,
melainkan kebenaran.”

    Kalimat tersebut tidak dapat direduksi sebagai imperatif etis belaka, melainkan harus dipahami sebagai proposisi ontologis—sebuah pernyataan tentang modus keberadaan manusia yang seharusnya. Di dalam kerangka biblis, kehidupan yang benar tidak berangkat dari ranah praksis atau moralitas eksternal, tetapi dari ranah ontologi: dari apa manusia itu sebelum apa yang ia lakukan. Dengan demikian, kebenaran hidup bukanlah hasil konstruksi usaha manusia, melainkan aktualisasi dari keberadaan yang telah dinyatakan dan ditetapkan oleh Yang Ilahi.

Sejak narasi awal Kitab Suci, eksistensi manusia dipahami sebagai eksistensi yang selalu-terletak (situated existence). Adam tidak dihadirkan ke dalam kekosongan ontologis, melainkan ditempatkan di sebuah tatanan tertentu—taman (Kejadian 2:8). Tindakan “menempatkan” di sini tidak sekadar menunjuk pada lokasi spasial, tetapi mengandung makna metafisis dan teologis: manusia dipanggil untuk berdiam di dalam hadirat Tuhan, hidup dalam keteraturan ilahi, dan berpartisipasi dalam kebenaran sebagai ruang hidupnya.

Dalam horizon ini, dosa tidak dapat dipahami sebagai kodrat atau habitat asli manusia. Dosa justru merupakan distorsi ontologis: penyimpangan dari keberadaan yang sejati, pengasingan dari tatanan asal, dan keterlemparan eksistensial dari ruang hidup yang seharusnya. Dengan kata lain, dosa bukanlah cara manusia ada, melainkan kondisi di mana manusia kehilangan tempatnya.

        Paulus menulis, “Sebab sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar” (Roma 5:19). Perhatikan: Alkitab tidak berkata “akan menjadi”, tetapi “telah menjadi”. Ini bukan bahasa etika, melainkan bahasa status. Kebenaran bukan target moral, tetapi realitas yang dinyatakan oleh tindakan Tuhan di dalam sejarah. Karena itu, ketika seseorang hidup di dalam dosa, ia tidak sedang “menikmati kebebasan”, melainkan sedang hidup di luar habitatnya sendiri. Seperti ikan yang berusaha hidup di darat, dosa bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi ketidaksesuaian eksistensial. Inilah mengapa dosa selalu melahirkan kegelisahan batin, kehampaan, dan keterpecahan diri. “Tidak ada damai sejahtera bagi orang fasik,” kata Tuhan (Yesaya 48:22). Bukan karena Tuhan kejam, tetapi karena fasik hidup di ruang yang bukan miliknya.

        Yesus sendiri berbicara tentang kebenaran bukan sebagai konsep, melainkan sebagai tempat tinggal batin. “Jika kamu tinggal di dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku, dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yohanes 8:31–32). Kata “tinggal” di sini (ฮผฮญฮฝฯ‰ / menล) menunjuk pada keberlanjutan, kelekatan, dan habitat rohani. Kebenaran bukan sesuatu yang dikunjungi sesekali, tetapi ruang hidup yang permanen. Alkitab konsisten menyebut orang percaya sebagai manusia baru. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Korintus 5:17). Yang “lama” bukan sekadar kebiasaan buruk, tetapi seluruh sistem hidup yang berakar pada dosa. Yang “baru” bukan tambahan moral, melainkan perubahan dimensi hidup. Manusia baru tidak dipanggil untuk berjuang menjadi benar, tetapi untuk berjalan sebagai orang benar.

        Mazmur berkata, “Sebab Tuhan mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan” (Mazmur 1:6). Kata “jalan” di sini bukan sekadar tindakan, melainkan arah hidup, orientasi eksistensi. Orang benar dan orang fasik tidak hanya melakukan hal yang berbeda, tetapi berjalan di realitas yang berbeda. Yang satu hidup di dalam terang, yang lain di dalam keterasingan dari terang. Menariknya, dalam tradisi pemikiran klasik—yang juga dicatat secara historis dalam ensiklopedia seperti Britannica—filsafat Yunani memahami ethos (etika) sebagai kebiasaan yang lahir dari topos (tempat tinggal). Artinya, cara hidup seseorang ditentukan oleh ruang eksistensialnya. Alkitab telah menyatakan kebenaran ini jauh sebelumnya: siapa yang tinggal dalam kebenaran akan hidup benar; siapa yang tinggal dalam dosa akan menghasilkan buah dosa. “Pohon dikenal dari buahnya” (Matius 12:33).

        Karena itu, seruan “hiduplah sebagaimana adanya orang benar” bukan tekanan, melainkan undangan untuk kembali ke rumah. Paulus menegaskan, “Sebab dosa tidak akan berkuasa lagi atas kamu, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia” (Roma 6:14). Dosa kehilangan kuasanya bukan karena manusia menjadi kuat, tetapi karena manusia berpindah habitat. Kuasa dosa hanya bekerja di wilayahnya sendiri. Lebih jauh, Alkitab bahkan menyebut kebenaran sebagai atmosfer hidup. “Kerajaan Tuhan bukan soal makanan dan minuman, tetapi kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus” (Roma 14:17). Ini bukan deskripsi aktivitas, melainkan deskripsi dunia. Kerajaan Tuhan adalah ruang hidup di mana kebenaran menjadi udara yang dihirup, bukan beban yang dipikul.

        Maka hidup benar bukanlah proyek perbaikan diri, melainkan kesetiaan untuk tinggal di tempat yang benar. Ketika seseorang kembali kepada dosa, ia bukan sekadar jatuh, tetapi sedang meninggalkan habitatnya sendiri. Dan ketika seseorang hidup dalam kebenaran, ia sedang hidup selaras dengan siapa dirinya yang sejati di hadapan Tuhan. Alkitab tidak memanggil manusia untuk berpura-pura suci, tetapi untuk hidup sesuai dengan identitas yang telah dinyatakan. “Kamu dahulu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang” (Efesus 5:8). Perintah di sini lahir dari pernyataan. Jadilah, karena memang sudah demikian adanya.

        Pada akhirnya, kebenaran bukan beban moral, tetapi rumah. Dan orang benar tidak sedang menuju kebenaran; ia sedang tinggal di dalamnya. Dosa bukan lagi alamatnya. Habitat sejatinya adalah terang, kehidupan, dan kebenaran yang berasal dari Tuhan sendiri.

Haleluyah, Bapa Yesus memberkati kita semua,
—Ps. Christian Moses

Minggu, 28 Desember 2025

KESELAMATAN SEBAGAI PERNYATAAN KEKEKALAN DI DALAM WAKTU

Keselamatan di dalam Kitab Suci tidak pernah diperkenalkan sebagai reaksi Tuhan terhadap tindakan manusia, seolah-olah sejarah berjalan lebih dahulu dan Tuhan menyusul di belakangnya. Alkitab justru menempatkan keselamatan sebagai sesuatu yang telah berdiri sebelum sejarah itu sendiri berdiri. Waktu tidak melahirkan keselamatan; waktu hanya menjadi panggung tempat keselamatan yang kekal itu dinyatakan.

Kitab Suci membuka realitas ini bukan dengan cerita tentang manusia, melainkan dengan kehendak Tuhan yang sudah ada sebelum segala sesuatu dijadikan. “Ia telah memilih kita di dalam Dia sebelum dunia dijadikan” (Efesus 1:4). Kalimat ini tidak memberi ruang bagi logika sebab-akibat manusia. Pemilihan itu tidak lahir dari respons terhadap perbuatan, iman, atau keputusan manusia, sebab dunia—bahkan manusia—belum ada. Yang ada hanyalah kehendak Tuhan yang menetapkan, bukan menanggapi.

Di sinilah filsafat manusia biasanya tersandung. Pikiran manusia selalu bergerak dari peristiwa ke keputusan, dari aksi ke reaksi. Namun Alkitab memutar arah itu secara radikal. Di dalam Kitab Suci, keputusan Tuhan mendahului peristiwa, dan peristiwa hanya menjadi manifestasi dari keputusan tersebut. Apa yang tampak di dalam sejarah bukanlah hasil dialog antara kehendak manusia dan kehendak Tuhan, melainkan pewujudan dari sesuatu yang telah selesai di dalam kekekalan.

Rasul Paulus menulis bahwa Tuhan “telah menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, tetapi berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman” (2 Timotius 1:9). Keselamatan tidak ditempatkan pada titik setelah manusia bertindak, melainkan pada titik sebelum zaman dimulai. Dengan demikian, iman manusia bukan penyebab keselamatan, melainkan tanda bahwa keselamatan itu telah bekerja.

Di dalam kerangka ini, sejarah bukan arena negosiasi antara Tuhan dan manusia. Sejarah adalah narasi terbuka dari kehendak kekal yang sedang bergerak menuju penggenapannya. Apa yang disebut “pertobatan”, “iman”, dan “kelahiran baru” bukanlah pemicu reaksi ilahi, melainkan akibat dari karya Tuhan yang lebih dahulu bekerja di dalam batin manusia. “Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa” (Yohanes 6:44). Kalimat ini bukan peringatan moral, tetapi pernyataan ontologis tentang ketergantungan total manusia pada prakarsa Tuhan.

Ketika Alkitab berbicara tentang keselamatan, ia tidak pernah memulai dari kemampuan manusia untuk memilih, melainkan dari ketidakmampuan manusia untuk hidup. Manusia digambarkan bukan sebagai makhluk netral yang menunggu respon Tuhan, melainkan sebagai makhluk yang mati. “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu” (Efesus 2:1). Orang mati tidak bereaksi; orang mati dibangkitkan. Maka keselamatan tidak mungkin berupa reaksi Tuhan terhadap iman, sebab iman itu sendiri muncul sebagai akibat dari kebangkitan rohani.

Karena itu Paulus melanjutkan, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Tuhan; itu bukan hasil pekerjaanmu” (Efesus 2:8–9). Iman tidak berdiri sebagai kontribusi manusia, melainkan sebagai sarana yang dikerjakan oleh Tuhan untuk menyatakan apa yang telah Ia tetapkan. Bahkan iman pun tidak dilepaskan dari sumbernya yang kekal.

Di dalam Roma pasal 8, Alkitab menyingkapkan urutan yang tidak bergerak dari bumi ke surga, tetapi dari kekekalan ke waktu: “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula… dan yang ditentukan-Nya dari semula, mereka juga dipanggil-Nya; dan yang dipanggil-Nya, mereka juga dibenarkan; dan yang dibenarkan-Nya, mereka juga dimuliakan” (Roma 8:29–30). Tidak ada satu tahap pun yang bersumber dari inisiatif manusia. Semua bergerak dari keputusan Tuhan yang satu, utuh, dan final.

Menariknya, Alkitab tidak memisahkan keputusan itu menjadi bagian-bagian waktu seperti cara manusia membaca. Dalam perspektif Tuhan, apa yang Ia tetapkan telah selesai. “Pekerjaan-Nya telah selesai sejak dunia dijadikan” (Ibrani 4:3). Sejarah hanya membuka apa yang telah final di dalam Dia. Maka salib bukanlah improvisasi atas kegagalan manusia, melainkan realisasi dari “Anak Domba yang telah disembelih sejak dunia dijadikan” (Wahyu 13:8). Penyaliban di Yerusalem adalah kejadian historis, tetapi penetapannya bersifat kekal.

Dengan demikian, keselamatan tidak bisa dipahami sebagai sistem moral yang memberi ruang bagi kebanggaan manusia. Alkitab justru menghancurkan setiap kemungkinan itu. “Supaya jangan ada seorang pun yang memegahkan diri” (Efesus 2:9). Jika keselamatan adalah reaksi Tuhan, maka manusia masih memiliki ruang untuk menjadi penyebab. Tetapi jika keselamatan adalah pernyataan dari apa yang telah ditetapkan, maka seluruh kemuliaan kembali kepada Tuhan semata.

Iman bukan syarat agar Tuhan bertindak, melainkan bukti bahwa Tuhan telah bertindak. Pertobatan bukan tawaran kepada surga, melainkan gema dari surga yang telah masuk ke dalam batin manusia. Kelahiran baru bukan keputusan etis, tetapi tindakan penciptaan. “Jika seseorang tidak dilahirkan dari atas, ia tidak dapat melihat Kerajaan Tuhan” (Yohanes 3:3). Melihat pun didahului oleh kelahiran, bukan sebaliknya.

Keselamatan, maka, adalah pewahyuan dalam waktu dari keputusan kekal Tuhan. Ia tidak menunggu manusia, tidak menimbang kemungkinan, dan tidak menyesuaikan diri dengan sejarah. Sejarah justru menyesuaikan diri dengan Dia. “Ia bekerja dalam segala sesuatu menurut keputusan kehendak-Nya” (Efesus 1:11). Kalimat ini menutup setiap pintu spekulasi manusia dan memaksa pembaca Kitab Suci untuk tunduk, bukan berdebat.

Dalam hal ini, iman sejati bukanlah keberanian manusia untuk memilih Tuhan, melainkan keheranan yang sunyi karena menyadari bahwa Tuhan telah lebih dahulu memilih. Keselamatan tidak lahir dari kehendak manusia yang mencari, tetapi dari kehendak Tuhan yang menyatakan diri. Dan ketika keselamatan itu muncul di dalam sejarah, ia tidak berkata, “Aku datang karena engkau,” melainkan, “Aku datang karena Aku telah menetapkan.”

Di sinilah Injil berdiri: bukan sebagai tawaran kemungkinan, tetapi sebagai pengumuman kepastian. Bukan reaksi terhadap waktu, tetapi pernyataan dari kekekalan yang kini berbicara di dalam sejarah manusia.


Haleluyah, Bapa Yesus memberkati kita semua ๐Ÿ™ 

-Ps. Christian Moses 

#pschristianmoses

#biblestudy
 

Sabtu, 27 Desember 2025

KITA PERCAYA KARENA TUHAN SUDAH MENYELAMATKAN-BUKAN MENYELAMATKAN KARENA KITA PERCAYA


Sejak awal peradaban manusia, batin manusia terus bertanya tentang keselamatan: apa itu, bagaimana diperoleh, dan siapakah yang memberikannya. Dalam berbagai tradisi keagamaan, keselamatan dipandang sebagai jawaban atas penderitaan, dosa, atau keterikatan pada realitas yang memisahkan manusia dari yang transenden. Dalam konteks kristiani (menurut teks-teks kitab suci sendiri), istilah ini bukan sekadar sebuah hadiah moral atau pendidikan rohani, melainkan tindakan menyelamatkan yang dilakukan oleh Tuhan sendiri yang berimplikasi pada keadaan dasar manusia yang rusak oleh dosa.

Ketika kita membuka Alkitab, kita segera menemukan bahwa manusia secara tersurat digambarkan sebagai terpisah dari hidup kekal karena dosa (Roma 3:23; 6:23). Ini berarti: kondisi manusia telah berada dalam keadaan yang sejatinya tidak layak diselamatkan sejak awal. Keselamatan tidak berbicara tentang peningkatan moral atau usaha manusia; melainkan tentang kembalinya manusia ke dalam hubungan hidup yang benar dengan Tuhan melalui tindakan penyelamatan yang telah dijalankan oleh Tuhan sendiri.

Dalam narasi Alkitab, keselamatan bukanlah sesuatu yang manusia raih dari titik “ketidaktahuan → kebaikan moral → rela percaya.” Itu adalah sebuah perjalanan yang justru dimulai dari tindakan Tuhan untuk membawa manusia keluar dari kegelapan menuju terang (Yohanes 1:9; Efesus 2:8–9). Tafsir yang sederhana namun mendalam dari ayat seperti:

“Karena oleh kasih karunia kamu diselamatkan melalui iman; dan itu bukan hasil usahamu sendiri, tetapi pemberian Tuhan.” Efesus 2:8–9 

Menunjukkan dua hal esensial:

1. Keselamatan itu anugerah yang sepenuhnya berasal dari Tuhan.

2. Iman adalah cara atau medium di mana anugerah itu diterima — bukan “penyebab” dari keselamatan itu sendiri dalam pengertian usaha manusia.

Bayangkan seseorang yang mati lemas di laut. Anda datang, menyelam, dan menariknya ke permukaan. Orang yang diselamatkan itu kemudian membuka mata dan berkata, “Aku hidup karena aku memilih untuk berenang.” Kita semua tahu, dalam analogi itu, orang itu hidup bukan karena pilihannya, tetapi karena tindakan penyelamatan yang lebih dulu dilakukan oleh penyelamat. Dalam cara yang sama, Alkitab menggambarkan iman bukan sebagai kekuatan dalam diri manusia yang memproduksi keselamatan, tetapi sebagai respons terhadap tindakan menyelamatkan yang telah dilakukan oleh Tuhan (Yeremia 31:3; Yohanes 3:16).

Kalau kita melihat dengan tekun ke dalam tulisan rasul Paulus, khususnya dalam surat-suratnya, kita menemukan semacam paradoks yang menuntut pembacaan hati: ketika manusia mengaku “percaya,” yang sebenarnya terjadi adalah Tuhan telah terlebih dahulu memberikan kehidupan rohani kepada manusia — bahkan sebelum manusia menyadari atau merasakan iman itu sendiri. Ini bukan spekulasi; ini tercermin dalam cara Paulus berbicara tentang keselamatan sebagai sesuatu yang tidak berasal dari diri manusia:

“Bukan dari diri kita sendiri, supaya tidak ada orang yang boleh bermegah.” — 2 Korintus 3:5 (yang makna ritmisnya juga menguatkan prinsip bahwa tidak ada kontribusi diri manusia dalam keselamatan).

Dengan kata lain, ketika seseorang berkata, “Aku percaya sehingga aku diselamatkan,” Alkitab menantang kita untuk memikirkan ulang struktur sebab-akibat tersebut: sebenarnya keselamatan itu telah diberi (lebih dulu), dan iman adalah respon yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia yang menerima keselamatan itu. Ini bukan sekadar permainan kata; ini adalah pergeseran ontologis dari kondisi kematian rohani menuju hidup rohani (Efesus 2:1–5), bukan karena manusia melakukan sesuatu, tetapi karena Tuhan memberi hidup (Efesus 2:5). 

Para penulis Perjanjian Baru terus menarik benang merah ini. Rasul Yohanes menulis bahwa segala sesuatu yang kita terima dari Tuhan adalah dari sumber kasih karunia yang tak terhingga, yang termasuk kemampuan untuk percaya kepada Yesus sebagai Mesias. Pilihan hati manusia untuk percaya bukanlah sesuatu yang lahir dari kekuatan moral atau kecerdasan internal manusia itu sendiri, melainkan buah dari karya penyelamatan yang sudah terjadi di dalam hati manusia. Pernyataan Yesus “tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, kecuali ditarik oleh Bapa” (Yohanes 6:44; jika dirujuk dari teks-teks Alkitab dalam Marvel Bible atau Blue Letter Bible) menggarisbawahi struktur ini: ada tindakan penyelamatan yang lebih dulu — yaitu penarikan atau pemberian kemampuan untuk datang, baru kemudian respon percaya itu terjadi.

Ini membawa kita pada sebuah pembacaan yang benar-benar hati-ke-hati terhadap narasi keselamatan di Alkitab: iman tidak pernah mendahului keselamatan; iman selalu mengikuti keselamatan yang telah diberikan oleh Tuhan. Tidak ada bagian dalam teks Alkitab yang mengajarkan bahwa manusia pada titik awal berada dalam posisi moral atau rohani untuk “menghasilkan iman” tanpa terlebih dahulu dibangkitkan dari kematian dosa. Ini bukan hanya sebuah pandangan modern atau theological jargon, tetapi cara narasi Alkitab menghidupkan kisah keselamatan itu sendiri — tindakan Tuhan menjangkau manusia yang tak berdaya (Roma 5:6–8; Efesus 2:4–5) dan menjadikan iman sebagai sarana penerimaan terhadap karya yang sudah dilakukan.

Dengan demikian, pengakuan iman yang paling jujur bukanlah “Aku percaya sehingga aku diselamatkan,” melainkan “Aku percaya karena Tuhan telah terlebih dahulu menyelamatkanku.” Iman bukanlah titik awal; iman adalah pengakuan atas sebuah karya yang telah terjadi, sebuah transisi dari kematian ke kehidupan yang hanya dimungkinkan karena kasih karunia yang tak pantas kita terima — yang diwujudkan lewat pemberian iman itu sendiri.


Haleluyah, Bapa Yesus memberkati kita semua ๐Ÿ™

Ps. Christian Moses

Jumat, 26 Desember 2025

๐Ÿ’ฐPERSEPULUHAN ๐Ÿ‘‰ ALKITABIAH TAPI TIDAK INJILI [PARTISI 2๐Ÿ‘‰B]๐Ÿ“•

 

B. RUMAH PERBENDAHARAAN PERJANJIAN BARU

Konsep “rumah perbendaharaan” atau “perbendaharaan rumah Tuhan” secara fisik bangunan mulai dikenal dan digunakan pada masa pemerintahan raja Salomo setelah ia menerima tongkat estafet kerajaan dari Daud, ayahnya (I Raja-raja 1:30).

Sebenarnya, raja Daud sangat berkerinduan dan bahkan telah mulai menyediakan bahan-bahan untuk membangun

Bait Suci, tempat kediaman “permanen” TUHAN di tengah-tengah bangsa Israel.

Kutipan ayat-ayat dalam 2 Samuel 7:1-2, I Tawarikh 28:2 di bawah menunjukkan kerinduan Daud :

๐Ÿ‘‰7:1 Ketika raja telah menetap di rumahnya dan TUHAN telah mengaruniakan keamanan kepadanya terhadap semua musuhnya di sekeliling,

๐Ÿ‘‰7:2 berkatalah raja kepada nabi Natan: “Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut Allah diam di bawah tenda.”

๐Ÿ‘‰28:2 Lalu berdirilah raja Daud dan berkata: “Dengarlah, hai saudara-saudaraku dan bangsaku! Aku bermaksud hendak mendirikan rumah perhentian untuk tabut perjanjian TUHAN dan untuk tumpuan kaki Allah kita; juga aku telah membuat persediaan untuk mendirikannya.

Namun TUHAN tidak mengizinkannya karena Daud adalah seorang prajurit yang telah menumpahkan darah banyak musuhnya.

๐Ÿ‘‰Tetapi Allah telah berfirman kepadaku: Engkau tidak akan mendirikan rumah bagi nama-Ku, sebab engkau ini seorang prajurit dan telah menumpahkan darah. – I Tawarikh 28:3 –

Dan Salomo, anak kandung Daud, yang ditetapkan TUHAN untuk tugas mulia tersebut.

๐Ÿ‘‰Kemudian dipanggilnya Salomo, anaknya, dan diberinya perintah kepadanya untuk mendirikan rumah bagi TUHAN, Allah Israel, kata Daud kepada Salomo: "Anakku, aku sendiri bermaksud hendak mendirikan rumah bagi nama TUHAN, Allahku, tetapi firman TUHAN datang kepadaku, demikian: Telah kautumpahkan sangat banyak darah dan telah kaulakukan peperangan yang besar; engkau tidak akan mendirikan rumah bagi nama-Ku, sebab sudah banyak darah kautumpahkan ke tanah di hadapan-Ku.

๐Ÿ‘‰Sesungguhnya, seorang anak laki-laki akan lahir bagimu; ia akan menjadi seorang yang dikaruniai keamanan. Aku akan mengaruniakan keamanan kepadanya dari segala musuhnya di sekeliling. Ia akan bernama Salomo; sejahtera dan sentosa akan Kuberikan atas Israel pada zamannya.

๐Ÿ‘‰Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan dialah yang akan menjadi anak-Ku dan Aku akan menjadi Bapanya; Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya atas Israel sampai selama-lamanya.

๐Ÿ‘‰Maka sekarang, hai anakku, TUHAN kiranya menyertai engkau, sehingga engkau berhasil mendirikan rumah TUHAN, Allahmu, seperti yang difirmankan-Nya mengenai engkau.– I Tawarikh 22:6-11–

Alkitab mengisahkan bahwa rumah TUHAN atau Bait Suci yang dibangun oleh raja Salomo, tidaklah secara hurufiah atau seratus-persen mengikuti gambar asli Kemah Suci, tetapi jauh lebih luas, lebih besar, lebih kokoh, lebih megah, lebih mewah dan lebih dalam segalanya bahkan – sampai abad modern ini – belum ada yang mampu menandingi kemewahannya. Walau demikian Daud pun punya andil yang sangat besar dalam menyediakan bahan-bahan bangunannya. Kesemuanya tercatat secara tepat dan terperinci dalam I Tawarikh 22:5, I Raja-raja 6, 2 Tawarikh 3:1-14.

Bait Suci Allah atau lebih populer dengan nama Ka’abah Salomo ini pun mendapat tambahan beberapa kamar/bilik sesuai rancangan raja Daud, – yang lebih modern dan representatif pada masa itu – sebelum ia menyerahkan seluruh pekerjaan pembangunannya kepada Salomo.

Asal Anda ingat saja, Salomo mengerjakan proyek akbar ini mengikuti petunjuk rancang-bangun ayahnya, Daud, plus beberapa buah pikiran mengenai pengaturan rumah TUHAN tersebut.

“Lalu Daud menyerahkan kepada Salomo, anaknya, rencana bangunan dari balai Bait Suci dan ruangan-ruangannya, dari perbendaharaannya, kamar-kamar atas dan kamar-kamar dalamnya, serta dari ruangan untuk tutup pendamaian.

Selanjutnya rencana dari segala yang dipikirkannya mengenai pelataran rumah TUHAN, dan bilik-bilik di sekelilingnya, mengenai perbendaharaan-per-bendaharaan rumah Allah dan perbendaharaan-perbendaharaan barang-barang kudus; mengenai rombongan-rombongan para imam dan para orang Lewi dan mengenai segala pekerjaan untuk ibadah di rumah TUHAN dan segala perkakas untuk ibadah di rumah TUHAN.” – I Tawarikh 28:11-13 –.

Bait Suci ini mulai dibangun pada bulan Ziw (bulan kedua), tahun keempat pemerintahan Salomo dan tahun keempat ratus delapan puluh sesudah orang Israel keluar dari tanah Mesir. Letaknya di Yerusalem, di atas gunung Moria, tempat dimana TUHAN menampakkan diri kepada Daud, ayahnya.

Dari sekian ruangan tambahan pada rumah TUHAN, salah satunya adalah bilik perbendaharaan, – yang dalam Maleakhi 3:10 disebut “rumah perbendaharaan” – tempat orang Israel membawa segala macam persembahan yang telah diwajibkan TUHAN, termasuk persembahan persepuluhan. Bilik perbendaharaan ini – mungkin lebih tepatnya disebut gudang penyimpanan, sekarang – terletak di pelataran rumah TUHAN atau di halaman Bait Allah.

Berikut adalah kutipannya dalam I Tawarikh :

๐Ÿ‘‰28:12 . Selanjutnya rencana dari segala yang dipikirkannya mengenai pelataran rumah TUHAN, dan bilik-bilik di sekelilingnya, mengenai perbendaharaan - perbendaharaan rumah Allah dan perbendaharaan-perbendaharaan barang-barang kudus.

Pada tahun pertama pemerintahan raja Hizkia, Alkitab mencatatnya dalam 2 Taw. 29, ia memperbaiki dan menguduskan kembali rumah TUHAN. Kemudian raja memerintahkan seluruh orang Israel untuk membawa segala persembahan khusus, persembahan persepuluhan dan persembahan-persembahan kudus ke dalamnya (baca lagi 2 Tawarikh 31:11-12).

Disini, saya ingin tekankan dan tegaskan sekali lagi bahwa tadinya, ketika “TUHAN masih berada di bawah tenda-tenda”, para Lewi dan Imam-imam belum memiliki rumah perbendaharaan secara fisik bangunan permanen karena kehidupannya yang nomaden – berpindah-pindah tempat – belumlah dapat diterapkan suatu sistem manajemen yang lebih baik untuk mengelolah semua persembahan yang masuk. Memang sejak awal, TUHAN telah memberi perintah kepada sebelas suku Israel lainnya untuk menyediakan dan memberikan apa-apa yang telah menjadi hak mereka (para Lewi dan Imam-imam). Semuanya masih bersifat “sekali pakai atau sekali makan” dan belum bisa ditabung atau disimpan untuk jangka panjang atau untuk jangka waktu tertentu.

Ketika bangsa itu telah secara tetap memiliki dan mendiami suatu wilayah dengan sistem pemerintahan yang otonom maka mereka pun membangun Bait Suci Allah, menyediakan bilik-bilik perbendaharan secara permanen dan mulai menerapkan sistem manajemen modern untuk pengelolaannya.

Jadi, saya ingin agar kita memberi fokus perhatian bukanlah pada persembahan-persembahannya tetapi bagaimana “rumah perbendaharaan” yang telah disediakan itu diisi supaya para Lewi dan Imam-imam dapat memusatkan perhatian dan tenaga mereka untuk pelayanan di dalam Bait Suci.

Marilah kita mempelajari kembali ayat yang paling eksklusif yang saat ini masih diterapkan oleh hampir semua denominasi gereja di Indonesia; Maleakhi 3:10, “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku …”.

Saya kira anda – setelah dari awal membaca buku ini – bersedia menerima alasan bahwa tentu yang dimaksudkan TUHAN bukanlah hanya persembahan persepuluhan yang harus dibawa ke rumah perbendaharaan atau dengan lain perkataan, supaya ada persediaan makanan di rumah TUHAN maka bukan hanya persepuluhan saja yang harus dibawa tetapi persembahan-persembahan lain pun haruslah dibawa ke sana.

Bila alasan pemahaman ini ditolak maka pertanyaan berikut, saya bisa pastikan – Anda atau siapapun – tidak mampu menjawabnya. Begini pertanyaannya, “kemanakah persembahan-persembahan lainnya – pasti Anda mulai mengingat-ingatnya seperti yang tercatat dalam kitab Imamat, Bilangan, Ulangan – akan dibawa atau ke rumah siapakah semuanya itu dipersembahkan?” Bagaimana aplikasinya atas ayat-ayat yang terdapat dalam kitab Bilangan :

๐Ÿ‘‰18:8. Lagi berfirmanlah TUHAN kepada Harun: “Sesungguhnya Aku ini telah menyerahkan kepadamu pemeliharaan persembahan-persembahan khusus yang kepada-Ku; semua persembahan kudus orang Israel Kuberikan kepadamu dan kepada anak-anakmu sebagai bagianmu; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya.

๐Ÿ‘‰18:9. Inilah bagianmu dari segala persembahan-persembahaan yang maha kudus itu, yaitu dari bagian yang tidak harus dibakar: segala persembahan mereka yang berupa korban sajian, korban penghapus dosa dan korban penebus salah, yang dibayar mereka kepada-Ku; itulah bagian maha kudus yang menjadi bagianmu dan bagian anak-anakmu.

๐Ÿ‘‰18:10 . Sebagai bagian maha kudus haruslah kamu memakannya; semua orang laki-laki boleh memakanny; haruslah itu bagian kudus bagimu.

๐Ÿ‘‰18:11. Dan ini pun adalah bagianmu: persembahan khusus dari pemberian mereka yang lain, termasuk segala persembahan unjukan orang Israel; semuanya itu Kuberikan kepadamu dan kepada anak-anakmu laki-laki dan perempuan bersama-sama dengan engkau; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya. Setiap orang yang tahir dari seisi rumahmu boleh memakannya.

๐Ÿ‘‰18:12. Segala yang terbaik dari minyak dan segala yang terbaik dari anggur dan dari gandum, yakni yang sebagai hasil pertamanya dipersembahkan mereka kepada TUHAN, Aku berikan kepadamu.

๐Ÿ‘‰18:13. Hulu hasil dari segala yang tumbuh di tanahnya yang dipersembahkan mereka kepada TUHAN adalah juga bagianmu; setiap orang yang tahir dari seisi rumahmu boleh memakannya.

๐Ÿ‘‰18:14 . Semua yang dikhususkan bagi TUHAN di antara orang Israel menjadi bagianmu.

2 Tawarikh :

๐Ÿ‘‰31:4. Ia memerintahkan rakyat, yakni penduduk Yerusalem, untuk memberikan sumbangan yang menjadi bagian para imam dan orang-orang Lewi, supaya mereka dapat mencurahkan tenaganya untuk melaksanakan Taurat TUHAN.

๐Ÿ‘‰31:5. Segera setelah perintah ini tersiar, orang Israel membawa dalam jumlah yang besar hasil pertama dari pada gandum, anggur, minyak, madu dan segala macam hasil bumi. Mereka membawa juga persembahan persepuluhan dari segala sesuatu dalam jumlah yang besar.

๐Ÿ‘‰31:6. Orang Israel dan orang Yehuda yang tinggal di kota-kota Yehuda juga membawa persembahan persepuluhan yang terdiri dari lembu sapi dan kambing domba, dan persembahan persepuluhan yang terdiri dari persembahan kudus yang telah dikuduskan bagi TUHAN Allah mereka. Semuanya itu diletakkan mereka bertimbun-timbun.

๐Ÿ‘‰31:7. Mereka mulai membuat timbunan itu pada bulan yang ketiga, dan mereka selesai pada bulan yang ketujuh.

๐Ÿ‘‰31:8. Hizkia dan para pemimpin datang melihat timbunan itu, dan mereka memuji TUHAN dan umat-Nya, orang Israel.

๐Ÿ‘‰31:9. Hizkia menanyakan para imam dan orang-orang Lewi tentang timbunan itu,

๐Ÿ‘‰31:10. dan dijawab oleh Azarya, imam kepala keturunan Zadok demikian: “Sejak persembahan khusus mulai dibawa ke rumah TUHAN, kami telah makan sekenyang-kenyangnya, namun sisanya masih banyak. Sebab TUHAN telah memberkati umat-Nya, sehingga tinggal sisa yang banyak ini.”

๐Ÿ‘‰31:11 . Kemudian Hizkia menyuruh menyediakan bilik-bilik di rumah TUHAN dan mereka menyediakannya.

๐Ÿ‘‰31:12. Dan dengan setia mereka membawa segala persembahan khusus, persembahan persepuluhan dan persembahan-persembahan kudus itu ke sana.

Nehemia :

๐Ÿ‘‰10:32 . Pula kami mewajibkan diri untuk memberi tiap tahun sepertiga syikal untuk ibadah di rumah Allah kami, yakni:

๐Ÿ‘‰10:33. untuk roti sajian, untuk korba sajian yang tetap, untuk korban bakaran yang tetap, untuk hari-hari Sabat, bulan-bulan baru dan masa raya yang tetap, untuk persembahan-persembahan kudus dan korban-korban penghapus dosa, untuk mengadakan pendamaian bagi orang Israel serta segala pekerjaan di rumah Allah kami.

๐Ÿ‘‰10:34. Pula dengan membuang undi kami, yakni para imam, orang-orang Lewi dan kaum awam, menetapkan suatu cara untuk menyediakan kayu api. Kayu itu harus dibawa ke rumah Allah kami secara bergilir oleh kaum-kaum keluarga kami pada waktu-waktu tertentu setiap tahun, supaya di atas mezbah TUHAN Allah kami ada api yang menyala, seperti tertulis dalam kitab Taurat.

๐Ÿ‘‰10:35 . Lagipula setiap tahun kami akan membawa ke rumah TUHAN hasil yang pertama dari tanah kami dan buah sulung segala pohon.

๐Ÿ‘‰10:36. Pun kami akan membawa ke rumah Allah kami, yakni kepada para imam yang menyelenggarakan kebaktian di rumah Allah kami, anak-anak sulung kami dan anak-anak sulung ternak kami seperti tertulis dalam kitab Taurat, juga anak-anak sulung lembu kami dan kambing domba kami.

๐Ÿ‘‰10:37. Dan tepung jelai kami yang mula-mula, dan persembahan-persembahan khusus kami, dan buah segala pohon, dan anggur dan minyak akan kami bawa kepada para imam, ke bilik-bilik rumah Allah kami, dan kepada orang-orang Lewi akan kami bawa persembahan persepuluhan dari tanah kami, karena orang-orang Lewi inilah yang memungut persembahan-persembahan persepuluhan di segala kota pertanian kami.

๐Ÿ‘‰10:38 . Seorang imam, anak Harun, akan menyertai orang-orang Lewi itu, bila mereka memungut persembahan persepuluhan. Dan orang-orang Lewi itu akan membawa persembahan persepuluhan dari pada persembahan persepuluhan itu ke rumah Allah kami, ke bilik-bilik rumah perbendaharaan.

๐Ÿ‘‰10:39 . Karena orang Israel dan orang Lewi harus membawa persembahan khusus dari pada gandum, anggur dan minyak ke bilik-bilik itu. Di situ ada perkakas-perkakas tempat kudus, pula para imam yang menyelenggarakan kebaktian, para penunggu pintu gerbang dan para penyanyi. Kami tidak akan membiarkan rumah Allah kami.

Bila praktek persembahan persepuluhan dibawa ke dalam gereja dimana gereja sering mengklaim diri sebagai “rumah perbendaharaan” maka hal itu merupakan tafsiran kebablasan yang bermuara pada mal praktek. Sebab jika kita melihat etimologi “gereja” (ekklesia=church) maka kita akan memahami artian yang sebenarnya.

Yesus tidak pernah menyuruh pengikut2-Nya bangun gedung tetapi memanggil orang untuk keluar dari kegelapan dosa menuju terang kebenaran Yesus Kristus (Matius 16:18; Yohanes 5:24). Kita seharusnya membedakan Gereja & Gedung Gereja. Gedung gereja dipakai sebagai tempat ibadah/persekutuan orang-orang kudus yang percaya Yesus Kristus. Gedung gereja tidak dapat digunakan sebagai “rumah perbendaharaan” seperti halnya Tabernakel (Bait Allah) yang memang dirancang oleh TUHAN sendiri dan dibangun oleh Salomo, ada bilik perbendaharaan (1 Raja-raja 6; 1 Tawarikh 17:4-12). Tuhanlah yang merancang bilik2 perbendaharaannya (1 Tawarikh 28:11-12,19). Jadi wajarlah bila pada Maleakhi 3:10 TUHAN memerintahkan Israel untuk bawa persembahan persepuluhan (dan semua persembahan lainnya) ke dalam rumah perbendaharaan karena ada bilik-bilik perbendaharaannya.

TUHAN tidak pernah memerintahkan Gembala Sidang untuk bangun gedung gereja lengkap dengan bilik perbendaharaannya.

Anda dan saya dipanggil Yesus Kristus bukan untuk bangun gereja menjadi rumah perbendaharaan tetapi membangun komunitas/ persekutuan; menjadikan segala bangsa murid Yesus Kristus. Gedung gereja hanyalah tempat kita bersekutu untuk beribadah kepada TUHAN Yesus Kristus.

Rumah perbendaharaan adalah konsep Bait Allah dalam Torah bukan dalam Perjanjian Baru oleh Yesus Kristus. Firman TUHAN berkata, “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1 Korintus 3:16). Jika Anda percaya akan kebenaran ini maka Andalah (setiap orang percaya adalah “Rumah Perbendaharaan Allah”.

Sebagai “Rumah Perbendaharaan Allah”, tentunya kita menyimpan segala sesuatu yang baik yang dapat dipakai untuk memuliakan Yesus Kristus.

Perhatikan firman TUHAN ini :

๐Ÿ‘‰Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik. - Lukas 6:45a -.

Mari perhatikan apa kata firman TUHAN dalam Perjanjian Baru bagi kita yang rajin membangun gedung gereja lalu mengakuinya juga sebagai “rumah perbendaharaan” :

> Markus 14:58

๐Ÿ‘‰"Kami sudah mendengar orang ini berkata: Aku akan merubuhkan Bait Suci buatan tangan manusia ini dan dalam tiga hari akan Kudirikan yang lain, yang bukan buatan tangan manusia."

> Ibrani 9:24

๐Ÿ‘‰“Sebab Kristus bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia yang hanya merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya.”

> Kisah Para Rasul 17:24-25

๐Ÿ‘‰“Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah ia kekurangan apa-apa, karena dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.”

Marilah bersikap sportif-objektif mengakui bahwa apa yang selama ini dipraktekkan dalam kehidupan berjemaat adalah keliru – kalau tidak dapat dibilang salah. Seharusnya, pengajaran gereja menekankan pada perbendaharaan hati nurani bukan pada persembahan persepuluhannya. Dulu, bangsa Israel disuruh TUHAN untuk mendirikan Bait Allah (di atas tanah) lengkap dengan bilik/rumah perbendaharaan yang terletak di pelatarannya (1 Tawarikh 28:12) tetapi ketika Yesus Kristus datang Dia merombak bangunan Bait Allah tersebut dan membangunnya di atas “tanah” hati para pengikut-Nya plus "rumah perbendaharaan hati" agar gereja-Nya dapat mempermuliakan Tuhan dari perbendaharaan hatinya yang baik dan benar.

Silahkan ikuti pertimbangan selanjutnya..... >>>>>


berrsambung ... PARTISI 2 ๐Ÿ‘‰C. BEDAH CAESAR MALEAKHI 3:10

๐Ÿ•ต️‍♀️SIAPAKAH SESUNGGUHNYA "JURUSELAMAT SEJATI" ❓๐Ÿคท‍♂️ (TAMAT)⛔

 

♦►1. YHWH (TUNGGAL)


Firman TUHAN :

๐Ÿ‘‰43:10 "Kamu inilah saksi-saksi-Ku," demikianlah firman TUHAN, "dan hamba-Ku yang telah Kupilih, supaya kamu tahu dan percaya kepada-Ku dan mengerti, bahwa Aku tetap Dia. Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi.

๐Ÿ‘‰♦ 43:11 Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku. ♦

43:12 Akulah yang memberitahukan, menyelamatkan dan mengabarkan, dan bukannya allah asing yang ada di antaramu. Kamulah saksi-saksi-Ku," demikianlah firman TUHAN, "dan Akulah Allah. [Yesaya]

๐Ÿ‘‰45:21 Beritahukanlah dan kemukakanlah alasanmu, ya, biarlah mereka berunding bersama-sama: Siapakah yang mengabarkan hal ini dari zaman purbakala, dan memberitahukannya dari sejak dahulu?

๐Ÿ‘‰♣ Bukankah Aku, TUHAN? Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain dari pada-Ku! Allah yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku! [Yesaya]

๐Ÿ‘‰63:8 Bukankah Ia berfirman: "Sungguh, merekalah umat-Ku, anak-anak yang tidak akan berlaku curang," maka Ia menjadi Juruselamat mereka

๐Ÿ‘‰63:9 dalam segala kesesakan mereka. Bukan seorang duta atau utusan, melainkan Ia sendirilah yang menyelamatkan mereka; Dialah yang menebus mereka dalam kasih-Nya dan belas kasihan-Nya. Ia mengangkat dan menggendong mereka selama zaman dahulu kala. [Yesaya]


☼► 2. YESUS (TUNGGAL)

Firman TUHAN :

๐Ÿ‘‰1:21 Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka." [Matius]

๐Ÿ‘‰2:11 Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. [Lukas]

๐Ÿ‘‰4:42 dan mereka berkata kepada perempuan itu: "Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia." [Yohanes]

๐Ÿ‘‰3:20 Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, [Filipi]

๐Ÿ‘‰3:6 yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita, [Titus]

๐Ÿ‘‰1:1 Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.

๐Ÿ‘‰1:11 Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. [2 Pet.]

๐Ÿ‘‰2:20 Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula. [2 Pet.]

๐Ÿ‘‰3:18 Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya. [2 Pet.]


♠► 3. Allah dan YESUS (JAMAK)

Firman TUHAN :

๐Ÿ‘‰1:46 Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan,

๐Ÿ‘‰1:47 dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, [Lukas]

๐Ÿ‘‰1:1 Dari Paulus, rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah, Juruselamat kita, dan Kristus Yesus, dasar pengharapan kita, [1 Timotius]

๐Ÿ‘‰2:3 Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita,

๐Ÿ‘‰2:4 yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.

๐Ÿ‘‰2:5 Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus,

๐Ÿ‘‰2:6 yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan. [1 Timotius]

๐Ÿ‘‰4:10 Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya. [1 Timotius]

๐Ÿ‘‰1:9 Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman

๐Ÿ‘‰1:10 dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa. [2 Timotius]

๐Ÿ‘‰1:3 dan yang pada waktu yang dikehendaki-Nya telah menyatakan firman-Nya dalam pemberitaan Injil yang telah dipercayakan kepadaku sesuai dengan perintah Allah, Juruselamat kita.

๐Ÿ‘‰1:4 Kepada Titus, anakku yang sah menurut iman kita bersama: kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Juruselamat kita, menyertai engkau. [Titus]

๐Ÿ‘‰2:13 dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus,

๐Ÿ‘‰2:14 yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik. [Titus]

๐Ÿ‘‰1:24 Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya,

๐Ÿ‘‰1:25 Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin. [Yudas]


4. Allah mengutus Yesus sebagai Juruselamat (JAMAK)

Firman TUHAN :

๐Ÿ‘‰5:30 Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh.

๐Ÿ‘‰5:31 Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. [KPR]

๐Ÿ‘‰13:23 Dan dari keturunannyalah, sesuai dengan yang telah dijanjikan-Nya, Allah telah membangkitkan Juruselamat bagi orang Israel, yaitu Yesus. [KPR]

๐Ÿ‘‰4:14 Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia. [1 Yohanes]

■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■

๐ŸคฉSilahkan lakukan IDENTIFIKASI berdasarkan INDIKASI-INDIKASI yang tertulis dalam Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.


๐Ÿ™Semoga materi sanggahan teologis ini menjadi kontribusi bagi pemahaman teologi Anda dan juga pertumbuhan iman Anda sesuai dengan kebenaran Alkitab. HaleluYah Yesus, BAPA yang kekal. Amin.๐Ÿ‘


๐Ÿ’‍♂️fides quaerens intellectum๐Ÿง‍♂️


๐ŸคSalam Hyper Grace dalam Bapa Yesus...๐Ÿ’

๐Ÿ•ต️‍♀️DOKTRIN ALLAH TRINITAS = TRITEISME = POLITEISME๐Ÿ”


STUDI ETIMOLOGI :

Kata Trinitas berasal dari bahasa Latin "trinus" dan "unitas" yang berarti "tiga serangkai atau tritunggal". Kata benda abstrak ini terbentuk dari kata sifat trinus (tiga masing-masing, tiga kali lipat), sebagai kata unitas yang merupakan kata benda abstrak yang dibentuk dari unus (satu).

Kata yang sesuai dalam bahasa Yunani adalah ฮคฯฮนฮฌฯ‚, yang berarti "satu set dari tiga" atau "berjumlah tiga".


DEFINISI TRINITAS :

“Ada satu Allah yang benar dan satu-satunya, tetapi di dalam keesaan dari Keallahan ini ada tiga Pribadi yang sama kekal dan setara, sama di dalam hakekat tetapi beda di dalam Pribadi” (Ryrie, Teologi Dasar, Jilid 1, hal. 72).

Kata Trinitas digunakan bukan saja untuk menekankan kesatuan di antara pribadi dalam Trinitas tetapi juga menekankan keterpisahan dan kesetaran dari tiga pribadi dalam Trinitas.


Konsep Allah Trinitas adalah :

๐Ÿ˜ฑSatu Allah Yang Esa, namun hadir dalam Tiga Pribadi: Allah Bapa dan Putra dan Roh Kudus, di mana ketiganya adalah sama esensinya, sama kedudukannnya, sama kuasanya, dan sama kemuliaannya.

Istilah Tritunggal (Inggris: trinity, Latin: trinitas) mengandung arti tiga Pribadi dalam satu kesatuan esensi Allah. Istilah "pribadi" dalam bahasa Yunani adalah hupostasis, diterjemahkan ke Latin sebagai persona (Inggris: Person).

Sejak awal abad ketiga doktrin Tritunggal telah dinyatakan sebagai "Satu keberadaan (Yunani: ousia, Inggris: beeing) Allah di dalam tiga Pribadi dan satu substansi (natur), Bapa, Anak, dan Roh Kudus "๐Ÿ™„


Bila kata ini dipasangkan dengan kata "Allah" = Allah Trinitas = Allah 3 SERANGKAI atau 3 SERANGKAI Allah yang terdiri dari :

๐Ÿ‘‰1. Allah Bapa.

๐Ÿ‘‰2. Allah Anak Laki-laki.

๐Ÿ‘‰3. Allah Roh Kudus.


Maka logika praktisnya iman Kristen mengakui adanya "3 Allah" (Triteisme).

Dalam teologia PL, bangsa Israel mengenal dengan benar PENYATAAN KEBERADAAN YHWH (Yahweh/Jehovah; bentuk TUNGGAL) dalam berbagai wujud yang mereka sebut sebagai ELOHIYM (bentuk JAMAK) namun mereka TETAP PADA PENDIRIAN PENGAKUAN bhw hanya ada SATU dan SATU-SATUNYA YHWH yang telah menjadi Elohiym.

๐Ÿ“œKitab Keluaran 6:4 menunjukkan dgn jelas bahwa bangsa Israel menganut kepercayaan "monoteis" :

๐Ÿ‘‰Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! [LAI-TB]

๐Ÿ‘‰bahasa Ibrani (dari kanan ke kiri) ׃ ื“ื—ื ׀ ื”ื•ื”ื™ ื•ื ื™ื”ืœื ื”ื•ื”ื™ ืœืืจืฉื™ ืขืžืฉ

๐Ÿ‘‰transliterasi bahasa Ibrani: she•ma yis•ra•'el YHWH e•lo•hei•nu YHWH e•khad.

๐Ÿ‘‰bahasa Latin (Vulgata): audi Israhel Dominus Deus noster Dominus unus est


♦ Israel tahu persis bahwa yang telah menjadi "Elohiym" itu adalah YHWH.✅

๐Ÿ‘‰De 32:39 ¶ See <ra'ah> now that I, even I, am he, and there is no god <'elohiym> with me: I kill, <muwth> and I make alive; <chayah> I wound, <machats> and I heal: <rapha'> neither is there any that can deliver <natsal> out of my hand. <yad>

LAI-TB :

Ulangan 32:39

๐Ÿ‘‰Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku. Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan, Aku telah meremukkan, tetapi Akulah yang menyembuhkan, dan seorang pun tidak ada yang dapat melepaskan dari tangan-Ku.

Israel tahu benar bahwa "TIDAK ADA Allah KECUALI/SELAIN YHWH :

๐Ÿ‘‰43:10 "Kamu inilah saksi-saksi-Ku," demikianlah firman TUHAN, "dan hamba-Ku yang telah Kupilih, supaya kamu tahu dan percaya kepada-Ku dan mengerti, bahwa Aku tetap Dia. Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi.

๐Ÿ‘‰43:11 Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku.

๐Ÿ‘‰43:12 Akulah yang memberitahukan, menyelamatkan dan mengabarkan, dan bukannya allah asing yang ada di antaramu. Kamulah saksi-saksi-Ku," demikianlah firman TUHAN, "dan Akulah Allah. [Yesaya]

๐Ÿ‘‰44:6 Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: "Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku. [Yesaya]

๐Ÿ‘‰45:21 Beritahukanlah dan kemukakanlah alasanmu, ya, biarlah mereka berunding bersama-sama: Siapakah yang mengabarkan hal ini dari zaman purbakala, dan memberitahukannya dari sejak dahulu? Bukankah Aku, TUHAN? Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain dari pada-Ku! Allah yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku! [Yesaya]


Pertanyaan :

Mengapa Israel TETAP KOKOH MENGAKUI YHWH sebagai SATU-SATUNYA SESEMBAHAN TERTINGGI DENGAN SATU EKSISTENSI, SATU PRIBADI ❓

Jawabannya :

===========

๐Ÿ•ต️‍♀️Perhatikan pertanyaan Musa, "Bagaimana tentang nama-Nya?", " ื•ืžืฉ־ื”ืž - MAH-SYEMO".

๐Ÿ‘‰* Keluaran 3:14 (LAI TB}, Firman Allah kepada Musa : AKU ADALAH AKU Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu."

๐Ÿ‘‰KJV, And God said unto Moses, I AM THAT I AM: and he said, Thus shalt thou say unto the children of Israel, I AM hath sent me unto you.

๐Ÿ‘‰Septuaginta (LXX), ฮบฮฑฮน ฮตฮนฯ€ฮตฮฝ ฮฟ ฮธฮตฮฟฯ‚ ฯ€ฯฮฟฯ‚ ฮผฯ‰ฯ…ฯƒฮทฮฝ ฮตฮณฯ‰ ฮตฮนฮผฮน ฮฟ ฯ‰ฮฝ ฮบฮฑฮน ฮตฮนฯ€ฮตฮฝ ฮฟฯ…ฯ„ฯ‰ฯ‚ ฮตฯฮตฮนฯ‚ ฯ„ฮฟฮนฯ‚ ฯ…ฮนฮฟฮนฯ‚ ฮนฯƒฯฮฑฮทฮป ฮฟ ฯ‰ฮฝ ฮฑฯ€ฮตฯƒฯ„ฮฑฮปฮบฮตฮฝ ฮผฮต ฯ€ฯฮฟฯ‚ ฯ…ฮผฮฑฯ‚

๐Ÿ‘‰Translit, KAI EIPEN HO THEOS PROS Mร”USรŠN EGร” EIMI HO ร”N KAI EIPEN AUTร”S EREIS TOIS HUIOIS ISRAรŠL HO ร”N APESTALKEN ME PROS HUMAS

๐Ÿ‘‰Hebrew,

ื”ִื™ื ืֶืœ־ืžืฉֶֹׁื” ืֶื”ְื™ื”ֶ ืֲืฉֶׁืจ ืֶื”ְื™ื”ֶ ื•ื™ַּืֹืžֶืจ ื›ּื”ֹ ืชืֹืžַืจ ืœִื‘ְื ื™ֵ ื™ืฉְִׂืจָืֵืœ ืֶื”ְื™ื”ֶ ืฉְׁืœָื—ַื ื™ִ ืֲืœֵื™ื›ֶื׃ ๔€‹„ ื•ื™ַּืֹืžֶืจ ืֱ

๐Ÿ‘‰Translit interlinear, VAYO'MER [dan Dia berfirman] 'ELOHIM [Allah] 'EL-MOSYEH [kepada Musa] 'EHEYEH [Aku akan ada] 'ASYER [yang] 'EHEYEH [Aku akan ada] VAYO'MER [dan Dia berfirman] KOH [demikian] TO'MAR [engkau harus berkata] LIVENEY [kepada anak-anak] YISERA'EL [Israel] 'EHEYEH [Aku akan ada] SYELAKHANI [mengutus aku] 'ALEYKHEM [ke atas kalian]


๐Ÿ’‍♂️Israel memiliki dasar pijakan teologis yang kokoh pada frasa : I AM THAT I AM ('EH-YEH 'A-SHER 'EH-YEH) yang menyatakan KEBERADAAN/ EKSISTENSI "TUNGGAL/ SINGULAR" dari "SANG NAMA" (Hasyem).

Sayangnya ..... Konsili Nicea thn 325 merumuskan "Allah Trinitas" TIDAK BERDASARKAN PRINSIP "I AM THAT I AM ('EH-YEH 'A-SHER 'EH-YEH)".๐Ÿคฆ‍♂️


berrsambung ... ๐Ÿ‘‰SIAPAKAH SESUNGGUHNYA "JURUSELAMAT SEJATI ❓"✍

๐Ÿ’‍♂️fides quaerens intellectum๐Ÿง‍♂️


๐ŸคSalam Hyper Grace dalam Bapa Yesus...๐Ÿ’