Halaman

Senin, 26 Januari 2026

💰PERSEPULUHAN 👉 ALKITABIAH TAPI TIDAK INJILI [PARTISI 2👉C]📕

 


C. BEDAH CAESAR MALEAKHI 3:10

Penafsiran Alkitab harus mempunyai fokus yang nyata dalam tujuan penafsirannya yaitu mengemukakan arti yang sama dengan yang diinginkan pengarang waktu ia menulis.

Para cendekiawan Alkitab menggunakan istilah “hermeneutik” untuk menjelaskan ilmu penafsiran Kitab-kitab Suci. Ilmu penafsiran ini adalah bentuk eksegese yang pada dasarnya berarti menginterpretasikan atau menafsirkan teks sebuah dokumen. Hermeneutik mencoba menemukan makna yang dimaksudkan penulis dengan mula-mula, meneliti dengan cermat teks dan koteksnya. Kata-kata yang memiliki makna yang berbeda-beda kalau digunakan dalam konteks yang berbeda-beda pula. Hermeneutik melibatkan proses memahami apa pesannya, siapa yang menyampaikan pesan itu dan kepada siapa pesan tersebut ditujukan.

Istilah “hermeneutik” berasal dari nama Hermes, dewa utusan bangsa Yunani. Bangsa Romawi juga memakai nama Mercury untuk utusan ilahi yang sama. Hermes sering menyampaikan pesan-pesan dari Zeus (Jupiter bagi bangsa Romawi). Oleh karena itu, kumpulan orang banyak di Listra yang berbahasa Likaonia menyebut Barnabas sebagai Zeus dan Paulus sebagai Hermes (Kisah Para Rasul 14:12).

Untuk melakukan penafsiran terhadap Alkitab para teolog menggunakan beberapa metode, antara lain metode alegori, yang berusaha menemukan arti rohani dibalik kata-kata hurufiah dalam ayat-ayat Alkitab; metode mistik, yang hampir sama dengan metode alegori. Metode mistik mengira bahwa dibalik kata-kata biasa terdapat banyak arti. Metode ini melebihi metode alegori, membuka pintu lebar-lebar untuk banyak penafsiran. Suatu pasal atau bagian dari Alkitab selain mempunyai arti yang hurufiah juga mempunyai banyak arti rohani yang melambung sehingga menimbulkan kesan “spritualisasi”. Berikutnya adalah metode ibadat, yang percaya bahwa Alkitab ditulis hanya untuk tujuan edifikasi (peneguhan iman atau pembangunan moral) pribadi para pemercaya, sehingga mereka harus berupaya menemukan arti rohani yang tersembunyi dibalik perkataan hurufiah Alkitab. Para penafsir Alkitab yang lainnya menggunakan metode rasionil untuk membuktikan bahwa Alkitab bukanlah firman Allah yang diilhami. Mereka katakan bahwa Alkitab tidaklah berbeda dengan catatan-catatan dokumentasi lainnya berdasarkan kemampuan akal manusia yang alamiah. Dengan demikian mereka yang menggunakan metode ini menolak hal-hal supranatural dalam Alkitab. Masih ada sebuah metode penafsiran Alkitab, yaitu metode literal, sebagai metode yang tertua dari semua metode yang digunakan dalam menafsirkan Alkitab. Ezra, “Bapak Hermeneutik” menggunakan metode ini yang kemudian diteruskan oleh orang-orang Yahudi Palestina, Yesus, Rasul-rasul, sekolah di Antiokia dan para reformator hingga para fundamentalis dan konservatif sekarang ini.

Sehubungan dengan upaya operasi caesar atas kitab Maleakhi maka metode literal inilah yang dipilih. Alasan logisnya, metode ini mengartikan Alkitab dalam arti biasa yang dapat dipercaya. Allah menginginkan wahyu-Nya dapat dimengerti oleh semua orang percaya. Firman Allah yang tertulis dalam Alkitab mengkomunikasikan apa yang Allah inginkan manusia harus tahu secara literal. Bahwa Allah telah mendasarkan komunikasi kebenaran-Nya lewat hukum-hukum-Nya yang tertulis dan Ia ingin semuanya itu diinterpretasikan sesuai dengan apa yang telah tertulis tersebut. Ini tidaklah menolak keterlibatan Rohul Kudus dalam interpretasi Alkitab.

Kata “literal” dapat didefinisikan sebagai biasa, suatu arti yang dapat diterima umum yang dikandung oleh kata dalam suatu konteks bahasan. Ada kata yang memiliki arti tertentu untuk penulis dan pembaca. Ada juga kata yang mempunyai beberapa arti dalam konteks yang berbeda; jadi harus ditafsir secara kontekstual.

Menurut Paul Tan, menafsir “literal” menerangkan maksud penulis sesuai dengan pemakaian kata yang biasa, normal. Metode ini juga disebut “metode gramatik historis”, sebab untuk menentukan pemakaian bahasa Alkitab yang normal, harus memperhatikan peraturan gramatikalnya dan juga aspek sejarah dan kebudayaan.

Walaupun kita tidak seluruhnya setuju dengan aplikasi dari metode literal, pandangan Tan, dapatlah dikembangkan :

1. Dalam pengertian literal juga termasuk figuratif ibarat

Walaupun dalam (ibarat) pengertian ibarat itu berlawanan dengan pengertian literal, akan tetapi bahasa kiasan adalah bagian dari komunikasi normal. Jadi literal termasuk figuratif (ibarat).

2. Metode literal juga termasuk arti rohani

Beberapa penafsir menggunakan istilah arti rohani berlawanan dengan istilah literal, walaupun dalam pengertian kata demikian. Di bawah judul “metode mengartirohanikan” beberapa penafsir telah merohanikan Alkitab pada arti yang lain pada apa yang sebenarnya. Dalam metode literal walaupun menolak spiritualisasi tapi menerima wujud dan dasar rohani dari Alkitab. Alkitab adalah buku rohani yang berisi kebenaran rohani yang harus ditafsir secara rohani.

3. Dalam penafsiran literal juga termasuk penerapan

Beberapa penafsir bingung dengan istilah aplikasi. Jhon Calvin berkata, “Firman Allah adalah tak habis-habisnya dan cocok diterapkan di segala waktu, tapi ada perbedaan antara penerangan dan aplikasi, aplikasi harus berbarengan dengan penerangan”.

Tugas dari interpretasi literal, pertama adalah menggali arti firman Allah dan kemudian pada dasar ini mengaplikasi atau menerapkannya. Aturan umum dari metode literal adalah terdapat banyak aplikasi dari suatu interpretasi.

4. Metode literal juga termasuk pengertian yang dalam

Ada penafsir yang berpendapat, metode literal membatasi orang percaya menemukan arti rohani yang dalam; arti kebenaran firman Allah yang lebih kompleks. Seringkali kebenaran Alkitab itu tidak hanya terlihat nyata dalam bentuk luar, tapi masih mempunyai arti-arti rohani lainnya didalamnya. Peristiwa-peristiwa sejarah mempunyai arti-arti rohani dan kesusasteraan lain seperti, tipe, simbol, allegory dan lain-lain. Akan tetapi perlu diperhatikan dengan seksama bahwa pengembangan arti-arti baru tersebut haruslah didasarkan pada pengertian literal.

Mari kita mulai....>>>

Maleakhi 3 perlu mendapat perhatian khusus, sebab ayat 10 secara khusus kerap dicabut dari konteksnya dan dimanfaatkan untuk membenarkan praktik persepuluhan pada masa kini. Kita harus mengakui secara jujur bahwa bahasa religius yang dipakai oleh Kitab Maleakhi sangat legalistis. Aturan agama ingin ditegakkan. Namun demikian, semangat legalisme ini bukanlah yang paling utama. Pesan Kitab Maleakhi bukan soal legalisme hidup iman, namun soal kesetiaan Allah yang direspons tidak sepantasnya oleh umat Israel.

Ditulis antara 450 dan 400 tahun sebelum Masehi di Yerusalem, kitab Maleakhi dinamai sesuai nama penulisnya, Maleakhi. Dalam bahasa Ibrani disebut Mal.a.khi yang berarti “utusanKu”. Dalam bahasa Yunani disebut Malakhias yang berarti “utusan (malaikat Yehuwa)”. Alkitab Ibrani, terjemahan Septuaginta dan urutan kronologis dari buku-buku itu semuanya menempatkan kitab Maleakhi sebagai yang paling penghabisan dari kedua belas kitab nabi-nabi kecil. Menurut tradisi dari Majelis Besar, Maleakhi hidup sesudah zaman nabi Hagai dan Zakharia dan sezaman dengan Nehemia. Kitab ini ditulis semasa pemulihan kembali Yerusalem sesudah 70 tahun lamanya Yehuda mengalami kehancuran dan keterpurukan moral.

Nubuatan Maleakhi bukan semata-mata ditujukan kepada seluruh bangsa Israel tetapi khususnya kepada sisa-sisa bangsa Israel yang kembali dari penawanan atau lebih tepatnya masa perbudakan di Babel. Maleakhi menunjukkan bahwa kerajinan dan semangat agama yang telah dibangkitkan oleh nabi Hagai dan Zakharai pada waktu pembangunan kembali Bait Allah itu, telah lenyap lagi. Bangsa ini jatuh dalam berbagai macam dosa, perceraian; perkawinan campur dengan pasangan yang menyembah ilah asing; mengabaikan Bait Allah dan persembahan persepuluhan; kepemimpinan yang tidak takut akan Allah dan keacuhan. Para imam telah menjadi lalai, angkuh dan bersikap membenarkan diri.

Tuduhan terhadap Israel dilancarkan dalam dialog. Dalam setiap tuduhan Tuhan timbul pertanyaan menantang dari bani Yakub. Misalnya Allah menuduh para Imam mempersembahkan roti yang cemar. Mereka menjawab “dengan cara bagaimanakah kami mencemarkannya?” (1:7-8). Hal ini langsung bertentangan dengan Taurat Musa, yang menuntut supaya korban-korban sembelihan dipilih yang utuh. Tapi sebaliknya mereka membawa yang buta dan timpang, sehingga dengan berbuat demikian para imam menunjukkan penghinaan terhadap Tuhan.

Kemurtadan imat Israel bukanlah hal baru, tapi sudah terjadi sejak dahulu.

Persembahan persepuluhan dan persembahan lainnya yang seharusnya diberikan pada bani Lewi telah dihentikan karena adanya perasaan bahwa Allah tidak lagi memperhatikan mereka, padahal, sejak semula ditegaskan bahwa Allah mengasihi Israel (1:2-5).

Selengkapnya, ikutilah dialog singkat antara Tuhan dengan bani Yakub seputar persembahan persepuluhan :

3:6 Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah, dan kamu, bani Yakub, tidak akan lenyap.

3:7 Sejak zaman nenek moyangmu kamu telah menyimpang dari ketetapan-Ku dan tidak memeliharanya. Kembalilah kepada-Ku, maka Aku akan kembali kepadamu, firman TUHAN semesta alam. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami harus kembali?"

3:8 Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?" Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus!

3:9 Kamu telah kena kutuk, tetapi kamu masih menipu Aku, ya kamu seluruh bangsa!

3:10 Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.

3:11 Aku akan menghardik bagimu belalang pelahap, supaya jangan dihabisinya hasil tanahmu dan supaya jangan pohon anggur di padang tidak berbuah bagimu, firman TUHAN semesta alam.

3:12 Maka segala bangsa akan menyebut kamu berbahagia, sebab kamu ini akan menjadi negeri kesukaan, firman TUHAN semesta alam.

Operasi caesar dimulai dari ayat 6, “Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah, dan kamu, bani Yakub, tidak akan lenyap.” Perkataan ini jelas menggambarkan dengan siapakah Tuhan berbicara; bani Yakub (bangsa Israel). Tuhan menyatakan kesetiaan-Nya dan konsistensi-Nya atas aturan persepuluhan yang dibuat-Nya dalam Bilangan 18, khususnya pada ayat 21-24.

Pada ayat 7 menggambarkan kebiasaan buruk ini telah berurat akar dalam bangsa Israel sejak nenek moyang yang selalu menyimpang dari ketetapan Tuhan. Walaupun demikian Tuhan tetap mengajak mereka bertobat. Tetapi Israel berpura-pura tidak tahu akan kesalahan yang mereka telah perbuat dan balik bertanya pada Tuhan. Inilah yang disebut kemunafikan.

Dalam ayat 8, Tuhan memberi pertanyaan pada bangsa tegar tengkuk ini, “bolehkah manusia menipu Allah?” Bila ditelusuri secara genetik, bangsa ini mewarisi sifat bapak leluhur mereka, Yakub, yang telah menipu Ishak dan Esau, kakaknya (Kejadian 27:35-36). Kalau Israel senior (Yakub) pernah menipu Esau dengan sepiring kacang merah demi hak kesulungan, lalu menipu Ishak, ayahnya dengan makanan yang lezat demi menerima berkat kesulungan yang dirampasnya dari Esau, maka keturunannya, bani Yakub (Israel) melakukan penipuan yang lebih spektakuler. Israel menipu Tuhan dengan persembahan persepuluhan dan persembahan khusus karena cinta diri, tidak mau memberikan haknya bani Lewi, saudara mereka itu. Ini sifat individualistis, hanya memikirkan diri sendiri.

Ayat 9 memberitahukan bahwa seluruh bangsa Israel walau telah kena kutuk namun tetap saja menipu Tuhan dengan persembahan persepuluhan yang seharusnya mereka bawa kepada bani Lewi. Seluruh bangsa Israel telah tahu benar bahwa persepuluhan itu adalah milik pusaka bani Lewi turun-temurun, selamanya tapi mereka tetap saja tidak mau memberi. Menahan hak bani Lewi, yang sudah ditetapkan Tuhan, sama saja dengan menipu Tuhan.

Dan inilah ayat paling digemari dan yang dijadikan landasan teologi doktrinal gereja :

3:10. Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.

Disinilah letaknya alasan utama mengapa perlu dilakukan operasi caesar atas Maleakhi yang memang sudah dipersiapkan sebelumnya. Pembedahan dimulai dari penggalan ini :

“ Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan,”

Hasil operasi membuktikan bahwa yang disuruh Tuhan membawa persembahan persepuluhan adalah bangsa Israel – sangat jelas. Israel harus membawanya ke dalam rumah perbendaharaan atau yang disebut juga sebagai bilik-bilik perbendaharaan yang letaknya di pelataran Bait Allah (baca kembali poin B. Rumah Perbendaharaan Perjanjian Baru).

Banyak pendeta menyatakan bahwa persepuluhan harus di bawa ke gereja karena gereja adalah perwujudan Bait Allah di dalam PB. Tetapi Maleakhi 3:10 dan ayat-ayat lainnya di dalam PL menyatakan bahwa persepuluhan orang Israel harus dibawa ke rumah perbendaharaan, bukan ke Bait Allah, dimana orang-orang Lewi bertugas untuk mengatur pembagian persepuluhan itu, agar setiap harinya terdapat persediaan makanan di Bait Allah. Bayangkan seandainya semua orang dari seluruh pelosok negeri Israel membawa sepersepuluh dari panen mereka ke Bait Allah, apakah kira-kira Bait Allah dapat menampungnya?

Selain itu, secara tegas Tuhan Yesus menyatakan bahwa tidak ada lagi bangunan Bait Allah di masa Pernjanjian Baru, karena Bait Allah yang sesungguhnya adalah diri kita sendiri, yaitu orang-orang yang percaya kepada-Nya (Yohanes 2:19-21, 1 Korintus 3:16), yang didirikan bukan oleh tangan manusia, melainkan oleh Tuhan Yesus sendiri. Jadi bagaimana mungkin kita tetap mempertahankan ide untuk membawa persembahan persepuluhan ke gereja (Bait Allah)? Kalau begitu, kemana bangsa Israel membawa persepuluhan mereka? Tergantung jenis persepuluhannya. Pertama, mereka membawa Ma’aser Rishon ke kota-kota orang Lewi yang tersebar di seluruh penjuru negeri Israel (Bil 35:1-8, Yos 21:1-42). Kedua, mereka membawa Ma’aser Sheni ke kota Yerusalem untuk dimakan bersama-sama di dalam perayaan pesta panen (Ul 14:24). Ketiga, mereka membawa Ma’aser Ani ke pintu gerbang kota masing-masing supaya janda-janda, anak yatim dan orang asing dapat makan dan menjadi kenyang (Ul 14:28).

Gereja, secara organisatoris yang juga memiliki bentuk fisik, tidak memiliki rumah perbendaharaan dimaksud. Pastori bukanlah rumah perbendaharaan, tetapi tempat tinggal Gembala sidang. Jadi, adalah sangat tidak tepat bila berusaha menjelaskan pada jemaat bahwa mereka harus bawa persepuluhan ke gedung gereja atau ke pastori sebagai rumah perbendaharaannya.

“supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku”

Hasil operasi menunjukkan bahwa frasa inilah yang kemudian diterjemahkan lewat metoda ilmu tafsir semau-maunya.

Pada masa pelayanan kaum Lewi, Tuhan telah menetapkan bahwa mereka tidak akan mendapat harta warisan atau milik pusaka diantara saudara-saudaranya; sehingga untuk memenuhi kebutuhan jasmaniah mereka, Tuhan menyuruh 11 suku membawa segala jenis persembahan termasuk persembahan persepuluhan yang menjadi milik pusaka kaum Lewi ke dalam rumah perbendaharan.

Bila mencermatinya secara kontekstual maka seluruh bani Lewi mendapat makan dari bilik perbendaharaan yang ada di halaman/pelataran Bait Allah (dalam PL disebut juga sebagai Rumah Allah). Kalau dipaksakan intepretasinya masuk dalam gereja maka seharusnya 5 jawatan berhak menikmati persediaan makanan dalam Rumah Tuhan sebagaimana bani Lewi menikmatinya.

Fakta membuktikan bahwa yang memonopoli "persediaan makanan di rumah-Ku" hanyalah Gembala dan kaum keluarganya; 4 jawatan lainnya tidak berhak atasnya. Sebenarnya konsep "rumah Tuhan" dalam masa gereja itu seperti apa? Siapa sajakah yang boleh berdiam/tinggal di "rumah Tuhan" dalam masa gereja saat ini?

Bukankah seharusnya "rumah Tuhan" itu menjadi hunian bersama 5 jawatan sehingga persediaan makanan di dalamnya pun dibagi bersama sesuai kebutuhan masing-masing?

Kenapa 4 jawatan lain tidak punya hak menikmati persediaan makanan di rumah Tuhan yang adalah rumah BAPA mereka juga? Ini pendiskreditan jawatan.

Apakah TUHAN sendiri yang menempatkan Gembala Sidang di dalam rumah-Nya dan menyuruh 4 jawatan lainnya cari rumah kontrakan masing-masing?

“dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.”

Hasil operasi menyimpulkan bahwa perintah Tuhan pada Israel untuk bawa persepuluhan diperlengkapi dengan hukum sebab akibat. Bila Israel melakukannya dengan taat dan setia maka Tuhan akan membuka tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat-berkat jasmaniah bagi mereka. Di sini, nampaknya Allah sendiri membuka diri-Nya untuk diuji oleh bangsa keras tengkuk ini. Bangsa Israel sejak keluar dari tanah perbudakan, Mesir, selalu meminta tanda penyertaan Tuhan untuk segala sesuatu yang mereka lakukan (1 Korintus 1:22a). Tetapi bila mereka melanggar dan tidak setia lagi dalam mentaati perintah, peraturan dan ketetapan Tuhan (Ulangan 8:11), termasuk dalam hal persepuluhan maka kutuklah yang menjadi bagian mereka (cermati Ulangan 28:15-46).

Jadi, Maleakhi 3:10 haruslah dilihat dalam kerangka “kita-memberi-karena-sudah-menerima” dan bukan sebaliknya, “kita-memberi-supaya-menerima”. Kerangka berpikir yang kedua sungguh berlawanan dengan prinsip utama keseluruhan Alkitab. Allah Alkitab tidak pernah menetapkan suatu cara berpikir “Hukum Bisnis Rohani.”

Masih ada lanjutan operasi pasca caesar......

Allah berjanji bukan hanya buka tingkap-tingkap langit lalu curahkan berkat, namun Ia juga berjanji :

3:11 Aku akan menghardik bagimu belalang pelahap, supaya jangan dihabisinya hasil tanahmu dan supaya jangan pohon anggur di padang tidak berbuah bagimu, firman TUHAN semesta alam.

3:12 Maka segala bangsa akan menyebut kamu berbahagia, sebab kamu ini akan menjadi negeri kesukaan, firman TUHAN semesta alam.

Hasil operasi tambahan ini membenarkan semua janji Allah dibuktikan atas bangsa Israel. Kita tidak bisa menutup mata terhadap semua kemajuan dalam segala bidang kehidupan yang telah dialami dan masih sedang digenapi dalam bangsa ini. Media massa seantero dunia memberitakan pertumbuhan ekonomi yang pesat dan juga kemajuan ilmu pengetahuan teknologi yang spektakuler.

Namun jika ini coba dimasukkan dalam rana pemahaman PB dimana Gereja berada, maka nampaklah inkorelasi penerapannya. Gereja adalah panggilan Tuhan secara pribadi sehingga kata “kamu” (ayat 12) tidaklah tepat diganti dengan “saya” yang disambung “akan menjadi negeri kesukaan”. Ketika anda diberkati Tuhan karena beri persepuluhan, semua bangsa di duni ini tidak akan menyebutmu, “berbahagia”. Jadi, secara kontekstual ayat 11-12 hanya berlaku untuk suatu bangsa yakni Israel.


berrsambung ... PARTISI 2 👉D. KETERLIBATAN PELAYANAN LIMA JAWATAN

0 comments:

Posting Komentar