E. KOMPLEKSITAS TUNTUTAN KEBUTUHAN MASA KINI
Siapa pun akan merasa sangat peka bila menyangkut tuntutan kebutuhan hidup, baik secara pribadi apalagi berhubungan dengan rumah tangga atau keluarga. Orang akan berusaha semaksimal mungkin atau sebisanya untuk memenuhi tuntutan pendidikan anaknya atau mempersiapkan masa depan anak dan keluarganya.
Sebagai manusia yang normal dalam pemikiran dan yang bertanggung jawab, tentunya tidak saja berusaha memenuhi kebutuhan pokok tetapi ingin menanjak ke kebutuhan sekunder dan seterusnya hingga kebutuhan mewah.
Memang, tak dapat dipungkiri bahwa desakan kebutuhan tiap individu berbeda dan pemenuhannya pun tergantung pada kemampuan perorangan atau keadaan perekonomian dan pasar yang berlaku. Misalnya, kesulitan pemenuhan sembilan kebutuhan pokok (sembako) pada tahun 1950-an sangat berbeda dengan tahun 1970-an, apalagi bila dibandingkan dengan tahun sekarang dan yang akan datang.
Saya teringat masa kecil saat duduk di bangku SD, di kota Ba’a (sebenarnya masih kategori desa bila dibanding dengan sekarang) di sebuah pulau terselatan Indonesia, pulau Rote, propinsi Nusa Tenggara Timur. Era tahun 1970-an, uang receh lima rupiah masih mempunyai nilai tukar untuk membeli gula-gula, es lilin, dan beberapa keperluan dapur. Tidak dipungut biaya pendaftaran saat masuk Taman Kanak-kanak, SD, SMP. SPP sangat murah. Mulai dari tiga ratus hingga seribu rupiah semasa SD hingga SMP; untuk SMA tidak lebih dari sepuluh ribu rupiah. Dan bila ke sekolah minggu atau ke gereja, kolektenya (persembahan/derma) masih boleh sepuluh hingga dua puluh lima rupiah (tidak di “marahi atau disindir” pendeta dari atas mimbar).
Maaf, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa pada masa itu tidak ada lagi pengeluhan tentang kesulitan-kesulitan hidup lainnya. Yah, di mana-mana dan kapan saja selama kita masih bernapas maka kesulitan dalam bentuk dan sebutan apa pun masih dirasakan dan dikeluhkan. Alkitab sudah mencatatnya sebagai peringatan untuk kita bahwa dunia bukanlah bertambah baik dari waktu ke waktu melainkan sebaliknya; seirama dengan ketuaan maka semakin kompleks saja tuntutan kebutuhan hidup ini.
Mari perhatikan beberapa kutipan firman Allah berikut :
“Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang.
– 2 Timotius 3:1-2a –
“…selama masih diam di dalam kemah ini, kita mengeluh oleh beratnya tekanan,…”
– 2 Korintus 5:4 –
“Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi.” – Yakobus 4:1-2 –
Yesus menjawab mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.
– Yohanes 6:26 –
Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”.
– Yakobus 4:13 –
Kutipan firman Allah di atas menyiratkan tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup dari waktu ke waktu menunjukkan grafik yang terus meningkat disesuaikan dengan perkembangan zaman atau peradaban manusia.
Marilah kita kembali menghubungkannya dengan kebutuhan para hamba Tuhan di tengah-tengah pelayanan kepada jemaat. Bila Anda setuju, buatlah semacam tabel perhitungan untuk perbandingan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari antara Gembala Sidang yang menggembalakan di atas seratus kepala keluarga dengan pendapatan – kita sepakat saja untuk menyama-ratakan – per bulan Rp. 1.000.000 per kepala keluarga dengan beberapa – sebenarnya jauh lebih banyak – Gembala Sidang yang menggembalakan kurang dari sepuluh kepala keluarga yang memiliki pendapatan – disini pun kita sepakati saja – rata-rata Rp. 1.000.000,- per bulannya.
Bila yang menjadi tradisi perhitungan adalah sepersepuluh yang dibawa ke dalam rumah perbendaharaan untuk menafkahi kehidupan para Gembala Sidang Jemaat maka kita akan mendapati hasil perhitungan sebagai berikut :
👉1. Bila jumlah kepala keluarga lebih dari 100 maka, 1/10 x (100 KK x Rp. 1.000.000) = Rp. 10.000.000,- atau lebih dari itu per bulannya.
Jika pemasukan/pendapatan per bulan seperti ini maka Gembala Sidangnya akan hidup “makmur” dan “sejahtera”. Kebutuhan keluarga terpenuhi, anak-anak dapat melanjutkan pendidikan ke tingkat yang jauh lebih tinggi tanpa kuatir kehabisan dana bahkan bisa menjadi pemegang polis asuransi atau setidaknya ada saldo tabungan masa depan – biasanya persiapan untuk pasca pengembalaan – setelah didiakoniakan/”dipensiunkan” organisasi gereja.
👉2. Bila jumlah kepala keluarga kurang dari 10 maka, 1/10 x (10 KK x Rp. 1.000.000) = Rp. 1.000.000,- atau kurang dari itu per bulannya.
Jika ini kenyataannya, maka Anda sudah dapat memprediksikan bagaimana ke depannya dan apa yang bakal terjadi dengan Gembala beserta keluarganya.
Anda bisa pikirkan dan bayangkan bagaimana atau apa yang akan terjadi pada kehidupan jasmani dari empat jawatan lainnya dalam memenuhi tuntutan kebutuhan hidup pribadi dan keluarga? Bagaimana mungkin mereka dapat fokus terhadap tanggung jawab pelayanan tubuh Kristus sedangkan untuk makan saja pun kesulitan?
Disinilah nampak dengan sangat jelas di pelupuk mata, jurang pemisah yang menganga diantara para hamba Tuhan “kaya” dan “miskin”.
Seandainya Anda punya argumentasi sanggahan, sebaiknya luangkan sedikit waktu menengok ke dalam nurani Anda untuk dapat menyelaraskannya dengan logika obyektif Anda sehingga hal itu tidak sekedar disampaikan karena faktor emosional yang egosentris untuk mempertahankan status quo.
Sengaja, saya tidak memasukkan tuntutan kebutuhan hidup sehari-hari dari empat jawatan pelayanan lainnya untuk dihitung secara jujur dan komprehensif dalam hubungannya dengan penerimaan persepuluhan – walau hal itu adalah hak mereka, sesuai dengan Taurat TUHAN.
Bila demikian fakta lapangannya, maka tidaklah mengherankan jika misi penyelamatan manusia menjadi tersendat-sendat. Marilah gunakan rasio Anda yang paling sehat dan obyektif sekali lagi untuk berpikir, menganalisa, menyimpulkan dan mengambil keputusan terhadap beberapa kalimat berikut, “Sedangkan beberapa dari mereka – biasanya hanya memiliki “jemaat” relatif sangat sedikit – yang mengemban jawatan Gembala Sidang Jemaat saja mengalami kesulitan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, bagaimana jadinya dengan kehidupan empat jawatan pelayanan lainnya? Mana hak mereka? Bagaimana pula dengan masa depan keluarga dan anak-anak? Bukankah mereka telah dipanggil dan telah meleburkan diri dalam pelayanan tim bersama Gembala untuk pembangunan tubuh Kristus yaitu jemaat?”. Silahkan …, Anda pun bisa melanjutkan beberapa pertanyaan mengusik dan sekaligus menjawabnya untuk referensi pribadi.
Di sini, kita akan mendapati bahwa gereja secara organisasi akan menghabiskan cukup banyak waktu untuk menyelesaikan persoalan internal ini. Mengapa demikian? Sebab, para pelayan Tuhan ini akan menerapkan “standar ganda” pelayanan. Maksudnya, sering terjadi crossing (penyeberangan) jawatan hanya untuk memperoleh jatah persepuluhan jemaat dan untuk kesinambungan pelayanan jawatan yang melekat padanya. Misalnya, seseorang yang memiliki karunia jawatan Penginjil, Guru, Rasul atau pun Nabi akan berusaha semaksimal mungkin menjadi seorang Gembala karena alasan-alasan yang sangat manusiawi – walau tidak berlaku umum namun sangat fenomenal. Beberapa kasus diantaranya sangat menyedihkan dan memprihatinkan karena menyebabkan perpecahan, perampasan bahkan tragisnya, sampai melakukan kudeta pelayanan penggembalaan – saya kira ini bukanlah rahasia lagi bagi Anda, pembaca, bila rajin mengamati-amatinya. Baiklah…, kita lanjutkan saja.
berrsambung ... PARTISI 2 👉F. MOBILISASI PELAYANAN PENUAIAN GLOBAL✍

0 comments:
Posting Komentar