F. MOBILISASI PELAYANAN PENUAIAN GLOBAL
Kita semua tahu bahwa gereja sedang berada ditengah-tengah dekadensi moral yang sangat memprihatinkan sebagai akibat negatif dari semakin canggihnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern secara universal dan di Indonesia pada khususnya. Dari sudut pandang positif, perkembangan pola kehidupan modern berteknologi tinggi ini membantu gereja dalam pelayanan misi untuk menjangkau jiwa-jiwa yang belum pernah mendengar berita keselamatan (Injil Yesus Kristus) yakni hanya melalui media informasi audio visual/elektronik dan media cetak. Tetapi disisi lainnya, gereja terbuai dan cenderung menjadi “malas” untuk secara maksimal mengolah dan menggunakan seluruh potensi pelayanan internal dalam bidang koinonia, marturia dan diakonia. Apalagi menghadapi konflik horizontal antar etnis dan umat beragama yang semakin meluas hampir tak terkendali.
Walau tidak dapat dikatakan secara keseluruhan, gereja sepertinya “enggan” untuk mengutus para misionarisnya ke daerah-daerah yang rawan konflik. Gereja lebih memilih jalur “aman” (statis) dan dengan teguh mempertahankan status quo sambil menunggu masa pencerahan dari iklim politik dan ekonomi Dalam Negeri yang sedang diliputi kabut krisis yang seakan tiada berakhir ini. Memang secara merk organisasi gereja nampaknya bertambah dan bentuk fisik bangunan gerejapun tetap eksis walau harus terus-menerus diperbaiki ataupun membangunnya dari awal akibat amukan massa. Namun jika diteliti/dicermati secara lebih obyektif, pertambahan denominasi gereja dan atau pertambahan jumlah anggota jemaat pada sebuah denominasi yang sudah ada, hanyalah merupakan bentuk “nomaden” atau migrasi anggota jemaat dari satu gereja lokal ke gereja lokal lainnya yang berbeda merk. Hal inilah yang disebut sebagai “rotasi jemaat dalam orbit denominasi” dan bukanlah tuaian jiwa-jiwa baru sebagaimana misi agung yang diperintahkan oleh kepala gereja Tuhan Yesus Kristus (baca Matius 28:18-20).
Kini saatnya gereja bangkit dan bergerak secara optimal untuk menjaring jiwa-jiwa baru dengan cara memberdayakan seluruh potensi internal gereja melalui jawatan-jawatan pelayanan seperti yang dikaruniakan Kristus. Gereja harus mengadakan terobosan pelayanan ke setiap lini kehidupan masyarakat sekitar. Transformasi rohani dapat menembus setiap strata, perorangan ataupun kelompok orang bila secara proaktif gereja menyikapinya. Gereja tidak boleh statis dan merasa puas diri dengan jumlah anggota jemaat atau bentuk-bentuk pelayanan yang sudah ada.
Masa anugerah akan segera berakhir. Hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya penggenapan nubuatan dan tanda-tanda zaman seperti yang tertulis dalam Alkitab. Bila ditinjau dari perjalanan zaman (peta zaman), maka posisi gereja saat ini berada dalam “masa kerja 1 jam terakhir” menjelang malam – kegelapan, kesukaran besar – dimana Injil Kerajaan Allah akan ditarik kembali oleh Bapa sorgawi (Matius 20:6,12a; Amos 8:12; Matius 24:14 bdk. Yohanes 9:4, Pengkhotbah 9:10;).
Perlu dipahami secara benar bahwa pelayanan misi penuaian saat ini bukan lagi milik seseorang atau sekelompok orang yang menyebut diri ataupun menerima predikat “Gembala, Ketua Jemaat, Bishop, Pastor, Penatua, Syamas, Penginjil ataupun sebutan sejenis lainnya” dalam artian yang sangat sempit, tetapi misi ini milik setiap pribadi yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai TUHAN. Gereja harus “all out” (mobilisasi total) dalam menerapkan strategi pelayanan terakhir sebelum kedatangan Gembala Agung segala domba yaitu Tuhan Yesus Kristus. Gereja harus masuk dan bergerak dalam lini pelayanan multidimensional jika ingin mencapai target penuaian akbar bagi Kerajaan Allah. Tidak ada pilihan lain, gereja harus menggalang persatuan internal jemaat lokal dan antar denominasi untuk memperoleh kekuatan penuh guna melaksanakan tugas akhir yaitu “merampas mereka yang sementara menuju ke dalam api neraka” (Yudas 1:23a).
Eksistensi kehidupan kristiani akhir zaman yang syarat tantangan, semakin diuji kualitas kasih dan imannya; khususnya di Indonesia, yang hampir dapat disebut sebagai “biang konflik horisontal” baik dalam bidang sosial, ekonomi dan politik, sangat berpengaruh terhadap kehidupan bergereja. Masalah HAM, bentrok antar etnis/suku, isue SARA sudah “menjalar” bak “kanker ganas” stadium akhir yang memporak-poranda sendi-sendi kehidupan bermasyarakat hampir di seluruh tanah air. Pemberantasan KKN hanyalah slogan para penguasa yang tidak pernah jemu-jemu menipu rakyat. Mereka yang menyebut dirinya “pakar” pun tidak mampu mempersempit jurang antara si kaya dan si miskin (konglomerat dan “kolongmelarat”) yang semakin menganga.
Lilitan hutang luar negeri menjadikan Indonesia tercinta ini seperti “mumi Firaun” yang diawetkan dalam krisis moneter. Daftar panjang penderitaan anak bangsa semakin lengkap dengan hadirnya “OTDA” – Otonomi Daerah. Berbagai komponen bangsa mulai “menggeliat” berusaha bangkit dan melepaskan diri dari situasi yang semacam ini. Tokoh-tokoh masyarakat dan agama bersikukuh merajut kembali pilar-pilar persatuan bangsa yang terkoyak hampir ambruk.
Kehidupan ke-kristenan pun semakin tertantang untuk tetap menebar kasih Kristus kepada semua orang di tengah-tengah tekanan dan aniaya yang sementara berlangsung (baca Roma 12:14-20; Lukas 6:27-28). Bahkan ditengah-tengah himpitan dan keadaan yang serba tidak menentu inilah gereja Tuhan diberi visi dan misi untuk mengubahnya menjadi ladang penuaian.
Tuhan Yesus berkata, ”Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai”. (Yohanes 4:34b). Dan lagi Ia berkata : “Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang memetik hasil usaha mereka” (Yohanes 4:38). Kristus yang kita sembah adalah TUHAN yang jauh lebih besar dari masalah dan tekanan yang kita hadapi. Yesus Kristus sanggup mengubah tekanan menjadi sukacita penuaian bagi para penuai. Gereja Tuhan akhir zaman sangat diharapkan peran sertanya untuk mengubah “ladang permasalahan” menjadi “ladang penuaian global” melalui jawatan-jawatan pelayanan yang diberikan Tuhan. Jawatan-jawatan ini saling melengkapi dan tidak terpisahkan dalam pembangunan tubuh Kristus (Efesus 4:12-16).
Gereja-gereja – secara utuh tanpa membedakan denominasi – haruslah sehati-sepikir dalam mengemban misi Kristus lewat mega-proyek, penuian global. Gereja-gereja haruslah memiliki kesamaan visi penuaian jiwa-jiwa baru dan bukan saling melihat kebenaran diri sendiri sambil menuding kekurangan yang lain. Gereja seringkali kehilangan warna pelayanan kasih karena sibuk “menyepelekan” hal-hal yang prinsip dan menjadikan suatu prinsip hal-hal yang sepele. Kerapkali Gereja dengan sangat gigih memperjuangkan kebenaran dogmanya daripada mempertahankan doktrin Alkitabiah.
Sekaranglah saatnya, gereja-gereja Tuhan (para pemimpin gereja) menghilangkan “akar kepahitan” yang hanya ingin “menang sendiri” dan bersatupadu dalam kasih Kristus untuk menyongsong tuaian global akhir zaman (Yohanes 17:21). Gereja haruslah bisa memproduksi tenaga-tenaga penuai yang handal dalam kebun anggurnya Kristus (Yohanes 15:5). Para penuai, lebih khusus lagi hamba-hamba Tuhan (mereka yang dipanggil TUHAN untuk menerima jawatan-jawatan pelayanan), belumlah cukup bila hanya membekali diri dengan pelajaran Teologi tetapi haruslah juga memperlengkapinya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi plus ketrampilan-ketrampilan umum (misalnya, bahasa Inggris, Komputer, Pertukangan, Kerajinan Tangan, dll), sehingga dapat survive dan menjadi daya tarik tersendiri dalam pelayanan.
Pelayan-pelayan lima jawatan tersebut di atas haruslah mendapat bagian yang seimbang dalam pelayanan jemaat dan masyarakat. Dalam artian luas, janganlah fokus pelayanan hanya bertumpu pada jawatan gembala. Beberapa Sekolah
Teologia ataupun Sekolah Alkitab hanya dapat menghasilkan tenaga-tenaga penggembalaan tanpa dapat mem-filternya untuk di share (dibagikan) kepada empat jawatan lainnya. Sepertinya setiap siswa Sekolah Alkitab / mahasiswa Sekolah Tinggi Teologia secara terus-menerus dibentuk untuk menjadi seorang Gembala yang berhasil. Akibatnya sering terjadi “timbunan” Gembala tanpa “domba” (jemaat) yang kerjanya suka “nyelonong” ke ladang penggembalaan orang lain. Marilah, kita semua (terutama pihak sekolah Alkitab/Sekolah Tinggi Teologia) lebih jeli melihat panggilan pelayanan yang diberikan Tuhan. Untuk mereka, yang sementara dipersiapkan menjadi penuai, bertanyakanlah senantiasa kepada Kristus yang adalah Kepala Gereja Agung, jawatan apakah yang diberikan kepada saya ? Sebagai hamba-hamba/pelayan-pelayan Tuhan ataupun mereka yang sementara dididik di sekolah-sekolah Alkitab & sekolah-sekolah Teologia, marilah kita senantiasa taat melaksanakan fungsi jawatan yang Tuhan berikan dan bukan yang kita inginkan (1 Korintus 12:28-29a). Janganlah “memaksakan diri” mengemban jawatan yang sebenarnya bukan dikaruniakan kepada kita (tidak terpanggil/dikaruniakan jawatan sebagai seorang “Gembala”, tetapi memaksakan diri untuk mengemban tugas penggembalaan dalam jemaat).
Di sisi lain, pesatnya perkembangan teknologi dan media informasi era pasar bebas saat ini dapat menimbulkan tendensi pesimisitis tersendiri bila dibandingkan dengan peranan gereja dalam mempersiapkan jemaat, lebih khusus lagi para Penuai. Bahkan bila dicermati secara logis, bukan hanya tantangan spiritual tetapi tantangan intelektual yang harus lebih dapat diantisipasi/disikapi. Iman kristiani bukan hanya digunakan untuk membentengi serangan musuh yaitu si Iblis terhadap hati manusia (Efesus 6:16), tetapi harus juga digunakan untuk mengerti dalam akal budi strategi pelayanan pekerjaan Tuhan (I Petrus 1:13). Terkadang para penuai Kristen hanya bisa “mengais” sisa-sisa penuaian dari orang lain karena kalah bersaing dalam IPTEK dan ketrampilan penunjang lainnya (Efesus 5:17).
Gereja tidak boleh asal-asalan mengutus orang-orang yang tidak kompeten dalam bidang pelayanan yang akan dimasuki. Misi penuaian akan memperoleh hasil minimal bahkan bisa tidak menghasilkan apa-apa, jika para penuainya tidak disusun dan disaring/seleksi (diadakan proses filterisasi) terlebih dahulu. Para penuai harus bekerja sesuai dengan potensi/talenta, karunia, skill/keahlian dan pengalaman juga kerelaan hati (komitmen dan konsistensi) untuk terus-menerus terlibat dalam pelayanan banyak dimensi ini (Hakim-hakim 7:2-4). Tentunya hal ini tidak terlepas dari kepekaan, pengamatan, ketelitian dan kebijakan keputusan pemimpin ataupun para pelayan senior gereja. Apa yang ada pada masing-masing pribadi sebagai anggota jemaat dan pelayan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan penuaian (baca Keluaran 4:1-12; Roma 6:13).
Gereja harus bisa mendapati/merekrut lebih banyak orang yang mau terlibat aktif dalam pekerjaan gereja (misi pelayanan). Hal inilah yang sering disebut sebagai menggerakkan/memobilisasi massa (para penuai). Jika para penuai dapat menangkap visi yang berarti dan menggairahkan, mereka pasti lebih mudah digerakkan/dimobilisir untuk melaksanakan misi dari visi tersebut. Allah memang telah mempersiapkan setiap orang untuk ikut terlibat dalam hal yang semacam itu, dengan mengaruniakan kepada setiap individu bakat-bakat dan kesanggupan-kesanggupan yang dapat dipakai dalam melaksanakan penuaian akbar di akhir zaman ini (Luk. 10:2; Pengkhotbah 9:10; I Kor. 15:58; 2 Tim. 4:1-5; Luk. 9:1-2).
berrsambung ... PARTISI 2 👉G. KUNCI BERKAT YANG TELAH DIBUKAKAN✍

0 comments:
Posting Komentar