Halaman

“Kami adalah The Voice of Truth — berdiri atas kebenaran Kristus

Bermakna bahwa setiap suara, ajaran, dan langkah kami berpijak hanya pada kebenaran yang berasal dari Kristus, bukan dari pendapat manusia.

Kebenaran yang Ditanam di Awal Penciptaan

Sejak di taman Eden, Tuhan tidak hanya menciptakan manusia untuk hidup, tetapi juga untuk mengenal; sebab di antara pohon kehidupan dan pohon pengetahuan, Ia meletakkan pilihan moral yang melahirkan kesadaran akan kebenaran

Kebenaran tidak pernah gugur bersama manusia, sebab Tuhan tetap berdiri sebagai sumbernya

Kejatuhan manusia tidak menghapus terang kebenaran, karena kebenaran tidak bergantung pada makhluk, tetapi pada Sang Pencipta yang tidak berubah

Ketika nubuat menjadi wujud, maka iman berjumpa dengan bukti; dan dalam pribadi Kristus, bukti itu berbicara melalui kasih dan kebenaran

Menggambarkan bahwa penggenapan nubuatan adalah jembatan antara iman dan realitas yang hidup dalam Kristus.

Konsistensi Tuhan menjemput umat-Nya adalah cermin dari natur Ilahi yang tak berubah; seperti kebenaran, Ia tidak goyah oleh zaman

Filsafat ini menegaskan bahwa ketetapan Tuhan dan kebenaran adalah satu sifat yang sama, kekal dan tidak berubah

Selasa, 06 Januari 2026

DICIPTAKAN UNTUK DITOLONG, DISELAMATKAN UNTUK BERBUAH

Sejak awal keberadaannya, manusia tidak pernah berdiri sebagai entitas otonom. Ia tidak muncul dari dirinya sendiri, tidak menopang dirinya sendiri, dan tidak menuju kepenuhannya oleh kekuatan sendiri. Narasi penciptaan tidak dimulai dengan manusia yang mencari Tuhan, tetapi dengan Tuhan yang memulai manusia. “Berfirmanlah tuhan: Baiklah Kita menjadikan manusia” (Kejadian 1:26). Kalimat ini sendiri sudah menutup semua kemungkinan bahwa manusia adalah proyek mandiri. Manusia adalah hasil keputusan ilahi, bukan inisiatif eksistensial manusia.

    Ketika Adam ditempatkan di taman, Tuhan berkata, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia” (Kejadian 2:18). Di sini ketergantungan manusia dinyatakan bukan sebagai akibat dosa, tetapi sebagai struktur ciptaan. Adam belum jatuh, belum berdosa, belum rusak — namun ia tetap tidak lengkap tanpa penolong. Artinya, ketergantungan bukan kelemahan moral, melainkan hakikat ontologis manusia. Manusia diciptakan bukan untuk cukup dengan dirinya sendiri, melainkan untuk hidup dalam relasi yang ditopang oleh kehendak Tuhan.

    Ketika kejatuhan terjadi (Kejadian 3), ketergantungan itu tidak hilang — justru menjadi mutlak. Jika sebelum jatuh manusia bergantung dalam kemurnian, setelah jatuh ia bergantung dalam ketidakberdayaan. Adam dan hawa tidak mencari pemulihan; mereka bersembunyi. Mereka tidak meminta keselamatan; mereka menutupi diri. Dan yang paling menentukan: mereka tidak memiliki kapasitas untuk membalikkan keadaan mereka sendiri. Tidak ada doa pertobatan dalam Kejadian 3. Tidak ada pengakuan iman. Yang ada hanyalah inisiatif Tuhan yang mencari: “Di manakah engkau?” (Kejadian 3:9).

    Pertanyaan itu bukanlah permintaan informasi, tetapi pernyataan posisi. Manusia yang jatuh tidak pernah menjadi subjek penyelamatannya sendiri. Sejak semula, keselamatan selalu datang dari luar manusia, bukan dari dalam. Bahkan penutupan ketelanjangan Adam dan hawa pun bukan hasil usaha mereka; Tuhan sendiri yang membuatkan pakaian dari kulit (Kejadian 3:21). Ini bukan sekadar tindakan simbolik, tetapi deklarasi teologis: manusia tidak mampu menutupi akibat dosanya sendiri.

    Pola ini tidak berubah sepanjang sejarah Alkitab. Manusia selalu berada pada posisi membutuhkan penolong, pembebas, penyelamat. “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak” (Roma 3:10). “Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan tuhan” (Roma 3:23). Bahkan kehendak manusia sendiri digambarkan sebagai tidak berdaya: “Sebab keinginan memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik” (Roma 7:18).

    Maka keselamatan, menurut kesaksian Alkitab, bukan hasil kerja sama setara antara Tuhan dan manusia. Keselamatan adalah pekerjaan tunggal Tuhan. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian tuhan; itu bukan hasil pekerjaanmu” (Efesus 2:8–9). Teks ini tidak memberi ruang bagi manusia untuk mengklaim peran kausal dalam keselamatan. Iman pun tidak diposisikan sebagai prestasi manusia, melainkan sebagai sarana penerimaan atas karya Tuhan.

    Namun Alkitab tidak berhenti di sana. Setelah menutup semua pintu bagi kesombongan manusia, teks membuka satu pintu yang benar: buah keselamatan. “Karena kita ini buatan Tuhan, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Tuhan sebelumnya” (Efesus 2:10). Urutannya tidak boleh dibalik. Manusia tidak berbuat baik agar diselamatkan; manusia berbuat baik karena telah diselamatkan. Perbuatan bukan akar, melainkan buah. Bukan sebab, melainkan akibat.

    Di sinilah sering terjadi kekeliruan: manusia mencoba “mengerjakan keselamatan” dalam arti menyempurnakan apa yang tuhan belum selesaikan. Padahal Alkitab tegas: “Sudah selesai” (Yohanes 19:30). Kata tetelestai menunjukkan tindakan final, tuntas, tidak memerlukan tambahan. Maka ketika Paulus berkata, “Kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar” (Filipi 2:12), ia tidak sedang memanggil manusia untuk menyelamatkan diri, melainkan untuk menghidupi keselamatan yang sudah diberikan. Ayat berikutnya menutup semua kemungkinan salah tafsir: “Karena Tuhanlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan” (Filipi 2:13).

    Dengan demikian, seluruh kisah Alkitab bergerak dalam satu garis lurus: dari penciptaan hingga penebusan, manusia selalu berada dalam posisi menerima, bukan memproduksi. Ia menerima hidup, menerima hukum, menerima janji, menerima keselamatan, dan bahkan menerima kemampuan untuk berbuah. Tidak ada satu fase pun di mana manusia berdiri sebagai sumber.

  Jika manusia sejak awal membutuhkan penolong, maka dalam keselamatan ia membutuhkan Penolong yang mutlak. Dan ketika keselamatan itu telah dikerjakan sepenuhnya oleh Tuhan, manusia tidak dipanggil untuk menambahnya, melainkan untuk memancarkannya. Buah-buah kebenaran, kekudusan, dan kasih bukanlah mata uang untuk membeli keselamatan, tetapi tanda bahwa keselamatan itu sungguh telah hadir.

    Dalam terang ini, keselamatan bukan proyek moral, melainkan realitas ontologis baru. Manusia tidak sedang naik ke atas menuju Tuhan; Tuhan telah turun, bertindak, dan menyelesaikan. Dan manusia, seperti sejak awal, tetap berada di tempat yang sama: bergantung, ditopang, dan hidup oleh anugerah.

Haleluyah, Bapa Yesus memberkati kita semua,
—Ps. Christian Moses

Minggu, 04 Januari 2026

SEBELUM TUHAN ADA: KESAKSIAN KITAB SUCI TENTANG SANG ADA

Kitab Suci tidak memulai pengenalannya tentang Tuhan dari gelar, fungsi, atau relasi, melainkan dari keberadaan. Bahkan sebelum bahasa manusia mengenal kategori “Tuhan”, sebelum ciptaan menyediakan ruang bagi relasi penyembahan, sebelum ada waktu untuk menandai awal dan akhir, Kitab Suci secara diam-diam sudah berdiri di atas satu asumsi yang tidak pernah dijelaskan tetapi selalu dihadirkan: ada sesuatu yang ada dengan sendirinya. Bukan karena dipanggil, bukan karena diadakan, bukan karena dibutuhkan—melainkan karena Ia ada.

Ketika Musa bertanya tentang nama, pertanyaan itu lahir dari dunia relasional: manusia membutuhkan nama untuk menunjuk, membedakan, dan mengingat. Namun jawaban yang diterima Musa sama sekali tidak bergerak dalam wilayah itu. “Ehyeh Asher Ehyeh”—“AKU ADALAH AKU” (Keluaran 3:14). Teks Ibrani ini tidak memberi identitas naratif, tidak memberi silsilah, tidak memberi kategori. Ia menolak semua bentuk definisi yang biasa dipakai makhluk. Ia bukan jawaban fungsional, melainkan penyingkapan ontologis.

Di titik ini, Kitab Suci seolah berhenti berbicara dalam bahasa agama, dan mulai berbicara dalam bahasa keberadaan. “AKU ADALAH” bukan nama diri, sebab nama membedakan satu dari yang lain. Tetapi sebelum ada “yang lain”, tidak ada kebuTuhan untuk pembeda. Pernyataan ini menyatakan bahwa yang berbicara tidak berdiri di dalam jaringan sebab–akibat, tidak bergantung pada asal-usul, dan tidak menuju kepada tujuan di luar diri-Nya. Ia tidak mengatakan “Aku adalah Tuhanmu”, sebab relasi itu belum terbangun. Ia mengatakan “Aku ada”, sebab keberadaan-Nya tidak menunggu dunia untuk menjadi nyata.

Kitab Kejadian pun tidak pernah menjelaskan dari mana Ia datang. “Pada mulanya…” (Kejadian 1:1) adalah awal bagi ciptaan, bukan awal bagi Sang Ada. Teks itu tidak berkata “pada mulanya Ia menjadi”, melainkan langsung mengandaikan kehadiran-Nya sebagai subjek tindakan. Dengan demikian, Kitab Suci sejak kalimat pertamanya sudah memisahkan secara tegas antara awal waktu dan keberadaan yang melampaui waktu. Di sinilah istilah “Tuhan” mulai mungkin, sebab hanya setelah ada ciptaan, relasi Pencipta–ciptaan dapat dinamai.

Kesaksian para nabi dan rasul kemudian menggemakan pola yang sama. Dalam Wahyu 1:8 dan 22:13 terdengar suara yang menyatakan, “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir.” Namun ungkapan ini tidak boleh dibaca sebagai klaim kronologis semata, seolah Ia hanya berada di titik pertama dan terakhir dalam garis waktu. Alfa dan Omega adalah huruf, bukan angka. Ia adalah struktur keberadaan yang melingkupi seluruh realitas, bukan bagian dari realitas itu. Ia bukan “yang pertama lalu yang terakhir”, melainkan yang di dalam-Nya konsep pertama dan terakhir memperoleh makna.

Jika demikian, maka istilah “Tuhan” tidak mungkin bersifat primer. Kata itu bersifat relasional, dan relasi menuntut keberadaan lebih dari satu. Sebelum ada ciptaan, tidak ada yang dapat menempatkan diri sebagai makhluk. Maka sebelum ciptaan, Kitab Suci tidak berbicara tentang “Tuhan” sebagai peran, melainkan tentang Dia yang ada. Inilah sebabnya mengapa dalam Yesaya 43:10 tertulis, “Sebelum Aku tidak ada yang dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi.” Pernyataan ini bukan perbandingan antar-ilah, melainkan penegasan bahwa tidak ada eksistensi lain yang berdiri sejajar atau berasal dari sumber berbeda.

Keberadaan yang demikian tidak dapat dipahami sebagai komposit. Kitab Suci tidak pernah menyiratkan bahwa Sang Ada tersusun dari bagian-bagian, sebab segala yang tersusun membutuhkan penyusun. Mazmur 90:2 berkata, “Sebelum gunung-gunung dilahirkan… dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah.” Teks ini tidak memberi ruang bagi proses internal, perubahan esensi, atau pembagian hakikat. Ia adalah dari selama-lamanya sampai selama-lamanya—satu kesatuan keberadaan yang tidak melewati tahap menjadi.

Di sinilah kesaksian Yohanes menjadi sangat penting. Ketika Yesus berkata, “Sebelum Abraham ada, AKU ADA” (Yohanes 8:58), Ia tidak sedang mengklaim usia yang lebih tua, tetapi modus keberadaan yang berbeda. Abraham “ada” dalam bentuk menjadi: lahir, hidup, mati. Tetapi Sang Ada hadir tanpa konjugasi waktu. Yohanes tidak menulis “Aku telah ada”, melainkan sengaja mempertahankan bentuk kini. Dengan demikian, teks ini tidak menambahkan figur baru ke dalam keberadaan ilahi, tetapi memperlihatkan bahwa keberadaan yang sama kini hadir secara imanensi dalam sejarah.

Kitab Suci konsisten memperlihatkan bahwa gelar-gelar muncul mengikuti tindakan. “Elohim” tampil ketika penciptaan berlangsung (Kejadian 1:1). Nama perjanjian disingkapkan ketika relasi perjanjian dimulai (Keluaran 6:3). Sebutan “Bapa” baru bermakna ketika relasi penyelamatan diperkenalkan (Matius 6:9). Kehadiran sebagai Roh dikenali ketika penyertaan dialami (Yohanes 14:16–17). Semua ini menunjukkan satu pola yang tak pernah dilanggar: fungsi mengikuti keberadaan, bukan sebaliknya.

            Karena itu Kitab Suci tidak pernah mengatakan bahwa Sang Ada membutuhkan dunia untuk menjadi lengkap. “Jika Aku lapar, tidak akan Kukatakan kepadamu” (Mazmur 50:12). Pernyataan ini menutup segala kemungkinan bahwa penciptaan lahir dari kekurangan. Sang Ada tidak mencipta untuk menjadi Tuhan, tetapi menyatakan diri sebagai Tuhan setelah ciptaan ada. Penciptaan bukan kebuTuhan ontologis, melainkan ekspresi kedaulatan.

Maka, sebelum ada penyembah, Ia tidak kekurangan pujian. Sebelum ada dialog, Ia tidak kesepian. Sebelum ada relasi, Ia tidak kurang relasional. Kitab Suci tidak pernah menyiratkan bahwa keberadaan-Nya menunggu aktualisasi. Ia sempurna dalam diri-Nya sendiri. “Dari Dia dan oleh Dia dan kepada Dia segala sesuatu” (Roma 11:36) — bukan sebagai proses pemenuhan, tetapi sebagai arus yang bersumber dari kepenuhan.

Dengan demikian, kesaksian Kitab Suci membawa kita pada satu kesimpulan yang tidak dibangun oleh spekulasi filsafat, melainkan oleh teks itu sendiri: sebelum istilah Tuhan menjadi mungkin, yang ada hanyalah AKU ADA. Bukan sebagai konsep, bukan sebagai gelar, bukan sebagai struktur relasional, melainkan sebagai Keberadaan Murni—yang tidak berawal, tidak berakhir, tidak terbagi, tidak menjadi, dan tidak bergantung.

Dan ketika Sang Ada itu kemudian dikenal sebagai Tuhan oleh ciptaan-Nya, Kitab Suci tidak sedang mengatakan bahwa Ia berubah, melainkan bahwa ciptaanlah yang kini memiliki bahasa untuk menyebut Dia.

Haleluyah, Bapa Yesus memberkati kita semua,

— Ps. Christian Moses