Halaman

“Kami adalah The Voice of Truth — berdiri atas kebenaran Kristus

Bermakna bahwa setiap suara, ajaran, dan langkah kami berpijak hanya pada kebenaran yang berasal dari Kristus, bukan dari pendapat manusia.

Kebenaran yang Ditanam di Awal Penciptaan

Sejak di taman Eden, Tuhan tidak hanya menciptakan manusia untuk hidup, tetapi juga untuk mengenal; sebab di antara pohon kehidupan dan pohon pengetahuan, Ia meletakkan pilihan moral yang melahirkan kesadaran akan kebenaran

Kebenaran tidak pernah gugur bersama manusia, sebab Tuhan tetap berdiri sebagai sumbernya

Kejatuhan manusia tidak menghapus terang kebenaran, karena kebenaran tidak bergantung pada makhluk, tetapi pada Sang Pencipta yang tidak berubah

Ketika nubuat menjadi wujud, maka iman berjumpa dengan bukti; dan dalam pribadi Kristus, bukti itu berbicara melalui kasih dan kebenaran

Menggambarkan bahwa penggenapan nubuatan adalah jembatan antara iman dan realitas yang hidup dalam Kristus.

Konsistensi Tuhan menjemput umat-Nya adalah cermin dari natur Ilahi yang tak berubah; seperti kebenaran, Ia tidak goyah oleh zaman

Filsafat ini menegaskan bahwa ketetapan Tuhan dan kebenaran adalah satu sifat yang sama, kekal dan tidak berubah

Senin, 26 Januari 2026

💰PERSEPULUHAN 👉 ALKITABIAH TAPI TIDAK INJILI [PARTISI 2👉G📕

 

G. KUNCI BERKAT YANG TELAH DIBUKAKAN

"Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu", demikian perkataan Yesus dalam sebuah pengajaran-Nya [Lukas 6:38].

Rasul Paulus meneruskan ajaran ini dlm suratnya yang ditujukan pada jemaat di Korintus :

8:11 Maka sekarang, selesaikan jugalah pelaksanaannya itu! Hendaklah pelaksanaannya sepadan dengan KERELAANmu, dan lakukanlah itu dengan apa yang ada padamu.

8:12 Sebab jika kamu RELA untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu.

8:13 Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada KESEIMBANGAN.

8:14 Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan. [2 Korintus 8:11-14]

9:6 Camkanlah ini: Orang yang MENABUR SEDIKIT, akan menuai sedikit juga, dan orang yang MENABUR BANYAK, akan menuai banyak juga.

9:7 Hendaklah masing-masing memberikan menurut KERELAAN HATInya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.

9:8 Dan Allah sanggup MELIMPAHKAN SEGALA KASIH KARUNIA kepada kamu, supaya kamu SENANTIASA BERKECUKUPAN di dalam segala sesuatu dan MALAH BERKELEBIHAN di dalam PELBAGAI KEBAJIKAN.

9:9 Seperti ada tertulis: "Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya."

9:10 Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu;

9:11 kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami.

9:12 Sebab PELAYANAN KASIH yang berisi pemberian ini bukan hanya MENCUKUPKAN keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah.

9:13 Dan oleh sebab kamu telah tahan uji dalam pelayanan itu, mereka memuliakan Allah karena ketaatan kamu dalam pengakuan akan Injil Kristus dan karena KEMURAHAN HATImu dalam MEMBAGIKAN segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang. [2 Korintus 9:6-13]

Bila anda memperhatikannya dengan cermat, ternyata janji TUHAN untuk memberkati gereja-Nya, jauh melebihi janji yang diberikan-Nya pada bani Yakub/Israel dalam Maleakhi 3:10.

Semua yang baru saja Anda baca di atas, akan menjadi hanya sekedar slogan bisu tanpa aksi bila tidak ditopang sepenuhnya oleh pelayanan kasih jemaat. Hampir dapat dipastikan, misi tanpa dana adalah misi tanpa hasil yang maksimal. Jika demikian, marilah kita, dengan keikhlasan dari rasa peduli yang digerakkan oleh kasih Kristus, terlibat dalam pelayanan kasih untuk memaksimalkan mobilisasi pelayanan penuaian jiwa-jiwa baru di akhir zaman ini. Bila tidak maka gereja secara organisasi selalu dalam posisi terjepit dalam masalah dana karena rumah perbendaharaan hanya diisi dengan persembahan persepuluhan jemaat. Gereja hampir tidak memiliki kemampuan mendanai atau membiayai misi pelayanan pekabaran Injil ke seluruh muka bumi seperti dipesankan dan diperintahkan Yesus (periksa Matius 24:14). Bagaimana pendapat Anda? Ughhh… maaf, tunggu sebentar sebelum Anda berpendapat..., dengan tidak bermaksud menyepelekan pendapat Anda, silahkan ikuti dulu usul saya berikut.


berrsambung ... PARTISI 3 👉MENGUSULKAN : A. MENERAPKAN SISTEM “PENGUPAHAN” INJILI


💰PERSEPULUHAN 👉 ALKITABIAH TAPI TIDAK INJILI [PARTISI 2👉F]📕

 

F. MOBILISASI PELAYANAN PENUAIAN GLOBAL

Kita semua tahu bahwa gereja sedang berada ditengah-tengah dekadensi moral yang sangat memprihatinkan sebagai akibat negatif dari semakin canggihnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern secara universal dan di Indonesia pada khususnya. Dari sudut pandang positif, perkembangan pola kehidupan modern berteknologi tinggi ini membantu gereja dalam pelayanan misi untuk menjangkau jiwa-jiwa yang belum pernah mendengar berita keselamatan (Injil Yesus Kristus) yakni hanya melalui media informasi audio visual/elektronik dan media cetak. Tetapi disisi lainnya, gereja terbuai dan cenderung menjadi “malas” untuk secara maksimal mengolah dan menggunakan seluruh potensi pelayanan internal dalam bidang koinonia, marturia dan diakonia. Apalagi menghadapi konflik horizontal antar etnis dan umat beragama yang semakin meluas hampir tak terkendali.

Walau tidak dapat dikatakan secara keseluruhan, gereja sepertinya “enggan” untuk mengutus para misionarisnya ke daerah-daerah yang rawan konflik. Gereja lebih memilih jalur “aman” (statis) dan dengan teguh mempertahankan status quo sambil menunggu masa pencerahan dari iklim politik dan ekonomi Dalam Negeri yang sedang diliputi kabut krisis yang seakan tiada berakhir ini. Memang secara merk organisasi gereja nampaknya bertambah dan bentuk fisik bangunan gerejapun tetap eksis walau harus terus-menerus diperbaiki ataupun membangunnya dari awal akibat amukan massa. Namun jika diteliti/dicermati secara lebih obyektif, pertambahan denominasi gereja dan atau pertambahan jumlah anggota jemaat pada sebuah denominasi yang sudah ada, hanyalah merupakan bentuk “nomaden” atau migrasi anggota jemaat dari satu gereja lokal ke gereja lokal lainnya yang berbeda merk. Hal inilah yang disebut sebagai “rotasi jemaat dalam orbit denominasi” dan bukanlah tuaian jiwa-jiwa baru sebagaimana misi agung yang diperintahkan oleh kepala gereja Tuhan Yesus Kristus (baca Matius 28:18-20).

Kini saatnya gereja bangkit dan bergerak secara optimal untuk menjaring jiwa-jiwa baru dengan cara memberdayakan seluruh potensi internal gereja melalui jawatan-jawatan pelayanan seperti yang dikaruniakan Kristus. Gereja harus mengadakan terobosan pelayanan ke setiap lini kehidupan masyarakat sekitar. Transformasi rohani dapat menembus setiap strata, perorangan ataupun kelompok orang bila secara proaktif gereja menyikapinya. Gereja tidak boleh statis dan merasa puas diri dengan jumlah anggota jemaat atau bentuk-bentuk pelayanan yang sudah ada.

Masa anugerah akan segera berakhir. Hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya penggenapan nubuatan dan tanda-tanda zaman seperti yang tertulis dalam Alkitab. Bila ditinjau dari perjalanan zaman (peta zaman), maka posisi gereja saat ini berada dalam “masa kerja 1 jam terakhir” menjelang malam – kegelapan, kesukaran besar – dimana Injil Kerajaan Allah akan ditarik kembali oleh Bapa sorgawi (Matius 20:6,12a; Amos 8:12; Matius 24:14 bdk. Yohanes 9:4, Pengkhotbah 9:10;).

Perlu dipahami secara benar bahwa pelayanan misi penuaian saat ini bukan lagi milik seseorang atau sekelompok orang yang menyebut diri ataupun menerima predikat “Gembala, Ketua Jemaat, Bishop, Pastor, Penatua, Syamas, Penginjil ataupun sebutan sejenis lainnya” dalam artian yang sangat sempit, tetapi misi ini milik setiap pribadi yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai TUHAN. Gereja harus “all out” (mobilisasi total) dalam menerapkan strategi pelayanan terakhir sebelum kedatangan Gembala Agung segala domba yaitu Tuhan Yesus Kristus. Gereja harus masuk dan bergerak dalam lini pelayanan multidimensional jika ingin mencapai target penuaian akbar bagi Kerajaan Allah. Tidak ada pilihan lain, gereja harus menggalang persatuan internal jemaat lokal dan antar denominasi untuk memperoleh kekuatan penuh guna melaksanakan tugas akhir yaitu “merampas mereka yang sementara menuju ke dalam api neraka” (Yudas 1:23a).

Eksistensi kehidupan kristiani akhir zaman yang syarat tantangan, semakin diuji kualitas kasih dan imannya; khususnya di Indonesia, yang hampir dapat disebut sebagai “biang konflik horisontal” baik dalam bidang sosial, ekonomi dan politik, sangat berpengaruh terhadap kehidupan bergereja. Masalah HAM, bentrok antar etnis/suku, isue SARA sudah “menjalar” bak “kanker ganas” stadium akhir yang memporak-poranda sendi-sendi kehidupan bermasyarakat hampir di seluruh tanah air. Pemberantasan KKN hanyalah slogan para penguasa yang tidak pernah jemu-jemu menipu rakyat. Mereka yang menyebut dirinya “pakar” pun tidak mampu mempersempit jurang antara si kaya dan si miskin (konglomerat dan “kolongmelarat”) yang semakin menganga.

Lilitan hutang luar negeri menjadikan Indonesia tercinta ini seperti “mumi Firaun” yang diawetkan dalam krisis moneter. Daftar panjang penderitaan anak bangsa semakin lengkap dengan hadirnya “OTDA” – Otonomi Daerah. Berbagai komponen bangsa mulai “menggeliat” berusaha bangkit dan melepaskan diri dari situasi yang semacam ini. Tokoh-tokoh masyarakat dan agama bersikukuh merajut kembali pilar-pilar persatuan bangsa yang terkoyak hampir ambruk.

Kehidupan ke-kristenan pun semakin tertantang untuk tetap menebar kasih Kristus kepada semua orang di tengah-tengah tekanan dan aniaya yang sementara berlangsung (baca Roma 12:14-20; Lukas 6:27-28). Bahkan ditengah-tengah himpitan dan keadaan yang serba tidak menentu inilah gereja Tuhan diberi visi dan misi untuk mengubahnya menjadi ladang penuaian.

Tuhan Yesus berkata, ”Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai”. (Yohanes 4:34b). Dan lagi Ia berkata : “Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang memetik hasil usaha mereka” (Yohanes 4:38). Kristus yang kita sembah adalah TUHAN yang jauh lebih besar dari masalah dan tekanan yang kita hadapi. Yesus Kristus sanggup mengubah tekanan menjadi sukacita penuaian bagi para penuai. Gereja Tuhan akhir zaman sangat diharapkan peran sertanya untuk mengubah “ladang permasalahan” menjadi “ladang penuaian global” melalui jawatan-jawatan pelayanan yang diberikan Tuhan. Jawatan-jawatan ini saling melengkapi dan tidak terpisahkan dalam pembangunan tubuh Kristus (Efesus 4:12-16).

Gereja-gereja – secara utuh tanpa membedakan denominasi – haruslah sehati-sepikir dalam mengemban misi Kristus lewat mega-proyek, penuian global. Gereja-gereja haruslah memiliki kesamaan visi penuaian jiwa-jiwa baru dan bukan saling melihat kebenaran diri sendiri sambil menuding kekurangan yang lain. Gereja seringkali kehilangan warna pelayanan kasih karena sibuk “menyepelekan” hal-hal yang prinsip dan menjadikan suatu prinsip hal-hal yang sepele. Kerapkali Gereja dengan sangat gigih memperjuangkan kebenaran dogmanya daripada mempertahankan doktrin Alkitabiah.

Sekaranglah saatnya, gereja-gereja Tuhan (para pemimpin gereja) menghilangkan “akar kepahitan” yang hanya ingin “menang sendiri” dan bersatupadu dalam kasih Kristus untuk menyongsong tuaian global akhir zaman (Yohanes 17:21). Gereja haruslah bisa memproduksi tenaga-tenaga penuai yang handal dalam kebun anggurnya Kristus (Yohanes 15:5). Para penuai, lebih khusus lagi hamba-hamba Tuhan (mereka yang dipanggil TUHAN untuk menerima jawatan-jawatan pelayanan), belumlah cukup bila hanya membekali diri dengan pelajaran Teologi tetapi haruslah juga memperlengkapinya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi plus ketrampilan-ketrampilan umum (misalnya, bahasa Inggris, Komputer, Pertukangan, Kerajinan Tangan, dll), sehingga dapat survive dan menjadi daya tarik tersendiri dalam pelayanan.

Pelayan-pelayan lima jawatan tersebut di atas haruslah mendapat bagian yang seimbang dalam pelayanan jemaat dan masyarakat. Dalam artian luas, janganlah fokus pelayanan hanya bertumpu pada jawatan gembala. Beberapa Sekolah

Teologia ataupun Sekolah Alkitab hanya dapat menghasilkan tenaga-tenaga penggembalaan tanpa dapat mem-filternya untuk di share (dibagikan) kepada empat jawatan lainnya. Sepertinya setiap siswa Sekolah Alkitab / mahasiswa Sekolah Tinggi Teologia secara terus-menerus dibentuk untuk menjadi seorang Gembala yang berhasil. Akibatnya sering terjadi “timbunan” Gembala tanpa “domba” (jemaat) yang kerjanya suka “nyelonong” ke ladang penggembalaan orang lain. Marilah, kita semua (terutama pihak sekolah Alkitab/Sekolah Tinggi Teologia) lebih jeli melihat panggilan pelayanan yang diberikan Tuhan. Untuk mereka, yang sementara dipersiapkan menjadi penuai, bertanyakanlah senantiasa kepada Kristus yang adalah Kepala Gereja Agung, jawatan apakah yang diberikan kepada saya ? Sebagai hamba-hamba/pelayan-pelayan Tuhan ataupun mereka yang sementara dididik di sekolah-sekolah Alkitab & sekolah-sekolah Teologia, marilah kita senantiasa taat melaksanakan fungsi jawatan yang Tuhan berikan dan bukan yang kita inginkan (1 Korintus 12:28-29a). Janganlah “memaksakan diri” mengemban jawatan yang sebenarnya bukan dikaruniakan kepada kita (tidak terpanggil/dikaruniakan jawatan sebagai seorang “Gembala”, tetapi memaksakan diri untuk mengemban tugas penggembalaan dalam jemaat).

Di sisi lain, pesatnya perkembangan teknologi dan media informasi era pasar bebas saat ini dapat menimbulkan tendensi pesimisitis tersendiri bila dibandingkan dengan peranan gereja dalam mempersiapkan jemaat, lebih khusus lagi para Penuai. Bahkan bila dicermati secara logis, bukan hanya tantangan spiritual tetapi tantangan intelektual yang harus lebih dapat diantisipasi/disikapi. Iman kristiani bukan hanya digunakan untuk membentengi serangan musuh yaitu si Iblis terhadap hati manusia (Efesus 6:16), tetapi harus juga digunakan untuk mengerti dalam akal budi strategi pelayanan pekerjaan Tuhan (I Petrus 1:13). Terkadang para penuai Kristen hanya bisa “mengais” sisa-sisa penuaian dari orang lain karena kalah bersaing dalam IPTEK dan ketrampilan penunjang lainnya (Efesus 5:17).

Gereja tidak boleh asal-asalan mengutus orang-orang yang tidak kompeten dalam bidang pelayanan yang akan dimasuki. Misi penuaian akan memperoleh hasil minimal bahkan bisa tidak menghasilkan apa-apa, jika para penuainya tidak disusun dan disaring/seleksi (diadakan proses filterisasi) terlebih dahulu. Para penuai harus bekerja sesuai dengan potensi/talenta, karunia, skill/keahlian dan pengalaman juga kerelaan hati (komitmen dan konsistensi) untuk terus-menerus terlibat dalam pelayanan banyak dimensi ini (Hakim-hakim 7:2-4). Tentunya hal ini tidak terlepas dari kepekaan, pengamatan, ketelitian dan kebijakan keputusan pemimpin ataupun para pelayan senior gereja. Apa yang ada pada masing-masing pribadi sebagai anggota jemaat dan pelayan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan penuaian (baca Keluaran 4:1-12; Roma 6:13).

Gereja harus bisa mendapati/merekrut lebih banyak orang yang mau terlibat aktif dalam pekerjaan gereja (misi pelayanan). Hal inilah yang sering disebut sebagai menggerakkan/memobilisasi massa (para penuai). Jika para penuai dapat menangkap visi yang berarti dan menggairahkan, mereka pasti lebih mudah digerakkan/dimobilisir untuk melaksanakan misi dari visi tersebut. Allah memang telah mempersiapkan setiap orang untuk ikut terlibat dalam hal yang semacam itu, dengan mengaruniakan kepada setiap individu bakat-bakat dan kesanggupan-kesanggupan yang dapat dipakai dalam melaksanakan penuaian akbar di akhir zaman ini (Luk. 10:2; Pengkhotbah 9:10; I Kor. 15:58; 2 Tim. 4:1-5; Luk. 9:1-2).


berrsambung ... PARTISI 2 👉G. KUNCI BERKAT YANG TELAH DIBUKAKAN

💰PERSEPULUHAN 👉 ALKITABIAH TAPI TIDAK INJILI [PARTISI 2👉E]📕

 

E. KOMPLEKSITAS TUNTUTAN KEBUTUHAN MASA KINI

Siapa pun akan merasa sangat peka bila menyangkut tuntutan kebutuhan hidup, baik secara pribadi apalagi berhubungan dengan rumah tangga atau keluarga. Orang akan berusaha semaksimal mungkin atau sebisanya untuk memenuhi tuntutan pendidikan anaknya atau mempersiapkan masa depan anak dan keluarganya.

Sebagai manusia yang normal dalam pemikiran dan yang bertanggung jawab, tentunya tidak saja berusaha memenuhi kebutuhan pokok tetapi ingin menanjak ke kebutuhan sekunder dan seterusnya hingga kebutuhan mewah.

Memang, tak dapat dipungkiri bahwa desakan kebutuhan tiap individu berbeda dan pemenuhannya pun tergantung pada kemampuan perorangan atau keadaan perekonomian dan pasar yang berlaku. Misalnya, kesulitan pemenuhan sembilan kebutuhan pokok (sembako) pada tahun 1950-an sangat berbeda dengan tahun 1970-an, apalagi bila dibandingkan dengan tahun sekarang dan yang akan datang.

Saya teringat masa kecil saat duduk di bangku SD, di kota Ba’a (sebenarnya masih kategori desa bila dibanding dengan sekarang) di sebuah pulau terselatan Indonesia, pulau Rote, propinsi Nusa Tenggara Timur. Era tahun 1970-an, uang receh lima rupiah masih mempunyai nilai tukar untuk membeli gula-gula, es lilin, dan beberapa keperluan dapur. Tidak dipungut biaya pendaftaran saat masuk Taman Kanak-kanak, SD, SMP. SPP sangat murah. Mulai dari tiga ratus hingga seribu rupiah semasa SD hingga SMP; untuk SMA tidak lebih dari sepuluh ribu rupiah. Dan bila ke sekolah minggu atau ke gereja, kolektenya (persembahan/derma) masih boleh sepuluh hingga dua puluh lima rupiah (tidak di “marahi atau disindir” pendeta dari atas mimbar).

Maaf, saya tidak bermaksud mengatakan bahwa pada masa itu tidak ada lagi pengeluhan tentang kesulitan-kesulitan hidup lainnya. Yah, di mana-mana dan kapan saja selama kita masih bernapas maka kesulitan dalam bentuk dan sebutan apa pun masih dirasakan dan dikeluhkan. Alkitab sudah mencatatnya sebagai peringatan untuk kita bahwa dunia bukanlah bertambah baik dari waktu ke waktu melainkan sebaliknya; seirama dengan ketuaan maka semakin kompleks saja tuntutan kebutuhan hidup ini.

Mari perhatikan beberapa kutipan firman Allah berikut :

“Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang.

– 2 Timotius 3:1-2a –

“…selama masih diam di dalam kemah ini, kita mengeluh oleh beratnya tekanan,…”

– 2 Korintus 5:4 –

“Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi.” – Yakobus 4:1-2 –

Yesus menjawab mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.

– Yohanes 6:26 –

Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”.

– Yakobus 4:13 –

Kutipan firman Allah di atas menyiratkan tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup dari waktu ke waktu menunjukkan grafik yang terus meningkat disesuaikan dengan perkembangan zaman atau peradaban manusia.

Marilah kita kembali menghubungkannya dengan kebutuhan para hamba Tuhan di tengah-tengah pelayanan kepada jemaat. Bila Anda setuju, buatlah semacam tabel perhitungan untuk perbandingan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari antara Gembala Sidang yang menggembalakan di atas seratus kepala keluarga dengan pendapatan – kita sepakat saja untuk menyama-ratakan – per bulan Rp. 1.000.000 per kepala keluarga dengan beberapa – sebenarnya jauh lebih banyak – Gembala Sidang yang menggembalakan kurang dari sepuluh kepala keluarga yang memiliki pendapatan – disini pun kita sepakati saja – rata-rata Rp. 1.000.000,- per bulannya.

Bila yang menjadi tradisi perhitungan adalah sepersepuluh yang dibawa ke dalam rumah perbendaharaan untuk menafkahi kehidupan para Gembala Sidang Jemaat maka kita akan mendapati hasil perhitungan sebagai berikut :

👉1. Bila jumlah kepala keluarga lebih dari 100 maka, 1/10 x (100 KK x Rp. 1.000.000) = Rp. 10.000.000,- atau lebih dari itu per bulannya.

Jika pemasukan/pendapatan per bulan seperti ini maka Gembala Sidangnya akan hidup “makmur” dan “sejahtera”. Kebutuhan keluarga terpenuhi, anak-anak dapat melanjutkan pendidikan ke tingkat yang jauh lebih tinggi tanpa kuatir kehabisan dana bahkan bisa menjadi pemegang polis asuransi atau setidaknya ada saldo tabungan masa depan – biasanya persiapan untuk pasca pengembalaan – setelah didiakoniakan/”dipensiunkan” organisasi gereja.

👉2. Bila jumlah kepala keluarga kurang dari 10 maka, 1/10 x (10 KK x Rp. 1.000.000) = Rp. 1.000.000,- atau kurang dari itu per bulannya.

Jika ini kenyataannya, maka Anda sudah dapat memprediksikan bagaimana ke depannya dan apa yang bakal terjadi dengan Gembala beserta keluarganya.

Anda bisa pikirkan dan bayangkan bagaimana atau apa yang akan terjadi pada kehidupan jasmani dari empat jawatan lainnya dalam memenuhi tuntutan kebutuhan hidup pribadi dan keluarga? Bagaimana mungkin mereka dapat fokus terhadap tanggung jawab pelayanan tubuh Kristus sedangkan untuk makan saja pun kesulitan?

Disinilah nampak dengan sangat jelas di pelupuk mata, jurang pemisah yang menganga diantara para hamba Tuhan “kaya” dan “miskin”.

Seandainya Anda punya argumentasi sanggahan, sebaiknya luangkan sedikit waktu menengok ke dalam nurani Anda untuk dapat menyelaraskannya dengan logika obyektif Anda sehingga hal itu tidak sekedar disampaikan karena faktor emosional yang egosentris untuk mempertahankan status quo.

Sengaja, saya tidak memasukkan tuntutan kebutuhan hidup sehari-hari dari empat jawatan pelayanan lainnya untuk dihitung secara jujur dan komprehensif dalam hubungannya dengan penerimaan persepuluhan – walau hal itu adalah hak mereka, sesuai dengan Taurat TUHAN.

Bila demikian fakta lapangannya, maka tidaklah mengherankan jika misi penyelamatan manusia menjadi tersendat-sendat. Marilah gunakan rasio Anda yang paling sehat dan obyektif sekali lagi untuk berpikir, menganalisa, menyimpulkan dan mengambil keputusan terhadap beberapa kalimat berikut, “Sedangkan beberapa dari mereka – biasanya hanya memiliki “jemaat” relatif sangat sedikit – yang mengemban jawatan Gembala Sidang Jemaat saja mengalami kesulitan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, bagaimana jadinya dengan kehidupan empat jawatan pelayanan lainnya? Mana hak mereka? Bagaimana pula dengan masa depan keluarga dan anak-anak? Bukankah mereka telah dipanggil dan telah meleburkan diri dalam pelayanan tim bersama Gembala untuk pembangunan tubuh Kristus yaitu jemaat?”. Silahkan …, Anda pun bisa melanjutkan beberapa pertanyaan mengusik dan sekaligus menjawabnya untuk referensi pribadi.

Di sini, kita akan mendapati bahwa gereja secara organisasi akan menghabiskan cukup banyak waktu untuk menyelesaikan persoalan internal ini. Mengapa demikian? Sebab, para pelayan Tuhan ini akan menerapkan “standar ganda” pelayanan. Maksudnya, sering terjadi crossing (penyeberangan) jawatan hanya untuk memperoleh jatah persepuluhan jemaat dan untuk kesinambungan pelayanan jawatan yang melekat padanya. Misalnya, seseorang yang memiliki karunia jawatan Penginjil, Guru, Rasul atau pun Nabi akan berusaha semaksimal mungkin menjadi seorang Gembala karena alasan-alasan yang sangat manusiawi – walau tidak berlaku umum namun sangat fenomenal. Beberapa kasus diantaranya sangat menyedihkan dan memprihatinkan karena menyebabkan perpecahan, perampasan bahkan tragisnya, sampai melakukan kudeta pelayanan penggembalaan – saya kira ini bukanlah rahasia lagi bagi Anda, pembaca, bila rajin mengamati-amatinya. Baiklah…, kita lanjutkan saja.


berrsambung ... PARTISI 2 👉F. MOBILISASI PELAYANAN PENUAIAN GLOBAL

💰PERSEPULUHAN 👉 ALKITABIAH TAPI TIDAK INJILI [PARTISI 2👉D]📕

 

D. KETERLIBATAN PELAYANAN LIMA JAWATAN

Ini merupakan salah satu yang penting untuk dipertimbangkan oleh para praktisi, jemaat dan para pengurus organisasi gereja. Kita harus ingat, sejarah Perjanjian Lama mencatat bahwa untuk melakukan pelayanan dalam Kemah Pertemuan (Tabernakel), suku Lewi dipisahkan dari sebelas saudaranya. Mereka secara khusus dipersiapkan untuk menjadi penyelenggara ibadah. Kemudian dari dalam Lewi sendiri diangkat imam dan imam besar yang akan bertugas sebagai “juru damai” antara umat Israel dan TUHAN, Allah. Sebagai “imbalan jasa” mereka (para Lewi) dapat “menyandarkan” kehidupan jasmaniahnya – sandang, pangan, papan – pada sebelas suku lainnya.

Sebagaimana kita ketahui, – sudah disebutkan di atas – Yesus membentuk gereja dan memberi lima jawatan pelayanan untuk pembangunan tubuh-Nya. Yesus adalah Imam Besar menurut aturan Melkisedek – tidak tunduk di bawah aturan keimaman Lewi karena tidak dilahirkan menurut silsilah Lewi – yang datang dari keturunan Yehuda.

Sebab telah diketahui semua orang, bahwa Tuhan kita berasal dari suku Yehuda dan mengenai suku itu Musa tidak pernah mengatakan suatu apa pun tentang imam-imam.

Dan hal itu jauh lebih nyata lagi, jikalau ditetapkan seorang imam lain menurut cara Melkisedek, yang menjadi imam bukan berdasarkan peraturan-peraturan manusia, tetapi berdasarkan hidup yang tidak dapat binasa.

Sebab tentang Dia diberi kesaksian: “Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek.”

– Ibrani 7:14-17 –

Keimaman Yesus sangatlah berbeda dengan Harun dan anak-anaknya walau dalam penyebutan yang sama; Imam Besar. Lihat catatan Alkitab :

Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah Imam Besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. – Ibrani 4:14-15 –

Imam Besar Yesus menetapkan dan melantik Rasul, Nabi, Penginjil, Gembala, dan Guru untuk melayani jemaat-Nya sebagai suatu bentuk hirarkis organisasi yang secara langsung dipimpin dan dikontrolNya. Yesus tidak lagi memisahkan para Lewi atau melantik Imam-imam lain di bawahNya. Yesus Kristus membentuk organisasi baru dan membuat peraturan menurut kerelaan kehendakNya.

Mari kita lihat beberapa pengertian fungsional dari lima jawatan yang ditetapkan Yesus Kristus :

a. Rasul

Rasul mendirikan gereja-gereja baru (baca perjalanan misi Paulus), mengoreksi kesalahan dengan menegakkan tatanan dan struktur yang tepat (baca I Korintus), dan bertindak sebagai penilik, yaitu pelayanan sebagai bapa pelayanan-pelayanan lain (I Kor. 4:15; 2 Kor. 11:28). Rasul mendapat urapan wahyu (Efesus 3:5).

b. Nabi

Nabi adalah hamba Allah yang menerima karunia “nabi” (Efesus 4:11; I Kor. 12:28; 14:29; KPR. 11:27; 13:1). Nabi adalah pelayan yang sudah diurapi yang mempunyai karunia untuk melihat dan mengucapkan pikiran khusus Kristus kepada pribadi-pribadi, gereja-gereja, bisnis-bisnis dan bangsa-bangsa. Seorang nabi datang untuk meluruskan hal-hal yang menyimpang. Tugasnya adalah memanggil mereka yang memberontak untuk kembali taat! Ia tidak disukai karena ia menentang mereka yang populer dalam moralitas dan kerohanian. Dalam masa para politikus yang tidak memiliki karakter yang baik dan pengkhotbah yang tidak bersuara, tidak ada kebutuhan bangsa yang lebih mendesak dibanding seruan kita kepada Allah untuk mengirimkan seorang nabi! Fungsi seorang nabi, seperti yang pernah dikatakan oleh Austin Sparks, “Hampir selalu untuk pemulihan.”

c. Penginjil

Pandangan tradisional tentang seorang penginjil adalah orang yang membawa “Kabar Baik”. Penginjil menyatakan Injil kepada dunia yang tidak percaya dan tersesat (KPR 8:5), bergerak dalam mujizat (KPR. 8:6), membebaskan orang dari setan-setan (KPR 8:7), menerima perintah-perintah dari malaikat (KPR 8:26) dan mempunyai hikmat wahyu (KPR 8:29).

d. Gembala

Gembala ditugaskan untuk menggembalakan “kawanan domba” atau jemaat, memberi makan dan memelihara kawanan itu, memberi nasihat atau memberikan pelayanan konseling guna pertumbuhan dan perkembangan jemaat. Gembala bukan hanya melakukan hal-hal yang berhubungan dengan penggembalaan, melainkan juga bergerak dalam anugerah-anugerah dan karunia-karunia adikodrati dari Allah (bernubuat, mengucapkan marifat/pengetahuan, menyembuhkan), menerima visi dan kesediaan untuk mengembangkan jemaat dalam karunia-karunia dan panggilan-panggilan mereka.

e. Guru

Seorang instruktur kebenaran (baca 2 Tim. 3:16). Guru tidak hanya mengajarkan hukum tertulis, tetapi juga melayani dengan kehidupan ilahi dan urapan Roh Kudus (2 Kor. 3:6). Ia menunjukkan pendalaman spiritual yang tajam dan wawasan ilahi terhadap Firman Allah dan penerapan pribadinya kepada orang-orang percaya.

Mereka ditetapkan, dipanggil dan diposisikan sebagai “kawan sekerja” Allah (I Korintus 3:9) untuk melayani, membina dan mendidik atau mengajar jemaat supaya hidup sesuai dengan perintah Kristus Yesus sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamat.

Nampaknya dalam penetapan jawatan ini, Yesus tidak bermaksud untuk memberi penekanan lagi tentang keharusan membawa persepuluhan, seperti yang nampak berulang-ulang kali diingatkan pada Perjanjian Lama.

Sepertinya, Yesus sangat mengerti dengan kedudukan-Nya sebagai Imam Besar sepanjang masa, bukan untuk menerima persepuluhan seperti pada masa Imam Besar Harun dan anak-anaknya yang menerima persepuluhan dari persepuluhan yang diterima para Lewi melainkan memberi “makan” secara jasmani dan rohani pada gereja dan semua hamba-Nya. Sebabnya, sangatlah tepat Dia disebut sebagai Gembala Yang Baik, yang menyediakan dan memberi makan domba-dombaNya. Dia, sang Yahovah yireh – Allah menyediakan. Memang, cara memenuhi kebutuhan hidup para hambaNya, Yesus tidak “merobek” langit dan mencurahkan berkat-berkat itu – seperti yang pernah dialami oleh bangsa Israel ketika berada di padang gurun. Yesus memberkati umatNya dan memerintahkan mereka untuk melakukan pelayanan kasih yang tulus ikhlas kepada para hambaNya (simak Yohanes 10:10; 2 Korintus 8:7; 9:12). Dengan cara demikian maka mereka (yang termasuk dalam pelayan lima jawatan) dapat secara total memusatkan perhatian, tenaga dan seluruh kemampuan untuk mengemban misi penyelamatan manusia lain yang belum mengenal Kristus.

Bila Anda ragu, periksalah kembali sejarah kehidupan Yesus bersama para murid dan orang banyak yang berbondong-bondong datang padaNya. Kalau saya keliru dan salah membaca catatan Alkitab, maafkan saya. Tapi saya kira Anda pun tidak akan menemukan satu frase pun dalam deretan ayat-ayat Alkitab yang mengatakan “murid-muridNya bersusah payah mencari nafkah untuk menjamin kelanjutan pelayanan Yesus selama kurang lebih tiga setengah tahun”. Yang benar adalah ketika Yesus memanggil kedua belas muridNya, Ia menyuruh mereka meninggalkan pekerjaan, jabatan, profesi dan semua mata pencaharian lainnya supaya dapat memusatkan diri dalam pemberitaan Injil dengan jaminan bahwa semua yang menjadi kebutuhan pokok, sekunder, mewah mereka diberikanNya secara cuma-cuma, bahkan tidak hanya sampai disitu, mereka semua yang percaya padaNya dijamin masuk sorga. Jelas bukan …?

Alkitab berkata, Kristus adalah penggenapan hukum Taurat atau dalam perkataan lain, Yesus datang untuk menggenapi semua yang dituntut oleh Hukum Taurat dimana tidak seorang manusia pun yang dapat melakukannya secara sempurna.

Bila saja kita mau sedikit menggunakan daya nalar maka dapat dipastikan termasuk hukum perpuluhan – yang hingga kini tidak ada seorang pun yang dapat menghitungnya secara benar sesuai standar Alkitab.

Bila Anda tetap ngotot dengan sistem perpuluhan maka tolonglah berikan satu saja kutipan ayat Alkitab dalam Perjanjian Baru, baik secara implisit apalagi eksplisit, bahwa Gembala berhak menerima perpuluhan jemaat – sebab keempat jawatan lain secara tidak langsung telah “disadarkan” dengan hukum verbal gereja lokal bahwa mereka tidak punya hak untuk itu. Kemudian, maaf, kalau ada Gembala yang benar-benar jujur mau melakukannya maka ia seharusnya memisahkan perpuluhan dari perpuluhan yang telah diterimanya kemudian “dikirim” – bisa via pos atau gunakan kecanggihan fasilitas perbankan, seperti Credit card, transfer via ATM atau bisa langsung dari ponsel GSM – ke rekening perpuluhan Imam Besar Agung, Yesus Kristus. Karena hanya Yesus yang benar-benar berhak untuk menerimanya.

Dan lagi, dalam Efesus 4:11, jawatan Gembala berada dalam satu level dengan empat jawatan lainnya, tapi dalam prakteknya – semoga gereja Anda tidak – hasil pelayanan (biasanya hasil khotbah, entah dalam gereja yang bersangkutan atau pun pada gereja lain) keempat jawatan plus para diaken di bawahnya haruslah juga “disetorkan” perpuluhan mereka kepada Gembala. Bila “kewajiban terpaksa” ini tidak dilakukan maka akan muncul sebutan yang “merusak” telinga dan melukai perasaan – yang para buruh kasar pun tidak suka mendengarnya. Jadi dalam hal ini Gembala telah “merebut” kedudukan Imam Besar Yesus Kristus dalam hal penerimaan perpuluhan. Ternyata bukan dalam dunia politik saja yang memberlakukan “standar ganda”, gereja pun demikian.

Secara spontan, Anda akan berkomentar dan mengajukan keberatan karena merasa diintervensi “hak istimewa” Anda menyangkut persepuluhan atau Anda merasa prihatin dengan mereka yang telah biasa menerimanya, – semoga tidak sampai merusak buku ini – “yah itu semua terjadi karena Yesus hadir secara fisik, tapi bagaimana dan darimana seorang Gembala sidang jemaat mempertahankan kehidupan jasmani atau membiayai kelanjutan pelayanan pekerjaan Tuhan di zaman edan ini?”

Mohon maaf, saya belum akan menjawabnya pada bagian ini, karena Anda akan segera menemukannya bila tidak menjadi jemu dan kecewa menelusuri bagian-bagian penting lainnya.

Dr. Bill Hamon memberi bahan pertimbangan untuk membuka wawasan kita sehubungan dengan keterlibatan pelayanan lima jawatan dalam gereja lokal :

👉a. Pelayan-pelayan dalam lima jawatan terkait dengan kepemimpinan Yesus Kristus, Kepala Gereja.

👉b. Semua pelayan lima jawatan dipilih, diangkat/dilantik dan ditugaskan oleh Yesus Kristus untuk menghimpun, memimpin, mendasari dan mengajar/mendidik umat Allah, walaupun masing-masing diberi anugerah dan kemampuan khusus dalam satu bidang lebih daripada yang lainnya. Tetapi janganlah kita berkesimpulan bahwa ada batasan-batasan aktivitas setiap pelayan. Ini merupakan gambaran singkat dari setiap urapan besar dan kemampuan yang diberikan secara ilahi.

👉c. Memasukkan rasul, nabi, penginjil, gembala atau pengajar ke dalam suatu kotak urapan dan aktivitas terbatas tidaklah alkitabiah dan bijaksana. Tak satu pun ayat Alkitab menyarankan apalagi menyatakan bahwa pelayan-pelayan lima jawatan terbatas pada aktivitas-aktivitas pelayanan atau posisi-posisi kepemimpinan tertentu. Pelayan-pelayan lima jawatan bukanlah pelayan-pelayan independen yang terpisah satu dengan lainnya, tetapi merupakan bagian dari keseluruhan dan harus bekerja sama karena saling ketergantungan untuk menggenapi pelayanan tubuh Kristus. Tidak ada jawatan yang lebih tinggi dan yang lainnya lebih rendah.

👉d. Fungsi pelayan-pelayan lima jawatan akan menjadi kacau dan rusak bila kita melakukan penggolongan secara mendetail tentang kepribadian, kinerja dan kedudukan masing-masing jawatan.

👉e. Setiap pelayan lima jawatan sangat mengenal panggilan dan pelayanannya sendiri, dalam artian bahwa tidak terdapat “cross” – intervensi/silang otoritas – didalamnya. Seorang rasul – walau urutan pertama dalam sebutan – tidak diberi otoritas oleh Yesus untuk menjadi bapa dan direktur nabi. Demikian pula, seorang nabi tidak memiliki hak prerogatif untuk memberikan pedoman, arahan dan batasan pelayanan rasul. Seorang gembala tidak boleh menggurui pengajar dan seorang guru tidak boleh mendikte penginjil dalam pelayanan penginjilan. Betapapun juga, kita semua harus saling menerima untuk saling memperlengkapi.

Bila kita telah secara obyektif menarik kesimpulan dari lima wawasan tersebut di atas maka tentulah kita bisa menyamakan persepsi dari satu interpretasi bahwa bukan cuma dalam hal pelaksanaan tugas fungsional mereka – pelayan-pelayan lima jawatan – berada pada lini horisontal yang benar-benar sejajar, tidak terkotak-kotak dan saling melengkapi tapi dalam hal menikmati hasil pelayanan yang tersimpan dalam rumah perbendaharaan pun haruslah tidak terkotak-kotak dan diskriminatif.


berrsambung ... PARTISI 2 👉E. KOMPLEKSITAS TUNTUTAN KEBUTUHAN MASA KINI

💰PERSEPULUHAN 👉 ALKITABIAH TAPI TIDAK INJILI [PARTISI 2👉C]📕

 


C. BEDAH CAESAR MALEAKHI 3:10

Penafsiran Alkitab harus mempunyai fokus yang nyata dalam tujuan penafsirannya yaitu mengemukakan arti yang sama dengan yang diinginkan pengarang waktu ia menulis.

Para cendekiawan Alkitab menggunakan istilah “hermeneutik” untuk menjelaskan ilmu penafsiran Kitab-kitab Suci. Ilmu penafsiran ini adalah bentuk eksegese yang pada dasarnya berarti menginterpretasikan atau menafsirkan teks sebuah dokumen. Hermeneutik mencoba menemukan makna yang dimaksudkan penulis dengan mula-mula, meneliti dengan cermat teks dan koteksnya. Kata-kata yang memiliki makna yang berbeda-beda kalau digunakan dalam konteks yang berbeda-beda pula. Hermeneutik melibatkan proses memahami apa pesannya, siapa yang menyampaikan pesan itu dan kepada siapa pesan tersebut ditujukan.

Istilah “hermeneutik” berasal dari nama Hermes, dewa utusan bangsa Yunani. Bangsa Romawi juga memakai nama Mercury untuk utusan ilahi yang sama. Hermes sering menyampaikan pesan-pesan dari Zeus (Jupiter bagi bangsa Romawi). Oleh karena itu, kumpulan orang banyak di Listra yang berbahasa Likaonia menyebut Barnabas sebagai Zeus dan Paulus sebagai Hermes (Kisah Para Rasul 14:12).

Untuk melakukan penafsiran terhadap Alkitab para teolog menggunakan beberapa metode, antara lain metode alegori, yang berusaha menemukan arti rohani dibalik kata-kata hurufiah dalam ayat-ayat Alkitab; metode mistik, yang hampir sama dengan metode alegori. Metode mistik mengira bahwa dibalik kata-kata biasa terdapat banyak arti. Metode ini melebihi metode alegori, membuka pintu lebar-lebar untuk banyak penafsiran. Suatu pasal atau bagian dari Alkitab selain mempunyai arti yang hurufiah juga mempunyai banyak arti rohani yang melambung sehingga menimbulkan kesan “spritualisasi”. Berikutnya adalah metode ibadat, yang percaya bahwa Alkitab ditulis hanya untuk tujuan edifikasi (peneguhan iman atau pembangunan moral) pribadi para pemercaya, sehingga mereka harus berupaya menemukan arti rohani yang tersembunyi dibalik perkataan hurufiah Alkitab. Para penafsir Alkitab yang lainnya menggunakan metode rasionil untuk membuktikan bahwa Alkitab bukanlah firman Allah yang diilhami. Mereka katakan bahwa Alkitab tidaklah berbeda dengan catatan-catatan dokumentasi lainnya berdasarkan kemampuan akal manusia yang alamiah. Dengan demikian mereka yang menggunakan metode ini menolak hal-hal supranatural dalam Alkitab. Masih ada sebuah metode penafsiran Alkitab, yaitu metode literal, sebagai metode yang tertua dari semua metode yang digunakan dalam menafsirkan Alkitab. Ezra, “Bapak Hermeneutik” menggunakan metode ini yang kemudian diteruskan oleh orang-orang Yahudi Palestina, Yesus, Rasul-rasul, sekolah di Antiokia dan para reformator hingga para fundamentalis dan konservatif sekarang ini.

Sehubungan dengan upaya operasi caesar atas kitab Maleakhi maka metode literal inilah yang dipilih. Alasan logisnya, metode ini mengartikan Alkitab dalam arti biasa yang dapat dipercaya. Allah menginginkan wahyu-Nya dapat dimengerti oleh semua orang percaya. Firman Allah yang tertulis dalam Alkitab mengkomunikasikan apa yang Allah inginkan manusia harus tahu secara literal. Bahwa Allah telah mendasarkan komunikasi kebenaran-Nya lewat hukum-hukum-Nya yang tertulis dan Ia ingin semuanya itu diinterpretasikan sesuai dengan apa yang telah tertulis tersebut. Ini tidaklah menolak keterlibatan Rohul Kudus dalam interpretasi Alkitab.

Kata “literal” dapat didefinisikan sebagai biasa, suatu arti yang dapat diterima umum yang dikandung oleh kata dalam suatu konteks bahasan. Ada kata yang memiliki arti tertentu untuk penulis dan pembaca. Ada juga kata yang mempunyai beberapa arti dalam konteks yang berbeda; jadi harus ditafsir secara kontekstual.

Menurut Paul Tan, menafsir “literal” menerangkan maksud penulis sesuai dengan pemakaian kata yang biasa, normal. Metode ini juga disebut “metode gramatik historis”, sebab untuk menentukan pemakaian bahasa Alkitab yang normal, harus memperhatikan peraturan gramatikalnya dan juga aspek sejarah dan kebudayaan.

Walaupun kita tidak seluruhnya setuju dengan aplikasi dari metode literal, pandangan Tan, dapatlah dikembangkan :

1. Dalam pengertian literal juga termasuk figuratif ibarat

Walaupun dalam (ibarat) pengertian ibarat itu berlawanan dengan pengertian literal, akan tetapi bahasa kiasan adalah bagian dari komunikasi normal. Jadi literal termasuk figuratif (ibarat).

2. Metode literal juga termasuk arti rohani

Beberapa penafsir menggunakan istilah arti rohani berlawanan dengan istilah literal, walaupun dalam pengertian kata demikian. Di bawah judul “metode mengartirohanikan” beberapa penafsir telah merohanikan Alkitab pada arti yang lain pada apa yang sebenarnya. Dalam metode literal walaupun menolak spiritualisasi tapi menerima wujud dan dasar rohani dari Alkitab. Alkitab adalah buku rohani yang berisi kebenaran rohani yang harus ditafsir secara rohani.

3. Dalam penafsiran literal juga termasuk penerapan

Beberapa penafsir bingung dengan istilah aplikasi. Jhon Calvin berkata, “Firman Allah adalah tak habis-habisnya dan cocok diterapkan di segala waktu, tapi ada perbedaan antara penerangan dan aplikasi, aplikasi harus berbarengan dengan penerangan”.

Tugas dari interpretasi literal, pertama adalah menggali arti firman Allah dan kemudian pada dasar ini mengaplikasi atau menerapkannya. Aturan umum dari metode literal adalah terdapat banyak aplikasi dari suatu interpretasi.

4. Metode literal juga termasuk pengertian yang dalam

Ada penafsir yang berpendapat, metode literal membatasi orang percaya menemukan arti rohani yang dalam; arti kebenaran firman Allah yang lebih kompleks. Seringkali kebenaran Alkitab itu tidak hanya terlihat nyata dalam bentuk luar, tapi masih mempunyai arti-arti rohani lainnya didalamnya. Peristiwa-peristiwa sejarah mempunyai arti-arti rohani dan kesusasteraan lain seperti, tipe, simbol, allegory dan lain-lain. Akan tetapi perlu diperhatikan dengan seksama bahwa pengembangan arti-arti baru tersebut haruslah didasarkan pada pengertian literal.

Mari kita mulai....>>>

Maleakhi 3 perlu mendapat perhatian khusus, sebab ayat 10 secara khusus kerap dicabut dari konteksnya dan dimanfaatkan untuk membenarkan praktik persepuluhan pada masa kini. Kita harus mengakui secara jujur bahwa bahasa religius yang dipakai oleh Kitab Maleakhi sangat legalistis. Aturan agama ingin ditegakkan. Namun demikian, semangat legalisme ini bukanlah yang paling utama. Pesan Kitab Maleakhi bukan soal legalisme hidup iman, namun soal kesetiaan Allah yang direspons tidak sepantasnya oleh umat Israel.

Ditulis antara 450 dan 400 tahun sebelum Masehi di Yerusalem, kitab Maleakhi dinamai sesuai nama penulisnya, Maleakhi. Dalam bahasa Ibrani disebut Mal.a.khi yang berarti “utusanKu”. Dalam bahasa Yunani disebut Malakhias yang berarti “utusan (malaikat Yehuwa)”. Alkitab Ibrani, terjemahan Septuaginta dan urutan kronologis dari buku-buku itu semuanya menempatkan kitab Maleakhi sebagai yang paling penghabisan dari kedua belas kitab nabi-nabi kecil. Menurut tradisi dari Majelis Besar, Maleakhi hidup sesudah zaman nabi Hagai dan Zakharia dan sezaman dengan Nehemia. Kitab ini ditulis semasa pemulihan kembali Yerusalem sesudah 70 tahun lamanya Yehuda mengalami kehancuran dan keterpurukan moral.

Nubuatan Maleakhi bukan semata-mata ditujukan kepada seluruh bangsa Israel tetapi khususnya kepada sisa-sisa bangsa Israel yang kembali dari penawanan atau lebih tepatnya masa perbudakan di Babel. Maleakhi menunjukkan bahwa kerajinan dan semangat agama yang telah dibangkitkan oleh nabi Hagai dan Zakharai pada waktu pembangunan kembali Bait Allah itu, telah lenyap lagi. Bangsa ini jatuh dalam berbagai macam dosa, perceraian; perkawinan campur dengan pasangan yang menyembah ilah asing; mengabaikan Bait Allah dan persembahan persepuluhan; kepemimpinan yang tidak takut akan Allah dan keacuhan. Para imam telah menjadi lalai, angkuh dan bersikap membenarkan diri.

Tuduhan terhadap Israel dilancarkan dalam dialog. Dalam setiap tuduhan Tuhan timbul pertanyaan menantang dari bani Yakub. Misalnya Allah menuduh para Imam mempersembahkan roti yang cemar. Mereka menjawab “dengan cara bagaimanakah kami mencemarkannya?” (1:7-8). Hal ini langsung bertentangan dengan Taurat Musa, yang menuntut supaya korban-korban sembelihan dipilih yang utuh. Tapi sebaliknya mereka membawa yang buta dan timpang, sehingga dengan berbuat demikian para imam menunjukkan penghinaan terhadap Tuhan.

Kemurtadan imat Israel bukanlah hal baru, tapi sudah terjadi sejak dahulu.

Persembahan persepuluhan dan persembahan lainnya yang seharusnya diberikan pada bani Lewi telah dihentikan karena adanya perasaan bahwa Allah tidak lagi memperhatikan mereka, padahal, sejak semula ditegaskan bahwa Allah mengasihi Israel (1:2-5).

Selengkapnya, ikutilah dialog singkat antara Tuhan dengan bani Yakub seputar persembahan persepuluhan :

3:6 Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah, dan kamu, bani Yakub, tidak akan lenyap.

3:7 Sejak zaman nenek moyangmu kamu telah menyimpang dari ketetapan-Ku dan tidak memeliharanya. Kembalilah kepada-Ku, maka Aku akan kembali kepadamu, firman TUHAN semesta alam. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami harus kembali?"

3:8 Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?" Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus!

3:9 Kamu telah kena kutuk, tetapi kamu masih menipu Aku, ya kamu seluruh bangsa!

3:10 Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.

3:11 Aku akan menghardik bagimu belalang pelahap, supaya jangan dihabisinya hasil tanahmu dan supaya jangan pohon anggur di padang tidak berbuah bagimu, firman TUHAN semesta alam.

3:12 Maka segala bangsa akan menyebut kamu berbahagia, sebab kamu ini akan menjadi negeri kesukaan, firman TUHAN semesta alam.

Operasi caesar dimulai dari ayat 6, “Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah, dan kamu, bani Yakub, tidak akan lenyap.” Perkataan ini jelas menggambarkan dengan siapakah Tuhan berbicara; bani Yakub (bangsa Israel). Tuhan menyatakan kesetiaan-Nya dan konsistensi-Nya atas aturan persepuluhan yang dibuat-Nya dalam Bilangan 18, khususnya pada ayat 21-24.

Pada ayat 7 menggambarkan kebiasaan buruk ini telah berurat akar dalam bangsa Israel sejak nenek moyang yang selalu menyimpang dari ketetapan Tuhan. Walaupun demikian Tuhan tetap mengajak mereka bertobat. Tetapi Israel berpura-pura tidak tahu akan kesalahan yang mereka telah perbuat dan balik bertanya pada Tuhan. Inilah yang disebut kemunafikan.

Dalam ayat 8, Tuhan memberi pertanyaan pada bangsa tegar tengkuk ini, “bolehkah manusia menipu Allah?” Bila ditelusuri secara genetik, bangsa ini mewarisi sifat bapak leluhur mereka, Yakub, yang telah menipu Ishak dan Esau, kakaknya (Kejadian 27:35-36). Kalau Israel senior (Yakub) pernah menipu Esau dengan sepiring kacang merah demi hak kesulungan, lalu menipu Ishak, ayahnya dengan makanan yang lezat demi menerima berkat kesulungan yang dirampasnya dari Esau, maka keturunannya, bani Yakub (Israel) melakukan penipuan yang lebih spektakuler. Israel menipu Tuhan dengan persembahan persepuluhan dan persembahan khusus karena cinta diri, tidak mau memberikan haknya bani Lewi, saudara mereka itu. Ini sifat individualistis, hanya memikirkan diri sendiri.

Ayat 9 memberitahukan bahwa seluruh bangsa Israel walau telah kena kutuk namun tetap saja menipu Tuhan dengan persembahan persepuluhan yang seharusnya mereka bawa kepada bani Lewi. Seluruh bangsa Israel telah tahu benar bahwa persepuluhan itu adalah milik pusaka bani Lewi turun-temurun, selamanya tapi mereka tetap saja tidak mau memberi. Menahan hak bani Lewi, yang sudah ditetapkan Tuhan, sama saja dengan menipu Tuhan.

Dan inilah ayat paling digemari dan yang dijadikan landasan teologi doktrinal gereja :

3:10. Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.

Disinilah letaknya alasan utama mengapa perlu dilakukan operasi caesar atas Maleakhi yang memang sudah dipersiapkan sebelumnya. Pembedahan dimulai dari penggalan ini :

“ Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan,”

Hasil operasi membuktikan bahwa yang disuruh Tuhan membawa persembahan persepuluhan adalah bangsa Israel – sangat jelas. Israel harus membawanya ke dalam rumah perbendaharaan atau yang disebut juga sebagai bilik-bilik perbendaharaan yang letaknya di pelataran Bait Allah (baca kembali poin B. Rumah Perbendaharaan Perjanjian Baru).

Banyak pendeta menyatakan bahwa persepuluhan harus di bawa ke gereja karena gereja adalah perwujudan Bait Allah di dalam PB. Tetapi Maleakhi 3:10 dan ayat-ayat lainnya di dalam PL menyatakan bahwa persepuluhan orang Israel harus dibawa ke rumah perbendaharaan, bukan ke Bait Allah, dimana orang-orang Lewi bertugas untuk mengatur pembagian persepuluhan itu, agar setiap harinya terdapat persediaan makanan di Bait Allah. Bayangkan seandainya semua orang dari seluruh pelosok negeri Israel membawa sepersepuluh dari panen mereka ke Bait Allah, apakah kira-kira Bait Allah dapat menampungnya?

Selain itu, secara tegas Tuhan Yesus menyatakan bahwa tidak ada lagi bangunan Bait Allah di masa Pernjanjian Baru, karena Bait Allah yang sesungguhnya adalah diri kita sendiri, yaitu orang-orang yang percaya kepada-Nya (Yohanes 2:19-21, 1 Korintus 3:16), yang didirikan bukan oleh tangan manusia, melainkan oleh Tuhan Yesus sendiri. Jadi bagaimana mungkin kita tetap mempertahankan ide untuk membawa persembahan persepuluhan ke gereja (Bait Allah)? Kalau begitu, kemana bangsa Israel membawa persepuluhan mereka? Tergantung jenis persepuluhannya. Pertama, mereka membawa Ma’aser Rishon ke kota-kota orang Lewi yang tersebar di seluruh penjuru negeri Israel (Bil 35:1-8, Yos 21:1-42). Kedua, mereka membawa Ma’aser Sheni ke kota Yerusalem untuk dimakan bersama-sama di dalam perayaan pesta panen (Ul 14:24). Ketiga, mereka membawa Ma’aser Ani ke pintu gerbang kota masing-masing supaya janda-janda, anak yatim dan orang asing dapat makan dan menjadi kenyang (Ul 14:28).

Gereja, secara organisatoris yang juga memiliki bentuk fisik, tidak memiliki rumah perbendaharaan dimaksud. Pastori bukanlah rumah perbendaharaan, tetapi tempat tinggal Gembala sidang. Jadi, adalah sangat tidak tepat bila berusaha menjelaskan pada jemaat bahwa mereka harus bawa persepuluhan ke gedung gereja atau ke pastori sebagai rumah perbendaharaannya.

“supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku”

Hasil operasi menunjukkan bahwa frasa inilah yang kemudian diterjemahkan lewat metoda ilmu tafsir semau-maunya.

Pada masa pelayanan kaum Lewi, Tuhan telah menetapkan bahwa mereka tidak akan mendapat harta warisan atau milik pusaka diantara saudara-saudaranya; sehingga untuk memenuhi kebutuhan jasmaniah mereka, Tuhan menyuruh 11 suku membawa segala jenis persembahan termasuk persembahan persepuluhan yang menjadi milik pusaka kaum Lewi ke dalam rumah perbendaharan.

Bila mencermatinya secara kontekstual maka seluruh bani Lewi mendapat makan dari bilik perbendaharaan yang ada di halaman/pelataran Bait Allah (dalam PL disebut juga sebagai Rumah Allah). Kalau dipaksakan intepretasinya masuk dalam gereja maka seharusnya 5 jawatan berhak menikmati persediaan makanan dalam Rumah Tuhan sebagaimana bani Lewi menikmatinya.

Fakta membuktikan bahwa yang memonopoli "persediaan makanan di rumah-Ku" hanyalah Gembala dan kaum keluarganya; 4 jawatan lainnya tidak berhak atasnya. Sebenarnya konsep "rumah Tuhan" dalam masa gereja itu seperti apa? Siapa sajakah yang boleh berdiam/tinggal di "rumah Tuhan" dalam masa gereja saat ini?

Bukankah seharusnya "rumah Tuhan" itu menjadi hunian bersama 5 jawatan sehingga persediaan makanan di dalamnya pun dibagi bersama sesuai kebutuhan masing-masing?

Kenapa 4 jawatan lain tidak punya hak menikmati persediaan makanan di rumah Tuhan yang adalah rumah BAPA mereka juga? Ini pendiskreditan jawatan.

Apakah TUHAN sendiri yang menempatkan Gembala Sidang di dalam rumah-Nya dan menyuruh 4 jawatan lainnya cari rumah kontrakan masing-masing?

“dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.”

Hasil operasi menyimpulkan bahwa perintah Tuhan pada Israel untuk bawa persepuluhan diperlengkapi dengan hukum sebab akibat. Bila Israel melakukannya dengan taat dan setia maka Tuhan akan membuka tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat-berkat jasmaniah bagi mereka. Di sini, nampaknya Allah sendiri membuka diri-Nya untuk diuji oleh bangsa keras tengkuk ini. Bangsa Israel sejak keluar dari tanah perbudakan, Mesir, selalu meminta tanda penyertaan Tuhan untuk segala sesuatu yang mereka lakukan (1 Korintus 1:22a). Tetapi bila mereka melanggar dan tidak setia lagi dalam mentaati perintah, peraturan dan ketetapan Tuhan (Ulangan 8:11), termasuk dalam hal persepuluhan maka kutuklah yang menjadi bagian mereka (cermati Ulangan 28:15-46).

Jadi, Maleakhi 3:10 haruslah dilihat dalam kerangka “kita-memberi-karena-sudah-menerima” dan bukan sebaliknya, “kita-memberi-supaya-menerima”. Kerangka berpikir yang kedua sungguh berlawanan dengan prinsip utama keseluruhan Alkitab. Allah Alkitab tidak pernah menetapkan suatu cara berpikir “Hukum Bisnis Rohani.”

Masih ada lanjutan operasi pasca caesar......

Allah berjanji bukan hanya buka tingkap-tingkap langit lalu curahkan berkat, namun Ia juga berjanji :

3:11 Aku akan menghardik bagimu belalang pelahap, supaya jangan dihabisinya hasil tanahmu dan supaya jangan pohon anggur di padang tidak berbuah bagimu, firman TUHAN semesta alam.

3:12 Maka segala bangsa akan menyebut kamu berbahagia, sebab kamu ini akan menjadi negeri kesukaan, firman TUHAN semesta alam.

Hasil operasi tambahan ini membenarkan semua janji Allah dibuktikan atas bangsa Israel. Kita tidak bisa menutup mata terhadap semua kemajuan dalam segala bidang kehidupan yang telah dialami dan masih sedang digenapi dalam bangsa ini. Media massa seantero dunia memberitakan pertumbuhan ekonomi yang pesat dan juga kemajuan ilmu pengetahuan teknologi yang spektakuler.

Namun jika ini coba dimasukkan dalam rana pemahaman PB dimana Gereja berada, maka nampaklah inkorelasi penerapannya. Gereja adalah panggilan Tuhan secara pribadi sehingga kata “kamu” (ayat 12) tidaklah tepat diganti dengan “saya” yang disambung “akan menjadi negeri kesukaan”. Ketika anda diberkati Tuhan karena beri persepuluhan, semua bangsa di duni ini tidak akan menyebutmu, “berbahagia”. Jadi, secara kontekstual ayat 11-12 hanya berlaku untuk suatu bangsa yakni Israel.


berrsambung ... PARTISI 2 👉D. KETERLIBATAN PELAYANAN LIMA JAWATAN

Selasa, 06 Januari 2026

DICIPTAKAN UNTUK DITOLONG, DISELAMATKAN UNTUK BERBUAH

Sejak awal keberadaannya, manusia tidak pernah berdiri sebagai entitas otonom. Ia tidak muncul dari dirinya sendiri, tidak menopang dirinya sendiri, dan tidak menuju kepenuhannya oleh kekuatan sendiri. Narasi penciptaan tidak dimulai dengan manusia yang mencari Tuhan, tetapi dengan Tuhan yang memulai manusia. “Berfirmanlah tuhan: Baiklah Kita menjadikan manusia” (Kejadian 1:26). Kalimat ini sendiri sudah menutup semua kemungkinan bahwa manusia adalah proyek mandiri. Manusia adalah hasil keputusan ilahi, bukan inisiatif eksistensial manusia.

    Ketika Adam ditempatkan di taman, Tuhan berkata, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia” (Kejadian 2:18). Di sini ketergantungan manusia dinyatakan bukan sebagai akibat dosa, tetapi sebagai struktur ciptaan. Adam belum jatuh, belum berdosa, belum rusak — namun ia tetap tidak lengkap tanpa penolong. Artinya, ketergantungan bukan kelemahan moral, melainkan hakikat ontologis manusia. Manusia diciptakan bukan untuk cukup dengan dirinya sendiri, melainkan untuk hidup dalam relasi yang ditopang oleh kehendak Tuhan.

    Ketika kejatuhan terjadi (Kejadian 3), ketergantungan itu tidak hilang — justru menjadi mutlak. Jika sebelum jatuh manusia bergantung dalam kemurnian, setelah jatuh ia bergantung dalam ketidakberdayaan. Adam dan hawa tidak mencari pemulihan; mereka bersembunyi. Mereka tidak meminta keselamatan; mereka menutupi diri. Dan yang paling menentukan: mereka tidak memiliki kapasitas untuk membalikkan keadaan mereka sendiri. Tidak ada doa pertobatan dalam Kejadian 3. Tidak ada pengakuan iman. Yang ada hanyalah inisiatif Tuhan yang mencari: “Di manakah engkau?” (Kejadian 3:9).

    Pertanyaan itu bukanlah permintaan informasi, tetapi pernyataan posisi. Manusia yang jatuh tidak pernah menjadi subjek penyelamatannya sendiri. Sejak semula, keselamatan selalu datang dari luar manusia, bukan dari dalam. Bahkan penutupan ketelanjangan Adam dan hawa pun bukan hasil usaha mereka; Tuhan sendiri yang membuatkan pakaian dari kulit (Kejadian 3:21). Ini bukan sekadar tindakan simbolik, tetapi deklarasi teologis: manusia tidak mampu menutupi akibat dosanya sendiri.

    Pola ini tidak berubah sepanjang sejarah Alkitab. Manusia selalu berada pada posisi membutuhkan penolong, pembebas, penyelamat. “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak” (Roma 3:10). “Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan tuhan” (Roma 3:23). Bahkan kehendak manusia sendiri digambarkan sebagai tidak berdaya: “Sebab keinginan memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik” (Roma 7:18).

    Maka keselamatan, menurut kesaksian Alkitab, bukan hasil kerja sama setara antara Tuhan dan manusia. Keselamatan adalah pekerjaan tunggal Tuhan. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian tuhan; itu bukan hasil pekerjaanmu” (Efesus 2:8–9). Teks ini tidak memberi ruang bagi manusia untuk mengklaim peran kausal dalam keselamatan. Iman pun tidak diposisikan sebagai prestasi manusia, melainkan sebagai sarana penerimaan atas karya Tuhan.

    Namun Alkitab tidak berhenti di sana. Setelah menutup semua pintu bagi kesombongan manusia, teks membuka satu pintu yang benar: buah keselamatan. “Karena kita ini buatan Tuhan, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Tuhan sebelumnya” (Efesus 2:10). Urutannya tidak boleh dibalik. Manusia tidak berbuat baik agar diselamatkan; manusia berbuat baik karena telah diselamatkan. Perbuatan bukan akar, melainkan buah. Bukan sebab, melainkan akibat.

    Di sinilah sering terjadi kekeliruan: manusia mencoba “mengerjakan keselamatan” dalam arti menyempurnakan apa yang tuhan belum selesaikan. Padahal Alkitab tegas: “Sudah selesai” (Yohanes 19:30). Kata tetelestai menunjukkan tindakan final, tuntas, tidak memerlukan tambahan. Maka ketika Paulus berkata, “Kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar” (Filipi 2:12), ia tidak sedang memanggil manusia untuk menyelamatkan diri, melainkan untuk menghidupi keselamatan yang sudah diberikan. Ayat berikutnya menutup semua kemungkinan salah tafsir: “Karena Tuhanlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan” (Filipi 2:13).

    Dengan demikian, seluruh kisah Alkitab bergerak dalam satu garis lurus: dari penciptaan hingga penebusan, manusia selalu berada dalam posisi menerima, bukan memproduksi. Ia menerima hidup, menerima hukum, menerima janji, menerima keselamatan, dan bahkan menerima kemampuan untuk berbuah. Tidak ada satu fase pun di mana manusia berdiri sebagai sumber.

  Jika manusia sejak awal membutuhkan penolong, maka dalam keselamatan ia membutuhkan Penolong yang mutlak. Dan ketika keselamatan itu telah dikerjakan sepenuhnya oleh Tuhan, manusia tidak dipanggil untuk menambahnya, melainkan untuk memancarkannya. Buah-buah kebenaran, kekudusan, dan kasih bukanlah mata uang untuk membeli keselamatan, tetapi tanda bahwa keselamatan itu sungguh telah hadir.

    Dalam terang ini, keselamatan bukan proyek moral, melainkan realitas ontologis baru. Manusia tidak sedang naik ke atas menuju Tuhan; Tuhan telah turun, bertindak, dan menyelesaikan. Dan manusia, seperti sejak awal, tetap berada di tempat yang sama: bergantung, ditopang, dan hidup oleh anugerah.

Haleluyah, Bapa Yesus memberkati kita semua,
—Ps. Christian Moses

Minggu, 04 Januari 2026

SEBELUM TUHAN ADA: KESAKSIAN KITAB SUCI TENTANG SANG ADA

Kitab Suci tidak memulai pengenalannya tentang Tuhan dari gelar, fungsi, atau relasi, melainkan dari keberadaan. Bahkan sebelum bahasa manusia mengenal kategori “Tuhan”, sebelum ciptaan menyediakan ruang bagi relasi penyembahan, sebelum ada waktu untuk menandai awal dan akhir, Kitab Suci secara diam-diam sudah berdiri di atas satu asumsi yang tidak pernah dijelaskan tetapi selalu dihadirkan: ada sesuatu yang ada dengan sendirinya. Bukan karena dipanggil, bukan karena diadakan, bukan karena dibutuhkan—melainkan karena Ia ada.

Ketika Musa bertanya tentang nama, pertanyaan itu lahir dari dunia relasional: manusia membutuhkan nama untuk menunjuk, membedakan, dan mengingat. Namun jawaban yang diterima Musa sama sekali tidak bergerak dalam wilayah itu. “Ehyeh Asher Ehyeh”—“AKU ADALAH AKU” (Keluaran 3:14). Teks Ibrani ini tidak memberi identitas naratif, tidak memberi silsilah, tidak memberi kategori. Ia menolak semua bentuk definisi yang biasa dipakai makhluk. Ia bukan jawaban fungsional, melainkan penyingkapan ontologis.

Di titik ini, Kitab Suci seolah berhenti berbicara dalam bahasa agama, dan mulai berbicara dalam bahasa keberadaan. “AKU ADALAH” bukan nama diri, sebab nama membedakan satu dari yang lain. Tetapi sebelum ada “yang lain”, tidak ada kebuTuhan untuk pembeda. Pernyataan ini menyatakan bahwa yang berbicara tidak berdiri di dalam jaringan sebab–akibat, tidak bergantung pada asal-usul, dan tidak menuju kepada tujuan di luar diri-Nya. Ia tidak mengatakan “Aku adalah Tuhanmu”, sebab relasi itu belum terbangun. Ia mengatakan “Aku ada”, sebab keberadaan-Nya tidak menunggu dunia untuk menjadi nyata.

Kitab Kejadian pun tidak pernah menjelaskan dari mana Ia datang. “Pada mulanya…” (Kejadian 1:1) adalah awal bagi ciptaan, bukan awal bagi Sang Ada. Teks itu tidak berkata “pada mulanya Ia menjadi”, melainkan langsung mengandaikan kehadiran-Nya sebagai subjek tindakan. Dengan demikian, Kitab Suci sejak kalimat pertamanya sudah memisahkan secara tegas antara awal waktu dan keberadaan yang melampaui waktu. Di sinilah istilah “Tuhan” mulai mungkin, sebab hanya setelah ada ciptaan, relasi Pencipta–ciptaan dapat dinamai.

Kesaksian para nabi dan rasul kemudian menggemakan pola yang sama. Dalam Wahyu 1:8 dan 22:13 terdengar suara yang menyatakan, “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir.” Namun ungkapan ini tidak boleh dibaca sebagai klaim kronologis semata, seolah Ia hanya berada di titik pertama dan terakhir dalam garis waktu. Alfa dan Omega adalah huruf, bukan angka. Ia adalah struktur keberadaan yang melingkupi seluruh realitas, bukan bagian dari realitas itu. Ia bukan “yang pertama lalu yang terakhir”, melainkan yang di dalam-Nya konsep pertama dan terakhir memperoleh makna.

Jika demikian, maka istilah “Tuhan” tidak mungkin bersifat primer. Kata itu bersifat relasional, dan relasi menuntut keberadaan lebih dari satu. Sebelum ada ciptaan, tidak ada yang dapat menempatkan diri sebagai makhluk. Maka sebelum ciptaan, Kitab Suci tidak berbicara tentang “Tuhan” sebagai peran, melainkan tentang Dia yang ada. Inilah sebabnya mengapa dalam Yesaya 43:10 tertulis, “Sebelum Aku tidak ada yang dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi.” Pernyataan ini bukan perbandingan antar-ilah, melainkan penegasan bahwa tidak ada eksistensi lain yang berdiri sejajar atau berasal dari sumber berbeda.

Keberadaan yang demikian tidak dapat dipahami sebagai komposit. Kitab Suci tidak pernah menyiratkan bahwa Sang Ada tersusun dari bagian-bagian, sebab segala yang tersusun membutuhkan penyusun. Mazmur 90:2 berkata, “Sebelum gunung-gunung dilahirkan… dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah.” Teks ini tidak memberi ruang bagi proses internal, perubahan esensi, atau pembagian hakikat. Ia adalah dari selama-lamanya sampai selama-lamanya—satu kesatuan keberadaan yang tidak melewati tahap menjadi.

Di sinilah kesaksian Yohanes menjadi sangat penting. Ketika Yesus berkata, “Sebelum Abraham ada, AKU ADA” (Yohanes 8:58), Ia tidak sedang mengklaim usia yang lebih tua, tetapi modus keberadaan yang berbeda. Abraham “ada” dalam bentuk menjadi: lahir, hidup, mati. Tetapi Sang Ada hadir tanpa konjugasi waktu. Yohanes tidak menulis “Aku telah ada”, melainkan sengaja mempertahankan bentuk kini. Dengan demikian, teks ini tidak menambahkan figur baru ke dalam keberadaan ilahi, tetapi memperlihatkan bahwa keberadaan yang sama kini hadir secara imanensi dalam sejarah.

Kitab Suci konsisten memperlihatkan bahwa gelar-gelar muncul mengikuti tindakan. “Elohim” tampil ketika penciptaan berlangsung (Kejadian 1:1). Nama perjanjian disingkapkan ketika relasi perjanjian dimulai (Keluaran 6:3). Sebutan “Bapa” baru bermakna ketika relasi penyelamatan diperkenalkan (Matius 6:9). Kehadiran sebagai Roh dikenali ketika penyertaan dialami (Yohanes 14:16–17). Semua ini menunjukkan satu pola yang tak pernah dilanggar: fungsi mengikuti keberadaan, bukan sebaliknya.

            Karena itu Kitab Suci tidak pernah mengatakan bahwa Sang Ada membutuhkan dunia untuk menjadi lengkap. “Jika Aku lapar, tidak akan Kukatakan kepadamu” (Mazmur 50:12). Pernyataan ini menutup segala kemungkinan bahwa penciptaan lahir dari kekurangan. Sang Ada tidak mencipta untuk menjadi Tuhan, tetapi menyatakan diri sebagai Tuhan setelah ciptaan ada. Penciptaan bukan kebuTuhan ontologis, melainkan ekspresi kedaulatan.

Maka, sebelum ada penyembah, Ia tidak kekurangan pujian. Sebelum ada dialog, Ia tidak kesepian. Sebelum ada relasi, Ia tidak kurang relasional. Kitab Suci tidak pernah menyiratkan bahwa keberadaan-Nya menunggu aktualisasi. Ia sempurna dalam diri-Nya sendiri. “Dari Dia dan oleh Dia dan kepada Dia segala sesuatu” (Roma 11:36) — bukan sebagai proses pemenuhan, tetapi sebagai arus yang bersumber dari kepenuhan.

Dengan demikian, kesaksian Kitab Suci membawa kita pada satu kesimpulan yang tidak dibangun oleh spekulasi filsafat, melainkan oleh teks itu sendiri: sebelum istilah Tuhan menjadi mungkin, yang ada hanyalah AKU ADA. Bukan sebagai konsep, bukan sebagai gelar, bukan sebagai struktur relasional, melainkan sebagai Keberadaan Murni—yang tidak berawal, tidak berakhir, tidak terbagi, tidak menjadi, dan tidak bergantung.

Dan ketika Sang Ada itu kemudian dikenal sebagai Tuhan oleh ciptaan-Nya, Kitab Suci tidak sedang mengatakan bahwa Ia berubah, melainkan bahwa ciptaanlah yang kini memiliki bahasa untuk menyebut Dia.

Haleluyah, Bapa Yesus memberkati kita semua,

— Ps. Christian Moses