
Sejak awal keberadaannya, manusia tidak pernah berdiri sebagai entitas otonom. Ia tidak muncul dari dirinya sendiri, tidak menopang dirinya sendiri, dan tidak menuju kepenuhannya oleh kekuatan sendiri. Narasi penciptaan tidak dimulai dengan manusia yang mencari Tuhan, tetapi dengan Tuhan yang memulai manusia. “Berfirmanlah tuhan: Baiklah Kita menjadikan manusia” (Kejadian 1:26). Kalimat ini sendiri sudah menutup semua kemungkinan bahwa manusia adalah proyek mandiri. Manusia adalah hasil keputusan ilahi, bukan inisiatif eksistensial manusia.
Ketika Adam ditempatkan di taman, Tuhan berkata, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia” (Kejadian 2:18). Di sini ketergantungan manusia dinyatakan bukan sebagai akibat dosa, tetapi sebagai struktur ciptaan. Adam belum jatuh, belum berdosa, belum rusak — namun ia tetap tidak lengkap tanpa penolong. Artinya, ketergantungan bukan kelemahan moral, melainkan hakikat ontologis manusia. Manusia diciptakan bukan untuk cukup dengan dirinya sendiri, melainkan untuk hidup dalam relasi yang ditopang oleh kehendak Tuhan.
Ketika kejatuhan terjadi (Kejadian 3), ketergantungan itu tidak hilang — justru menjadi mutlak. Jika sebelum jatuh manusia bergantung dalam kemurnian, setelah jatuh ia bergantung dalam ketidakberdayaan. Adam dan hawa tidak mencari pemulihan; mereka bersembunyi. Mereka tidak meminta keselamatan; mereka menutupi diri. Dan yang paling menentukan: mereka tidak memiliki kapasitas untuk membalikkan keadaan mereka sendiri. Tidak ada doa pertobatan dalam Kejadian 3. Tidak ada pengakuan iman. Yang ada hanyalah inisiatif Tuhan yang mencari: “Di manakah engkau?” (Kejadian 3:9).
Pertanyaan itu bukanlah permintaan informasi, tetapi pernyataan posisi. Manusia yang jatuh tidak pernah menjadi subjek penyelamatannya sendiri. Sejak semula, keselamatan selalu datang dari luar manusia, bukan dari dalam. Bahkan penutupan ketelanjangan Adam dan hawa pun bukan hasil usaha mereka; Tuhan sendiri yang membuatkan pakaian dari kulit (Kejadian 3:21). Ini bukan sekadar tindakan simbolik, tetapi deklarasi teologis: manusia tidak mampu menutupi akibat dosanya sendiri.
Pola ini tidak berubah sepanjang sejarah Alkitab. Manusia selalu berada pada posisi membutuhkan penolong, pembebas, penyelamat. “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak” (Roma 3:10). “Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan tuhan” (Roma 3:23). Bahkan kehendak manusia sendiri digambarkan sebagai tidak berdaya: “Sebab keinginan memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik” (Roma 7:18).
Maka keselamatan, menurut kesaksian Alkitab, bukan hasil kerja sama setara antara Tuhan dan manusia. Keselamatan adalah pekerjaan tunggal Tuhan. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian tuhan; itu bukan hasil pekerjaanmu” (Efesus 2:8–9). Teks ini tidak memberi ruang bagi manusia untuk mengklaim peran kausal dalam keselamatan. Iman pun tidak diposisikan sebagai prestasi manusia, melainkan sebagai sarana penerimaan atas karya Tuhan.
Namun Alkitab tidak berhenti di sana. Setelah menutup semua pintu bagi kesombongan manusia, teks membuka satu pintu yang benar: buah keselamatan. “Karena kita ini buatan Tuhan, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Tuhan sebelumnya” (Efesus 2:10). Urutannya tidak boleh dibalik. Manusia tidak berbuat baik agar diselamatkan; manusia berbuat baik karena telah diselamatkan. Perbuatan bukan akar, melainkan buah. Bukan sebab, melainkan akibat.
Di sinilah sering terjadi kekeliruan: manusia mencoba “mengerjakan keselamatan” dalam arti menyempurnakan apa yang tuhan belum selesaikan. Padahal Alkitab tegas: “Sudah selesai” (Yohanes 19:30). Kata tetelestai menunjukkan tindakan final, tuntas, tidak memerlukan tambahan. Maka ketika Paulus berkata, “Kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar” (Filipi 2:12), ia tidak sedang memanggil manusia untuk menyelamatkan diri, melainkan untuk menghidupi keselamatan yang sudah diberikan. Ayat berikutnya menutup semua kemungkinan salah tafsir: “Karena Tuhanlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan” (Filipi 2:13).
Dengan demikian, seluruh kisah Alkitab bergerak dalam satu garis lurus: dari penciptaan hingga penebusan, manusia selalu berada dalam posisi menerima, bukan memproduksi. Ia menerima hidup, menerima hukum, menerima janji, menerima keselamatan, dan bahkan menerima kemampuan untuk berbuah. Tidak ada satu fase pun di mana manusia berdiri sebagai sumber.
Jika manusia sejak awal membutuhkan penolong, maka dalam keselamatan ia membutuhkan Penolong yang mutlak. Dan ketika keselamatan itu telah dikerjakan sepenuhnya oleh Tuhan, manusia tidak dipanggil untuk menambahnya, melainkan untuk memancarkannya. Buah-buah kebenaran, kekudusan, dan kasih bukanlah mata uang untuk membeli keselamatan, tetapi tanda bahwa keselamatan itu sungguh telah hadir.
Dalam terang ini, keselamatan bukan proyek moral, melainkan realitas ontologis baru. Manusia tidak sedang naik ke atas menuju Tuhan; Tuhan telah turun, bertindak, dan menyelesaikan. Dan manusia, seperti sejak awal, tetap berada di tempat yang sama: bergantung, ditopang, dan hidup oleh anugerah.
Haleluyah, Bapa Yesus memberkati kita semua,
—Ps. Christian Moses





