Halaman

Minggu, 04 Januari 2026

SEBELUM TUHAN ADA: KESAKSIAN KITAB SUCI TENTANG SANG ADA

Kitab Suci tidak memulai pengenalannya tentang Tuhan dari gelar, fungsi, atau relasi, melainkan dari keberadaan. Bahkan sebelum bahasa manusia mengenal kategori “Tuhan”, sebelum ciptaan menyediakan ruang bagi relasi penyembahan, sebelum ada waktu untuk menandai awal dan akhir, Kitab Suci secara diam-diam sudah berdiri di atas satu asumsi yang tidak pernah dijelaskan tetapi selalu dihadirkan: ada sesuatu yang ada dengan sendirinya. Bukan karena dipanggil, bukan karena diadakan, bukan karena dibutuhkan—melainkan karena Ia ada.

Ketika Musa bertanya tentang nama, pertanyaan itu lahir dari dunia relasional: manusia membutuhkan nama untuk menunjuk, membedakan, dan mengingat. Namun jawaban yang diterima Musa sama sekali tidak bergerak dalam wilayah itu. “Ehyeh Asher Ehyeh”—“AKU ADALAH AKU” (Keluaran 3:14). Teks Ibrani ini tidak memberi identitas naratif, tidak memberi silsilah, tidak memberi kategori. Ia menolak semua bentuk definisi yang biasa dipakai makhluk. Ia bukan jawaban fungsional, melainkan penyingkapan ontologis.

Di titik ini, Kitab Suci seolah berhenti berbicara dalam bahasa agama, dan mulai berbicara dalam bahasa keberadaan. “AKU ADALAH” bukan nama diri, sebab nama membedakan satu dari yang lain. Tetapi sebelum ada “yang lain”, tidak ada kebuTuhan untuk pembeda. Pernyataan ini menyatakan bahwa yang berbicara tidak berdiri di dalam jaringan sebab–akibat, tidak bergantung pada asal-usul, dan tidak menuju kepada tujuan di luar diri-Nya. Ia tidak mengatakan “Aku adalah Tuhanmu”, sebab relasi itu belum terbangun. Ia mengatakan “Aku ada”, sebab keberadaan-Nya tidak menunggu dunia untuk menjadi nyata.

Kitab Kejadian pun tidak pernah menjelaskan dari mana Ia datang. “Pada mulanya…” (Kejadian 1:1) adalah awal bagi ciptaan, bukan awal bagi Sang Ada. Teks itu tidak berkata “pada mulanya Ia menjadi”, melainkan langsung mengandaikan kehadiran-Nya sebagai subjek tindakan. Dengan demikian, Kitab Suci sejak kalimat pertamanya sudah memisahkan secara tegas antara awal waktu dan keberadaan yang melampaui waktu. Di sinilah istilah “Tuhan” mulai mungkin, sebab hanya setelah ada ciptaan, relasi Pencipta–ciptaan dapat dinamai.

Kesaksian para nabi dan rasul kemudian menggemakan pola yang sama. Dalam Wahyu 1:8 dan 22:13 terdengar suara yang menyatakan, “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir.” Namun ungkapan ini tidak boleh dibaca sebagai klaim kronologis semata, seolah Ia hanya berada di titik pertama dan terakhir dalam garis waktu. Alfa dan Omega adalah huruf, bukan angka. Ia adalah struktur keberadaan yang melingkupi seluruh realitas, bukan bagian dari realitas itu. Ia bukan “yang pertama lalu yang terakhir”, melainkan yang di dalam-Nya konsep pertama dan terakhir memperoleh makna.

Jika demikian, maka istilah “Tuhan” tidak mungkin bersifat primer. Kata itu bersifat relasional, dan relasi menuntut keberadaan lebih dari satu. Sebelum ada ciptaan, tidak ada yang dapat menempatkan diri sebagai makhluk. Maka sebelum ciptaan, Kitab Suci tidak berbicara tentang “Tuhan” sebagai peran, melainkan tentang Dia yang ada. Inilah sebabnya mengapa dalam Yesaya 43:10 tertulis, “Sebelum Aku tidak ada yang dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi.” Pernyataan ini bukan perbandingan antar-ilah, melainkan penegasan bahwa tidak ada eksistensi lain yang berdiri sejajar atau berasal dari sumber berbeda.

Keberadaan yang demikian tidak dapat dipahami sebagai komposit. Kitab Suci tidak pernah menyiratkan bahwa Sang Ada tersusun dari bagian-bagian, sebab segala yang tersusun membutuhkan penyusun. Mazmur 90:2 berkata, “Sebelum gunung-gunung dilahirkan… dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah.” Teks ini tidak memberi ruang bagi proses internal, perubahan esensi, atau pembagian hakikat. Ia adalah dari selama-lamanya sampai selama-lamanya—satu kesatuan keberadaan yang tidak melewati tahap menjadi.

Di sinilah kesaksian Yohanes menjadi sangat penting. Ketika Yesus berkata, “Sebelum Abraham ada, AKU ADA” (Yohanes 8:58), Ia tidak sedang mengklaim usia yang lebih tua, tetapi modus keberadaan yang berbeda. Abraham “ada” dalam bentuk menjadi: lahir, hidup, mati. Tetapi Sang Ada hadir tanpa konjugasi waktu. Yohanes tidak menulis “Aku telah ada”, melainkan sengaja mempertahankan bentuk kini. Dengan demikian, teks ini tidak menambahkan figur baru ke dalam keberadaan ilahi, tetapi memperlihatkan bahwa keberadaan yang sama kini hadir secara imanensi dalam sejarah.

Kitab Suci konsisten memperlihatkan bahwa gelar-gelar muncul mengikuti tindakan. “Elohim” tampil ketika penciptaan berlangsung (Kejadian 1:1). Nama perjanjian disingkapkan ketika relasi perjanjian dimulai (Keluaran 6:3). Sebutan “Bapa” baru bermakna ketika relasi penyelamatan diperkenalkan (Matius 6:9). Kehadiran sebagai Roh dikenali ketika penyertaan dialami (Yohanes 14:16–17). Semua ini menunjukkan satu pola yang tak pernah dilanggar: fungsi mengikuti keberadaan, bukan sebaliknya.

            Karena itu Kitab Suci tidak pernah mengatakan bahwa Sang Ada membutuhkan dunia untuk menjadi lengkap. “Jika Aku lapar, tidak akan Kukatakan kepadamu” (Mazmur 50:12). Pernyataan ini menutup segala kemungkinan bahwa penciptaan lahir dari kekurangan. Sang Ada tidak mencipta untuk menjadi Tuhan, tetapi menyatakan diri sebagai Tuhan setelah ciptaan ada. Penciptaan bukan kebuTuhan ontologis, melainkan ekspresi kedaulatan.

Maka, sebelum ada penyembah, Ia tidak kekurangan pujian. Sebelum ada dialog, Ia tidak kesepian. Sebelum ada relasi, Ia tidak kurang relasional. Kitab Suci tidak pernah menyiratkan bahwa keberadaan-Nya menunggu aktualisasi. Ia sempurna dalam diri-Nya sendiri. “Dari Dia dan oleh Dia dan kepada Dia segala sesuatu” (Roma 11:36) — bukan sebagai proses pemenuhan, tetapi sebagai arus yang bersumber dari kepenuhan.

Dengan demikian, kesaksian Kitab Suci membawa kita pada satu kesimpulan yang tidak dibangun oleh spekulasi filsafat, melainkan oleh teks itu sendiri: sebelum istilah Tuhan menjadi mungkin, yang ada hanyalah AKU ADA. Bukan sebagai konsep, bukan sebagai gelar, bukan sebagai struktur relasional, melainkan sebagai Keberadaan Murni—yang tidak berawal, tidak berakhir, tidak terbagi, tidak menjadi, dan tidak bergantung.

Dan ketika Sang Ada itu kemudian dikenal sebagai Tuhan oleh ciptaan-Nya, Kitab Suci tidak sedang mengatakan bahwa Ia berubah, melainkan bahwa ciptaanlah yang kini memiliki bahasa untuk menyebut Dia.

Haleluyah, Bapa Yesus memberkati kita semua,

— Ps. Christian Moses

0 comments:

Posting Komentar