Halaman

“Kami adalah The Voice of Truth — berdiri atas kebenaran Kristus

Bermakna bahwa setiap suara, ajaran, dan langkah kami berpijak hanya pada kebenaran yang berasal dari Kristus, bukan dari pendapat manusia.

Kebenaran yang Ditanam di Awal Penciptaan

Sejak di taman Eden, Tuhan tidak hanya menciptakan manusia untuk hidup, tetapi juga untuk mengenal; sebab di antara pohon kehidupan dan pohon pengetahuan, Ia meletakkan pilihan moral yang melahirkan kesadaran akan kebenaran

Kebenaran tidak pernah gugur bersama manusia, sebab Tuhan tetap berdiri sebagai sumbernya

Kejatuhan manusia tidak menghapus terang kebenaran, karena kebenaran tidak bergantung pada makhluk, tetapi pada Sang Pencipta yang tidak berubah

Ketika nubuat menjadi wujud, maka iman berjumpa dengan bukti; dan dalam pribadi Kristus, bukti itu berbicara melalui kasih dan kebenaran

Menggambarkan bahwa penggenapan nubuatan adalah jembatan antara iman dan realitas yang hidup dalam Kristus.

Konsistensi Tuhan menjemput umat-Nya adalah cermin dari natur Ilahi yang tak berubah; seperti kebenaran, Ia tidak goyah oleh zaman

Filsafat ini menegaskan bahwa ketetapan Tuhan dan kebenaran adalah satu sifat yang sama, kekal dan tidak berubah

Senin, 23 Maret 2026

🧛‍♂️BERHALA (IDOL) DALAM KRISTEN PROTESTAN🕌

 

BERHALA (IDOL)

(Suatu Bentuk Penyimpangan Rohani)

 

“Orang yang berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal, yakni yang berzinah dengan bertanya kepada mereka, Aku sendiri akan menentang orang itu dan melenyapkan dia dari tengah-tengah bangsanya.” (Imamat 20:6).

 

“Aku percaya kepada Allah”, mungkin adalah salah satu pernyataan yang paling tidak bermakna yang bias kita buat hari ini. Mungkin juga hanya berarti bahwa kita sedang memandang diri kita sendiri dalam suatu cermin yang besar. Beberapa orang menganggap bahwa Allah adalah suatu “energi fisik”, “sesuatu yang lebih kuat dari manusia”, ataupun “sesuatu kekuatan batin untuk memimpin manusia pada kesadaran yang lebih mendalam.

Donald McCullough mengatakan : “…. Kita lebih menyukai ilusi tentang seorang allah yang lebih aman, sehingga kita telah memangkas Alllah untuk mendapatkan proporsi yang lebih dapat kita kelola”.

Teolog Swiss, Karl Barth memberi tahu kepada kita bahwa ada 2 cara yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan tentang Allah : pertama, adalah memulai dengan manusia dan akal sehat dan bergerak ke atas; yang kedua adalah memulainya dengan Allah dan menerima wahyu-Nya kepada kita.

Ketika kita memulai dengan manusia dan akal sehat dan bergerak ke atas, maka kita selalu menciptakan berhala. Godaan yang kita hadapi adalah mengundang gagasan-gagasan tentang Allah untuk masuk ke dalam benak kita yang sama sekali salah atau gagasan-gagasan yang mengececilkan keberadaan-Nya. Penyembahan berhala lebih dari sekedar menari di sekeliling sebuah patung yang terbuat dari perak atau emas; penyembahan berhala membentuk suatu gagasan mental tentang allah yang tidak mirip dengan Allah yang benar-benar ada.

Penyembahan berhala memberikan kehormatan kepada opini-opini kita sendiri tentang Allah, yang dibentuk sesuai dengan apa yang kita sukai. Penyembahan berhala menciptakan suatu gagasan tentang Allah menurut kehendak dan preferensi kita. Penyembahan berhala berarti memangkas keberadaan Allah pada “proporsi yang lebih dapat diatur”.

Berhala disebut dalam bahasa Ibrani sebagai “terāpîm”, bahasa Greek dipakai kata “eidōlon” dan kemudian diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan menggunakan beberapa sebutan yakni “idol”=sesuatu yang dipuja; “household idol”=penghuni rumah berhala; “cultic mask”=topeng pemujaan; “divine symbol”=sesuatu yang disimbolkan sebagai Tuhan/simbol keagamaan (Kejadiann 31:19); “phantom”=hantu, khalayan, bayangan, gambaran, angan-angan; “an appearance”=suatu penampakkan; “fancy”=fantasi; “an idea”=buah pikiran, paham, gagasan, rencana.

Pengertian dasar dari kata-kata tersebut di atas adalah sesuatu yang mengandung/berisikan/memiliki roh jahat/allah palsu/iblis. (I Raja2 11:5,30). Suatu imajinasi/ khayalan yang melambangkan, menggambarkan, memerankan, menyerupai, atau dianggap sebagai dewa/allah palsu/ilah (KPR 7:41; I Kor. 12:2; Wahyu 9:20; KPR. 15:20; Roma 2:20; I Kor. 8:4, 7; 10:19; 2 Kor. 6:16; I Tes. 1:9; I Yoh. 5:21).

Bertolak dari arti etimologi/studi kata di atas, maka “berhala” dapat didefinisikan sebagai :

F Patung dewa atau ukiran lainnya yang dipuja sebagai “allah” (Maz. 115:3-8). Dalam PB (Perjanjian Baru), seseorang dapat dituduh/disebut sebagai penyembah berhala bila mereka lebih mementingkan benda-benda (misalnya uang) daripada Allah yang dikenal dalam AnakNya, Yesus Kristus (Kolose 3:5).

F Terafim yang berbentuk patung milik satu keluarga tertentu (Hakim2 17:5; I Samuel 19:13) dan dianggap sakral oleh pemiliknya sehingga ia (berhala) tersebut harus disembah. Orang Kristen/umat Tuhan dilarang untuk menyembah benda-benda tersebut (I Samuel 15:23).

F Sesuatu yang dianggap/dipercayai memiliki roh supranatural melebihi kemampuan manusia yang dilambangkan sebagai “allah/ilah” dimana manusia dapat melakukan upacara ritual keagamaan ataupun mempercayakan/menggantungkan kehidupannya di masa yang akan datang (Imamat 20:6).

F Segala sesuatu yang merampas kesetiaan manusia, padahal kesetiaan itu adalah mutlak untuk TUHAN Allah (2 Tim. 2:11-13; I Tim. 5:12; 6:10-11).

Polemik PL menentang keberhalaan, kebanyakannya dilancarkan oleh para nabi dan para pemazmur. Dalam rangka penentangan itu dikemudian hari Paulus menegaskan : “berhala adalah omong kosong, namun demikian punya daya rusak rohani dari setan-setan yang harus diperhitungkan, justru berhala adalah ancaman rohani yang sangat berbahaya (I Kor. 8:4; 10:19-20). Jelas, berhala pada dirinya adalah lompong hampa – buatan tangan manusia (Yesaya 2:8); susunan dan tampangnya menyatakan kesia-siaannya (Yesaya 40:18-20; 41:6-7; 44:9-20); kebesarannya yang tanpa daya mengundang cemoohan (Yesaya 46:1-2); hanya mempunyai penampilan luar kehidupan (Maz. 115:4-7). Para nabi menyebut “mereka” (berhala) secara mengolok-ngolok dengan sebutan gillulim=butir-butir tahi dan elilim=dewa-dewa cilik (Kamus Koehler).

Walaupun segala sesuatu takluk kepada TUHAN (Maz. 95:3), toh ada daya rusak roh jahat, dan praktik keberhalaan menjerumuskan manusia ke dalam hubungan maut dengan “dewa-dewa”. Hubungan dengan dewa apa pun akan membutakan orang yang menghubunginya dengan kebutaan rohani yang mamatikan hati dan akalnya (Yesaya 44:18-20). Dewa atau ilah apa pun yang disembah – sekalipun hanya “abu”, toh itu penuh dengan bisa penipuan rohani. Siapa menyembah berhala, ia akan sia-sia seperti berhala (Maz. 115:8; Yeremia 2:5; Hosea 9:10). Karena realita kuasa kejahatan di belakang berhala itu, maka dia adalah kekejian bagi Yahweh (Ul. 7:25), suatu hal yang menjijikkan (Ul. 29:17) dan adalah dosa paling berat, yakni perzinahan rohani, mengikuti berhala-berhala (Ul. 31:16; Hakim-hakim 2:17; Hosea 1:2).

Perbedaan yang tajam antara TUHAN dan berhala-berhala haruslah dinalar berkaitan dengan hidup, aktivitas dan pemerintahan. Berhala mustahil meramalkan dan membuatnya menjadi kenyataan. Berhala seperti dongeng-dongeng tercecer dalam perjalanan sejarah yang hanya  bergaung dan sirna (Yes. 41:5-7; 46:1-2), tapi Yahweh adalah Tuhan yang mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi dan membuatnya benar-benar terjadi (Yes. 41:26-27; 44:7).

Penalaran dalam PB mempertegas dan memperjelas ajaran PL, dimana berhala-berhala adalah tidak berarti dan adalah racun/bisa rohani yang berbahaya. Sekalipun berhala itu bukan dalam wujud benda nyata : gabungan keberhalaan dengan dosa-dosa seks (Gal. 5:19-20; Ef. 4:19; 5:3; I Tes. 4:6; I Kor. 10:7,14) hendaknya dikaitkan dengan keserakahan (I Kor. 5:11; Ef. 5:5; Kol. 3:5).

Ada beberapa alasan mengapa orang Kristen secara sadar ataupun tidak, telah melibatkan diri dalam penyembahan berhala karena mempunyai begitu banyak gagasan yang sesat tentang Allah pada masa kini. Pertama, kita tidak sabar dengan kebungkaman-Nya dalam zaman yang serba membingungkan ini. Kita berpikir bahwa jika Alah itu mahakuasa, maka Ia akan mengakhiri penderitaan dunia ini, jadi kita membentuk seorang allah yang sabar terhadap kejahatan karena alasan-alasan yang sama dengan kita; ia tidak dapat berbuat banyak dalam hal ini. Atau kita berpaling dari kenyataan dan berkata bahwa iblis itu tidak ada. Hal kedua dalam penyembahan berhala adalah bahwa kita menginginkan Allah yang lebih toleran kepada kita, kurang menuntut, lebih tidak “menghakimi”. Suatu komitmen terhadap individualisme mendorong sifat alami kita yang ingin menyembah berhala. Alasan ketiga, sifat konsumerisme yang mendominasi kehidupan orang Kristen, berusaha menemukan allah yang paling sesuai dengan selera manusia.

Jadi, hakikat penyembahan berhala adalah menyenangkan pikiran-pikiran yang salah tentang Allah. Ketika kita menyusun suatu gagasan tentang Allah dari imajinasi kita, penyembahan berhala dalam hati ini sama buruknya dengan penyembahan berhala yang dilakukan oleh tangan kita.. Mereka yang terlibat dalam hal-hal seperti yang disebut di atas, secara sadar ataupun tanpa disadari telah sepakat dengan Thomas Paine yang berkata, “Pikiran saya adalah gereja saya”. Sehingga benarlah apa yang dikatan  teolog Perancis, J. Calvin : “pikiran manusia adalah pabrik berhala”. Dan setiap penyimpangan adalah pemberhalaan (I Yoh. 5:19-21).

 

🧏‍♂️SANGGAHAN TEOLOGIS PASKAH YESUS KRISTUS✝

 

BEBERAPA SANGGAHAN TEOLOGIS TERHADAP KEMATIAN YESUS KRISTUS PADA HARI JUMAT DAN KEBANGKITANNYA PADA HARI MINGGU

 

Setiap tahunnya, umat Kristen di seantero jagad raya ini merayakan Paskah Yesus Kristus. Ada dua babakan perayaan Paskah  yakni Kematian-Nya yang jatuh pada hari Jumat (biasa disebut Jumat Agung) dan Kebangkitan-Nya pada hari Minggu (pagi2 benar).

Namun, apakah tradisi gereja ini sudah sesuai dengan fakta sejarah yang tercatat dalam Alkitab?

Berikut ini pembuktian kekeliruan perayaan Jumat Agung dan Minggu Kebangkitan yang telah dianggap “benar” selama beberapa abad oleh gereja.

 

👉1.    Bila kematian Yesus pada hari Jumat maka perkatakan Yesus yang tercatat dalam Matius 12:40 tidaklah dapat dipercaya karena tidak cukup hari; 3 hari 3 malam (faktanya, 2 malam 3 hari; jadi tekor 1 malam)

👉2.    Bila kematian Yesus pada hari Jumat (yang disebut sebagai hari persiapan menjelang sabat - Luk. 23:54) maka terdapat beberapa keganjilan (sebagai keberatan) antara lain, setelah Yesus wafat pada jam 3 petang hari itu, Yusuf dari Arimatea datang kepada Pilatus menjelang malam meminta mayat Yesus diturunkan dan dikuburkan (Mat. 27:57-58; Mark. 15:42-43). Setelah permohonannya dikabulkan, Yusuf pergi membeli kain lenan untuk membungkus mayat Yesus (Mark. 15:45-46). Jarak antara Golgota ke rumah Pilatus diperkirakan 2 mil atau 3,2 km (Golgota berada di luar tembok Yerusalem kira2 300 m). Jalan menuju Golgota itu sempit dan terbuat dari batu-batu besar. Batu-batu ini semakin lama semakin licin dan membuat orang yang berjalan di atasnya mudah terpeleset. Waktu yang diperlukan oleh Yusuf utk tugas tsb. adalah kira2 1 - 1,5 jam. Sekembalinya Yusuf barulah mayat Yesus dapat diturunkan dengan sangat hati-hati, lalu dibersihkan (karena banyak darah di tubuh-Nya) kemudian di rempah-rempahi/dibalsem. Nikodemus telah menyediakan campuran minyak mur dan gaharu sebanyak 50 kati (Yoh. 19:39). 1 kati = 600 grm. 50 kati = (50 x 600)/1000 = 30 kg.  Waktu yang diperlukan, mulai dari menurunkan mayat Yesus, membersihkan, merempah-rempahi dan menguburkan kurang lebih 1,5 jam - 2,5 jam. Jadi, bila masa persiapan Sabat yang dimaksud adalah hari Jumat maka Yusuf, orang Arimatea, dkk tidak punya cukup waktu untuk menguburkan mayat Yesus karena sudah keburu masuk Sabat mingguan/Sabtu (perhatikan aturan Sabat; Kel. 20:8-10).

👉3.    Bila Jumat yang dimaksudkan sebagai masa persiapan Sabat mingguan (Sabtu adalah sabat mingguan bagi Yahudi) maka Imam2 Kepala dan para Farisi telah melanggar Taurat Musa tentang hari Sabat/Sabtu (Mat. 27:62). Mereka bukan saja melanggar Taurat tapi juga salah berhitung (Mat. 27:63-64) karena mereka kecolongan 2 hari (bahkan para penjaga  hanya berjaga-jaga 1 malam yakni hanya pada Sabtu malam; minggu pagi2 benar/hari masih sangat gelap Yesus sudah bangkit). Seharusnya, sebagai seorang Yahudi (yang sangat teliti dalam hal apa pun), para Imam Kepala dan orang2 Farisi mengatakan pada Pilatus seperti ini, “Tuan, perintahkanlah sejumlah pasukan/prajurit untuk menjaga kubur Yesus, si Penyesat itu hingga besok karena besok adalah hari ke tiga dimana Dia akan bangkit, seperti yang sering dikatakan-Nya. Waduh..., kami sudah salah hitung..., mestinya kubur itu sudah harus dijaga ketika Yesus dikuburkan pada hari pertama. Kami telah kecolongan... Murid-muridNya, bisa jadi telah mencuri mayat pada hari kemarin.” Tetapi Alkitab telah mencatat dengan tepat bahwa para prajurit Romawi telah menjaga kubur itu dari hari pertama. (Mat. 27:66)

👉4.    Bila kematian dan penguburan Yesus berlangsung pada hari Jumat maka Maria, ibu Yesus, dkk tidak akan sempat membeli bahan untuk rempah2, karena menurut penanggalan/kalender Yahudi, sejak jam 6 sore/matahari terbenam pada hari Jumat telah dihitung hari Sabat/Sabtu sehingga umat Yahudi tidak boleh lagi keluar rumah untuk kegiatan2 yang tidak bersifat rohaniah; mereka harus beristirahat menurut hukum Taurat. (Luk. 23:54-56b)

👉5.    Bila kebangkitan Yesus jatuh pada hari Minggu (hari pertama) maka seharusnya Malaikat TUHAN yang ditemui para murid di depan kubur Yesus yang telah kosong akan mengatakan, “TUHAN mu baru saja bangkit beberapa menit lalu. Mungkin Dia masih disekitar sini/belum terlalu jauh dari lokasi ini.” Atau “Dia baru saja bangkit dan sedang menuju Galilea beberapa menit... yach paling lama sekitar 1 jam lalu. Mungkin kalian dapat menyusul-Nya sekarang.” Tetapi sayangnya... malaikat TUHAN tidak mengatakan demikian. Malaikat TUHAN yang dijumpai para murid pada Minggu pagi itu berkata, “Dia telah bangkit dan telah mendahului kamu ke Galilea seperti yang pernah dikatakan-Nya”. (Mat. 26:32, 28:6-7; Mark. 16:7; Luk. 24:6) bdk. Mark. 16:9 versi MNT, TCNT, Clarke, Geneva Bible, Codex Vaticanus dan Codex Sinaiticus. Para murid tahu benar apa yang dimaksud malaikat TUHAN ketika ia berkata, “Dia/Yesus telah mendahului kamu ke Galilea”. Jarak antara Yerusalem ke Galilea lebih dari 45 km. Para murid Yesus mengerti bahwa bila Yesus telah mendahului mereka ke Galilea maka tidak mungkin Ia baru berangkat beberapa menit atau 1-2 jam sebelum kedatangan mereka di kuburan. Yesus telah mendahului mereka sehari perjalanan sebelumnya, yakni pada menjelang akhir hari Sabat/Sabtu. Mereka masih belum dapat bergerak karena aturan Taurat.

👉6.    Bila kebangkitan Yesus pada hari Minggu maka Ia sendiri (Yesus) tidak mampu membuktikan ucapan-Nya pada Ahli Taurat dan para Farisi bahwa “Ia-lah (Anak Manusia) adalah TUHAN atas hari Sabat” (Mark. 2:28; Mat. 12:8). Sabat dalam pemahaman Yahudi adalah hari perhentian/peristirahatan dari segala jenis pekerjaan yang bersifat jasmaniah (kepentingan diri sendiri). Yesus bangkit pada hari Sabat/Sabtu untuk membuktikan bahwa misi penebusan/penyelamatan umat pilihan-Nya telah selesai untuk kemuliaan Bapa-Nya (Yoh. 20:17). 

Dengan demikian, Yesus telah mengatup setiap mulut yang meragukan ke TUHAN-an Nya. Yesuslah TUHAN atas hari Sabat (hari yang diakui oleh bangsa Israel sebagai hari perhentian pekerjaan untuk memuliakan Yahweh/Jehovah).


Semoga informasi ini bermanfaat bagi kita semua.


💁‍♂️fides quaerens intellectum🧏‍♂️

✝KRONOLOGI PASKAH YESUS KRISTUS PADA PERAYAAN PASKAH YAHUDI🐑









Didasarkan pada perkataan nubuatan Yesus Kristus tentang kematian & kebangkitan-Nya sendiri :

👉For <gar> as <hosper> Jonas <Ionas> was <en> three <treis> days <hemera> and <kai> three <treis> nights <nux> in <en> the whale's <ketos> belly; <koilia> so <houto> shall the Son <huios> of man <anthropos> be <esomai> three <treis> days <hemera> and <kai> three <treis> nights <nux> in <en> the heart <kardia> of the earth. <ge> [Matius 12:40]

 

14 Nisan = Selasa sore/malam (jam 18.01 tlh dihitung Rabu) - Rabu siang/sore (Yom Revi'I / Hari ke-4)

Hari Persiapan Paskah [Musa dan bangsa Israel lakukan persiapan paskah, masih terhitung Selasa sore, 13 Nisan, sebelum jam 18.00] - Malamnya (Rabu, 14 Nisan) Yesus makan paskah. Itu disebut sbg Hari Sabat Besar/Paskah (Bangsa Israel keluar dari Mesir). Pd malam itu juga Yesus ditangkap, diadili dan sudah dianiaya. Esok pagi (masih dlm Rabu, 14 Nisan) DIA disesah, disalibkan (pd jam 9 pg) dan mati pada jam 15.00 (jam 3 petang hari Rabu itu).

 

15 Nisan = Rabu sore/malam (18.01 sdh masuk hari Kamis) - Kamis siang/sore (Yom Khamishi / Hari ke-5)

- Yesus dikuburkan pada jam 18.00 (jam 6 sore/tutup hari Rabu dan mulai hari Kamis) dimulailah perhitungan Hari pertama Yesus berada dalam perut bumi; 1 hari 1 malam – Mat. 12:40. Pada hari inilah Imam2 Kepala meminta Pilatus memerintahkan para prajurit Romawi menjaga kubur Yesus (Matius 26:62-66).

 

16 Nisan = Kamis sore/malam (18.01 sdh terhitung Jumat) - Jumat siang/sore (Yom Shishi / Hari ke-6)

Yesus masih berada dalam kubur. (akhiri hari pertama dan masuk pada hari kedua di dalam perut bumi; 2 hari 2 malam – Mat. 12:40)

 

17 Nisan = Jumat sore/malam (18.01 tlh dihitung sbg Sabtu) - Sabtu siang/sore (Yom Shabbath / Hari Istirahat)

Hari Sabat - Yesus masih berada dalam kubur (akhiri hari kedua dan masuk hari ketiga di dalam perut bumi; 3 hari 3 malam – Mat. 12:40). Dan sebelum Shabbath lewat/berakhir pada jam 18.00, Yesus Kristus telah bangkit dari antara orang mati. Yesus pernah berkata bahwa Ia adalah TUHAN atas hari Shabbath (Mat. 12:8; Mark. 2:28; Luk. 6:5)

 

18 Nisan = Sabtu sore/malam (18.01 sdh dikatakan Minggu) - Minggu pagi/siang (Yom Rishon/Hari ke-1)

Kuburan Yesus telah kosong ketika dikunjungi oleh murid-muridNya pada pagi-pagi benar hari itu. (Mat. 28:6; Mark. 16:2-7; Luk. 24:22-24; Yoh. 20:1-8)

 

 

🙏Semoga bermanfaat ...

 

 

 

💁‍♂️fides quaerens intellectum🧏‍♂️

💰PERSEPULUHAN 👉 ALKITABIAH TAPI TIDAK INJILI [PARTISI 3👉F - TAMAT]📕

 

F. INVESTASI KERAJAAN

Sekilas pemahaman “tabur-tuai” – yang sangat lazim di telinga para petani pada lahan pertanian – serupa dengan istilah yang populer dalam dunia bisnis “investasi”. Dapat dipastikan tidak ada seorang pun yang bergelut dalam dunia bisnis modern saat ini yang tidak tahu apa itu investasi. Sosialisasi istilah ini sungguh luar biasa; hingga para pedagang kaki lima – pedagang emperan toko bermodalkan gerobak – pun sudah tidak asing lagi. Bila dilihat dari harapan-harapan pencapaian hasil maksimal keduanya memiliki peluang yang sama – tabur-tuai dalam areal pertanian dan investasi dunia bisnis atau perdagangan. Perbedaan antara kedua istilah ini dapat Anda simpulkan sendiri setelah penjelasan berikut.

Investasi berasal dari kata invest (bhs. Inggris) yang dapat diterjemahkan dalam beberapa pengertian antara lain menanam (uang, modal), mencurahkan (waktu, uang), memberi kekuasaan atau hak kepada (mis. Mempercayakan penyelesaian kasus di pengadilan kepada Penasihat Hukum atau memberi kepercayaan pada seseorang untuk kepentingan usaha/perusahaan).

Bila dalam artian etimologis di atas kata ini (investasi) kurang jelas bagi Anda maka mungkin Anda akan tertolong untuk lebih memahaminya dengan melihat ciri-ciri investasi sebagai berikut :

👉1. Investasi harus menghasilkan jumlah yang bertambah banyak secara kuantitas – urutan pertama dalam berinvestasi – dan juga kualitas. Misalnya, lebih signifikan membeli 5 ekor sapi lagi sebagai investasi daripada merawat 10 ekor sapi yang sudah ada agar menghasilkan susu lebih banyak.

👉 2. Investasi mengisyaratkan modal awal. Tanpa modal awal tidak ada investasi.

👉3. Investasi menuntut keahlian dan atau menghasilkan kemahiran. Seorang investor pasti memiliki keahlian dan pengetahuan, sedikit atau banyak, atas bidangnya sehingga investasi yang dijalankannya kemungkinan berhasil. Tak ada orang yang berani berinvestasi pada suatu bidang usaha tanpa lebih dulu mengetahui kondisi, seluk-beluk dan prospek dari bidang usaha tersebut.

Pada posisi lain, seseorang yang berinvestasi bisa mendapatkan hasil dalam bentuk ilmu atau pengalaman. Bersekolah dan mengikuti kursus-kursus dapat dikategorikan dalam investasi atau berinvestasi.

👉 4. Investasi selalu bersifat rasionil (masuk akal).

Melakukan investasi pada bidang usaha tertentu harusnya mengikuti skenario yang masuk akal. Memasukkan sejumlah uang dalam nominal yang cukup besar dalam sebuah drum dan berharap seminggu kemudian memperoleh hasil berlipat ganda, jelas bukanlah sebuah investasi karena caranya tidak masuk akal sehat.

Atau lebih baik jangan pula berharap semua investasi dapat menghasilkan jumlah yang berkali-kali lipat dalam waktu sesingkat-singkatnya kecuali bila terjadi mujizat.

👉 5. Investasi mengandung kepastian berhasil di atas 50%.

Hal ini perlu Anda tahu dan pahami secara benar untuk membedakan antar judi dengan investasi, karena judi cuma memiliki ciri-ciri menang-kalah berbanding 50%:50%. Investasi harus dapat menjanjikan kepastian beruntung lebih dari 50% kemungkinan bila tidak maka itu bukanlah investasi. Misalnya, Anda bermaksud membeli sebidang tanah sebagai investasi; Anda harus yakin bahwa nilai tanah tersebut pasti meningkat dalam kurun waktu mendatang. Tapi bila di kemudian hari ternyata tanah itu merosot nilainya karena situasi disekitarnya berkembang menjadi rawan dari sebelumnya aman, ini disebut sebagai resiko berinvestasi. Paling tidak pada awalnya segala faktor mendukung investasi ini menguntungkan di atas 50%.

👉 6. Hasil investasi tidak dapat diketahui sebelumnya.

Investasi selalu mengandung risiko. Hasil-hasil yang 100% pasti tidak dapat disamakan dengan investasi.

👉 7. Investasi tidak melanggar etika atau hukum.

Seorang investor yang taat hukum dan beretika tentu tidak akan menanam sejumlah uang (melakukan investasi) pada bidang usaha yang jelas-jelas melanggar aturan/hukum negara/pemerintah yang berlaku, merugikan kehidupan orang banyak, melanggar hak-hak azasi dan tidak bermoral. Seperti, menanam modal pada bisnis rumah bordil (pelacuran) atau berinvestasi pada lahan ganja, mendirikan pabrik obat-obatan psikotropika.

👉 8. Investasi – lazimnya – merupakan kegiatan memutar atau menjalankan “uang dingin”.

Ini merupakan ungkapan yang membedakan kegiatan berinvestasi dengan berdagang. Dalam dunia perdagangan arus perputaran uang jauh lebih cepat dan dalam jangka waktu yang singkat untuk meraih laba sehingga dikenal dengan istilah “uang panas”. Investasi menjalankan “uang dingin” karena dibiarkan mengendap dalam jangka waktu tertentu sebelum memiliki nilai tambah atau keuntungan.

Sebenarnya pedagang atau wirausahawan dapat dikatakan sedang berinvestasi bila memiliki usaha, gudang atau pabrik yang memenuhi syarat sebagai objek investasi.

👉 9. Investasi dijalankan dalam jumlah yang relatif besar.

Kegiatan investasi menekankan pada quantitas yang jauh lebih besar dari pada menyalurkan hobi. Misalnya, Anda memelihara sejumlah ikan hias pada sebuah aquarium di ruang tamu dalam rumah Anda tidak dapat dikatakan investasi melainkan penyaluran hobi sampai Anda pergi keluar dan membuat beberapa kolam dalam ukuran besar untuk berternak ikan hias tersebut.

👉 10. Investasi memerlukan waktu tunggu.

Sebagian orang mengira bahwa bila ia melakukan investasi untuk bidang usaha tertentu maka hanya dalam sekejap waktu telah dapat meraih laba sesuai perhitungan sebelumnya. Waktu tunggu menentukan mutu suatu investasi.

Andaikata suatu usaha sudah memenuhi beberapa syarat tersebut di atas – walau tidak seluruhnya terpenuhi – maka dengan sendirinya dikategorikan sebagai kegiatan investasi atau berinvestasi.

Bila Anda ingin melibatkan diri dalam dunia investasi maka perlu dipikirkan dan dipertimbangkan baik-baik bahwa kegiatan investasi bukanlah tanpa risiko – sama seperti berbagai jenis usaha bisnis lainnya; bahkan dapat menyebabkan seorang investor bangkrut atau pailit – tetapi hendaklah risiko-risiko tersebut telah diperhitungkan sebagai konsekuensi logis yang harus dapat disikapi atau ditangani secara profesional sehingga tidak berdampak psikologis yang dapat melemahkan atau mematahkan semangat bisnis seorang investor..

Risiko dalam dunia investasi secara umum dibedakan menjadi risiko potensial dan non-potensial. Risiko potensial adalah risiko yang bakal Anda alami yang berkaitan dengan kerugian berbentuk fisik atau materi jika investasi tersebut gagal. Misalnya, Anda membuka toko maka risiko potensialnya adalah rugi, bangkrut, terbakar dan sebagainya. Intinya adalah Anda harus mengeluarkan tambahan uang berkaitan dengan risiko tersebut. Jika Anda bermain saham maka risiko potensial adalah capital loss dan tidak mendapatkan deviden.

Risiko berikutnya merupakan non-potensial yang dapat Anda alami tetapi boleh jadi tidaklah begitu berarti dan tidak menyebabkan kerugian materi. Misalnya, risiko psikologis seperti stress, bosan, gelisah, waktu yang terbuang percuma dan sebagainya.

Selain kedua jenis risiko di atas, masih terdapat pula dua risiko lainnya yakni risiko sistematik dan non-sistematik (unique risk). Risiko sistematik adalah risiko yang dapat terjadi dan dialami setiap investor di mana faktor-faktor pencetus risiko tersebut berada di luar lingkungan intern perusahaan bahkan di luar jangkauan investor. Misalnya risiko akibat bencana alam, campur tangan pemerintah dalam sebuah kebijakan seperti pajak, kuota, proteksi, aneka peraturan tentang perdagangan saham, penetapan kurs devisa, suku bunga dan sebagainya.

Risiko non-sistematik atau unique risk adalah risiko yang dapat dialami investor dimana faktor-faktor pencetusnya berada di lingkungan internal perusahaan itu sendiri atau berada di dalam jangkauan investor. Risiko-risiko ini dapat berupa konflik internal perusahaan, ulah para pesaing, perilaku konsumen dan sebagainya yang tentunya akan bisa di atasi dengan strategi-strategi yang ada, seperti financial strategy atau diversifikasi.

Apa-apa yang barusan Anda baca mengenai sistem investasi yang diterapkan dalam dunia sekuler sekarang ini sebenarnya telah secara gamblang (jelas dan dapat dipahami) tercatat dalam Alkitab Perjanjian Baru.

Yesus dalam beberapa pengajaran pernah mengisyaratkan adanya kegiatan penanaman modal/investasi antara lain seperti yang tercatat dalam Matius 25:14-25 :

👉 “Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka.

👉Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.

👉 Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta.

👉 Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta.

👉Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya.

👉Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka.

👉 Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta.

👉 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

👉 Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta.

👉 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

👉 Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam.

👉 Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!”

Ciri-ciri yang menunjukkan adanya kegiatan investasi dalam dunia perdagangan bisa ditemukan dalam Lukas 19:12-13, 15-26 :

👉 “Maka Ia berkata: "Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali.

👉 Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali.

👉 Dan terjadilah, ketika ia kembali, setelah ia dinobatkan menjadi raja, ia menyuruh memanggil hamba-hambanya, yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing.

👉 Orang yang pertama datang dan berkata: Tuan, mina tuan yang satu itu telah menghasilkan sepuluh mina.

👉 Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam perkara kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota.

👉 Datanglah yang kedua dan berkata: Tuan, mina tuan telah menghasilkan lima mina.

👉  Katanya kepada orang itu: Dan engkau, kuasailah lima kota.

👉 Dan hamba yang ketiga datang dan berkata: Tuan, inilah mina tuan, aku telah menyimpannya dalam sapu tangan.

👉Sebab aku takut akan tuan, karena tuan adalah manusia yang keras; tuan mengambil apa yang tidak pernah tuan taruh dan tuan menuai apa yang tidak tuan tabur.

👉 Katanya kepada orang itu: Hai hamba yang jahat, aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri. Engkau sudah tahu bahwa aku adalah orang yang keras, yang mengambil apa yang tidak pernah aku taruh dan menuai apa yang tidak aku tabur.

👉Jika demikian, mengapa uangku itu tidak kauberikan kepada orang yang menjalankan uang? Maka sekembaliku aku dapat mengambilnya serta dengan bunganya.

👉 Lalu katanya kepada orang-orang yang berdiri di situ: Ambillah mina yang satu itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu.

👉 Kata mereka kepadanya: Tuan, ia sudah mempunyai sepuluh mina.

👉 Jawabnya: Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya.”

Dari kutipan ayat-ayat yang terdapat dalam Injil Matius dan Lukas di atas jelaslah bagi kita bahwa Yesus telah mengajarkan prinsip-prinsip investasi.

Marilah kita mulai - secara cermat - menguraikan atau mencocokkan pengertian dan ciri-ciri investasi yang telah dibahas di atas dengan pengajaran Kristus.

Pertama, seorang - sebut saja investor - memiliki sejumlah uang (modal) dan memberi kepercayaan pada orang lain untuk mengelolanya. Investasi membutuhkan modal yang relatif besar, mitra kerja/usaha (orang-orang yang akan mengelolanya) dan kepercayaan (Matius 25:14; Lukas 19:13).

Kedua, seorang investor harus memperhitungkan secara cermat pembagian modal yang akan ditanamkan (diinvestasikan), kemampuan pengelolanya, jangka waktu, analisa rugi-laba usaha serta risiko-risiko sebagai konsekuensi logis yang akan dihadapi kelak (Matius 25:15, 24-25; Lukas 19:13a, 20-21).

Ketiga, seorang investor tidak saja berhitung di atas kertas tentang risiko kerugian yang akan dideritanya tetapi harus juga bersedia menerima fakta buruknya dan mempersiapkan strategi untuk mengatasi keadaan tersebut sesegera mungkin (Matius 25:26-28; Lukas 19:22-24).

Keempat, bila investasi berhasil memperoleh laba maka sebagai investor yang baik tidak akan segan-segan memberi penghargaan pada mitra usahanya dan menanamkan modal yang lebih besar lagi untuk kelanjutan usaha tersebut atau mengembangkan usahanya pada bidang lain dengan prospek keuntungan yang lebih menjanjikan (lihat kembali, Matius 25:20-23; Lukas 19:16-19).

Selanjutnya, dari segi kebutuhan akan waktu untuk berinvestasi dapat dibagi atas investasi jangka pendek (seperti berdagang, bursa saham, perusahaan jasa) dan investasi jangka panjang (seperti gedung, tanah, mesin pabrik, pendidikan, asuransi) - walaupun ada investasi jangka menengah tapi tidak populer.

Bila kita “pinjam” istilah investasi berjangka waktu ini dalam kaitannya dengan berdiri, bertumbuh dan berkembangnya gereja hingga saat ini maka kita tidak boleh mengesampingkan adanya kegiatan investasi yang telah dirintis oleh “jemaat mula-mula” meskipun tanpa mereka sadari.

Perlu diingat, investasi tidak selamanya dalam bentuk uang tapi investasi pasti memerlukan modal awal.

Mari kita ikuti apa yang telah dilakukan oleh jemaat Makedonia berikut :

👉 Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia.

👉 Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.

👉 Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka.

👉 Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus.

👉 Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami. – 2 Korintus 8:15 –

Jemaat Makedonia telah terlibat dalam kegiatan investasi jangka panjang Kerajaan Sorga lewat para Rasul pada waktu itu. Kalau keterlibatan secara perorangan memang tidak diperhitungkan sebagai investasi karena terlalu kecil jumlahnya. Tapi mereka melakukannya secara kolektif sebagai wujud kesatuan tubuh Kristus dengan bermodalkan kekayaan kemurahaan hati. Hasilnya luar biasa... fantastik. Anda telah mengetahui dan melihatnya bukan?

Contoh lain dari bentuk investasi kolektif jemaat lokal yang sangat menguntungkan pertumbuhan, perkembangan dan per-tambahan gereja bisa ditemukan dalam Kisah Para Rasul 4:32-35 :

👉 “Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.

👉Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah.

👉 Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.”

Ternyata, jemaat lokal gereja mula-mula telah menjadi investor-investor kerajaan tanpa mereka sendiri menyadarinya atau menyebutkan istilah ini. Fakta sejarah telah berbicara lebih kuat dari sekadar teori ekonomi sekuler saat ini tentang investasi.

Timbul pertanyaan dalam benak kita bersama, mengapa jemaat mula-mula yang jauh lebih primitif bisa mempraktekkannya; kemudian mereka yang bergelut dalam dunia bisnis sekuler pun dapat mengerti dan mengandalkannya untuk kemajuan bidang usaha mereka; tetapi kita, anak-anak Kerajaan tidak memahaminya bahkan cenderung untuk menghindari dan mengabaikan sistem bisnis seperti ini.

Seorang investor bisnis sekuler akan selalu mempersiapkan modal dan melihat lahan bisnis baru yang memiliki prospek yang menggiurkan dengan harapan-harapan perolehan keuntungan yang terus bertambah dari waktu ke waktu.

Ironisnya, kita yang menyebut diri sebagai anak-anak Kerajaan karena Kristus telah tersingkirkan dari arena bisnis seperti ini. Kita hanya bisa melihat diri kita dan “warung kecil sekitar dada” (biasanya dimiliki oleh para pedagang kaki lima) sambil tertunduk malu tanda tak berdaya menghadapi persaingan bisnis modern yang sarat strategi, visi dan misi ini. Pada hakekatnya kita telah mengecilkan status dan kemampuan atau potensi yang ada pada setiap kita dan demikian kita telah menyia-nyiakan berkat Bapa sekaligus mempermalukan Dia dihadapan para lawan-Nya.

Mungkin Anda berkata, saya tidak bisa berinvestasi karena modal awal terlalu kecil dan berbagai alasan klasik untuk menghindarinya, tapi sebenarnya Anda bisa secara kolektif melakukannya. Anda haruslah menyadari bahwa Anda terhisap dalam anggota tubuh Kristus yang sementara bergerak menuju lahan bisnis Kerajaan yang sangat menjanjikan pertambahan nilai atau labanya. Kristus berkata, “Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai”. Ini merupakan prospek bisnis yang pasti menguntungkan Kerajaan.

Yesus Kristus adalah seorang Investor Kerajaan yang tiada bandingannya. Ia menginvestasikan kekayaan, kemuliaan dan bahkan hidupNya untuk meraih laba maksimum demi kepentingan Kerajaan.

👉 “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

👉 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

👉 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!” – Filipi 2:5-12 –

👉 “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.” – 2 Korintus 8:9 –

Seorang pemodal bila ingin berinvestasi dalam bidang perdagangan misalnya, haruslah memiliki keberanian untuk membeli barang-barang guna kepentingan usahanya. Seperti gedung serta segala isinya (barang-barang dagangan). Dalam kurun waktu tertentu, pemilik modal mengharapkan keuntungan dari apa yang telah diinvestasikannya. Alkitab mencatat bagi kita dengan jelas bahwa “kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu”.

Kristus telah melakukan pembelian secara tunai dengan menggunakan alat pembayaran darahNya sendiri untuk memperoleh kita sebagai modal Kerajaan. Ia telah menginvestasikan hidupNya untuk memperoleh hidup kita seutuhnya. Keuntungan yang diharapkan dari sistem investasi ini adalah kita harus memuliakan Allah, Bapa di sorga dengan tubuh kita atau seluruh kehidupan kita dan memperlebar KerajaanNya.

Saya tidak bisa sendiri, Anda pun tidaklah sendiri. Kita tidak bisa melakukannya sendiri-sendiri. Ini lebih dari sekedar mega proyek. Kita perlu tim berinvestasi karena modal yang diperlukan tanpa batas.

Mungkin Anda yang sedang membaca buku ini adalah seorang investor dunia bisnis sekuler dan juga adalah anggota jemaat dari suatu gereja lokal. Maukah Anda melirik dunia bisnis rohani yang menjanjikan keuntungan kehidupan dalam kekekalan? Kristus sedang mencari para investor rohani yang berani mengambil keputusan untuk melibatkan diri dalam bisnis kekekalan ini. Inilah ajakan dan sekaligus tantangan berbisnis Yesus :

👉 "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” – Matius 6:19-21 –

Paulus, sang rasul menambahkan :

👉 Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.

👉 Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi

👉 dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya. – I Timotius 6:17-19 –

Selanjutnya, penulis kitab Yakobus dengan tegas memberi peringatan karena kasihnya,

👉 “Hai kamu orang kaya, pergilah kamu menangis dan meraung sebab segala siksa yang akan datang ke atasmu.

👉 Maka kekayaanmu sudah binasa, dan pakaianmu sudah dimakan ngengat.

👉 Emas perakmu sudah berkarat dan karatnya akan naik saksi atasmu, dan memakan dagingmu sebagaimana api. Kamu sudah menghimpunkan harta pada akhir zaman.” – Yakobus 5:1-3 –

Setiap kegiatan investasi pasti memperhitungkan keuntungan akhir. Bila terjadi laba maka pasti menambah kekayaan atau harta dari pemilik modal atau investornya. Dalam banyak hal, dengan bertambahnya kekayaan membuat pemiliknya menjadi lupa diri bahkan tidak sedikit orang-orang kaya yang melupakan TUHAN dan selalu menghindar atau merasa menyesal jika sebagian hartanya dipakai untuk menopang pelayanan pekerjaan TUHAN. Ini adalah ancaman terbesar bagi keselamatan jiwanya.

Rasul Paulus benar dalam menanggapi fenomena pengejaran kekayaan duniawi yang sangat melelahkan manusia :

👉 Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.

👉 Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. – I Timotius 6:9-10 –

Dan jauh sebelum Saulus si “pembantai manusia” bertobat dan menjadi rasul Kristus, seorang konglomerat yang hingga era paling modern ini belum ditemukan saingannya baik dalam harta kekayaan maupun dalam hikmatnya - raja Salomo - telah memberi tanggapan bijaknya,

👉 “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Ini pun sia-sia. Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya. Dan apakah keuntungan pemiliknya selain dari pada melihatnya?” – Pengkhotbah 5:9-10 –

Kemudian, dari hasil pengamatan terhadap kehidupan orang-orang kaya pada masanya, raja bijak ini berkata,

👉  “Ada kemalangan yang menyedihkan kulihat di bawah matahari: kekayaan yang disimpan oleh pemiliknya menjadi kecelakaannya sendiri.

👉 Dan kekayaan itu binasa oleh kemalangan, sehingga tak ada suatu pun padanya untuk anaknya. Sebagaimana ia keluar dari kandungan ibunya, demikian juga ia akan pergi, telanjang seperti ketika ia datang, dan tak diperolehnya dari jerih payahnya suatu pun yang dapat dibawa dalam tangannya. Ini pun kemalangan yang menyedihkan. Sebagaimana ia datang, demikian pun ia akan pergi. Dan apakah keuntungan orang tadi yang telah berlelah-lelah menjaring angin? Malah sepanjang umurnya ia berada dalam kegelapan dan kesedihan, mengalami banyak kesusahan, penderitaan dan kekesalan.” – Pengkhotbah 5:12-16 –

Penanaman modal (investasi) dunia bisnis sekuler berisiko rugi baik materil maupun imateril; tapi bila Anda, seorang investor, melibatkan diri dalam bisnis Kerajaan tidak akan pernah rugi. Coba pikirkan apa yang pernah dikatakan Yesus :

👉 “Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya." – Matius 10:42 –

Jika kita gunakan daya nalar maka akan terbentuk suatu pemahaman yang dapat diterima akal sehat. Sedangkan “secangkir air sejuk” dapat memberi keuntungan, apalagi jika sejumlah besar uang dan harta atau kekayaan kita diinvestasikan dalam bisnis Kerajaan Kristus? Ini bukanlah slogan hampa sekedar basa-basi seperti yang biasa disodorkan dunia bisnis sekuler. Ini adalah jaminan dari Yesus Kristus. Dia tidak mungkin berdusta atau ingkar janji.

Satu hal yang pasti “bersama Kristus kita melakukan perkara-perkara yang besar” untuk kepentingan Kerajaan.

👉 "Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!”

Kini, pilihan itu ada di tangan Anda. Melibatkan seluruh kemampuan pribadi dan modal yang Anda miliki dalam lahan bisnis paling menguntungkan yang ditawarkan Kristus atau harus kembali ke rumah Bapa tanpa laba dan tertunduk malu ????

Saya mengajak Anda, “bergabunglah dalam sistem investasi Kerajaan Kristus maka Anda - dan kita sekalian - akan segera melihat lahan-lahan bisnis subur yang memiliki nilai pertambahan menakjubkan. Jadilah salah satu pemegang saham dari total nilai bisnis investasi yang ditawarkan. Prospek perolehan keuntungannya sangatlah besar karena segala jerih payahmu tidaklah sia-sia.

Detik-detik sebelum Anda mengakhiri bacaan dan menutup bukunya, ijinkanlah saya menaruh kalimat-kalimat ini dalam benak Anda untuk direnungkan :

“Semua harta atau kekayaan jasmani yang kita tanam dalam dunia bisnis sekuler akan berbalik menanam kita ke lubang kubur dan semuanya berakhir di sana; kecuali kita mau sedikit menginvestasikannya dalam bisnis kekekalan Kristus dimana kita tidak akan pernah kehilangan apapun.”

Saatnya saya harus undur diri dari ruang baca Anda dengan sebuah pesan kebenaran, “berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

BAPA YESUS... TUHAN Allah yang kita imani pasti menyertai dan memberkati perjalanan hidup kita semuanya sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya supaya terpujilah kasih karunia-Nya atas kita. Amin.


THE END

NIL NISI CHRISTUM


💰PERSEPULUHAN 👉 ALKITABIAH TAPI TIDAK INJILI [PARTISI 3👉E]📕

 

E. TABUR - TUAI

Bila Anda bertanya pada seorang Kristen, “mengapa Allah tidak membuat setiap anak-Nya hidup dalam segala kelimpahan materil seperti yang biasa dikhotbahkan oleh penganut paham teologi kemakmuran (prosperity theology)?”

Anda mungkin akan menerima salah satu di antara dua jawaban. Pertama, “karena tidak setiap orang dapat dipercayai-Nya mengelolah uang atau kekayaan materil lainnya untuk kepentingan pekabaran Injil Kerajaan Sorga di bumi ini” dan yang kedua, “iman masing-masing orang Kristen berbeda”. Bisa jadi, keduanya atau salah satu jawabannya benar.

Perlu diperhatikan! Para pengajar paham teologi kemakmuran telah melandaskan pengajaran mereka, antara lain dengan menggunakan ayat-ayat Yohanes 10:10 dan 2 Korintus 8:9 (kedua ayat ini banyak dikutip dan dikhotbahkan).

👉 “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” – Yohanes 10:10 –

👉 “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.” – 2 Korintus 8:9 –

Referensi ayat-ayat yang terkutip di atas telah berulangkalii dikhotbahkan kepada jemaat dengan menggunakan metoda penafsiran “injili-humanis” yang bermuara pada hal-hal konsumtif-hedonis. Metoda penggalian dan pemaparan eksegesis yang kaya makna rohani telah dikesampingkan, digantikan dengan pemaparan teologi eisigesis libaralis berbau sekulerisme modern yang telah “menggampangkan” arti kehidupan seorang Kristen sejati yang harus “menyangkal diri dan pikul salib tiap hari, ikut menderita sebagai prajurit Yesus yang sementara berjuang merebut orang-orang lain dari jurang kebinasaan, setia hingga akhir walau dalam aniaya sebab dunia ini tidak layak bagi anak-anak-Nya.”

Bila paham ini dibiarkan menjalar apalagi sampai menjadi bagian dari dogma gereja maka akan menjadi bumerang dan racun bagi pertumbuhan iman dan penghalang besar bagi misi penginjilan gereja secara universal karena “ternyata” terdapat benturan atau pertentangan menyolok kalau dibandingkan dengan ayat-ayat firman Allah lainnya, seperti khotbah Yesus di bukit dan pengajaran-pengajaran Yesus lainnya dalam Perjanjian Baru.

Rasul Paulus pernah menyampaikan keprihatinan mendalam kepada jemaat Tuhan di Korintus berhubungan dengan berbagai bentuk pengajaran palsu yang berhasil menghipnotis perhatian mereka.

👉 Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.

👉 Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima. – 2 Korintus 11:3-4 –

Itulah sebabnya gereja harus tetap berpegang dan kokoh berpijak pada dasar kebenaran pengajaran Injil Yesus Kristus.

Mari lanjutkan bahasan kita .......>>>

Yesus memberi kunci jawaban, “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." Kemudian Ia menambahkan, “tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Dan Paulus menimpali, “karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”

Seringkali dalam pemahaman hidup berkelimpahan, kita telah secara sepihak dan sempit menafsirkannya, yakni dengan berusaha keras mengejar keuntungan materil atau kekayaan duniawi, seperti uang, harta, pangkat, jabatan, kedudukan, kekuasaan, kehormatan manusia, kesenangan ragawi atau kenikmatan duniawi.

Sebenarnya, “mempunyai hidup dalam segala kelimpahan” yang dimaksud Yesus adalah hidup yang lebih berkualitas dari sekedar suatu bentuk kehidupan biologis jasmaniah. Dan dalam penerapannya hanya Yesus Kristus yang sanggup membuat kita hidup lebih dari “hidup”.

Suatu bentuk kehidupan berkelimpahan dalam kekayaan kasih karunia bukanlah hanya terfokus pada hal materil lahiriah tetapi juga dalam hal meneladani penderitaan Kristus. Inilah kehidupan sejati yang melampaui kematian ragawi dan teror alam maut.

👉 Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. – 1 Petrus 2:21 –

👉 Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" – 1 Korintus 15:55 –

👉 Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.

👉 Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.

👉 Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal. – 2 Korintus 4:16-18 –

Mungkin secara kasat mata kita dapat melihat dan menarik kesimpulan bahwa seseorang disebut hidup berkelimpahan jika ia bergelimang kekayaan materil kemudian mulai membagi-bagikannya pada sesama. Namun ternyata ukuran tersebut keliru karena kemampuan memberi seorang Kristen sejati tidaklah diukur dari timbunan harta kekayaan pribadi dalam gudang penyimpanan tetapi ditakar dari kelimpahan kemurahan hati yang mengasihi yang tak nampak oleh indera penglihatan jasmaniah.

👉Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar.

👉 Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit.

👉 Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.

👉 Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya." – Markus 12:41-44 –

Uang dan atau bentuk kekayaan materil lainnya adalah hasil dari jerih payah kita secara halal. Bila kita memberikannya berarti kita memberi sebagian dari diri kita – waktu, tenaga juga perasaan kita. Bila pemberian itu tepat sasaran – ditujukan pada orang miskin atau mereka yang benar-benar membutuhkannya – maka itu adalah suatu investasi dari diri kita sendiri dalam hidup pria dan wanita, anak-anak dan orang dewasa atau para manula yang telah menerimanya. Uang atau dana yang diberikan untuk mendukung kegiatan misi pelayanan gereja dan sosial kemasyarakatan juga akan mengembangkan diri kita jauh di luar ruang lingkup kita sendiri.

Dengan memberi kita akan menjadi pemegang saham kerajaan Allah dimana kita memiliki jangkauan yang tak terbatas. Memberi dengan bertanggung-jawab akan memperluas jangkauan kita pada mereka yang sebelumnya tidak terjangkau.

Memberi berarti memperkaya pemahaman kita akan tubuh Kristus dan diri sendiri sebagai bagian dari tubuh itu. Membagikan uang atau pun dana dalam berbagai bentuk kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan berarti membagi diri kita sendiri. Meskipun bukan karena memberi kita menjadi bagian dari tubuh Kristus, pemberian kita akan memampukan tubuh itu untuk berfungsi semaksimal mungkin. Sesungguhnya Tubuh Kristus mempunyai potensi dan kemungkinan yang tak terbatas!

Bagaimana dengan “takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncangkan dan yang tumpah keluar”, yang kata Yesus akan kita terima menurut apa yang kita berikan? Apakah itu uang dan harta benda yang kita hubungkan dengan kemakmuran hidup? Sama sekali bukan itu yang dimaksudkan-Nya.

Yesus berbicara tentang mengasihi musuh kita, mengampuni, menunjukkan belas kasihan. “Maka upahmu akan besar dan akan menjadi anak-anak Allah yang Mahatinggi …. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati”, kata Yesus.

Bagi saya ada dua hal penting yang dapat diambil dari bahasa Yesus tersebut. Pertama, Anda dan saya atau siapa pun membutuhkan belas kasihan “yang dipadatkan, yang digoncangkan, dan yang tumpah keluar.” Jadi sebaiknya kita juga memberikan belas kasihan kita dengan murah hati. Yang kedua, bila dalam kemurahan-Nya Allah tidak menahan banyak hal yang kita mohon dalam doa, pasti sudah dulu-dulu kita menghancurkan diri kita sendiri.

Bila kita tergerak oleh belas kasihan mengambil keputusan untuk melakukan pelayanan lewat persembahan-persembahan kasih maka Allah yang kaya dengan rahmat sanggup melimpahkan berkat-berkatNya dalam kehidupan kita tiga puluh kali lipat, enam puluh kali lipat dan seratus kali lipat. Dia Allah yang tidak pernah menahan kebaikan-Nya terhadap kita.

👉 “Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.” – Amsal 19:17 –

👉 “Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.” – Amsal 3:27 –

👉 “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” – Galatia 6:2 –

Kalau kita rajin membaca Alkitab, kita dapati begitu banyak janji-janji TUHAN bagi kita mengenai hari esok yang penuh harapan dan masa depan yang indah. Dia TUHAN yang setia menetapi janji-janji-Nya terhadap kita sebab,

👉 “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?” – Bilangan 23:19 –

👉 “Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia.” – I Korintus 1:9 –

Sudah seharusnya gereja berpegang teguh pada setiap janji Kristus yang tertulis dalam Perjanjian Baru karena, “Yesus adalah jaminan dari suatu perjanjian yang lebih kuat”. Ya, lebih kuat dari semua jaminan dan janji-janji yang pernah dibuat dan disampaikan manusia biasa seperti Anda dan saya – karena kita bisa dan biasa ingkar janji.

Bila Tuhan menyuruh kita menabur lewat persembahan-persembahan kasih maka Ia sudah menyediakan upah sebagai gantinya baik berbentuk materil atau imateril sehingga Ia menyuruh kita untuk tidak perlu kuatir tentang hal-hal lahiriah karena hidup itu lebih penting dari semuanya. Lihatlah betapa kaya janji-janji-Nya bagi kita :

👉 “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” – I Korintus 15:58 –

Kekayaan janji Kristus bagi gereja sebenarnya sudah lebih dari sekedar cukup sehingga kita tidak perlu lagi – maaf, saya tidak bermaksud mendiskreditkan Perjanjian Lama – menerapkan resep aji mumpung, ikut nimbrung (antrian) menikmati berkat bersama bangsa Israel. Berkat itu memang secara khusus disampaikan pada umat pilihan Allah seperti tercatat dalam kitab Maleakhi. Seharusnya kita tidak perlu “iri hati” terhadap janji berkat itu, karena di dalam Yesus pun terdapat janji yang secara kualitas dapat dikatakan lebih.

Dengan tidak bermaksud mengecilkan arti apalagi menggeserkan pemahaman janji yang tercatat dalam Maleakhi 3:10 tapi marilah kita semua menyadarinya dan dengan demikian jujur mengakui bahwa kebenaran firman Allah hanyalah diperintahkan pada dan diberlakukan bagi umat Israel, bangsa pilihan secara jasmaniah :

👉 “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.”

Nah …, jika itu untuk mereka, manakah janji untuk Anda dan saya yang secara rohani diperhitungkan sebagai anggota tubuh Kristus yang telah dipilih-Nya sendiri? Perhatikan baik-baik. Anda atau siapa pun yang oleh kasih karunia telah terhisap dalam penebusan darah Yesus punya janji yang luar biasa. Inilah janji itu …

👉 Camkanlah ini : Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.

👉 Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.

👉 Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.

👉 Seperti ada tertulis: "Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya."

👉 Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu;

👉 kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah. – II Korintus 9:6-11 –

Bagaimana janji-janji tersebut bekerja dan digenapi dalam gereja? Jawabannya, kita harus mengutamakan kewajiban-kewajiban sebagai wujud tanggungjawab yang digerakkan oleh kasih agape barulah kita mengklaim hak-hak kita atas janji tersebut. Ingatlah, seorang pekerja patut memperoleh upahnya. Ada yang seratus kali lipat, enam puluh kali lipat dan ada pula yang tiga puluh kali lipat. Semuanya tergantung pada kemampuan dan keikhlasan kita menabur atau bekerja.

👉 Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.

👉 Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.

👉 Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. – Galatia 6:7-9 –

Saya menyebutnya “janji pamungkas” yang disampaikan Kristus kepada gereja untuk mengakhiri topik ini sebagaimana kutipan referensi dalam Wahyu 22:12 di bawah :

👉 "Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya.”

Itulah sebabnya marilah kita, baik pelayan-pelayan lima jawatan, para diaken dan juga warga jemaat, janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik karena kita akan menuai bila kita tidak menjadi lemah. Bertolong-tolonganlah menanggung beban sesama terutama saudara-saudara seiman! Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu. Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Demikianlah kita memenuhi hukum Kristus.


berrsambung ... PARTISI 3 👉F. INVESTASI KERAJAAN