Halaman

Senin, 23 Maret 2026

💰PERSEPULUHAN 👉 ALKITABIAH TAPI TIDAK INJILI [PARTISI 3👉A.3]📕

A.3. PELAYANAN PENGINJILAN

Kalimat terakhir berbunyi, “mereka yang memberitakan Injil harus hidup dari pemberitaan Injil itu” mengarahkan kita pada jawatan Penginjil dan Rasul – baca Kisah Para Rasul.

Pelayanan penginjilan adalah ujung tombak gereja yang paling dapat diandalkan untuk era penuaian akhir zaman, saat mana ladang-ladang telah menguning siap dipanen.

Walau semua jawatan lain bahkan jemaat pun dapat melakukan penginjilan namun tidak seoriginal seorang yang memang memiliki jawatan penginjil dan rasul. Kapasitas dan kualitas akan nampak bila sedang berada di atas mimbar atau medan penginjilan. Inilah keunikan masing-masing jawatan seperti yang telah ditetapkan Kristus bagi gereja. Hanya seorang penginjil atau rasul sejati yang tahu persis arti sebuah misi pelayanan penginjilan apostolik dan segala resiko yang akan dihadapinya. Dia digerakkan dan bergerak sesuai dengan dinamika visi dan misi yang diterimanya dari Roh Kudus.

Pelayan-pelayan dalam kedua jawatan ini – Penginjil dan Rasul – sangat efektif dan mampu menghimpun dan memobilisasi masa atau pun jemaat. Mereka memang diperlengkapi dengan otoritas seperti itu.

Bila kita mencermati Kisah Para Rasul, kedua jawatan ini sepertinya menyatu dalam misi perampasan jiwa-jiwa untuk ditambahkan kedalam daftar anggota keluarga Allah, seperti yang ditegaskan oleh Rasul Paulus dalam I Korintus 9:17b, “Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil.”

Dalam buku Kisah Para Rasul, Paulus, sang rasul selalu ditemani oleh seorang penginjil, Barnabas – walau di kemudian hari Barnabas dianggap rasul juga oleh Lukas, penulis Kisah Para Rasul. Mereka berdua saling bahu-membahu menunaikan tugas pelayanan penginjilan bahkan begitu kompak ketika berhadapan dengan orang-orang Yahudi dan ahli-ahli Taurat yang memaksa orang-orang Kristen non-Yahudi untuk tetap menjalankan Taurat Musa. Paulus dan Barnabas dengan sangat berani karena penuh dengan Roh Kudus menentang intervensi pengajaran Hukum Taurat dalam gereja.

Paulus pernah melakukan pembelaan diri terhadap kritikan pedas yang menyudutkan kerasulannya dan menegaskan bahwa ia dan Barnabas, sang penginjil sebenarnya berhak menerima upah dari segala jerih payah mereka dalam misi pekabaran injil/penginjilan. Kutipan beberapa argumentasi Paulus mengenai haknya sebagai rasul berikut ini membantu kita untuk memahami bahwa mereka – penginjil dan rasul – patut mendapat “bagian” – upah – pelayanan pembangunan tubuh Kristus.

👉“Bukankah aku rasul? Bukankah aku orang bebas? Bukankah aku telah melihat Yesus, Tuhan kita? Bukankah kamu adalah buah pekerjaanku dalam Tuhan?

👉Sekalipun bagi orang lain aku bukanlah rasul, tetapi bagi kamu aku adalah rasul. Sebab hidupmu dalam Tuhan adalah meterai dari kerasulanku.

👉Inilah pembelaanku terhadap mereka yang mengeritik aku.

👉Tidakkah kami mempunyai hak untuk makan dan minum?

👉Tidakkah kami mempunyai hak untuk membawa seorang isteri Kristen, dalam perjalanan kami, seperti yang dilakukan rasul-rasul lain dan saudara-saudara Tuhan dan Kefas?

👉Atau hanya aku dan Barnabas sajakah yang tidak mempunyai hak untuk dibebaskan dari pekerjaan tangan?

👉Siapakah yang pernah turut dalam peperangan atas biayanya sendiri? Siapakah yang menanami kebun anggur dan tidak memakan buahnya? Atau siapakah yang menggembalakan kawanan domba dan yang tidak minum susu domba itu?

👉Apa yang kukatakan ini bukanlah hanya pikiran manusia saja. Bukankah hukum Taurat juga berkata-kata demikian?

👉Sebab dalam hukum Musa ada tertulis: "Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik!" Lembukah yang Allah perhatikan?

👉Atau kitakah yang Ia maksudkan? Ya, untuk kitalah hal ini ditulis, yaitu pembajak harus membajak dalam pengharapan dan pengirik harus mengirik dalam pengharapan untuk memperoleh bagiannya.

👉Jadi, jika kami telah menaburkan benih rohani bagi kamu, berlebih-lebihankah, kalau kami menuai hasil duniawi dari pada kamu?

👉Kalau orang lain mempunyai hak untuk mengharapkan hal itu dari pada kamu, bukankah kami mempunyai hak yang lebih besar? – I Korintus 9:1-12a –

Pada bagian lain, Injil Yesus Kristus mengatakan bahwa :

👉“Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat.

👉Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.

👉Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu.

👉Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya.” – Matius 10:7-10 –

👉“Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu.” – Galatia 6:6 –

Bila gereja ingin optimal dalam menabur dan menuai hasil maksimal bagi kemuliaan Kristus maka terapkanlah sistem pengupahan injili yang tentunya juga harus dapat dikelola/di-manage secara profesional dan proporsional oleh mereka yang terdidik dan berpengalaman di bidangnya masing-masing. Gereja secara organisasi haruslah mampu memilih dan memobilisasi orang yang tepat, di tempat yang tepat pada saat yang tepat juga.

Besar kecilnya upah yang diterima para pelayan lima jawatan bergantung pada “kesepakatan nurani” jemaat atau perorangan dalam hal memberi setelah menikmati “hidangan rohani” yang memulihkan, membangkitkan, menumbuhkan dan mendewasakan iman atau dengan lain perkataan, upah mereka sangat dipengaruhi oleh kinerja, loyalitas, dedikasi serta kualitas pelayanan mereka sendiri. Tuhan Yesus pasti sanggup menggerakkan hati jemaat atau perorangan untuk memberkati pelayan-pelayan lima jawatan sesuai perbuatan atau jerih lelah mereka.


berrsambung ... PARTISI 3 👉B. DISIPLIN HATI NURANI

0 comments:

Posting Komentar