F. INVESTASI KERAJAAN
Sekilas pemahaman “tabur-tuai” – yang sangat lazim di telinga para petani pada lahan pertanian – serupa dengan istilah yang populer dalam dunia bisnis “investasi”. Dapat dipastikan tidak ada seorang pun yang bergelut dalam dunia bisnis modern saat ini yang tidak tahu apa itu investasi. Sosialisasi istilah ini sungguh luar biasa; hingga para pedagang kaki lima – pedagang emperan toko bermodalkan gerobak – pun sudah tidak asing lagi. Bila dilihat dari harapan-harapan pencapaian hasil maksimal keduanya memiliki peluang yang sama – tabur-tuai dalam areal pertanian dan investasi dunia bisnis atau perdagangan. Perbedaan antara kedua istilah ini dapat Anda simpulkan sendiri setelah penjelasan berikut.
Investasi berasal dari kata invest (bhs. Inggris) yang dapat diterjemahkan dalam beberapa pengertian antara lain menanam (uang, modal), mencurahkan (waktu, uang), memberi kekuasaan atau hak kepada (mis. Mempercayakan penyelesaian kasus di pengadilan kepada Penasihat Hukum atau memberi kepercayaan pada seseorang untuk kepentingan usaha/perusahaan).
Bila dalam artian etimologis di atas kata ini (investasi) kurang jelas bagi Anda maka mungkin Anda akan tertolong untuk lebih memahaminya dengan melihat ciri-ciri investasi sebagai berikut :
👉1. Investasi harus menghasilkan jumlah yang bertambah banyak secara kuantitas – urutan pertama dalam berinvestasi – dan juga kualitas. Misalnya, lebih signifikan membeli 5 ekor sapi lagi sebagai investasi daripada merawat 10 ekor sapi yang sudah ada agar menghasilkan susu lebih banyak.
👉 2. Investasi mengisyaratkan modal awal. Tanpa modal awal tidak ada investasi.
👉3. Investasi menuntut keahlian dan atau menghasilkan kemahiran. Seorang investor pasti memiliki keahlian dan pengetahuan, sedikit atau banyak, atas bidangnya sehingga investasi yang dijalankannya kemungkinan berhasil. Tak ada orang yang berani berinvestasi pada suatu bidang usaha tanpa lebih dulu mengetahui kondisi, seluk-beluk dan prospek dari bidang usaha tersebut.
Pada posisi lain, seseorang yang berinvestasi bisa mendapatkan hasil dalam bentuk ilmu atau pengalaman. Bersekolah dan mengikuti kursus-kursus dapat dikategorikan dalam investasi atau berinvestasi.
👉 4. Investasi selalu bersifat rasionil (masuk akal).
Melakukan investasi pada bidang usaha tertentu harusnya mengikuti skenario yang masuk akal. Memasukkan sejumlah uang dalam nominal yang cukup besar dalam sebuah drum dan berharap seminggu kemudian memperoleh hasil berlipat ganda, jelas bukanlah sebuah investasi karena caranya tidak masuk akal sehat.
Atau lebih baik jangan pula berharap semua investasi dapat menghasilkan jumlah yang berkali-kali lipat dalam waktu sesingkat-singkatnya kecuali bila terjadi mujizat.
👉 5. Investasi mengandung kepastian berhasil di atas 50%.
Hal ini perlu Anda tahu dan pahami secara benar untuk membedakan antar judi dengan investasi, karena judi cuma memiliki ciri-ciri menang-kalah berbanding 50%:50%. Investasi harus dapat menjanjikan kepastian beruntung lebih dari 50% kemungkinan bila tidak maka itu bukanlah investasi. Misalnya, Anda bermaksud membeli sebidang tanah sebagai investasi; Anda harus yakin bahwa nilai tanah tersebut pasti meningkat dalam kurun waktu mendatang. Tapi bila di kemudian hari ternyata tanah itu merosot nilainya karena situasi disekitarnya berkembang menjadi rawan dari sebelumnya aman, ini disebut sebagai resiko berinvestasi. Paling tidak pada awalnya segala faktor mendukung investasi ini menguntungkan di atas 50%.
👉 6. Hasil investasi tidak dapat diketahui sebelumnya.
Investasi selalu mengandung risiko. Hasil-hasil yang 100% pasti tidak dapat disamakan dengan investasi.
👉 7. Investasi tidak melanggar etika atau hukum.
Seorang investor yang taat hukum dan beretika tentu tidak akan menanam sejumlah uang (melakukan investasi) pada bidang usaha yang jelas-jelas melanggar aturan/hukum negara/pemerintah yang berlaku, merugikan kehidupan orang banyak, melanggar hak-hak azasi dan tidak bermoral. Seperti, menanam modal pada bisnis rumah bordil (pelacuran) atau berinvestasi pada lahan ganja, mendirikan pabrik obat-obatan psikotropika.
👉 8. Investasi – lazimnya – merupakan kegiatan memutar atau menjalankan “uang dingin”.
Ini merupakan ungkapan yang membedakan kegiatan berinvestasi dengan berdagang. Dalam dunia perdagangan arus perputaran uang jauh lebih cepat dan dalam jangka waktu yang singkat untuk meraih laba sehingga dikenal dengan istilah “uang panas”. Investasi menjalankan “uang dingin” karena dibiarkan mengendap dalam jangka waktu tertentu sebelum memiliki nilai tambah atau keuntungan.
Sebenarnya pedagang atau wirausahawan dapat dikatakan sedang berinvestasi bila memiliki usaha, gudang atau pabrik yang memenuhi syarat sebagai objek investasi.
👉 9. Investasi dijalankan dalam jumlah yang relatif besar.
Kegiatan investasi menekankan pada quantitas yang jauh lebih besar dari pada menyalurkan hobi. Misalnya, Anda memelihara sejumlah ikan hias pada sebuah aquarium di ruang tamu dalam rumah Anda tidak dapat dikatakan investasi melainkan penyaluran hobi sampai Anda pergi keluar dan membuat beberapa kolam dalam ukuran besar untuk berternak ikan hias tersebut.
👉 10. Investasi memerlukan waktu tunggu.
Sebagian orang mengira bahwa bila ia melakukan investasi untuk bidang usaha tertentu maka hanya dalam sekejap waktu telah dapat meraih laba sesuai perhitungan sebelumnya. Waktu tunggu menentukan mutu suatu investasi.
Andaikata suatu usaha sudah memenuhi beberapa syarat tersebut di atas – walau tidak seluruhnya terpenuhi – maka dengan sendirinya dikategorikan sebagai kegiatan investasi atau berinvestasi.
Bila Anda ingin melibatkan diri dalam dunia investasi maka perlu dipikirkan dan dipertimbangkan baik-baik bahwa kegiatan investasi bukanlah tanpa risiko – sama seperti berbagai jenis usaha bisnis lainnya; bahkan dapat menyebabkan seorang investor bangkrut atau pailit – tetapi hendaklah risiko-risiko tersebut telah diperhitungkan sebagai konsekuensi logis yang harus dapat disikapi atau ditangani secara profesional sehingga tidak berdampak psikologis yang dapat melemahkan atau mematahkan semangat bisnis seorang investor..
Risiko dalam dunia investasi secara umum dibedakan menjadi risiko potensial dan non-potensial. Risiko potensial adalah risiko yang bakal Anda alami yang berkaitan dengan kerugian berbentuk fisik atau materi jika investasi tersebut gagal. Misalnya, Anda membuka toko maka risiko potensialnya adalah rugi, bangkrut, terbakar dan sebagainya. Intinya adalah Anda harus mengeluarkan tambahan uang berkaitan dengan risiko tersebut. Jika Anda bermain saham maka risiko potensial adalah capital loss dan tidak mendapatkan deviden.
Risiko berikutnya merupakan non-potensial yang dapat Anda alami tetapi boleh jadi tidaklah begitu berarti dan tidak menyebabkan kerugian materi. Misalnya, risiko psikologis seperti stress, bosan, gelisah, waktu yang terbuang percuma dan sebagainya.
Selain kedua jenis risiko di atas, masih terdapat pula dua risiko lainnya yakni risiko sistematik dan non-sistematik (unique risk). Risiko sistematik adalah risiko yang dapat terjadi dan dialami setiap investor di mana faktor-faktor pencetus risiko tersebut berada di luar lingkungan intern perusahaan bahkan di luar jangkauan investor. Misalnya risiko akibat bencana alam, campur tangan pemerintah dalam sebuah kebijakan seperti pajak, kuota, proteksi, aneka peraturan tentang perdagangan saham, penetapan kurs devisa, suku bunga dan sebagainya.
Risiko non-sistematik atau unique risk adalah risiko yang dapat dialami investor dimana faktor-faktor pencetusnya berada di lingkungan internal perusahaan itu sendiri atau berada di dalam jangkauan investor. Risiko-risiko ini dapat berupa konflik internal perusahaan, ulah para pesaing, perilaku konsumen dan sebagainya yang tentunya akan bisa di atasi dengan strategi-strategi yang ada, seperti financial strategy atau diversifikasi.
Apa-apa yang barusan Anda baca mengenai sistem investasi yang diterapkan dalam dunia sekuler sekarang ini sebenarnya telah secara gamblang (jelas dan dapat dipahami) tercatat dalam Alkitab Perjanjian Baru.
Yesus dalam beberapa pengajaran pernah mengisyaratkan adanya kegiatan penanaman modal/investasi antara lain seperti yang tercatat dalam Matius 25:14-25 :
👉 “Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka.
👉Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.
👉 Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta.
👉 Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta.
👉Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya.
👉Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka.
👉 Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta.
👉 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
👉 Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta.
👉 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
👉 Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam.
👉 Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!”
Ciri-ciri yang menunjukkan adanya kegiatan investasi dalam dunia perdagangan bisa ditemukan dalam Lukas 19:12-13, 15-26 :
👉 “Maka Ia berkata: "Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali.
👉 Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali.
👉 Dan terjadilah, ketika ia kembali, setelah ia dinobatkan menjadi raja, ia menyuruh memanggil hamba-hambanya, yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka masing-masing.
👉 Orang yang pertama datang dan berkata: Tuan, mina tuan yang satu itu telah menghasilkan sepuluh mina.
👉 Katanya kepada orang itu: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam perkara kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota.
👉 Datanglah yang kedua dan berkata: Tuan, mina tuan telah menghasilkan lima mina.
👉 Katanya kepada orang itu: Dan engkau, kuasailah lima kota.
👉 Dan hamba yang ketiga datang dan berkata: Tuan, inilah mina tuan, aku telah menyimpannya dalam sapu tangan.
👉Sebab aku takut akan tuan, karena tuan adalah manusia yang keras; tuan mengambil apa yang tidak pernah tuan taruh dan tuan menuai apa yang tidak tuan tabur.
👉 Katanya kepada orang itu: Hai hamba yang jahat, aku akan menghakimi engkau menurut perkataanmu sendiri. Engkau sudah tahu bahwa aku adalah orang yang keras, yang mengambil apa yang tidak pernah aku taruh dan menuai apa yang tidak aku tabur.
👉Jika demikian, mengapa uangku itu tidak kauberikan kepada orang yang menjalankan uang? Maka sekembaliku aku dapat mengambilnya serta dengan bunganya.
👉 Lalu katanya kepada orang-orang yang berdiri di situ: Ambillah mina yang satu itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu.
👉 Kata mereka kepadanya: Tuan, ia sudah mempunyai sepuluh mina.
👉 Jawabnya: Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya.”
Dari kutipan ayat-ayat yang terdapat dalam Injil Matius dan Lukas di atas jelaslah bagi kita bahwa Yesus telah mengajarkan prinsip-prinsip investasi.
Marilah kita mulai - secara cermat - menguraikan atau mencocokkan pengertian dan ciri-ciri investasi yang telah dibahas di atas dengan pengajaran Kristus.
Pertama, seorang - sebut saja investor - memiliki sejumlah uang (modal) dan memberi kepercayaan pada orang lain untuk mengelolanya. Investasi membutuhkan modal yang relatif besar, mitra kerja/usaha (orang-orang yang akan mengelolanya) dan kepercayaan (Matius 25:14; Lukas 19:13).
Kedua, seorang investor harus memperhitungkan secara cermat pembagian modal yang akan ditanamkan (diinvestasikan), kemampuan pengelolanya, jangka waktu, analisa rugi-laba usaha serta risiko-risiko sebagai konsekuensi logis yang akan dihadapi kelak (Matius 25:15, 24-25; Lukas 19:13a, 20-21).
Ketiga, seorang investor tidak saja berhitung di atas kertas tentang risiko kerugian yang akan dideritanya tetapi harus juga bersedia menerima fakta buruknya dan mempersiapkan strategi untuk mengatasi keadaan tersebut sesegera mungkin (Matius 25:26-28; Lukas 19:22-24).
Keempat, bila investasi berhasil memperoleh laba maka sebagai investor yang baik tidak akan segan-segan memberi penghargaan pada mitra usahanya dan menanamkan modal yang lebih besar lagi untuk kelanjutan usaha tersebut atau mengembangkan usahanya pada bidang lain dengan prospek keuntungan yang lebih menjanjikan (lihat kembali, Matius 25:20-23; Lukas 19:16-19).
Selanjutnya, dari segi kebutuhan akan waktu untuk berinvestasi dapat dibagi atas investasi jangka pendek (seperti berdagang, bursa saham, perusahaan jasa) dan investasi jangka panjang (seperti gedung, tanah, mesin pabrik, pendidikan, asuransi) - walaupun ada investasi jangka menengah tapi tidak populer.
Bila kita “pinjam” istilah investasi berjangka waktu ini dalam kaitannya dengan berdiri, bertumbuh dan berkembangnya gereja hingga saat ini maka kita tidak boleh mengesampingkan adanya kegiatan investasi yang telah dirintis oleh “jemaat mula-mula” meskipun tanpa mereka sadari.
Perlu diingat, investasi tidak selamanya dalam bentuk uang tapi investasi pasti memerlukan modal awal.
Mari kita ikuti apa yang telah dilakukan oleh jemaat Makedonia berikut :
👉 Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia.
👉 Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.
👉 Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka.
👉 Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus.
👉 Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami. – 2 Korintus 8:15 –
Jemaat Makedonia telah terlibat dalam kegiatan investasi jangka panjang Kerajaan Sorga lewat para Rasul pada waktu itu. Kalau keterlibatan secara perorangan memang tidak diperhitungkan sebagai investasi karena terlalu kecil jumlahnya. Tapi mereka melakukannya secara kolektif sebagai wujud kesatuan tubuh Kristus dengan bermodalkan kekayaan kemurahaan hati. Hasilnya luar biasa... fantastik. Anda telah mengetahui dan melihatnya bukan?
Contoh lain dari bentuk investasi kolektif jemaat lokal yang sangat menguntungkan pertumbuhan, perkembangan dan per-tambahan gereja bisa ditemukan dalam Kisah Para Rasul 4:32-35 :
👉 “Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.
👉Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah.
👉 Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.”
Ternyata, jemaat lokal gereja mula-mula telah menjadi investor-investor kerajaan tanpa mereka sendiri menyadarinya atau menyebutkan istilah ini. Fakta sejarah telah berbicara lebih kuat dari sekadar teori ekonomi sekuler saat ini tentang investasi.
Timbul pertanyaan dalam benak kita bersama, mengapa jemaat mula-mula yang jauh lebih primitif bisa mempraktekkannya; kemudian mereka yang bergelut dalam dunia bisnis sekuler pun dapat mengerti dan mengandalkannya untuk kemajuan bidang usaha mereka; tetapi kita, anak-anak Kerajaan tidak memahaminya bahkan cenderung untuk menghindari dan mengabaikan sistem bisnis seperti ini.
Seorang investor bisnis sekuler akan selalu mempersiapkan modal dan melihat lahan bisnis baru yang memiliki prospek yang menggiurkan dengan harapan-harapan perolehan keuntungan yang terus bertambah dari waktu ke waktu.
Ironisnya, kita yang menyebut diri sebagai anak-anak Kerajaan karena Kristus telah tersingkirkan dari arena bisnis seperti ini. Kita hanya bisa melihat diri kita dan “warung kecil sekitar dada” (biasanya dimiliki oleh para pedagang kaki lima) sambil tertunduk malu tanda tak berdaya menghadapi persaingan bisnis modern yang sarat strategi, visi dan misi ini. Pada hakekatnya kita telah mengecilkan status dan kemampuan atau potensi yang ada pada setiap kita dan demikian kita telah menyia-nyiakan berkat Bapa sekaligus mempermalukan Dia dihadapan para lawan-Nya.
Mungkin Anda berkata, saya tidak bisa berinvestasi karena modal awal terlalu kecil dan berbagai alasan klasik untuk menghindarinya, tapi sebenarnya Anda bisa secara kolektif melakukannya. Anda haruslah menyadari bahwa Anda terhisap dalam anggota tubuh Kristus yang sementara bergerak menuju lahan bisnis Kerajaan yang sangat menjanjikan pertambahan nilai atau labanya. Kristus berkata, “Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai”. Ini merupakan prospek bisnis yang pasti menguntungkan Kerajaan.
Yesus Kristus adalah seorang Investor Kerajaan yang tiada bandingannya. Ia menginvestasikan kekayaan, kemuliaan dan bahkan hidupNya untuk meraih laba maksimum demi kepentingan Kerajaan.
👉 “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
👉 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
👉 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!” – Filipi 2:5-12 –
👉 “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.” – 2 Korintus 8:9 –
Seorang pemodal bila ingin berinvestasi dalam bidang perdagangan misalnya, haruslah memiliki keberanian untuk membeli barang-barang guna kepentingan usahanya. Seperti gedung serta segala isinya (barang-barang dagangan). Dalam kurun waktu tertentu, pemilik modal mengharapkan keuntungan dari apa yang telah diinvestasikannya. Alkitab mencatat bagi kita dengan jelas bahwa “kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu”.
Kristus telah melakukan pembelian secara tunai dengan menggunakan alat pembayaran darahNya sendiri untuk memperoleh kita sebagai modal Kerajaan. Ia telah menginvestasikan hidupNya untuk memperoleh hidup kita seutuhnya. Keuntungan yang diharapkan dari sistem investasi ini adalah kita harus memuliakan Allah, Bapa di sorga dengan tubuh kita atau seluruh kehidupan kita dan memperlebar KerajaanNya.
Saya tidak bisa sendiri, Anda pun tidaklah sendiri. Kita tidak bisa melakukannya sendiri-sendiri. Ini lebih dari sekedar mega proyek. Kita perlu tim berinvestasi karena modal yang diperlukan tanpa batas.
Mungkin Anda yang sedang membaca buku ini adalah seorang investor dunia bisnis sekuler dan juga adalah anggota jemaat dari suatu gereja lokal. Maukah Anda melirik dunia bisnis rohani yang menjanjikan keuntungan kehidupan dalam kekekalan? Kristus sedang mencari para investor rohani yang berani mengambil keputusan untuk melibatkan diri dalam bisnis kekekalan ini. Inilah ajakan dan sekaligus tantangan berbisnis Yesus :
👉 "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” – Matius 6:19-21 –
Paulus, sang rasul menambahkan :
👉 Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.
👉 Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi
👉 dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya. – I Timotius 6:17-19 –
Selanjutnya, penulis kitab Yakobus dengan tegas memberi peringatan karena kasihnya,
👉 “Hai kamu orang kaya, pergilah kamu menangis dan meraung sebab segala siksa yang akan datang ke atasmu.
👉 Maka kekayaanmu sudah binasa, dan pakaianmu sudah dimakan ngengat.
👉 Emas perakmu sudah berkarat dan karatnya akan naik saksi atasmu, dan memakan dagingmu sebagaimana api. Kamu sudah menghimpunkan harta pada akhir zaman.” – Yakobus 5:1-3 –
Setiap kegiatan investasi pasti memperhitungkan keuntungan akhir. Bila terjadi laba maka pasti menambah kekayaan atau harta dari pemilik modal atau investornya. Dalam banyak hal, dengan bertambahnya kekayaan membuat pemiliknya menjadi lupa diri bahkan tidak sedikit orang-orang kaya yang melupakan TUHAN dan selalu menghindar atau merasa menyesal jika sebagian hartanya dipakai untuk menopang pelayanan pekerjaan TUHAN. Ini adalah ancaman terbesar bagi keselamatan jiwanya.
Rasul Paulus benar dalam menanggapi fenomena pengejaran kekayaan duniawi yang sangat melelahkan manusia :
👉 Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.
👉 Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. – I Timotius 6:9-10 –
Dan jauh sebelum Saulus si “pembantai manusia” bertobat dan menjadi rasul Kristus, seorang konglomerat yang hingga era paling modern ini belum ditemukan saingannya baik dalam harta kekayaan maupun dalam hikmatnya - raja Salomo - telah memberi tanggapan bijaknya,
👉 “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Ini pun sia-sia. Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya. Dan apakah keuntungan pemiliknya selain dari pada melihatnya?” – Pengkhotbah 5:9-10 –
Kemudian, dari hasil pengamatan terhadap kehidupan orang-orang kaya pada masanya, raja bijak ini berkata,
👉 “Ada kemalangan yang menyedihkan kulihat di bawah matahari: kekayaan yang disimpan oleh pemiliknya menjadi kecelakaannya sendiri.
👉 Dan kekayaan itu binasa oleh kemalangan, sehingga tak ada suatu pun padanya untuk anaknya. Sebagaimana ia keluar dari kandungan ibunya, demikian juga ia akan pergi, telanjang seperti ketika ia datang, dan tak diperolehnya dari jerih payahnya suatu pun yang dapat dibawa dalam tangannya. Ini pun kemalangan yang menyedihkan. Sebagaimana ia datang, demikian pun ia akan pergi. Dan apakah keuntungan orang tadi yang telah berlelah-lelah menjaring angin? Malah sepanjang umurnya ia berada dalam kegelapan dan kesedihan, mengalami banyak kesusahan, penderitaan dan kekesalan.” – Pengkhotbah 5:12-16 –
Penanaman modal (investasi) dunia bisnis sekuler berisiko rugi baik materil maupun imateril; tapi bila Anda, seorang investor, melibatkan diri dalam bisnis Kerajaan tidak akan pernah rugi. Coba pikirkan apa yang pernah dikatakan Yesus :
👉 “Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya." – Matius 10:42 –
Jika kita gunakan daya nalar maka akan terbentuk suatu pemahaman yang dapat diterima akal sehat. Sedangkan “secangkir air sejuk” dapat memberi keuntungan, apalagi jika sejumlah besar uang dan harta atau kekayaan kita diinvestasikan dalam bisnis Kerajaan Kristus? Ini bukanlah slogan hampa sekedar basa-basi seperti yang biasa disodorkan dunia bisnis sekuler. Ini adalah jaminan dari Yesus Kristus. Dia tidak mungkin berdusta atau ingkar janji.
Satu hal yang pasti “bersama Kristus kita melakukan perkara-perkara yang besar” untuk kepentingan Kerajaan.
👉 "Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!”
Kini, pilihan itu ada di tangan Anda. Melibatkan seluruh kemampuan pribadi dan modal yang Anda miliki dalam lahan bisnis paling menguntungkan yang ditawarkan Kristus atau harus kembali ke rumah Bapa tanpa laba dan tertunduk malu ????
Saya mengajak Anda, “bergabunglah dalam sistem investasi Kerajaan Kristus maka Anda - dan kita sekalian - akan segera melihat lahan-lahan bisnis subur yang memiliki nilai pertambahan menakjubkan. Jadilah salah satu pemegang saham dari total nilai bisnis investasi yang ditawarkan. Prospek perolehan keuntungannya sangatlah besar karena segala jerih payahmu tidaklah sia-sia.
Detik-detik sebelum Anda mengakhiri bacaan dan menutup bukunya, ijinkanlah saya menaruh kalimat-kalimat ini dalam benak Anda untuk direnungkan :
“Semua harta atau kekayaan jasmani yang kita tanam dalam dunia bisnis sekuler akan berbalik menanam kita ke lubang kubur dan semuanya berakhir di sana; kecuali kita mau sedikit menginvestasikannya dalam bisnis kekekalan Kristus dimana kita tidak akan pernah kehilangan apapun.”
Saatnya saya harus undur diri dari ruang baca Anda dengan sebuah pesan kebenaran, “berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”
BAPA YESUS... TUHAN Allah yang kita imani pasti menyertai dan memberkati perjalanan hidup kita semuanya sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya supaya terpujilah kasih karunia-Nya atas kita. Amin.
🔹 Browning,W.R.F., Kamus Alkitab, PT. BPK. Gunung Mulia, Jakarta, 2007.
🔹 Bulle, Florence, Berbagai Tipuan Dalam Pelayanan, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, Jawa Timur, 1997.
🔹 Burkett, Larry, Bagaimana Anda Cerdas Dalam Mengelola Uang, Penerbit Interaksara, Batam Centre, 2005.
🔹 Carson, D. A., Exegetical Fallacies, Penerbit Momentum, Surabaya, 2009.
🔹 Charlie, Lie, Smart Investment : Langkah Awal Cerdik Bermain Saham,TriExs Media Inc, Bandung, 2008.
🔹 Cooke, Graham, Mengembangkan Karunia Bernubuat, Nafiri Gabrie, Jakarta, 1999.
🔹 Cornish, Rick, DR., 5 Menit Teologi, Pionir Jaya, Bandung, 2007.
🔹 CSA, Dianne Bergant, Robert J. Karris, OFM, Tafsir Alkitab Perjanjiann Lama, Lembaga Biblika Indonesia, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 2002.
🔹 Dake, Finis Jennings. Dake’s Annotated Reference Bible, Dake Bible Sales, Inc. Georgia, USA, 1998.
🔹 David, DR. Jonathan, Jemaat Yang Mengalami Terobosan Strategi-strategi Apostolik, Nafiri Gabriel, Jakarta, 2000.
🔹 Douglas J.D., Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid I, A-L, Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta, 2004.
🔹 Douglas J.D., Ensiklopedi Alkitab Masa Kini,Jilid I, M-Z, Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta, 2004.
🔹 Enns, Paul, The Moody Handbook of Theology, Jilid 1, Literatur SAAT, Malang, 2003.
🔹 Evans, Tony, The Perfect Christian, Gospel Press, Batam Centre, 2003.
🔹 Evans, Tony, Free at Last (Bebas Dari Belenggu Dosa), Gospel Press, Batam Centre, 2003.
🔹 Feinberg, John S., Masih Relevankah Perjanjian Lama di Era Perjanjian Baru, Penerbit Gandum Mas, Malang, 2003.
🔹 Hamon, DR. Bill, Apostolic & Prophetic Reformation 1 & 2, Metanoia Publishing, Jakarta, 2002.
🔹 Harris, Ralph W., Lambang-lambang di Perjanjian Lama, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, Jawa Timur, 2001.
🔹 Hayes, John H., Carl R. Holladay, Pedoman Tafsir Alkitab, PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2011.
🔹 Indonesia, Lembaga Alkitab, Segenap Alkitab Diilhamkan dan Bermanfaat, Perkumpulan Siswa-Siswi Alkitab, Jakarta, 1975.
🔹 Jr., Rev. John Trigilio, Ph.D.,Th.D. dan Rev. Kenneth Brighenti, Ph.D., Memahami Segalanya Tentang Alkitab, Karisma Publishing Group, Batam Centre, 2007.
🔹 Life Application Study Bible, New Living Translation, Tyndale House Publishers, Inc, Illinois, USA, 1996.
🔹 Lutzer, Erwin W., Siapakah Anda Sehingga Anda Menghakimi?, Gospel Press, Batam Centre, 2006.
🔹 Metzger, Will, Tell The Truth (Beritakan Kebenaran), Penerbit Momentum, Surabaya, 2005.
🔹 Mounce, William D., Mounce’s Complete Expository Dictionary of Old and New Testament Words, Zondervan, Grand Rapids, Michigan, 2006.
🔹 Nash, Ronald H., Iman dan Akalbudi, Penerbit Momentum, Surabaya, 2001.
🔹 Preifer, Charles F., Everett F. Harrison, The Wycliffe Bible Commentary, Penerbit Gandum Mas, Malang, Jawa Timur, 2004.
🔹 Prince, Derek, Rediscovering God’s Church, Derek Prince Ministries Indonesia, 2009
🔹 Ridenour, Fritz, Dapatkah Alkitab Dipercaya?, PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2001.
🔹Salim, Drs. Peter, M.A., The Contemporary English-Indonesian Dictionary, Modern English Press, Jakarta, 1996.
🔹Salim, Drs. Peter, M.A., Yenny Salim, B.Sc., Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, Modern English Press, Jakarta, 1991.
🔹 Shelton, Danny, Shelley Quinn, Sepuluh Hukum Allah Disingkirkan Dua Kali, Talenta Mulia Aksara, Jakarta, 2007.
🔹 Sproul, R.C., Kebenaran-kebenaran Dasar Iman Kristen, Departemen Literatur SAAT, Malang, 2002.
🔹 Stott, John, Kristus Yang Tiada Taranya, Penerbit Momentum, Surabaya, 2007.
🔹 Teo, Steven, Persepuluhan Kunci Keberhasilan Finansial, Penerbit ANDI, Yogyakarta, 2006.
🔹 Thouw, James Andersen, Kumpulan Artikel Persepuluhan, Facebook, 2011-2013.
🔹 Vine, W.E., Merrill F. Unger, William White,Jr. VINE’S, Complete Expository Dictionary of Old and New Testament Words, Thomas Nelson Publishers, Nashville Camden, New York, 1985.
🔹 Yancey, Philip, Bukan Yesus Yang Saya Kenal,Professional Books, Jakarta, 1997.
🔹 Zuck, Roy B., A Biblical Theology of the Old Testament, Penerbit Gandum Mas, Malang, 2005.
🔹 Zodhiates, Spiros, Th.D., The Complete Word Study Dictionary, AMG Publisher, USA, 1992.
🔹 Zodhiates, Spiros, Th.D., The Complete Word Study Old Testament, AMG Publisher, USA, 1994.
0 comments:
Posting Komentar