D. BELAJAR MENERIMA
Kita sering mendengar teriakan lantang para hamba Tuhan dari mimbar gereja atau pada kebaktian kebangunan rohani di lapangan dan ruangan tertutup, “bila saudara, jemaat Tuhan ingin diberkati, belajarlah memberi karena itu adalah kunci berkat”. Dan dengan mengutip firman Tuhan, “Yesus Kristus, Tuhan kita mengatakan bahwa terlebih berkat memberi daripada menerima” (Alkitab bahasa Indonesia Terjemahan Lama), pendeta tersebut menutup khotbah berkatnya. Hal ini memang baik dan berguna untuk mendidik jemaat, juga pengkhotbah itu sendiri – karena firman Allah itu hidup dan berkuasa, dan lebih tajam daripada pedang bermata dua, dan makan dalam sehingga menceraikan nyawa dan roh, serta sendi dan sumsum, dan tahu menyelidik segala ingatan dan niat hati (Ibrani 4:12). Tetapi jika kita ingin lebih lengkap memahaminya maka seharusnya kita juga belajar untuk menerima setiap pemberian tersebut.
Kalau ada yang memberi pasti ada pula yang menerima – pemberi dan penerima. Tidak akan ada artinya sebuah pemberian kalau tidak ada yang bersedia menerimanya walau pemberian itu mahal dan sangat artistik atau apa pun istilahnya. Banyak kali suatu pemberian kurang dihargai atau diterima baik karena pihak penerima telah memilikinya atau menurut penilaian penerima kurang bermanfaat atau menguntungkan. Jadilah pemberian yang mubazir, tidak disyukuri.
Dalam kehidupan berjemaat atau lebih tepatnya hubungan antara pelayan Tuhan – biasanya diposisikan sebagai penerima – dan warga jemaat yang lebih aktif memberi, haruslah ada keseimbangan.
Maksudnya begini. Seringkali sebagai hamba Tuhan kita kurang respek bila melihat jumlah pemberian tersebut tidak seperti yang kita butuhkan – lebih sering, tidak seperti yang kita inginkan – padahal pemberian tersebut berdasarkan kasih Kristus dari si pemberi – biasanya pemberian itu datang dari pemberi yang rada kere alias miskin. Dan agak ironis jika pemberian itu berasal dari mereka yang nampaknya “telah diberkati Tuhan” – namun agak perhitungan untuk menghemat biaya – pun kurang disyukuri karena menurut perkiraan – kurang etis kalau disebut perhitungan dari si penerima terhadap berkat-berkat yang diterima oleh si pemberi – tidak seharusnya “hanya demikian besarnya”.
Nampak tidak adil jika jemaat dididik dan dimotivasi untuk belajar memberi sedangkan motivatornya (pengkhotbah, pelayan dan pemimpin jemaat) tidak belajar menerima pemberian-pemberian tersebut. Kedua-duanya – pemberi dan penerima – membutuhkan ketulusan dan keikhlasan hati sehingga menimbulkan rasa syukur dari sanubari kepada Tuhan Yesus Kristus, Imam Besar sepanjang sejarah dan Kepala Gereja Agung yang tidak lagi menerima persembahan persepuluhan umat tapi yang justru memberkati dengan segala kelimpahan dan memerintahkan kita semua untuk terlibat aktif dalam pelayanan kasih tanpa batas yang berasal dari kemurnian hati nurani.
Tuhan Yesus ketika mengutus murid-muridNYa untuk menginjil dari rumah ke rumah telah dengan sungguh-sungguh berpesan,
👉 “Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat, dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, roti pun jangan, bekal pun jangan, uang dalam ikat pinggang pun jangan, boleh memakai alas kaki, tetapi jangan memakai dua baju.
👉 Kata-Nya selanjutnya kepada mereka: "Kalau di suatu tempat kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu.” – Markus 6:7-10 –
👉 “Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya.
👉 Kata-Nya kepada mereka: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.
👉 Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.
👉 Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan.
👉 Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini.
👉 Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu.
👉 Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindah-pindah rumah.
👉 Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu.” – Lukas 10:1-8 –
Memang tidaklah semudah membalikkan telapak tangan bagi kedua belah pihak – pemberi dan penerima – jika akhirnya mengambil keputusan nurani untuk kembali fokus pada praktek kehidupan jemaat mula-mula guna total mobalisasi misi pelayanan penginjilan era globalisasi saat ini.
Suatu tradisi yang sudah dilakonkan beberapa dasawarsa hingga kini tidaklah mungkin dikembalikan ke “habitat” asli tanpa adanya perlawanan, pergolakan, gesekan atau bahkan tindakan-tindakan anarkis yang lebih buruk yang akan ditimbulkan sebagai suatu bentuk tanggapan negatif terhadap terancamnya sistem kemapanan selama ini.
Yesus dan para rasul-Nya telah merasakan pahit getirnya saat bersikukuh merombak tradisi Yahudi dan mengalihkan peran sentral hukum Taurat dalam kehidupan sosial kemasyarakatan pada waktu itu kepada pemahaman kasih karunia – yang sebenarnya jauh lebih unggul dari Taurat – yang bersumber dari diri Yesus sendiri.
Usul teologis semacam ini bisa menjadi tendensi dan pretensi buruk bagi mereka yang selama ini telah mapan menerima persembahan persepuluhan dari jemaat-jemaat yang juga telah mapan dalam pekerjaan, profesi, bisnis, jabatan – apa lagi yang setia “menyetor”.
Ada beberapa kata terlontar dari sebagian mereka yang tidak setuju, “sedangkan persepuluhan saja masih banyak jemaat yang belum setia memberi padahal itu merupakan keharusan jemaat apa lagi jika diajarkan sistem pemberian berdasarkan kerelaan jemaat? Bagaimana dan darimana gembala menghidupi diri dan keluarganya?”
Pemikiran-pemikiran sempit seperti ini seharusnya tidak dikeluarkan dalam bentuk kalimat penolakan jika Anda bersedia membaca tuntas tujuan penulisan dan pembahasan buku ini yang secara keseluruhan bermuara pada kemuliaan Kristus karena adanya keseimbangan kehidupan jasmaniah diantara pelayan-pelayan lima jawatan, para diaken bahkan terdapat pula keseimbangan jasmani dan rohani dalam jemaat gereja lokal yang pada akhirnya juga terdapat keseimbangan pada tubuh Kristus secara universal.
berrsambung ... PARTISI 3 👉E. TABUR - TUAI✍
0 comments:
Posting Komentar