Halaman

Senin, 23 Maret 2026

๐Ÿ’ฐPERSEPULUHAN ๐Ÿ‘‰ ALKITABIAH TAPI TIDAK INJILI [PARTISI 3๐Ÿ‘‰E]๐Ÿ“•

 

E. TABUR - TUAI

Bila Anda bertanya pada seorang Kristen, “mengapa Allah tidak membuat setiap anak-Nya hidup dalam segala kelimpahan materil seperti yang biasa dikhotbahkan oleh penganut paham teologi kemakmuran (prosperity theology)?”

Anda mungkin akan menerima salah satu di antara dua jawaban. Pertama, “karena tidak setiap orang dapat dipercayai-Nya mengelolah uang atau kekayaan materil lainnya untuk kepentingan pekabaran Injil Kerajaan Sorga di bumi ini” dan yang kedua, “iman masing-masing orang Kristen berbeda”. Bisa jadi, keduanya atau salah satu jawabannya benar.

Perlu diperhatikan! Para pengajar paham teologi kemakmuran telah melandaskan pengajaran mereka, antara lain dengan menggunakan ayat-ayat Yohanes 10:10 dan 2 Korintus 8:9 (kedua ayat ini banyak dikutip dan dikhotbahkan).

๐Ÿ‘‰ “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” – Yohanes 10:10 –

๐Ÿ‘‰ “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.” – 2 Korintus 8:9 –

Referensi ayat-ayat yang terkutip di atas telah berulangkalii dikhotbahkan kepada jemaat dengan menggunakan metoda penafsiran “injili-humanis” yang bermuara pada hal-hal konsumtif-hedonis. Metoda penggalian dan pemaparan eksegesis yang kaya makna rohani telah dikesampingkan, digantikan dengan pemaparan teologi eisigesis libaralis berbau sekulerisme modern yang telah “menggampangkan” arti kehidupan seorang Kristen sejati yang harus “menyangkal diri dan pikul salib tiap hari, ikut menderita sebagai prajurit Yesus yang sementara berjuang merebut orang-orang lain dari jurang kebinasaan, setia hingga akhir walau dalam aniaya sebab dunia ini tidak layak bagi anak-anak-Nya.”

Bila paham ini dibiarkan menjalar apalagi sampai menjadi bagian dari dogma gereja maka akan menjadi bumerang dan racun bagi pertumbuhan iman dan penghalang besar bagi misi penginjilan gereja secara universal karena “ternyata” terdapat benturan atau pertentangan menyolok kalau dibandingkan dengan ayat-ayat firman Allah lainnya, seperti khotbah Yesus di bukit dan pengajaran-pengajaran Yesus lainnya dalam Perjanjian Baru.

Rasul Paulus pernah menyampaikan keprihatinan mendalam kepada jemaat Tuhan di Korintus berhubungan dengan berbagai bentuk pengajaran palsu yang berhasil menghipnotis perhatian mereka.

๐Ÿ‘‰ Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.

๐Ÿ‘‰ Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima. – 2 Korintus 11:3-4 –

Itulah sebabnya gereja harus tetap berpegang dan kokoh berpijak pada dasar kebenaran pengajaran Injil Yesus Kristus.

Mari lanjutkan bahasan kita .......>>>

Yesus memberi kunci jawaban, “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." Kemudian Ia menambahkan, “tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Dan Paulus menimpali, “karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”

Seringkali dalam pemahaman hidup berkelimpahan, kita telah secara sepihak dan sempit menafsirkannya, yakni dengan berusaha keras mengejar keuntungan materil atau kekayaan duniawi, seperti uang, harta, pangkat, jabatan, kedudukan, kekuasaan, kehormatan manusia, kesenangan ragawi atau kenikmatan duniawi.

Sebenarnya, “mempunyai hidup dalam segala kelimpahan” yang dimaksud Yesus adalah hidup yang lebih berkualitas dari sekedar suatu bentuk kehidupan biologis jasmaniah. Dan dalam penerapannya hanya Yesus Kristus yang sanggup membuat kita hidup lebih dari “hidup”.

Suatu bentuk kehidupan berkelimpahan dalam kekayaan kasih karunia bukanlah hanya terfokus pada hal materil lahiriah tetapi juga dalam hal meneladani penderitaan Kristus. Inilah kehidupan sejati yang melampaui kematian ragawi dan teror alam maut.

๐Ÿ‘‰ Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. – 1 Petrus 2:21 –

๐Ÿ‘‰ Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" – 1 Korintus 15:55 –

๐Ÿ‘‰ Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.

๐Ÿ‘‰ Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.

๐Ÿ‘‰ Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal. – 2 Korintus 4:16-18 –

Mungkin secara kasat mata kita dapat melihat dan menarik kesimpulan bahwa seseorang disebut hidup berkelimpahan jika ia bergelimang kekayaan materil kemudian mulai membagi-bagikannya pada sesama. Namun ternyata ukuran tersebut keliru karena kemampuan memberi seorang Kristen sejati tidaklah diukur dari timbunan harta kekayaan pribadi dalam gudang penyimpanan tetapi ditakar dari kelimpahan kemurahan hati yang mengasihi yang tak nampak oleh indera penglihatan jasmaniah.

๐Ÿ‘‰Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar.

๐Ÿ‘‰ Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit.

๐Ÿ‘‰ Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.

๐Ÿ‘‰ Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya." – Markus 12:41-44 –

Uang dan atau bentuk kekayaan materil lainnya adalah hasil dari jerih payah kita secara halal. Bila kita memberikannya berarti kita memberi sebagian dari diri kita – waktu, tenaga juga perasaan kita. Bila pemberian itu tepat sasaran – ditujukan pada orang miskin atau mereka yang benar-benar membutuhkannya – maka itu adalah suatu investasi dari diri kita sendiri dalam hidup pria dan wanita, anak-anak dan orang dewasa atau para manula yang telah menerimanya. Uang atau dana yang diberikan untuk mendukung kegiatan misi pelayanan gereja dan sosial kemasyarakatan juga akan mengembangkan diri kita jauh di luar ruang lingkup kita sendiri.

Dengan memberi kita akan menjadi pemegang saham kerajaan Allah dimana kita memiliki jangkauan yang tak terbatas. Memberi dengan bertanggung-jawab akan memperluas jangkauan kita pada mereka yang sebelumnya tidak terjangkau.

Memberi berarti memperkaya pemahaman kita akan tubuh Kristus dan diri sendiri sebagai bagian dari tubuh itu. Membagikan uang atau pun dana dalam berbagai bentuk kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan berarti membagi diri kita sendiri. Meskipun bukan karena memberi kita menjadi bagian dari tubuh Kristus, pemberian kita akan memampukan tubuh itu untuk berfungsi semaksimal mungkin. Sesungguhnya Tubuh Kristus mempunyai potensi dan kemungkinan yang tak terbatas!

Bagaimana dengan “takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncangkan dan yang tumpah keluar”, yang kata Yesus akan kita terima menurut apa yang kita berikan? Apakah itu uang dan harta benda yang kita hubungkan dengan kemakmuran hidup? Sama sekali bukan itu yang dimaksudkan-Nya.

Yesus berbicara tentang mengasihi musuh kita, mengampuni, menunjukkan belas kasihan. “Maka upahmu akan besar dan akan menjadi anak-anak Allah yang Mahatinggi …. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati”, kata Yesus.

Bagi saya ada dua hal penting yang dapat diambil dari bahasa Yesus tersebut. Pertama, Anda dan saya atau siapa pun membutuhkan belas kasihan “yang dipadatkan, yang digoncangkan, dan yang tumpah keluar.” Jadi sebaiknya kita juga memberikan belas kasihan kita dengan murah hati. Yang kedua, bila dalam kemurahan-Nya Allah tidak menahan banyak hal yang kita mohon dalam doa, pasti sudah dulu-dulu kita menghancurkan diri kita sendiri.

Bila kita tergerak oleh belas kasihan mengambil keputusan untuk melakukan pelayanan lewat persembahan-persembahan kasih maka Allah yang kaya dengan rahmat sanggup melimpahkan berkat-berkatNya dalam kehidupan kita tiga puluh kali lipat, enam puluh kali lipat dan seratus kali lipat. Dia Allah yang tidak pernah menahan kebaikan-Nya terhadap kita.

๐Ÿ‘‰ “Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.” – Amsal 19:17 –

๐Ÿ‘‰ “Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.” – Amsal 3:27 –

๐Ÿ‘‰ “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” – Galatia 6:2 –

Kalau kita rajin membaca Alkitab, kita dapati begitu banyak janji-janji TUHAN bagi kita mengenai hari esok yang penuh harapan dan masa depan yang indah. Dia TUHAN yang setia menetapi janji-janji-Nya terhadap kita sebab,

๐Ÿ‘‰ “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?” – Bilangan 23:19 –

๐Ÿ‘‰ “Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia.” – I Korintus 1:9 –

Sudah seharusnya gereja berpegang teguh pada setiap janji Kristus yang tertulis dalam Perjanjian Baru karena, “Yesus adalah jaminan dari suatu perjanjian yang lebih kuat”. Ya, lebih kuat dari semua jaminan dan janji-janji yang pernah dibuat dan disampaikan manusia biasa seperti Anda dan saya – karena kita bisa dan biasa ingkar janji.

Bila Tuhan menyuruh kita menabur lewat persembahan-persembahan kasih maka Ia sudah menyediakan upah sebagai gantinya baik berbentuk materil atau imateril sehingga Ia menyuruh kita untuk tidak perlu kuatir tentang hal-hal lahiriah karena hidup itu lebih penting dari semuanya. Lihatlah betapa kaya janji-janji-Nya bagi kita :

๐Ÿ‘‰ “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” – I Korintus 15:58 –

Kekayaan janji Kristus bagi gereja sebenarnya sudah lebih dari sekedar cukup sehingga kita tidak perlu lagi – maaf, saya tidak bermaksud mendiskreditkan Perjanjian Lama – menerapkan resep aji mumpung, ikut nimbrung (antrian) menikmati berkat bersama bangsa Israel. Berkat itu memang secara khusus disampaikan pada umat pilihan Allah seperti tercatat dalam kitab Maleakhi. Seharusnya kita tidak perlu “iri hati” terhadap janji berkat itu, karena di dalam Yesus pun terdapat janji yang secara kualitas dapat dikatakan lebih.

Dengan tidak bermaksud mengecilkan arti apalagi menggeserkan pemahaman janji yang tercatat dalam Maleakhi 3:10 tapi marilah kita semua menyadarinya dan dengan demikian jujur mengakui bahwa kebenaran firman Allah hanyalah diperintahkan pada dan diberlakukan bagi umat Israel, bangsa pilihan secara jasmaniah :

๐Ÿ‘‰ “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.”

Nah …, jika itu untuk mereka, manakah janji untuk Anda dan saya yang secara rohani diperhitungkan sebagai anggota tubuh Kristus yang telah dipilih-Nya sendiri? Perhatikan baik-baik. Anda atau siapa pun yang oleh kasih karunia telah terhisap dalam penebusan darah Yesus punya janji yang luar biasa. Inilah janji itu …

๐Ÿ‘‰ Camkanlah ini : Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.

๐Ÿ‘‰ Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.

๐Ÿ‘‰ Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.

๐Ÿ‘‰ Seperti ada tertulis: "Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya."

๐Ÿ‘‰ Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu;

๐Ÿ‘‰ kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah. – II Korintus 9:6-11 –

Bagaimana janji-janji tersebut bekerja dan digenapi dalam gereja? Jawabannya, kita harus mengutamakan kewajiban-kewajiban sebagai wujud tanggungjawab yang digerakkan oleh kasih agape barulah kita mengklaim hak-hak kita atas janji tersebut. Ingatlah, seorang pekerja patut memperoleh upahnya. Ada yang seratus kali lipat, enam puluh kali lipat dan ada pula yang tiga puluh kali lipat. Semuanya tergantung pada kemampuan dan keikhlasan kita menabur atau bekerja.

๐Ÿ‘‰ Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.

๐Ÿ‘‰ Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.

๐Ÿ‘‰ Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. – Galatia 6:7-9 –

Saya menyebutnya “janji pamungkas” yang disampaikan Kristus kepada gereja untuk mengakhiri topik ini sebagaimana kutipan referensi dalam Wahyu 22:12 di bawah :

๐Ÿ‘‰ "Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya.”

Itulah sebabnya marilah kita, baik pelayan-pelayan lima jawatan, para diaken dan juga warga jemaat, janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik karena kita akan menuai bila kita tidak menjadi lemah. Bertolong-tolonganlah menanggung beban sesama terutama saudara-saudara seiman! Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu. Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Demikianlah kita memenuhi hukum Kristus.


berrsambung ... PARTISI 3 ๐Ÿ‘‰F. INVESTASI KERAJAAN

0 comments:

Posting Komentar