PARTISI 3
MENGUSULKAN
Semua yang akan Anda baca berikut ini merupakan usulan teologis dari perspektif biblika untuk pertumbuhan, perkembangan dan pendewasaan pelayanan gereja masa kini.
Seharusnya kita lebih bisa membuka diri terhadap penyingkapan rahasia-rahasia firman TUHAN saat ini dan bukannya mengambil sikap mempertahankan status quo yang primordialis. Orientasi pelayanan pekerjaan TUHAN yang mengglobal dan terus-menerus menerobos dan meruntuhkan tembok-tembok keangkuhan manusia seharusnya mendapat dukungan material atau dana lewat pelayanan kasih anak-anak Tuhan atau orang-orang percaya yang bernaung dalam organisasi gereja.
Beranjak dari analisa fakta lapangan dan beberapa referensi kepustakaan yang diangkat menjadi bahan pertimbangan tersebut di atas maka sebaiknya gereja – secara organisasi – dan juga para praktisi dapat secara proaktif melebarkan sayap pelayanan lewat penerapan pelayanan kasih berdasarkan kerelaan dan kemurahan hati orang-orang kudus (baca 2 Korintus 9:5,7,11-12) – yaitu mereka yang dipanggil dan dipilih secara khusus untuk menerima pelayanan jawatan – yang secara hirarkis lebih tinggi tingkatnya dari persembahan persepuluhan.
A. MENERAPKAN SISTEM “PENGUPAHAN” INJILI
Setiap pekerja patut mendapat upahnya. Ini adalah prinsip Alkitabiah. Ini juga adalah hak dari setiap orang yang telah melakukan kewajiban atau tugasnya sesuai kesepakatan dengan tuan atau majikannya. Upah adalah hasil atas akibat dari suatu perbuatan, entah itu bersifat materil maupun yang imateril.
Perhitungan upah telah dimulai pada masa Abraham, Bapa segala orang beriman, seperti yang tercatat dalam Kejadian 15:1, “Janganlah takut Abram. Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar”.
Kita tahu bahwa Abraham dipanggil Allah untuk menjadi suatu bangsa yang diberkati dan memberkati bangsa-bangsa lain. Panggilan istimewa ini tidak didasarkan pada perbuatan Abraham tetapi berdasarkan kerelaan keputusan kehendak bebas absolut Allah. Allah yang kaya dengan rahmat dan sumber segala berkat tidak hanya sekedar memanggil untuk mengangkat martabat atau harga diri Abraham, tetapi Ia juga menghargai tiap usaha Abraham dalam mematuhi perintah-perintahNya. Loyalitas, dedikasi dan kinerja Abram dicatat dan diberi nilai atau dihargai dalam bentuk upah yang pantas – duniawi dan sorgawi. Allah tidak mau berlaku curang dengan mengatas namakan panggilan kudusNya atas Abraham kemudian menyuruh Abraham melakukan segala perintahNya tanpa imbalan. Hal ini tidak mungkin terjadi pada Allah yang Maha adil.
Allah yang menghargai dan memberi upah atas pekerjaan dan kesetiaan pelayanan Abraham hingga para Lewi dan Imam yang bekerja dengan total pengabdian diri dalam Tabernakel adalah juga Allah yang sama yang telah memilih, menetapkan, melantik dan memberi tugas secara khusus kepada mereka yang mengemban pelayanan Lima Jawatan melalui Yesus Kristus.
Alkitab, Perjanjian Baru, memberi indikasi kuat tentang “upah lahiriah” pelayanan para hamba Kristus seperti yang tercatat dalam I Korintus 9:13-14 :
“Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bahagian mereka dari mezbah itu?
Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.”
Referensi ayat firman Allah tersebut di atas memberitahukan pada kita bahwa Tuhan telah “memplotkan” atau menetapkan upah kerja para hamba-Nya tanpa menentukan persentasi atau pun nominalnya.
Terbetiklah sebuah pertanyaan logis pada benak Anda, “mengapa hanya ada tiga bagian, klasifikasi upah yang dirancangkan dan disodorkan sedangkan yang terlibat dalam memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan dan pembangunan tubuh Kristus ada lima jawatan – Rasul, Nabi, Penginjil, Gembala, Guru – yang kesemuanya pasti mengharapkan upah? Pengelompokkan ini kurang tepat dan bisa saja kurang adil.” Marilah kita telusuri penjelasannya.
A.1. PELAYANAN DI TEMPAT KUDUS
Pada kalimat pertama dari I Korintus 9:13-14 tertulis, “mereka yang melayani tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus”. Siapakah “mereka” itu? Marilah sejenak kita melihat sedikit referensi sejarah pelayanan dalam Tabernakel oleh para Imam dan kaum Lewi.
Alkitab Perjanjian Lama mengatakan bahwa TUHAN mengangkat Imam dari kaum Lewi untuk pelayanan di tempat kudus – Keluaran 25:8-9, 28:1, 29, 29:29-30.
👉“Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka. Menurut segala apa yang Kutunjukkan kepadamu sebagai contoh Kemah Suci dan sebagai contoh segala perabotannya, demikianlah harus kamu membuatnya.
👉Engkau harus menyuruh abangmu Harun bersama-sama dengan anak-anaknya datang kepadamu, dari tengah-tengah orang Israel, untuk memegang jabatan imam bagi-Ku -- Harun dan anak-anak Harun, yakni Nadab, Abihu, Eleazar dan Itamar.
👉Demikianlah di atas jantungnya harus dibawa Harun nama para anak Israel pada tutup dada pernyataan keputusan itu, apabila ia masuk ke dalam tempat kudus, supaya menjadi tanda peringatan yang tetap di hadapan TUHAN. Pakaian kudus kepunyaan Harun itu haruslah turun kepada anak-anaknya yang kemudian, supaya mereka memakainya apabila mereka diurapi dan ditahbiskan.
👉Tujuh hari lamanya haruslah pakaian itu dikenakan oleh imam penggantinya dari antara anak-anaknya, yang akan masuk ke dalam Kemah Pertemuan untuk menyelenggarakan kebaktian di tempat kudus.”
Para Imam bertanggungjawab penuh atas terselenggaranya kebaktian umat Israel dalam Kemah Pertemuan yang dibantu oleh para Lewi. Mereka juga bertindak sebagai juru-damai antara umat pilihan (Israel) dengan Allah, pemimpin, perawat yang sakit, pemelihara, penuntun pertumbuhan rohani, bahkan bertanggungjawab atas kekudusan umat di hadapan Allah. Pada prinsipnya, mereka – para Imam dan kaum Lewi – melaksanakan tugas “penggembalaan dan juga pengajaran/pendidikan” seperti yang tercatat berikut :
👉Ia menetapkan tugas para imam, dan mendorong mereka menunaikan tugas jabatannya dalam rumah TUHAN.
👉Berkatalah ia kepada orang-orang Lewi yang adalah pengajar seluruh Israel dan orang-orang kudus TUHAN: "Tempatkanlah tabut kudus itu di dalam rumah yang telah didirikan Salomo bin Daud, raja Israel. Tidak usah lagi kamu mengusungnya. Sekarang layanilah TUHAN, Allahmu, dan Israel, umat-Nya! – 2 Tawarikh 35:2-3 –
👉Imam harus mempersembahkan korban penghapus dosa dan dengan demikian mengadakan pendamaian bagi orang yang akan ditahirkan dari kenajisannya, dan sesudah itu ia harus menyembelih korban bakaran.
👉Dan pendamaian harus diadakan oleh imam yang telah diurapi dan telah ditahbiskan untuk memegang jabatan imam menggantikan ayahnya; ia harus mengenakan pakaian lenan, yakni pakaian kudus.
👉Ia harus mengadakan pendamaian bagi tempat maha kudus, bagi Kemah Pertemuan dan bagi mezbah, juga bagi para imam dan bagi seluruh bangsa itu, yakni jemaah itu. – Imamat 14:19; 16:32-33 –
👉Imam-imam tidak boleh minum anggur, kalau mereka hendak masuk dalam pelataran dalam.
👉Mereka harus mengajar umat-Ku tentang perbedaan antara yang kudus dengan yang tidak kudus dan memberitahukan kepada mereka perbedaan antara yang najis dengan yang tahir. – Yehezkiel 44:21,23 –
👉Sebab bibir seorang imam memelihara pengetahuan dan orang mencari pengajaran dari mulutnya, sebab dialah utusan TUHAN semesta alam. – Maleakhi 2:7 –
Sehingga dapatlah disimpulkan berdasarkan “benang merah” yang nampak pada Perjanjian Lama untuk “mereka yang melayani tempat kudus” adalah para Gembala dan Guru/Pengajar jemaat.
Pelayanan Imam dan Lewi dalam Tabernakel dapat disamakan dengan jawatan Gembala dan Guru pada masa gereja bila dilihat dari fungsi pemeliharaan/ penggembalan dan pendidikan yang diembannya. Imam dan orang-orang Lewi harus selalu berada di tengah-tengah umat dalam berbagai keadaan dan kondisi, baik waktu senang maupun ketika umat diperhadapkan dengan berbagai permasalahan atau penderitaan. Imam harus dapat membimbing umat menuju kedewasaan rohani dan memberi mereka pengetahuan secara teologis, juga memberi teladan dalam praktek kehidupan sehari-hari. Berikut ini beberapa referensi ayat-ayat firman Tuhan yang melatarkan-belakangi kesimpulan di atas :
👉“TUHAN berfirman kepada Harun :
…haruslah kamu dapat mengajarkan kepada orang Israel segala ketetapan yang telah difirmankan TUHAN kepada mereka dengan perantaraan Musa.” – Imamat 10:8,11 –
👉Salah seorang imam yang telah mereka angkut dari Samaria ke dalam pembuangan pergi dan diam di Betel. Ia mengajarkan kepada mereka bagaimana seharusnya berbakti kepada TUHAN. – 2 Raja-raja 17:28 –
👉Bersama-sama mereka turut juga beberapa orang Lewi, yakni Semaya, Netanya, Zebaja, Asael, Semiramot, Yonatan, Adonia, Tobia dan Tob-Adonia disertai imam-imam Elisama dan Yoram.
👉Mereka memberikan pelajaran di Yehuda dengan membawa kitab Taurat TUHAN. Mereka mengelilingi semua kota di Yehuda sambil mengajar rakyat”. – 2 Tawarikh 17:8-9 –
👉Dengan demikian jemaat Tuhan diberi tugas untuk memperhatikan kebutuhan atau keperluan para Gembala dan Guru/Pengajar Jemaat yang ada dalam tempat kudus seperti yang terkutip berikut ini :
👉Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah.
👉Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu. – Ibrani 13:16-17 –
👉Maka sekarang, selesaikan jugalah pelaksanaannya itu! Hendaklah pelaksanaannya sepadan dengan kerelaanmu, dan lakukanlah itu dengan apa yang ada padamu.
👉Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu.
👉Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan.
👉Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan. – 2 Korintus 8:11-14 –
berrsambung ... PARTISI 3 👉A.2. PELAYANAN MEZBAH✍
0 comments:
Posting Komentar