B. DISIPLIN HATI NURANI
Pertumbuhan dan perkembangan ataupun pergerakan jemaat mula-mula yang banyak diwarnai dengan aniaya dan penderitaan telah mengalami kemajuan yang pesat bahkan hingga saat ini menjadi mayoritas dari total penduduk bumi dan terbesar baik kuantitas pun kualitas secara keagamaan bila dibandingkan dengan berbagai-bagai bentuk agama dan aliran kepercayaan yang ada di jagad ini.
Alkitab telah mencatat dengan sangat baik sejarah pertumbuhan dan penyebaran gereja awal pada masa para Rasul dalam kitab Kisah Para Rasul.
Momentum sejarah berdirinya dan dimulainya pelayanan gereja ditandai oleh pencurahan Roh Kudus di Yerusalem dan khotbah apologetika Petrus ketika kerumunan orang dari berbagai suku, bangsa dan bahasa datang mendekat untuk melihat manifestasi pekerjaan Roh Kudus melalui kurang lebih seratus dua puluh orang yang terdiri dari para Rasul dan saudara-saudara seiman. Saya mengutip beberapa referensi ayat-ayat firman Tuhan untuk mempertegas pemahaman :
👉Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut Bukit Zaitun, yang hanya seperjalanan Sabat jauhnya dari Yerusalem.
👉Setelah mereka tiba di kota, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka menumpang. Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, dan Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus.
👉Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.
👉Pada hari-hari itu berdirilah Petrus di tengah-tengah saudara-saudara yang sedang berkumpul itu, kira-kira seratus dua puluh orang banyaknya.
👉Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat.
👉Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.
👉Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.
👉Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit.
👉Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri.
👉Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: "Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita :
👉kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah."
👉Mereka semuanya tercengang-cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain: "Apakah artinya ini?"
👉Tetapi orang lain menyindir: "Mereka sedang mabuk oleh anggur manis."
👉Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka … (dan seterusnya hingga)
👉Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.
👉Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. – Kisah Para Rasul 1:12-15; 2:1-11,41-42 –
Peristiwa spiritual supranatural di kota Yerusalem merupakan prasasti dimulainya perjuangan hidup-matinya gereja. Dari sanalah gereja mulai membelah diri dan terus bertambah walau masih berbentuk kelompok-kelompok kecil atau yang lebih populer saat ini adalah “komsel” (kelompok sel). Hingga suatu saat para “founding fathers” para Rasul ditangkap, diadili, diancam bahkan beberapa diantaranya menjadi martir. Tetapi pergerakan gereja tidak bisa dibendung atau pun dihentikan hanya karena para rasul ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara atau dibantai. Sidang jemaat yang “dilahirkan” dari pelayanan para rasul tersebut mengambil sikap dan memutuskan untuk proaktif (terlibat secara aktif) dalam misi pekabaran Injil. Walau rata-rata mereka tidak bisa berkhotbah seperti para Rasul dan bahkan banyak diantara mereka (jemaat) yang mengalami tekanan, hidup dalam berbagai penderitaan karena keadaannya yang sangat miskin namun roh mereka menyala-nyala dan limpah dengan kemurahan hati. Mereka bertekad membantu misi pelayanan penginjilan atau penyebaran Injil para Rasul dan Penginjil secara maksimal bahkan melebihi kemampuan finansial mereka. Beberapa kutipan ayat berikut adalah bukti sejarah perjuangan gereja yang militan pada masa-masa yang sangat sukar.
👉Mereka semakin keras mengancam rasul-rasul itu, tetapi akhirnya melepaskan mereka juga, sebab sidang tidak melihat jalan untuk menghukum mereka karena takut akan orang banyak yang memuliakan nama Allah berhubung dengan apa yang telah terjadi.
👉Sebab orang yang disembuhkan oleh mujizat itu sudah lebih dari empat puluh tahun umurnya.
👉Sesudah dilepaskan pergilah Petrus dan Yohanes kepada teman-teman mereka, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang dikatakan imam-imam kepala dan tua-tua kepada mereka.
👉Ketika teman-teman mereka mendengar hal itu, berserulah mereka bersama-sama kepada Allah, katanya: "Ya Tuhan, Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya.
👉Dan oleh Roh Kudus dengan perantaraan hamba-Mu Daud, bapa kami, Engkau telah berfirman: Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia?
👉Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar berkumpul untuk melawan Tuhan dan Yang Diurapi-Nya.
👉Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi, untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendak-Mu.
👉Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu.
👉Ulurkanlah tangan-Mu untuk menyembuhkan orang, dan adakanlah tanda-tanda dan mujizat-mujizat oleh nama Yesus, Hamba-Mu yang kudus."
👉Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani. – Kisah Para Rasul 4:21-31 –
👉Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia.
👉Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. – 2 Korintus 8:1 –
Pada masa gerakan penyebaran gereja mula-mula yang selalu mendapat ancaman, aniaya dari pemerintah dan para pemuka agama Yahudi ternyata tidak menciutkan nyali para pemberita Injil dan jemaat. Para Penginjil dan Rasul terus bergerak dengan disponsori oleh jemaat-jemaat lokal yang sangat terbeban melihat keberanian mereka.
Bila Anda teliti membaca kutipan-kutipan ayat tersebut di atas maka marilah kita mulai membuat perhitungan ekonomis terhadap kemampuan ekonomi jemaat-jemaat di Makedonia. Paulus dengan sungguh-sungguh menegaskan bahwa mereka sangat miskin atau hidup di bawah garis kemiskinan. Sungguh suatu kehidupan badaniah yang memilukan dan memprihatinkan. Saya tidak akan mendramatisir karena Anda pasti telah dapat membayangkannya. Jadi bila diwajibkan membawa persepuluhan maka jangankan membiayai misi penginjilan para Penginjil dan Rasul; untuk persediaan makanan seorang Gembala jemaat – yang belum menikah atau memiliki anggota keluarga – saja pun sudah sangat menyedihkan. Namun sesuatu yang luar biasa telah mengubah cara pandang dan kebiasaan dogmatis mereka mengenai persembahan persepuluhan. Sesuatu itu adalah pelayanan dan persembahan kasih. Suatu bentuk pelayanan totalitas yang keluar dari hati nurani yang benar-benar mengasihi Tuhan dan pekerjaan-Nya. Pelayanan seperti ini tak dapat ditekan, dibendung atau pun dihalangi sebab mereka memiliki gudang kemurahan hati yang melimpah. Jauh melampaui kemampuan suatu produk hukum yang diwajibkan dan lebih banyak dari sekedar sepersepuluh yang diterapkan.
Marilah kita semua – termasuk Anda yang sedang membaca buku ini – memahami dengan benar pola hidup dan keterlibatan dalam pelayanan penginjilan jemaat mula-mula dan dengan kejujuran nurani juga ketulusan hati mau meneladani kehidupan mereka.
Firman Allah memberitahukan pada Anda :
👉“… pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah. Dan oleh sebab kamu telah tahan uji dalam pelayanan itu, mereka memuliakan Allah karena ketaatan kamu dalam pengakuan akan Injil Kristus dan karena kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang.” – 2 Korintus 9:12-13 –
Teladan dari suatu kebersamaan yang ditunjukkan oleh jemaat mula-mula patut dijadikan pelajaran untuk memotivasi kita dalam hal memberi persembahan materil untuk pelebaran pekerjaan Tuhan lewat pelayan-pelayan lima jawatan. Firman Tuhan mengatakan :
👉“Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama. Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah.
Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.” – Kisah Para Rasul 4:32-35 –
Di dalam ikatan kebersamaan ada keterbebanan moril untuk membantu orang lain yang lebih membutuhkan. Mereka bukan saja memperoleh kehidupan kekal setelah mendengar firman Allah yang disampaikan para Rasul tetapi mereka juga ingin berkarya bagi Allah dan kerajaan-Nya. Mereka yakin dan tahu benar bahwa Kristus telah mengorbankan kehidupan-Nya sendiri untuk memulihkan dan mempersatukan kembali hubungan yang telah rusak dengan Bapa sorgawi karena dosa dan dengan demikian menghimpunkan mereka dalam misi penyelamatan orang-orang yang belum mengenal Yesus Kristus. Mereka merealisasikan ucapan syukur melalui total persembahan hati nurani berdasarkan kasih Kristus yang di bawa dan dikumpulkan di depan kaki para Rasul.
Kesepakatan mempersembahkan milik pribadi untuk kepentingan bersama – di tengah-tengah himpitan dan tekanan ekonomi, juga ancaman aniaya dan kematian – yang keluar dari ketulusan nurani bukannya tidak ada tantangan. Disinilah letak permasalahan yang sangat serius. Suatu bentuk pengorbanan yang harus mematikan keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup demi kemajuan dan bertambahnya anggota kerajaan. Total persembahan kasih merupakan ujian bagi ketulusan nurani dan pendewasaan rohani. Ada yang lulus dengan nilai “suma-cumlaude”, cukup banyak yang lulus dengan nilai pas-pasan, beberapa lagi hampir gagal dan hanya satu keluarga – menjadi contoh ketidaktaatan pada hati nurani – menerima ganjaran atau hukuman langsung dari Roh Kudus.
👉Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus.
👉Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.
👉Ada seorang lain yang bernama Ananias. Ia beserta isterinya Safira menjual sebidang tanah.
👉Dengan setahu isterinya ia menahan sebagian dari hasil penjualan itu dan sebagian lain dibawa dan diletakkannya di depan kaki rasul-rasul.
👉Tetapi Petrus berkata: "Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu?
👉Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah."
👉Ketika mendengar perkataan itu rebahlah Ananias dan putuslah nyawanya. Maka sangatlah ketakutan semua orang yang mendengar hal itu.
👉Lalu datanglah beberapa orang muda; mereka mengapani mayat itu, mengusungnya ke luar dan pergi menguburnya.
👉Kira-kira tiga jam kemudian masuklah isteri Ananias, tetapi ia tidak tahu apa yang telah terjadi.
👉Kata Petrus kepadanya: "Katakanlah kepadaku, dengan harga sekiankah tanah itu kamu jual?" Jawab perempuan itu: "Betul sekian."
👉Kata Petrus: "Mengapa kamu berdua bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan? Lihatlah, orang-orang yang baru mengubur suamimu berdiri di depan pintu dan mereka akan mengusung engkau juga ke luar."
👉Lalu rebahlah perempuan itu seketika itu juga di depan kaki Petrus dan putuslah nyawanya. Ketika orang-orang muda itu masuk, mereka mendapati dia sudah mati, lalu mereka mengusungnya ke luar dan menguburnya di samping suaminya.
👉Maka sangat ketakutanlah seluruh jemaat dan semua orang yang mendengar hal itu. – Kisah Para Rasul 4:36-37; 5:1-11 –
Pelajaran yang dapat diambil dari kisah tragis suami-istri Ananias dan Safira adalah jangan mengingkari kesepakatan nurani yang telah digerakkan oleh Roh Kudus yang berdiam dalam pribadi kita.
Perhatikan jalannya persidangan kasus luar biasa dan sangat mendadak yang dipimpin oleh Rasul Petrus dalam ruangan tertutup. Mereka – Ananias dan Safira – diinterogasi, dituduh berencana melakukan tindak kejahatan dan akhirnya dieksekusi mati di tempat tanpa mendapat kesempatan untuk mengajukan pembelaan – juga tidak ada kesempatan untuk hubungi Kuasa Hukum seperti yang biasa dilakukan para penjahat zaman kita – bukan karena kasus korupsi persembahan persepuluhan seperti yang – maaf – biasa Anda dan saya lakukan selama ini. Sekali lagi, saya ingin menegaskannya dengan benar, mereka tidak divonis oleh Roh Kudus karena suka menahan dan mencuri persembahan persepuluhan. Walaupun demikian, – kalau seandainya kita bisa jujur dengan diri sendiri – beberapa di antara kita ikut nimbrung secara sepihak menambah beban hukuman yang telah dijatuhkan pada kasus Ananias dan Safira dengan mengatakan bahwa “mereka telah dihukum mati, binasa selamanya.”
Eksekusi mati yang dialami suami-istri ini semata-mata karena mengingkari kesepakatan nurani yang telah mereka buat sebelum menjual sebidang tanah milik mereka sendiri. Perjanjian hati nurani ini bukan untuk meletakkan sepersepuluhnya di bawah kaki para Rasul tetapi seratus persen dari total hasil penjualan tanah. Hal itu tidak dibuat di atas secarik kertas bermeterai yang disaksikan dan ditanda tangani oleh Notaris bahkan tidak juga di hadapan para Rasul tetapi dampak yang ditimbulkan dari apa yang sering kita sebut “ingkar janji” sangat menakutkan. Mengapa mereka berani melanggar dan mendustai Roh Kudus? Jawaban objektif yang dapat diberikan adalah “tergoda” … pada tumpukan uang dan munculnya berbagai bentuk keinginan daging, keinginan mata yang harus segera dipenuhi. Iman biji sesawi yang mereka miliki ternyata belum bertumbuh, belum bisa berbuat banyak menghadapi godaan. Mereka terjebak oleh pengaruh mamon. Iman mereka sedang bermasalah pada waktu itu.
Marilah kita tarik kesimpulan yang benar sesuai dengan kutipan beberapa ayat referensi ini :
👉Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. – 2 Timotius 3:1-2a –
👉Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. – Matius 6:24 –
👉Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.
👉Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. – I Yohanes 2:15-16 –
👉Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. – Efesus 4:30 –
Ananias dan Safira berdusta bukan terhadap manusia saja tetapi juga terhadap Roh Kudus dan membuat-Nya berduka. Perbuatan mereka segera mendapat reaksi. Roh Kudus sangat disiplin, responsif dan bertindak tegas terhadap mereka. Mereka telah sepakat untuk berdusta dan mengingkari perjanjian hati nurani yang berisikan pemberian kasih. Tapi tunggu dulu …! Jangan terlalu jauh Anda menafsirkannya; bisa kebablasan. Hal ini tidaklah dimaksudkan pada segala sesuatu yang kita hasilkan secara materil haruslah dipersembahkan seluruhnya tanpa sisa tetapi totalitas niat hati yang telah disepakati untuk memberikan atau menyerahkan persembahan tersebut yang tidak boleh dipungkiri.
Kalau kita mau melihat kasusnya secara sportif objektif maka hukuman menakutkan ini bukanlah dikarenakan pelanggaran hukum tertulis dalam kitab Maleakhi 3:10 atau Torah Musa tetapi justru karena melanggar hukum Kasih Kristus yang tertulis dalam sanubari oleh Roh Kudus sendiri. Perhatikanlah ….,
👉“tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” – Yohanes 14:26 –
👉“… Allah yang menyelidiki hati nurani, …” – Roma 8:27 –
👉“Maka sekarang, selesaikan jugalah pelaksanaannya itu! Hendaklah pelaksanaannya sepadan dengan kerelaanmu, dan lakukanlah itu dengan apa yang ada padamu.
👉Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu.
👉Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan.
👉Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.”– 2 Korintus 8:11-14 –
berrsambung ... PARTISI 3 👉C. KEMBALI PADA POLA HIDUP JEMAAT MULA-MULA✍
0 comments:
Posting Komentar