“Kami adalah The Voice of Truth — berdiri atas kebenaran Kristus
Bermakna bahwa setiap suara, ajaran, dan langkah kami berpijak hanya pada kebenaran yang berasal dari Kristus, bukan dari pendapat manusia.
Kebenaran yang Ditanam di Awal Penciptaan
Sejak di taman Eden, Tuhan tidak hanya menciptakan manusia untuk hidup, tetapi juga untuk mengenal; sebab di antara pohon kehidupan dan pohon pengetahuan, Ia meletakkan pilihan moral yang melahirkan kesadaran akan kebenaran
Kebenaran tidak pernah gugur bersama manusia, sebab Tuhan tetap berdiri sebagai sumbernya
Kejatuhan manusia tidak menghapus terang kebenaran, karena kebenaran tidak bergantung pada makhluk, tetapi pada Sang Pencipta yang tidak berubah
Ketika nubuat menjadi wujud, maka iman berjumpa dengan bukti; dan dalam pribadi Kristus, bukti itu berbicara melalui kasih dan kebenaran
Menggambarkan bahwa penggenapan nubuatan adalah jembatan antara iman dan realitas yang hidup dalam Kristus.
Konsistensi Tuhan menjemput umat-Nya adalah cermin dari natur Ilahi yang tak berubah; seperti kebenaran, Ia tidak goyah oleh zaman
Filsafat ini menegaskan bahwa ketetapan Tuhan dan kebenaran adalah satu sifat yang sama, kekal dan tidak berubah
Senin, 29 Desember 2025
KEBENARAN SEBAGAI HABITAT: ONTOLOGI HIDUP ORANG BENAR
Minggu, 28 Desember 2025
KESELAMATAN SEBAGAI PERNYATAAN KEKEKALAN DI DALAM WAKTU
Kitab Suci membuka realitas ini bukan dengan cerita tentang manusia, melainkan dengan kehendak Tuhan yang sudah ada sebelum segala sesuatu dijadikan. “Ia telah memilih kita di dalam Dia sebelum dunia dijadikan” (Efesus 1:4). Kalimat ini tidak memberi ruang bagi logika sebab-akibat manusia. Pemilihan itu tidak lahir dari respons terhadap perbuatan, iman, atau keputusan manusia, sebab dunia—bahkan manusia—belum ada. Yang ada hanyalah kehendak Tuhan yang menetapkan, bukan menanggapi.
Di sinilah filsafat manusia biasanya tersandung. Pikiran manusia selalu bergerak dari peristiwa ke keputusan, dari aksi ke reaksi. Namun Alkitab memutar arah itu secara radikal. Di dalam Kitab Suci, keputusan Tuhan mendahului peristiwa, dan peristiwa hanya menjadi manifestasi dari keputusan tersebut. Apa yang tampak di dalam sejarah bukanlah hasil dialog antara kehendak manusia dan kehendak Tuhan, melainkan pewujudan dari sesuatu yang telah selesai di dalam kekekalan.
Rasul Paulus menulis bahwa Tuhan “telah menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, tetapi berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman” (2 Timotius 1:9). Keselamatan tidak ditempatkan pada titik setelah manusia bertindak, melainkan pada titik sebelum zaman dimulai. Dengan demikian, iman manusia bukan penyebab keselamatan, melainkan tanda bahwa keselamatan itu telah bekerja.
Di dalam kerangka ini, sejarah bukan arena negosiasi antara Tuhan dan manusia. Sejarah adalah narasi terbuka dari kehendak kekal yang sedang bergerak menuju penggenapannya. Apa yang disebut “pertobatan”, “iman”, dan “kelahiran baru” bukanlah pemicu reaksi ilahi, melainkan akibat dari karya Tuhan yang lebih dahulu bekerja di dalam batin manusia. “Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa” (Yohanes 6:44). Kalimat ini bukan peringatan moral, tetapi pernyataan ontologis tentang ketergantungan total manusia pada prakarsa Tuhan.
Ketika Alkitab berbicara tentang keselamatan, ia tidak pernah memulai dari kemampuan manusia untuk memilih, melainkan dari ketidakmampuan manusia untuk hidup. Manusia digambarkan bukan sebagai makhluk netral yang menunggu respon Tuhan, melainkan sebagai makhluk yang mati. “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu” (Efesus 2:1). Orang mati tidak bereaksi; orang mati dibangkitkan. Maka keselamatan tidak mungkin berupa reaksi Tuhan terhadap iman, sebab iman itu sendiri muncul sebagai akibat dari kebangkitan rohani.
Karena itu Paulus melanjutkan, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Tuhan; itu bukan hasil pekerjaanmu” (Efesus 2:8–9). Iman tidak berdiri sebagai kontribusi manusia, melainkan sebagai sarana yang dikerjakan oleh Tuhan untuk menyatakan apa yang telah Ia tetapkan. Bahkan iman pun tidak dilepaskan dari sumbernya yang kekal.
Di dalam Roma pasal 8, Alkitab menyingkapkan urutan yang tidak bergerak dari bumi ke surga, tetapi dari kekekalan ke waktu: “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula… dan yang ditentukan-Nya dari semula, mereka juga dipanggil-Nya; dan yang dipanggil-Nya, mereka juga dibenarkan; dan yang dibenarkan-Nya, mereka juga dimuliakan” (Roma 8:29–30). Tidak ada satu tahap pun yang bersumber dari inisiatif manusia. Semua bergerak dari keputusan Tuhan yang satu, utuh, dan final.
Menariknya, Alkitab tidak memisahkan keputusan itu menjadi bagian-bagian waktu seperti cara manusia membaca. Dalam perspektif Tuhan, apa yang Ia tetapkan telah selesai. “Pekerjaan-Nya telah selesai sejak dunia dijadikan” (Ibrani 4:3). Sejarah hanya membuka apa yang telah final di dalam Dia. Maka salib bukanlah improvisasi atas kegagalan manusia, melainkan realisasi dari “Anak Domba yang telah disembelih sejak dunia dijadikan” (Wahyu 13:8). Penyaliban di Yerusalem adalah kejadian historis, tetapi penetapannya bersifat kekal.
Dengan demikian, keselamatan tidak bisa dipahami sebagai sistem moral yang memberi ruang bagi kebanggaan manusia. Alkitab justru menghancurkan setiap kemungkinan itu. “Supaya jangan ada seorang pun yang memegahkan diri” (Efesus 2:9). Jika keselamatan adalah reaksi Tuhan, maka manusia masih memiliki ruang untuk menjadi penyebab. Tetapi jika keselamatan adalah pernyataan dari apa yang telah ditetapkan, maka seluruh kemuliaan kembali kepada Tuhan semata.
Iman bukan syarat agar Tuhan bertindak, melainkan bukti bahwa Tuhan telah bertindak. Pertobatan bukan tawaran kepada surga, melainkan gema dari surga yang telah masuk ke dalam batin manusia. Kelahiran baru bukan keputusan etis, tetapi tindakan penciptaan. “Jika seseorang tidak dilahirkan dari atas, ia tidak dapat melihat Kerajaan Tuhan” (Yohanes 3:3). Melihat pun didahului oleh kelahiran, bukan sebaliknya.
Keselamatan, maka, adalah pewahyuan dalam waktu dari keputusan kekal Tuhan. Ia tidak menunggu manusia, tidak menimbang kemungkinan, dan tidak menyesuaikan diri dengan sejarah. Sejarah justru menyesuaikan diri dengan Dia. “Ia bekerja dalam segala sesuatu menurut keputusan kehendak-Nya” (Efesus 1:11). Kalimat ini menutup setiap pintu spekulasi manusia dan memaksa pembaca Kitab Suci untuk tunduk, bukan berdebat.
Dalam hal ini, iman sejati bukanlah keberanian manusia untuk memilih Tuhan, melainkan keheranan yang sunyi karena menyadari bahwa Tuhan telah lebih dahulu memilih. Keselamatan tidak lahir dari kehendak manusia yang mencari, tetapi dari kehendak Tuhan yang menyatakan diri. Dan ketika keselamatan itu muncul di dalam sejarah, ia tidak berkata, “Aku datang karena engkau,” melainkan, “Aku datang karena Aku telah menetapkan.”
Di sinilah Injil berdiri: bukan sebagai tawaran kemungkinan, tetapi sebagai pengumuman kepastian. Bukan reaksi terhadap waktu, tetapi pernyataan dari kekekalan yang kini berbicara di dalam sejarah manusia.
Haleluyah, Bapa Yesus memberkati kita semua 🙏
-Ps. Christian Moses
#pschristianmoses
Sabtu, 27 Desember 2025
KITA PERCAYA KARENA TUHAN SUDAH MENYELAMATKAN-BUKAN MENYELAMATKAN KARENA KITA PERCAYA
Ketika kita membuka Alkitab, kita segera menemukan bahwa manusia secara tersurat digambarkan sebagai terpisah dari hidup kekal karena dosa (Roma 3:23; 6:23). Ini berarti: kondisi manusia telah berada dalam keadaan yang sejatinya tidak layak diselamatkan sejak awal. Keselamatan tidak berbicara tentang peningkatan moral atau usaha manusia; melainkan tentang kembalinya manusia ke dalam hubungan hidup yang benar dengan Tuhan melalui tindakan penyelamatan yang telah dijalankan oleh Tuhan sendiri.
Dalam narasi Alkitab, keselamatan bukanlah sesuatu yang manusia raih dari titik “ketidaktahuan → kebaikan moral → rela percaya.” Itu adalah sebuah perjalanan yang justru dimulai dari tindakan Tuhan untuk membawa manusia keluar dari kegelapan menuju terang (Yohanes 1:9; Efesus 2:8–9). Tafsir yang sederhana namun mendalam dari ayat seperti:
“Karena oleh kasih karunia kamu diselamatkan melalui iman; dan itu bukan hasil usahamu sendiri, tetapi pemberian Tuhan.” Efesus 2:8–9
Menunjukkan dua hal esensial:
1. Keselamatan itu anugerah yang sepenuhnya berasal dari Tuhan.
2. Iman adalah cara atau medium di mana anugerah itu diterima — bukan “penyebab” dari keselamatan itu sendiri dalam pengertian usaha manusia.
Bayangkan seseorang yang mati lemas di laut. Anda datang, menyelam, dan menariknya ke permukaan. Orang yang diselamatkan itu kemudian membuka mata dan berkata, “Aku hidup karena aku memilih untuk berenang.” Kita semua tahu, dalam analogi itu, orang itu hidup bukan karena pilihannya, tetapi karena tindakan penyelamatan yang lebih dulu dilakukan oleh penyelamat. Dalam cara yang sama, Alkitab menggambarkan iman bukan sebagai kekuatan dalam diri manusia yang memproduksi keselamatan, tetapi sebagai respons terhadap tindakan menyelamatkan yang telah dilakukan oleh Tuhan (Yeremia 31:3; Yohanes 3:16).
Kalau kita melihat dengan tekun ke dalam tulisan rasul Paulus, khususnya dalam surat-suratnya, kita menemukan semacam paradoks yang menuntut pembacaan hati: ketika manusia mengaku “percaya,” yang sebenarnya terjadi adalah Tuhan telah terlebih dahulu memberikan kehidupan rohani kepada manusia — bahkan sebelum manusia menyadari atau merasakan iman itu sendiri. Ini bukan spekulasi; ini tercermin dalam cara Paulus berbicara tentang keselamatan sebagai sesuatu yang tidak berasal dari diri manusia:
“Bukan dari diri kita sendiri, supaya tidak ada orang yang boleh bermegah.” — 2 Korintus 3:5 (yang makna ritmisnya juga menguatkan prinsip bahwa tidak ada kontribusi diri manusia dalam keselamatan).
Dengan kata lain, ketika seseorang berkata, “Aku percaya sehingga aku diselamatkan,” Alkitab menantang kita untuk memikirkan ulang struktur sebab-akibat tersebut: sebenarnya keselamatan itu telah diberi (lebih dulu), dan iman adalah respon yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia yang menerima keselamatan itu. Ini bukan sekadar permainan kata; ini adalah pergeseran ontologis dari kondisi kematian rohani menuju hidup rohani (Efesus 2:1–5), bukan karena manusia melakukan sesuatu, tetapi karena Tuhan memberi hidup (Efesus 2:5).
Para penulis Perjanjian Baru terus menarik benang merah ini. Rasul Yohanes menulis bahwa segala sesuatu yang kita terima dari Tuhan adalah dari sumber kasih karunia yang tak terhingga, yang termasuk kemampuan untuk percaya kepada Yesus sebagai Mesias. Pilihan hati manusia untuk percaya bukanlah sesuatu yang lahir dari kekuatan moral atau kecerdasan internal manusia itu sendiri, melainkan buah dari karya penyelamatan yang sudah terjadi di dalam hati manusia. Pernyataan Yesus “tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, kecuali ditarik oleh Bapa” (Yohanes 6:44; jika dirujuk dari teks-teks Alkitab dalam Marvel Bible atau Blue Letter Bible) menggarisbawahi struktur ini: ada tindakan penyelamatan yang lebih dulu — yaitu penarikan atau pemberian kemampuan untuk datang, baru kemudian respon percaya itu terjadi.
Ini membawa kita pada sebuah pembacaan yang benar-benar hati-ke-hati terhadap narasi keselamatan di Alkitab: iman tidak pernah mendahului keselamatan; iman selalu mengikuti keselamatan yang telah diberikan oleh Tuhan. Tidak ada bagian dalam teks Alkitab yang mengajarkan bahwa manusia pada titik awal berada dalam posisi moral atau rohani untuk “menghasilkan iman” tanpa terlebih dahulu dibangkitkan dari kematian dosa. Ini bukan hanya sebuah pandangan modern atau theological jargon, tetapi cara narasi Alkitab menghidupkan kisah keselamatan itu sendiri — tindakan Tuhan menjangkau manusia yang tak berdaya (Roma 5:6–8; Efesus 2:4–5) dan menjadikan iman sebagai sarana penerimaan terhadap karya yang sudah dilakukan.
Dengan demikian, pengakuan iman yang paling jujur bukanlah “Aku percaya sehingga aku diselamatkan,” melainkan “Aku percaya karena Tuhan telah terlebih dahulu menyelamatkanku.” Iman bukanlah titik awal; iman adalah pengakuan atas sebuah karya yang telah terjadi, sebuah transisi dari kematian ke kehidupan yang hanya dimungkinkan karena kasih karunia yang tak pantas kita terima — yang diwujudkan lewat pemberian iman itu sendiri.
Haleluyah, Bapa Yesus memberkati kita semua 🙏
Ps. Christian Moses
Jumat, 26 Desember 2025
💰PERSEPULUHAN 👉 ALKITABIAH TAPI TIDAK INJILI [PARTISI 2👉B]📕
B. RUMAH PERBENDAHARAAN PERJANJIAN BARU
Konsep “rumah perbendaharaan” atau “perbendaharaan rumah Tuhan” secara fisik bangunan mulai dikenal dan digunakan pada masa pemerintahan raja Salomo setelah ia menerima tongkat estafet kerajaan dari Daud, ayahnya (I Raja-raja 1:30).
Sebenarnya, raja Daud sangat berkerinduan dan bahkan telah mulai menyediakan bahan-bahan untuk membangun
Bait Suci, tempat kediaman “permanen” TUHAN di tengah-tengah bangsa Israel.
Kutipan ayat-ayat dalam 2 Samuel 7:1-2, I Tawarikh 28:2 di bawah menunjukkan kerinduan Daud :
👉7:1 Ketika raja telah menetap di rumahnya dan TUHAN telah mengaruniakan keamanan kepadanya terhadap semua musuhnya di sekeliling,
👉7:2 berkatalah raja kepada nabi Natan: “Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut Allah diam di bawah tenda.”
👉28:2 Lalu berdirilah raja Daud dan berkata: “Dengarlah, hai saudara-saudaraku dan bangsaku! Aku bermaksud hendak mendirikan rumah perhentian untuk tabut perjanjian TUHAN dan untuk tumpuan kaki Allah kita; juga aku telah membuat persediaan untuk mendirikannya.
Namun TUHAN tidak mengizinkannya karena Daud adalah seorang prajurit yang telah menumpahkan darah banyak musuhnya.
👉Tetapi Allah telah berfirman kepadaku: Engkau tidak akan mendirikan rumah bagi nama-Ku, sebab engkau ini seorang prajurit dan telah menumpahkan darah. – I Tawarikh 28:3 –
Dan Salomo, anak kandung Daud, yang ditetapkan TUHAN untuk tugas mulia tersebut.
👉Kemudian dipanggilnya Salomo, anaknya, dan diberinya perintah kepadanya untuk mendirikan rumah bagi TUHAN, Allah Israel, kata Daud kepada Salomo: "Anakku, aku sendiri bermaksud hendak mendirikan rumah bagi nama TUHAN, Allahku, tetapi firman TUHAN datang kepadaku, demikian: Telah kautumpahkan sangat banyak darah dan telah kaulakukan peperangan yang besar; engkau tidak akan mendirikan rumah bagi nama-Ku, sebab sudah banyak darah kautumpahkan ke tanah di hadapan-Ku.
👉Sesungguhnya, seorang anak laki-laki akan lahir bagimu; ia akan menjadi seorang yang dikaruniai keamanan. Aku akan mengaruniakan keamanan kepadanya dari segala musuhnya di sekeliling. Ia akan bernama Salomo; sejahtera dan sentosa akan Kuberikan atas Israel pada zamannya.
👉Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan dialah yang akan menjadi anak-Ku dan Aku akan menjadi Bapanya; Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya atas Israel sampai selama-lamanya.
👉Maka sekarang, hai anakku, TUHAN kiranya menyertai engkau, sehingga engkau berhasil mendirikan rumah TUHAN, Allahmu, seperti yang difirmankan-Nya mengenai engkau.– I Tawarikh 22:6-11–
Alkitab mengisahkan bahwa rumah TUHAN atau Bait Suci yang dibangun oleh raja Salomo, tidaklah secara hurufiah atau seratus-persen mengikuti gambar asli Kemah Suci, tetapi jauh lebih luas, lebih besar, lebih kokoh, lebih megah, lebih mewah dan lebih dalam segalanya bahkan – sampai abad modern ini – belum ada yang mampu menandingi kemewahannya. Walau demikian Daud pun punya andil yang sangat besar dalam menyediakan bahan-bahan bangunannya. Kesemuanya tercatat secara tepat dan terperinci dalam I Tawarikh 22:5, I Raja-raja 6, 2 Tawarikh 3:1-14.
Bait Suci Allah atau lebih populer dengan nama Ka’abah Salomo ini pun mendapat tambahan beberapa kamar/bilik sesuai rancangan raja Daud, – yang lebih modern dan representatif pada masa itu – sebelum ia menyerahkan seluruh pekerjaan pembangunannya kepada Salomo.
Asal Anda ingat saja, Salomo mengerjakan proyek akbar ini mengikuti petunjuk rancang-bangun ayahnya, Daud, plus beberapa buah pikiran mengenai pengaturan rumah TUHAN tersebut.
“Lalu Daud menyerahkan kepada Salomo, anaknya, rencana bangunan dari balai Bait Suci dan ruangan-ruangannya, dari perbendaharaannya, kamar-kamar atas dan kamar-kamar dalamnya, serta dari ruangan untuk tutup pendamaian.
Selanjutnya rencana dari segala yang dipikirkannya mengenai pelataran rumah TUHAN, dan bilik-bilik di sekelilingnya, mengenai perbendaharaan-per-bendaharaan rumah Allah dan perbendaharaan-perbendaharaan barang-barang kudus; mengenai rombongan-rombongan para imam dan para orang Lewi dan mengenai segala pekerjaan untuk ibadah di rumah TUHAN dan segala perkakas untuk ibadah di rumah TUHAN.” – I Tawarikh 28:11-13 –.
Bait Suci ini mulai dibangun pada bulan Ziw (bulan kedua), tahun keempat pemerintahan Salomo dan tahun keempat ratus delapan puluh sesudah orang Israel keluar dari tanah Mesir. Letaknya di Yerusalem, di atas gunung Moria, tempat dimana TUHAN menampakkan diri kepada Daud, ayahnya.
Dari sekian ruangan tambahan pada rumah TUHAN, salah satunya adalah bilik perbendaharaan, – yang dalam Maleakhi 3:10 disebut “rumah perbendaharaan” – tempat orang Israel membawa segala macam persembahan yang telah diwajibkan TUHAN, termasuk persembahan persepuluhan. Bilik perbendaharaan ini – mungkin lebih tepatnya disebut gudang penyimpanan, sekarang – terletak di pelataran rumah TUHAN atau di halaman Bait Allah.
Berikut adalah kutipannya dalam I Tawarikh :
👉28:12 . Selanjutnya rencana dari segala yang dipikirkannya mengenai pelataran rumah TUHAN, dan bilik-bilik di sekelilingnya, mengenai perbendaharaan - perbendaharaan rumah Allah dan perbendaharaan-perbendaharaan barang-barang kudus.
Pada tahun pertama pemerintahan raja Hizkia, Alkitab mencatatnya dalam 2 Taw. 29, ia memperbaiki dan menguduskan kembali rumah TUHAN. Kemudian raja memerintahkan seluruh orang Israel untuk membawa segala persembahan khusus, persembahan persepuluhan dan persembahan-persembahan kudus ke dalamnya (baca lagi 2 Tawarikh 31:11-12).
Disini, saya ingin tekankan dan tegaskan sekali lagi bahwa tadinya, ketika “TUHAN masih berada di bawah tenda-tenda”, para Lewi dan Imam-imam belum memiliki rumah perbendaharaan secara fisik bangunan permanen karena kehidupannya yang nomaden – berpindah-pindah tempat – belumlah dapat diterapkan suatu sistem manajemen yang lebih baik untuk mengelolah semua persembahan yang masuk. Memang sejak awal, TUHAN telah memberi perintah kepada sebelas suku Israel lainnya untuk menyediakan dan memberikan apa-apa yang telah menjadi hak mereka (para Lewi dan Imam-imam). Semuanya masih bersifat “sekali pakai atau sekali makan” dan belum bisa ditabung atau disimpan untuk jangka panjang atau untuk jangka waktu tertentu.
Ketika bangsa itu telah secara tetap memiliki dan mendiami suatu wilayah dengan sistem pemerintahan yang otonom maka mereka pun membangun Bait Suci Allah, menyediakan bilik-bilik perbendaharan secara permanen dan mulai menerapkan sistem manajemen modern untuk pengelolaannya.
Jadi, saya ingin agar kita memberi fokus perhatian bukanlah pada persembahan-persembahannya tetapi bagaimana “rumah perbendaharaan” yang telah disediakan itu diisi supaya para Lewi dan Imam-imam dapat memusatkan perhatian dan tenaga mereka untuk pelayanan di dalam Bait Suci.
Marilah kita mempelajari kembali ayat yang paling eksklusif yang saat ini masih diterapkan oleh hampir semua denominasi gereja di Indonesia; Maleakhi 3:10, “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku …”.
Saya kira anda – setelah dari awal membaca buku ini – bersedia menerima alasan bahwa tentu yang dimaksudkan TUHAN bukanlah hanya persembahan persepuluhan yang harus dibawa ke rumah perbendaharaan atau dengan lain perkataan, supaya ada persediaan makanan di rumah TUHAN maka bukan hanya persepuluhan saja yang harus dibawa tetapi persembahan-persembahan lain pun haruslah dibawa ke sana.
Bila alasan pemahaman ini ditolak maka pertanyaan berikut, saya bisa pastikan – Anda atau siapapun – tidak mampu menjawabnya. Begini pertanyaannya, “kemanakah persembahan-persembahan lainnya – pasti Anda mulai mengingat-ingatnya seperti yang tercatat dalam kitab Imamat, Bilangan, Ulangan – akan dibawa atau ke rumah siapakah semuanya itu dipersembahkan?” Bagaimana aplikasinya atas ayat-ayat yang terdapat dalam kitab Bilangan :
👉18:8. Lagi berfirmanlah TUHAN kepada Harun: “Sesungguhnya Aku ini telah menyerahkan kepadamu pemeliharaan persembahan-persembahan khusus yang kepada-Ku; semua persembahan kudus orang Israel Kuberikan kepadamu dan kepada anak-anakmu sebagai bagianmu; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya.
👉18:9. Inilah bagianmu dari segala persembahan-persembahaan yang maha kudus itu, yaitu dari bagian yang tidak harus dibakar: segala persembahan mereka yang berupa korban sajian, korban penghapus dosa dan korban penebus salah, yang dibayar mereka kepada-Ku; itulah bagian maha kudus yang menjadi bagianmu dan bagian anak-anakmu.
👉18:10 . Sebagai bagian maha kudus haruslah kamu memakannya; semua orang laki-laki boleh memakanny; haruslah itu bagian kudus bagimu.
👉18:11. Dan ini pun adalah bagianmu: persembahan khusus dari pemberian mereka yang lain, termasuk segala persembahan unjukan orang Israel; semuanya itu Kuberikan kepadamu dan kepada anak-anakmu laki-laki dan perempuan bersama-sama dengan engkau; itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya. Setiap orang yang tahir dari seisi rumahmu boleh memakannya.
👉18:12. Segala yang terbaik dari minyak dan segala yang terbaik dari anggur dan dari gandum, yakni yang sebagai hasil pertamanya dipersembahkan mereka kepada TUHAN, Aku berikan kepadamu.
👉18:13. Hulu hasil dari segala yang tumbuh di tanahnya yang dipersembahkan mereka kepada TUHAN adalah juga bagianmu; setiap orang yang tahir dari seisi rumahmu boleh memakannya.
👉18:14 . Semua yang dikhususkan bagi TUHAN di antara orang Israel menjadi bagianmu.
2 Tawarikh :
👉31:4. Ia memerintahkan rakyat, yakni penduduk Yerusalem, untuk memberikan sumbangan yang menjadi bagian para imam dan orang-orang Lewi, supaya mereka dapat mencurahkan tenaganya untuk melaksanakan Taurat TUHAN.
👉31:5. Segera setelah perintah ini tersiar, orang Israel membawa dalam jumlah yang besar hasil pertama dari pada gandum, anggur, minyak, madu dan segala macam hasil bumi. Mereka membawa juga persembahan persepuluhan dari segala sesuatu dalam jumlah yang besar.
👉31:6. Orang Israel dan orang Yehuda yang tinggal di kota-kota Yehuda juga membawa persembahan persepuluhan yang terdiri dari lembu sapi dan kambing domba, dan persembahan persepuluhan yang terdiri dari persembahan kudus yang telah dikuduskan bagi TUHAN Allah mereka. Semuanya itu diletakkan mereka bertimbun-timbun.
👉31:7. Mereka mulai membuat timbunan itu pada bulan yang ketiga, dan mereka selesai pada bulan yang ketujuh.
👉31:8. Hizkia dan para pemimpin datang melihat timbunan itu, dan mereka memuji TUHAN dan umat-Nya, orang Israel.
👉31:9. Hizkia menanyakan para imam dan orang-orang Lewi tentang timbunan itu,
👉31:10. dan dijawab oleh Azarya, imam kepala keturunan Zadok demikian: “Sejak persembahan khusus mulai dibawa ke rumah TUHAN, kami telah makan sekenyang-kenyangnya, namun sisanya masih banyak. Sebab TUHAN telah memberkati umat-Nya, sehingga tinggal sisa yang banyak ini.”
👉31:11 . Kemudian Hizkia menyuruh menyediakan bilik-bilik di rumah TUHAN dan mereka menyediakannya.
👉31:12. Dan dengan setia mereka membawa segala persembahan khusus, persembahan persepuluhan dan persembahan-persembahan kudus itu ke sana.
Nehemia :
👉10:32 . Pula kami mewajibkan diri untuk memberi tiap tahun sepertiga syikal untuk ibadah di rumah Allah kami, yakni:
👉10:33. untuk roti sajian, untuk korba sajian yang tetap, untuk korban bakaran yang tetap, untuk hari-hari Sabat, bulan-bulan baru dan masa raya yang tetap, untuk persembahan-persembahan kudus dan korban-korban penghapus dosa, untuk mengadakan pendamaian bagi orang Israel serta segala pekerjaan di rumah Allah kami.
👉10:34. Pula dengan membuang undi kami, yakni para imam, orang-orang Lewi dan kaum awam, menetapkan suatu cara untuk menyediakan kayu api. Kayu itu harus dibawa ke rumah Allah kami secara bergilir oleh kaum-kaum keluarga kami pada waktu-waktu tertentu setiap tahun, supaya di atas mezbah TUHAN Allah kami ada api yang menyala, seperti tertulis dalam kitab Taurat.
👉10:35 . Lagipula setiap tahun kami akan membawa ke rumah TUHAN hasil yang pertama dari tanah kami dan buah sulung segala pohon.
👉10:36. Pun kami akan membawa ke rumah Allah kami, yakni kepada para imam yang menyelenggarakan kebaktian di rumah Allah kami, anak-anak sulung kami dan anak-anak sulung ternak kami seperti tertulis dalam kitab Taurat, juga anak-anak sulung lembu kami dan kambing domba kami.
👉10:37. Dan tepung jelai kami yang mula-mula, dan persembahan-persembahan khusus kami, dan buah segala pohon, dan anggur dan minyak akan kami bawa kepada para imam, ke bilik-bilik rumah Allah kami, dan kepada orang-orang Lewi akan kami bawa persembahan persepuluhan dari tanah kami, karena orang-orang Lewi inilah yang memungut persembahan-persembahan persepuluhan di segala kota pertanian kami.
👉10:38 . Seorang imam, anak Harun, akan menyertai orang-orang Lewi itu, bila mereka memungut persembahan persepuluhan. Dan orang-orang Lewi itu akan membawa persembahan persepuluhan dari pada persembahan persepuluhan itu ke rumah Allah kami, ke bilik-bilik rumah perbendaharaan.
👉10:39 . Karena orang Israel dan orang Lewi harus membawa persembahan khusus dari pada gandum, anggur dan minyak ke bilik-bilik itu. Di situ ada perkakas-perkakas tempat kudus, pula para imam yang menyelenggarakan kebaktian, para penunggu pintu gerbang dan para penyanyi. Kami tidak akan membiarkan rumah Allah kami.
Bila praktek persembahan persepuluhan dibawa ke dalam gereja dimana gereja sering mengklaim diri sebagai “rumah perbendaharaan” maka hal itu merupakan tafsiran kebablasan yang bermuara pada mal praktek. Sebab jika kita melihat etimologi “gereja” (ekklesia=church) maka kita akan memahami artian yang sebenarnya.
Yesus tidak pernah menyuruh pengikut2-Nya bangun gedung tetapi memanggil orang untuk keluar dari kegelapan dosa menuju terang kebenaran Yesus Kristus (Matius 16:18; Yohanes 5:24). Kita seharusnya membedakan Gereja & Gedung Gereja. Gedung gereja dipakai sebagai tempat ibadah/persekutuan orang-orang kudus yang percaya Yesus Kristus. Gedung gereja tidak dapat digunakan sebagai “rumah perbendaharaan” seperti halnya Tabernakel (Bait Allah) yang memang dirancang oleh TUHAN sendiri dan dibangun oleh Salomo, ada bilik perbendaharaan (1 Raja-raja 6; 1 Tawarikh 17:4-12). Tuhanlah yang merancang bilik2 perbendaharaannya (1 Tawarikh 28:11-12,19). Jadi wajarlah bila pada Maleakhi 3:10 TUHAN memerintahkan Israel untuk bawa persembahan persepuluhan (dan semua persembahan lainnya) ke dalam rumah perbendaharaan karena ada bilik-bilik perbendaharaannya.
TUHAN tidak pernah memerintahkan Gembala Sidang untuk bangun gedung gereja lengkap dengan bilik perbendaharaannya.
Anda dan saya dipanggil Yesus Kristus bukan untuk bangun gereja menjadi rumah perbendaharaan tetapi membangun komunitas/ persekutuan; menjadikan segala bangsa murid Yesus Kristus. Gedung gereja hanyalah tempat kita bersekutu untuk beribadah kepada TUHAN Yesus Kristus.
Rumah perbendaharaan adalah konsep Bait Allah dalam Torah bukan dalam Perjanjian Baru oleh Yesus Kristus. Firman TUHAN berkata, “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1 Korintus 3:16). Jika Anda percaya akan kebenaran ini maka Andalah (setiap orang percaya adalah “Rumah Perbendaharaan Allah”.
Sebagai “Rumah Perbendaharaan Allah”, tentunya kita menyimpan segala sesuatu yang baik yang dapat dipakai untuk memuliakan Yesus Kristus.
Perhatikan firman TUHAN ini :
👉Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik. - Lukas 6:45a -.
Mari perhatikan apa kata firman TUHAN dalam Perjanjian Baru bagi kita yang rajin membangun gedung gereja lalu mengakuinya juga sebagai “rumah perbendaharaan” :
> Markus 14:58
👉"Kami sudah mendengar orang ini berkata: Aku akan merubuhkan Bait Suci buatan tangan manusia ini dan dalam tiga hari akan Kudirikan yang lain, yang bukan buatan tangan manusia."
> Ibrani 9:24
👉“Sebab Kristus bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia yang hanya merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya.”
> Kisah Para Rasul 17:24-25
👉“Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah ia kekurangan apa-apa, karena dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.”
Marilah bersikap sportif-objektif mengakui bahwa apa yang selama ini dipraktekkan dalam kehidupan berjemaat adalah keliru – kalau tidak dapat dibilang salah. Seharusnya, pengajaran gereja menekankan pada perbendaharaan hati nurani bukan pada persembahan persepuluhannya. Dulu, bangsa Israel disuruh TUHAN untuk mendirikan Bait Allah (di atas tanah) lengkap dengan bilik/rumah perbendaharaan yang terletak di pelatarannya (1 Tawarikh 28:12) tetapi ketika Yesus Kristus datang Dia merombak bangunan Bait Allah tersebut dan membangunnya di atas “tanah” hati para pengikut-Nya plus "rumah perbendaharaan hati" agar gereja-Nya dapat mempermuliakan Tuhan dari perbendaharaan hatinya yang baik dan benar.
Silahkan ikuti pertimbangan selanjutnya..... >>>>>
berrsambung ... PARTISI 2 👉C. BEDAH CAESAR MALEAKHI 3:10✍
🕵️♀️SIAPAKAH SESUNGGUHNYA "JURUSELAMAT SEJATI" ❓🤷♂️ (TAMAT)⛔
♦►1. YHWH (TUNGGAL)
Firman TUHAN :
👉43:10 "Kamu inilah saksi-saksi-Ku," demikianlah firman TUHAN, "dan hamba-Ku yang telah Kupilih, supaya kamu tahu dan percaya kepada-Ku dan mengerti, bahwa Aku tetap Dia. Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi.
👉♦ 43:11 Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku. ♦
43:12 Akulah yang memberitahukan, menyelamatkan dan mengabarkan, dan bukannya allah asing yang ada di antaramu. Kamulah saksi-saksi-Ku," demikianlah firman TUHAN, "dan Akulah Allah. [Yesaya]
👉45:21 Beritahukanlah dan kemukakanlah alasanmu, ya, biarlah mereka berunding bersama-sama: Siapakah yang mengabarkan hal ini dari zaman purbakala, dan memberitahukannya dari sejak dahulu?
👉♣ Bukankah Aku, TUHAN? Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain dari pada-Ku! Allah yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku! [Yesaya]
👉63:8 Bukankah Ia berfirman: "Sungguh, merekalah umat-Ku, anak-anak yang tidak akan berlaku curang," maka Ia menjadi Juruselamat mereka
👉63:9 dalam segala kesesakan mereka. Bukan seorang duta atau utusan, melainkan Ia sendirilah yang menyelamatkan mereka; Dialah yang menebus mereka dalam kasih-Nya dan belas kasihan-Nya. Ia mengangkat dan menggendong mereka selama zaman dahulu kala. [Yesaya]
☼► 2. YESUS (TUNGGAL)
Firman TUHAN :
👉1:21 Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka." [Matius]
👉2:11 Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. [Lukas]
👉4:42 dan mereka berkata kepada perempuan itu: "Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia." [Yohanes]
👉3:20 Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, [Filipi]
👉3:6 yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita, [Titus]
👉1:1 Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.
👉1:11 Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. [2 Pet.]
👉2:20 Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula. [2 Pet.]
👉3:18 Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya. [2 Pet.]
♠► 3. Allah dan YESUS (JAMAK)
Firman TUHAN :
👉1:46 Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan,
👉1:47 dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, [Lukas]
👉1:1 Dari Paulus, rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah, Juruselamat kita, dan Kristus Yesus, dasar pengharapan kita, [1 Timotius]
👉2:3 Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita,
👉2:4 yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.
👉2:5 Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus,
👉2:6 yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan. [1 Timotius]
👉4:10 Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya. [1 Timotius]
👉1:9 Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman
👉1:10 dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa. [2 Timotius]
👉1:3 dan yang pada waktu yang dikehendaki-Nya telah menyatakan firman-Nya dalam pemberitaan Injil yang telah dipercayakan kepadaku sesuai dengan perintah Allah, Juruselamat kita.
👉1:4 Kepada Titus, anakku yang sah menurut iman kita bersama: kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Juruselamat kita, menyertai engkau. [Titus]
👉2:13 dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus,
👉2:14 yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik. [Titus]
👉1:24 Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya,
👉1:25 Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin. [Yudas]
◘ 4. Allah mengutus Yesus sebagai Juruselamat (JAMAK)
Firman TUHAN :
👉5:30 Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh.
👉5:31 Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. [KPR]
👉13:23 Dan dari keturunannyalah, sesuai dengan yang telah dijanjikan-Nya, Allah telah membangkitkan Juruselamat bagi orang Israel, yaitu Yesus. [KPR]
👉4:14 Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia. [1 Yohanes]
■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■■
🤩Silahkan lakukan IDENTIFIKASI berdasarkan INDIKASI-INDIKASI yang tertulis dalam Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
🙏Semoga materi sanggahan teologis ini menjadi kontribusi bagi pemahaman teologi Anda dan juga pertumbuhan iman Anda sesuai dengan kebenaran Alkitab. HaleluYah Yesus, BAPA yang kekal. Amin.👏
🤝Salam Hyper Grace dalam Bapa Yesus...💝
🕵️♀️DOKTRIN ALLAH TRINITAS = TRITEISME = POLITEISME🔍
STUDI ETIMOLOGI :
Kata Trinitas berasal dari bahasa Latin "trinus" dan "unitas" yang berarti "tiga serangkai atau tritunggal". Kata benda abstrak ini terbentuk dari kata sifat trinus (tiga masing-masing, tiga kali lipat), sebagai kata unitas yang merupakan kata benda abstrak yang dibentuk dari unus (satu).
Kata yang sesuai dalam bahasa Yunani adalah Τριάς, yang berarti "satu set dari tiga" atau "berjumlah tiga".
DEFINISI TRINITAS :
“Ada satu Allah yang benar dan satu-satunya, tetapi di dalam keesaan dari Keallahan ini ada tiga Pribadi yang sama kekal dan setara, sama di dalam hakekat tetapi beda di dalam Pribadi” (Ryrie, Teologi Dasar, Jilid 1, hal. 72).
Kata Trinitas digunakan bukan saja untuk menekankan kesatuan di antara pribadi dalam Trinitas tetapi juga menekankan keterpisahan dan kesetaran dari tiga pribadi dalam Trinitas.
Konsep Allah Trinitas adalah :
😱Satu Allah Yang Esa, namun hadir dalam Tiga Pribadi: Allah Bapa dan Putra dan Roh Kudus, di mana ketiganya adalah sama esensinya, sama kedudukannnya, sama kuasanya, dan sama kemuliaannya.
Istilah Tritunggal (Inggris: trinity, Latin: trinitas) mengandung arti tiga Pribadi dalam satu kesatuan esensi Allah. Istilah "pribadi" dalam bahasa Yunani adalah hupostasis, diterjemahkan ke Latin sebagai persona (Inggris: Person).
Sejak awal abad ketiga doktrin Tritunggal telah dinyatakan sebagai "Satu keberadaan (Yunani: ousia, Inggris: beeing) Allah di dalam tiga Pribadi dan satu substansi (natur), Bapa, Anak, dan Roh Kudus "🙄
Bila kata ini dipasangkan dengan kata "Allah" = Allah Trinitas = Allah 3 SERANGKAI atau 3 SERANGKAI Allah yang terdiri dari :
👉1. Allah Bapa.
👉2. Allah Anak Laki-laki.
👉3. Allah Roh Kudus.
☺ Maka logika praktisnya iman Kristen mengakui adanya "3 Allah" (Triteisme). ☺
Dalam teologia PL, bangsa Israel mengenal dengan benar PENYATAAN KEBERADAAN YHWH (Yahweh/Jehovah; bentuk TUNGGAL) dalam berbagai wujud yang mereka sebut sebagai ELOHIYM (bentuk JAMAK) namun mereka TETAP PADA PENDIRIAN PENGAKUAN bhw hanya ada SATU dan SATU-SATUNYA YHWH yang telah menjadi Elohiym.
📜Kitab Keluaran 6:4 menunjukkan dgn jelas bahwa bangsa Israel menganut kepercayaan "monoteis" :
👉Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! [LAI-TB]
👉bahasa Ibrani (dari kanan ke kiri) ׃ דחא ׀ הוהי וניהלא הוהי לארשי עמש
👉transliterasi bahasa Ibrani: she•ma yis•ra•'el YHWH e•lo•hei•nu YHWH e•khad.
👉bahasa Latin (Vulgata): audi Israhel Dominus Deus noster Dominus unus est
♦ Israel tahu persis bahwa yang telah menjadi "Elohiym" itu adalah YHWH.✅
👉De 32:39 ¶ See <ra'ah> now that I, even I, am he, and there is no god <'elohiym> with me: I kill, <muwth> and I make alive; <chayah> I wound, <machats> and I heal: <rapha'> neither is there any that can deliver <natsal> out of my hand. <yad>
LAI-TB :
Ulangan 32:39
👉Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku. Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan, Aku telah meremukkan, tetapi Akulah yang menyembuhkan, dan seorang pun tidak ada yang dapat melepaskan dari tangan-Ku.
Israel tahu benar bahwa "TIDAK ADA Allah KECUALI/SELAIN YHWH :
👉43:10 "Kamu inilah saksi-saksi-Ku," demikianlah firman TUHAN, "dan hamba-Ku yang telah Kupilih, supaya kamu tahu dan percaya kepada-Ku dan mengerti, bahwa Aku tetap Dia. Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi.
👉43:11 Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku.
👉43:12 Akulah yang memberitahukan, menyelamatkan dan mengabarkan, dan bukannya allah asing yang ada di antaramu. Kamulah saksi-saksi-Ku," demikianlah firman TUHAN, "dan Akulah Allah. [Yesaya]
👉44:6 Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: "Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku. [Yesaya]
👉45:21 Beritahukanlah dan kemukakanlah alasanmu, ya, biarlah mereka berunding bersama-sama: Siapakah yang mengabarkan hal ini dari zaman purbakala, dan memberitahukannya dari sejak dahulu? Bukankah Aku, TUHAN? Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain dari pada-Ku! Allah yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku! [Yesaya]
Pertanyaan :
Mengapa Israel TETAP KOKOH MENGAKUI YHWH sebagai SATU-SATUNYA SESEMBAHAN TERTINGGI DENGAN SATU EKSISTENSI, SATU PRIBADI ❓
Jawabannya :
===========
🕵️♀️Perhatikan pertanyaan Musa, "Bagaimana tentang nama-Nya?", " ומש־המ - MAH-SYEMO".
👉* Keluaran 3:14 (LAI TB}, Firman Allah kepada Musa : AKU ADALAH AKU Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu."
👉KJV, And God said unto Moses, I AM THAT I AM: and he said, Thus shalt thou say unto the children of Israel, I AM hath sent me unto you.
👉Septuaginta (LXX), και ειπεν ο θεος προς μωυσην εγω ειμι ο ων και ειπεν ουτως ερεις τοις υιοις ισραηλ ο ων απεσταλκεν με προς υμας
👉Translit, KAI EIPEN HO THEOS PROS MÔUSÊN EGÔ EIMI HO ÔN KAI EIPEN AUTÔS EREIS TOIS HUIOIS ISRAÊL HO ÔN APESTALKEN ME PROS HUMAS
👉Hebrew,
הִים אֶל־משֶֹׁה אֶהְיהֶ אֲשֶׁר אֶהְיהֶ ויַּאֹמֶר כּהֹ תאֹמַר לִבְניֵ ישְִׂרָאֵל אֶהְיהֶ שְׁלָחַניִ אֲלֵיכֶם׃ ויַּאֹמֶר אֱ
👉Translit interlinear, VAYO'MER [dan Dia berfirman] 'ELOHIM [Allah] 'EL-MOSYEH [kepada Musa] 'EHEYEH [Aku akan ada] 'ASYER [yang] 'EHEYEH [Aku akan ada] VAYO'MER [dan Dia berfirman] KOH [demikian] TO'MAR [engkau harus berkata] LIVENEY [kepada anak-anak] YISERA'EL [Israel] 'EHEYEH [Aku akan ada] SYELAKHANI [mengutus aku] 'ALEYKHEM [ke atas kalian]
💁♂️Israel memiliki dasar pijakan teologis yang kokoh pada frasa : I AM THAT I AM ('EH-YEH 'A-SHER 'EH-YEH) yang menyatakan KEBERADAAN/ EKSISTENSI "TUNGGAL/ SINGULAR" dari "SANG NAMA" (Hasyem).
⛔ Sayangnya ..... Konsili Nicea thn 325 merumuskan "Allah Trinitas" TIDAK BERDASARKAN PRINSIP "I AM THAT I AM ('EH-YEH 'A-SHER 'EH-YEH)".🤦♂️
berrsambung ... 👉SIAPAKAH SESUNGGUHNYA "JURUSELAMAT SEJATI ❓"✍
🤝Salam Hyper Grace dalam Bapa Yesus...💝
Senin, 22 Desember 2025
🛕GEREJA MASA KINI DENGAN IBADAH BUATAN SENDIRI😱
PELOPOR REFORMASI GEREJA
Reformasi menurut McDonald dalam Western Political Theory adalah sebagai
perubahan simbol-simbol banyak kekuatan dan
fungsi gereja pada abad pertengahan
menuju tatanan kehidupan masyarakat sekuler. Sehingga reformasi gereja merupakan sebuah upaya perbaikan tatanan kehidupan yang didominasi oleh otokrasi gereja yang menyimpang.
Reformasi
gereja adalah
sebuah
upaya
perbaikan
dan kembali pada
ajaran gereja yang lurus, gerakan reformasi berupa sikap kritis terhadap
penyimpangan- penyimpangan yang dilakukan oleh
pihak
Gereja
Katoliik
pada waktu
itu
terutama adanya penjualan surat pengampunan dosa (disebut surat aflat). Surat pengampunan
itu dijual
kepada mereka yang tidak dapat ikut dalam perang salib antara abad 11-13,
Kebiasaan penjualan Surat pengampunan dosa kemudian dilakukan untuk
mengumpulkan dana bagi pembangunan
geraja dan seterusnya. Faktor lain dari
munculnya Reformasi Gereja adalah keinginan untuk membebaskan diri dari kepemimpinan Paus terhadap kehidupan beragama di negara-negara
Eropa. Hal ini
tampak pada pertikaian antara raja Frederik II dari Prusia dengan Paus Innocencius
pada abad 13,
raja
Phillip IV
dari
Prancis dengan Paus Bonifacus pada abad 14.
Gerakan Reformasi
gereja bermula dari Kemelut di Gereja Barat dan Kekaisaran
Romawi Suci memuncaK
dengan Kepausan Avignon (1308 - 1378), dan skisma
kepausan (1378-1416), hal ini membangkitkan peperangan antara para pangeran, pemberontakan di antara petani,
dan keprihatinan
yang
meluas terhadap rusaknya sistem kebiaraan dan gereja katolik.
Gerakan
reformasi adalah suatu nasionalisme baru juga menantang dunia abad pertengahan dan
meluas secara
internasionalis. Salah satu perspektif yang paling
menghancurkan dan radikal sendi-sendi gereja pada waktu itu. Gerakan ini pertama-
tama
muncul dari John Wyclif 1320-1384 di Universitas
Oxford,
kemudian dari John Huss 1369-1415
di Universitas
Praha, dan Desiderus Erasmus (1466-1536), dan Thomas
More (1478-1575).
Gereja Katolik Roma secara resmi menyimpulkan perdebatan ini di Konsili Konstanz (1414-1418). Konklaf mengutuk John Huss yang dihukum mati, padahal ia datang dengan jaminan keamanan. Sementara Wyclif secara anumerta dihukum bakar sebagai seorang penyesat. Konstans mengukuhkan dan memperkuat konsepsi abad pertengahan yang tradisional tentang gereja dan kekaisaran. Konsili ini tidak membahas ketegangan nasional, ataupun ketegangan teologis yang muncul pada abad sebelumnya. Konsili tidak dapat mencegah skisma dan Perang Huss di Bohemia.
Gerakan ini kemudian berkembang dengan berbagai tokohnya melahirkan banyak pemikiran baru tentang bagaimana masyarakat seharusnya ditata. Hal inilah yang mengakibatkan tercetusnya Reformasi Protestan. Setelah runtuhnya lembaga- lembaga biara dan skolastisisme di Eropa pada akhir abad pertengahan, yang diperparah oleh Pembuangan ke Babel dari Kepausan Avignon, Skisma Besar, dan kegagalan pembaruan oleh Gerakan Konsiliar, pada abad ke-16 mulai matang perdebatan budaya yang besar mengenai pembaruan keagamaan dan kemudian juga nilai-nilai keagamaan yang dasariah. Para ahli sejarah pada umumnya mengasumsikan bahwa kegagalan untuk mereformasi (terlalu banyak kepentingan pribadi, kurangnya koordinasi di kalangan koalisi pembarua), akhirnya menyebabkan gejolak yang lebih besar atau bahkan revolusi, karena sistemnya akhirnya harus disesuaikan atau runtuh, dan kegagalan Gerakan Konsiliar melahirkan Reformasi Protestan di Eropa bagian barat. Gerakan-gerakan reformis yang frustrasi ini merentang dari nominalisme, ibadah modern, hingga humanisme yang terjadi berbarengan dengan kekuatan-kekuatan ekonomi, politik dan demografi yang ikut menyebabkan ketidakpuasan yang kian meningkat terhadap kekayaan dan kekuasaan kaum agamawan elit, membuat masyarakat semakin peka terhadap kehancuran finansial dan moral dari gereja Renaisans yang sekular. Akibat-akibat yang ditimbulkan oleh wabah pes mendorong penataan ulang secara radikal ekonomi dan akhirnya juga masyarakat Eropa. Namun demikian, di kalangan pusat-pusat kota yang bermunculan, bencana yang terjadi pada abad ke-14 dan awal abad ke-15, dan kekurangan tenaga kerja yang ditimbulkannya, merupakan dorongan kuat bagi diversifikasi ekonomi dan inovasi teknologi.
REFORMASI GEREJA
Selanjutnya reformasi Gereja berkembang dan memunculkan tokoh-tokoh reformer yaitu Martin Luther (1483-1546), Johannes calvin (1509-1564), dan Bodin (1530-1596). Pada tahun 1517 Martin Luther mengemukakan pokok-pokok pikiran sebagai kritikan terhadap Gereja meliputi 95 dalil yang kemudian ditempel di pintu gereja Wittenberg. Pendapatnya antara lain: Amal baik yang tidak keluar dari hati yang murni tidak akan diterima Tuhan. Hanya orang yang percaya kepada Yesus Kristuslah yang dapat diterimaTuhan. Tiap orang dapat langsung berhubungan dengan Tuhan tanpa perantara Gereja. Tiap orang yang menyesali kesalahannya akan terlepas dari hukuman sehingga tidak diperlukan adanya surat pengampunan dosa. Gereja meerupakan perkumpulan orang percaya dan Yesuslah Kepalanya sehingga kedudukan Paus selaku pimpinan agama tidak dapat diterimanya.
Selain mengutamakan ajaran di atas, pada masa pembuangannya Martin Luther
juga menterjemahkan Kitab Injil dari bahasa Latin ke bahasa Jerman sehingga banyak orang dapat memahami isi kitab suci. Reformasi Gereja juga berkembang ke negara-
negera
lain
di
Eropa misalnya tokoh Jean Calvin
dari
Prancis
(1509-1564)
yang
ajarannya disebut Calvinisme banyak pengikutnya di Belanda, Inggris dan Scotlandia.
Tokoh Ulrich Zwingli (1484-1531) dari
Swiss serta munculnya Gereja Anglica di
Inggris
dipelopori oleh raja Henry VIII Tudor (1509-1547).
Reformasi ini berakhir dengan pembagian dan pendirian institusi-institusi baru, di antaranya Gereja Lutheran, Gereja-gereja Reformasi, dan Anabaptis. Gerakan ini juga menimbulkan Reformasi Katolik di dalam Gereja Katolik Roma. Rancangan teologis dan latar belakangnya disusun pada Konsili Trente (1548-1563), ketika Roma memukul balik gagasan-gagasan fundamental yang dibela oleh para Reformator, seperti Luther.
Reformasi Gereja dan Renaisans
Reformasi
gereja diilhami dari terjadinya renaisan
pada abad pertengahan, menghasilkan pemikiran Barat
kearah modern dan mempunyai rujukan
jelas
menuju
liberalisme dan kebebasan. Renaisans adalah masa kelahiran atau kebangkitan kembali
manusia Barat setelah tertidur lama pada masa yang disebut “abad kegelapan” (dark ages).
Kata ini berasal
dari bahasa Itali,
rinascimento, yang berarti “terlahir kembali.”
Sementara itu, “reformasi” adalah gerakan pembaharuan keagamaan Kristen.
Inti
dari gerakan ini adalah sikap protes terhadap Gereja Katolik yang dinilai otoriter, kaku, dan tak bersahabat terhadap
perubahan zaman.
Karenanya, gerakan ini
kemudian disebut sebagai gerakan Protestan.
Baik renaisans maupun reformasi menjadi landasan utama bagi sejarah
peradaban Barat
modern selanjutnya. Dua kata ini kemudian dipakai untuk menjelaskan
akar sejarah berbagai konsep pemikiran yang muncul di dunia modern, seperti
modernisme, humanisme, rasionalisme,
pragmatisme, dan liberalisme.
Di Eropa, renaisans adalah keinginan untuk mengulangi masa kegemilangan
peradaban Greko-Romawi, yang terjadi pada lima abad terakhir dan tiga
abad pertama sebelum dan sesudah masehi. Pada masa ini,
kebudayaan
Eropa mencapai puncaknya.
Periode kegelapan (dark
ages) adalah masa yang terbentang selama “abad pertengahan” (medieval), yakni masa-masa di mana masyarakat Eropa didominiasi oleh pemerintahan dan kekuasaan agama. Para sejarawan biasanya merujuk antara abad
ke-4 hingga abad ke-15 sebagai
masa-masa peradaban skolastik atau peradaban yang
dikuasai oleh
para penguasa
Gereja. Masa-masa ini
adalah
periode yang ingin dikubur oleh tokoh renaisans.
Reformasi Gereja
dan Modernitas
Reformasi Gereja di Eropa adalah tahapan awal perkembangan modernitas, kata modernitas berasal dari bahasa Inggris yaitu modern, yang artinya of the present or recent times. Menurut kamus umum bahasa Indonesia, modern berarti terbaru ; mutakhir; sikap dan cara berpikir serta bertindak sesuai dengan tuntutan zaman. Sedangkan pengertian modernitas itu sendiri adalah kemoderenan; yang modern; keadaan modern. Menurut Marshall G.S Hodson, abad modern itu sesugguhnya lebih tepat disebut abad tehnik apalagi jika harus dihindari konotasi moral yang kontroversial pada perkataan “ modern” ( modern berarti baik, maju, dan lain-lain).
Pengalaman Modernitas Dalam
Sejarah
Eropa. Berbicara zaman
modern
di
Eropa sebenaranya tidak akan
terlepas dari peran Islam, karena dengan mempelajari
penemuan-penemuan orang Islam serta
peradaban
Islam lah
Eropa bisa
menyadari
betapa pentingnya revolusi digalakkan sehingga kemudian muncul penemuan- penemuan orang Eropa
sendiri, sehingga
menyebabkan
orang Eropa
maju
dalam berbagai
bidang – dalam ilmu pelayaran misalnya orang-orang Eropa ( yang selanjutnya
akan
disebut Barat) mempelajari cara-cara orang Islam sehingga
kemudian
memunculkan kolonialisme serta imperialisme ke Afrika maupun ke Asia. Barat menerjemahkan secara besar-besaran karya-karya orang Islam dalam berbagai bidang dari filsafat sampai ke teknologi. Dan ini bermula setelah Barat khususnya Kristen kalah dalam perang Salib. Barat mengagumi kebudayaan, teknologi, maupun sains dari orang
Islam. Dan oleh
karena itulah penulis mengatakan
bahwa
penyebab
utama terjadinya modernitas
di Eropa
adalah karena bertemunya Barat
dengan peradaban Islam. Pada abad ke-16 M, Eropa mengalami zaman renaissance ( kelahiran kembali) yang
diawali dengan refomasi gereja, mengingat ketika itu peran gereja sangat kuat bagi kehidupan, sehingga dengan adanya reformasi
gereja, Barat mulai bangkit dari zaman kegelapan. Setidaknya reformasi gereja melahirkan dua
gerakan. Yang pertama
menginginkan
adanya reformasi, sedangkan yang kedua menolak adanya reformasi (kontra reformasi). Martin
Luther,
adalah
tokoh dari gerakan yang pro terhadap reformasi
gereja. Ia menganggap penjualan surat pengampunan dosa sebagai sesuatu
yang tidak wajar dan semestinya. Selain itu ia pun menentang ajaran tradisioanal bahwa
Paus
adalah
penghubung
antara Tuhan dan
Umat
Kristen, karena
ia berpendapat
bahwa setiap manusia bisa berhubungan dengan Tuhan tanpa harus melalui perantara
Sri Paus. Tokoh kedua yang mendukung reformasi gereja ialah John Calvin, dalam ajarannya ia sangat menentang perzinahan, judi, mabuk, dan lagu-lagu porno. Baginya semua perbuatan itu adalah kejahatan dan harus dihukum berat bagi pelakunya. Pokok ajarannya yang menonjol adalah etos kerja dan semangat kerja. Sementara gerakan yang kedua yaitu gerakan yamh kontra reformasi yang diplopori oleh Paus Pius.V, Paus Gregorius XIII, Siktus V, Raja Filipus, dan lain-lain terutama dari kelmpok yang setia kepada ajaran Katolik. Dampaknya bagi kehidupan Barat yang semula gereja mempunyai hak penuh, kini lambat-laun berkurang atau malah habis. Peristiwa kedua yang menurut penulis sangat erat kaitnanya dengan jaman modern Eropa sekaligus berperan penting, ialah revolusi Industri. Revolusi ini mula-mula berkembang di Inggris. Baru kemudian ke semua daratan Eropa dan menyebar ke seluruh dunia. Factor utama terjadinya revolusi industri adalah penemuan yang dialukan oleh Abraham Darby seorang insinyur berkebangsaan Inggris yang berhasil menggunakan batu bara untuk melelehkan besi dan mendapatkan nilai besi yang lebih sempurna. Juga penemuan mesin uap oleh James Watt, insinyur berkebangsaan Sekotlandia. Hasil temuannya menjadi alat yang dkenal luas dan dimandfaatkan pada pabrik-pabrik seperti pabrik tekstil. Perekembangan tersebut di atas menjadi pendorong munculnya masyarakat modern. Penemuan besar yang merupakan awal peradaban modern pada mesin tenun dan kain. James watt adalah bapak revolusi industri. Karena berkat penemuannyalah yang menentukan perkbangan industri modern. Mula-mula temuannya itu hanya dipergunakan untuk pabrik tekstil, tapi kemudian dengan seiringnya kemajuan zaman dikembangkan untuk sarana transportasi. Penemuan-penemuan demi penemuan terus berkembang sampai kemudian ditemukannya aliran listrik oleh Benjamin Franklin seorang politikus besar Amerika Serikat. Ia menemukan adanya gejala listrik yang berasal dari awan pada tahun 1782 M. penemuan ini pulalah yang belakangan menjadi tolok-ukur penemuan-penemuan di bidang teknologi dan informasi. Peristiwa yang tidak kalah pentingnya dalam menciptakan jaman modern di barat ialah revolusi Prancis pada tahun 1789 M. Revolusi ini mempunyai dampak yang sangat kuat bagi kehidupan internasional dalam berbagai bidang, baik itu politik, ekonomi, maupun sosial. Dalam bidang politik misalnya yang menyebabkan meluasnya paham liberalisme, nasionalisme, serta demokrasi. Di bidang sosial yang menyebabkan penghapusan feodalisme, pendidikan dan pengajaran merata di semua lapisan masyarakat, serta perkembangnya hak asasi manusia di dunia. Kejadian-kejadian diatas kemudian melatarbelakangi imperialisme dan kolonialisme ke Asia maupun ke Afrika.
Reformasi Gereja dan Renaisans merupakan titik tolak dunia modern saat ini yang sekuler, dunia mengarah kepada
kehidupan yang hampa dan terpisah dari agama,
mengutamakan akal dan kebebasan dalam berpikir. Namun pencapaian dunia barat
saat ini tidak diiringi oleh
kebaikan
moral dari agama, sehingga muncul
banyak masalah sosial dan ketimpangan antara si kaya dan si miskin, antara dunia barat dan timur.
Kebebasan yang dihasilkan oleh reformasi
gereja telah membuat dampak yang serius bagi peradaban
dunia saat ini, dan peradaban barat bahkan cenderung menuju
kehancuran, peradaban barat saat ini sudah mencapai titik
kulmulasi, roda peradaban
berputar diganti dengan peradaban bangsa lain.
Analisa Bacaan tentang “The Reformation” McDonald. Lee Cameron, Western Political Theory, Part 2&3. New York: Harcourt Jovanovich, 1968 McDonald. Lee Cameron, Western Political Theory, Part 2&3. New York: Harcourt Jovanovich, 1968. http://wapedia.mobi/id/Reformasi_Protestan#1.
GEREJA MASA KINI DENGAN IBADAH BUATAN SENDIRI
[Kolose 2:23]
Dalam Alkitab, ibadah umumnya mencakup doa, mempersembahkan korban bakaran, menyanyikan puji-pujian, atau membaca hukum Taurat. Dari kegiatan-kegiatan ibadah inilah muncul bentuk ibadah Kristen yang kita kenal sekarang ini.
Ketika bicara tentang ibadah, biasanya kita menghubungkannya dengan kegiatan-kegiatan lahiriah seperti bernyanyi, berdoa, dan mendengarkan khotbah. Tetapi, dari sudut pandang Tuhan, perwujudan-perwujudan lahiriah ini sendiri tidak dianggap sebagai ibadah yang sejati. Jadi apa yang dimaksud dengan beribadah kepada Tuhan? Bagaimana seharusnya kita menyembah Tuhan dan menjadikan ibadah kita dikenan-Nya?
Mungkin akan membantu bila terlebih dahulu kita memeriksa ulang arti kata “menyembah”. Kata “menyembah” berarti “sujud dalam penghormatan”. Ini adalah frasa yang menggambarkan tindakan orang membungkuk di hadapan seseorang yang agung. Ini adalah tanda kerendahhatian dan pengabdian total. Alkitab sering menggunakan kata ini dalam arti seperti ini.
Tetapi intisari ibadah yang sejati bukan terletak pada tindakan membungkuk secara lahiriah, melainkan pada tunduknya si manusia batiniah. Tempat ibadah tidaklah sepenting ruangan hati kita.
Bagi orang-orang yang hanya menaruh perhatian pada bentuk ibadah lahiriah tapi melupakan arti ibadah yang sejati, inilah yang akan Tuhan katakan:
Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. (Mat. 15:8-9)
Ibadah yang sejati ialah tanggapan sepenuh hati atas kebesaran Tuhan. Berupa penyembahan terhadap Tuhan dan penyerahan sebulat hati. Tuhan jauh lebih memedulikan apa yang mendorong kita beribadah daripada gerakan-gerakan yang kita jalani dalam ibadah.
👉Ibadah dimulai dengan Penyembahan.
Beribadah ialah berada dalam keadaan takjub sepenuhnya akan Tuhan. Satu-satunya motivasi kita untuk beribadah ialah Tuhan. Yang membuat kita berlutut adalah rasa hormat kita kepada-Nya. Karena kasih, kuasa, dan hikmat-Nya jauh lebih besar daripada kasih, kuasa, dan hikmat kita, sewajarnya kita tergerak untuk tunduk kepada-Nya. Jika ibadah kita digerakkan oleh seseorang atau sesuatu yang lain daripada Tuhan, itu bukanlah ibadah yang sejati. Hanya Tuhanlah yang mengilhami ibadah kita. Ketika kita sungguh-sunggguh memikirkan dan merasakan siapa Tuhan itu dan apa yang telah Dia perbuat bagi kita, tak dapat tidak kita pasti jatuh bersujud di hadapan-Nya.
Sewaktu berdoa, saya punya kebiasaan memulainya dengan mengucapkan daftar terima kasih dan permohonan kepada Tuhan. Mungkin ini lebih baik daripada mengawang-awang dalam doa. Tetapi doa-doa saya gampang sekali terjatuh ke dalam serangkaian pengulangan tanpa perhatian. Ketika hal itu terjadi, saya sama saja beribadah karena tugas, bukan karena menghormati Tuhan. Ibadah semacam ini adalah ibadah yang dangkal.
Pernahkah Anda mengalami saat ketika hati Anda merasakan bahwa Tuhan begitu menakjubkan dan agung, dan bahwa Anda begitu kecil dan tak berharga? Itulah yang dirasakan Petrus di hadapan Tuhan Yesus. Ketika dia dan rekan-rekannya sesama nelayan sudah melakukan apa yang diperintahkan Tuhan Yesus dan menebarkan jala, mereka menangkap ikan dalam jumlah yang begitu besar sampai-sampai jala mereka koyak. Ikannya begitu banyak sampai bisa mengisi dua perahu dan perahu-perahu itu hampir tenggelam! Pada saat itu, Petrus jatuh tersungkur di kaki Yesus, merasa sepenuhnya tidak layak dan sangat berdosa, dan dia meminta agar Tuhan meninggalkannya (Luk. 5:8). Tak ada yang memberitahunya agar tersungkur di hadapan Yesus, tetapi ia melakukannya karena merasa takjub di hadirat Tuhan Yang Mahakuasa.
Beginilah cara pemazmur dalam Alkitab beribadah kepada Tuhan. Sewaktu merasakan kemurahan kasih Tuhan, pembebasan-Nya yang penuh kuasa, karya-Nya di alam semesta, mereka terpukau. Dari lubuk jiwa yang terdalam, mereka berseru kepada Tuhan dalam penyembahan penuh kekaguman.
Kita juga bisa mengalami ketakjuban ini kalau kita mengabdikan diri pada firman Tuhan dan doa. Saat saya sungguh-sungguh merasakan hadirat Tuhan dalam doa-doa saya, yang bisa dan ingin saya lakukan hanyalah terus-menerus memuji Tuhan. Tak perlu ada kata-kata. Rasanya tidak pada tempatnya kalau mengajukan permohonan dan permintaan. Di masa-masa seperti ini, saya merasakan keagungan Tuhan yang luar biasa dan tak terlukiskan. Kuasa dan kasih-Nya melingkupi saya sepenuhnya. Roh Kudus-Nya memberikan sayap-sayap kepada doa saya dan mengangkat saya langsung ke tahta kemurahan Tuhan. Rasa rendah hati dan syukur yang berkelimpahan menguasai diri. Haleluya-Haleluya terus mengalir dari dasar hati dan keluar melalui mulut saya, entah dalam bentuk seruan nyaring ataupun nyanyian roh.
Tidaklah mengherankan apabila makhluk-makhluk hidup, para tua-tua, malaikat-malaikat, dan sekumpulan besar orang dalam penglihatan Yohanes tidak dapat berhenti memuliakan Tuhan di hadapan tahta-Nya. Tidaklah mengherankan apabila mereka terus-menerus tersungkur untuk menyembah di hadapan tahta itu.
Maka aku melihat dan mendengar suara banyak malaikat sekeliling tahta, makhluk-makhluk dan tua-tua itu; jumlah mereka berlaksa-laksa dan beribu-ribu laksa, katanya dengan suara nyaring: “Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!” Dan aku mendengar semua makhluk yang di sorga dan yang di bumi dan yang di bawah bumi dan yang di laut dan semua yang ada di dalamnya, berkata: “Bagi Dia yang duduk di atas tahta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!” Dan keempat makhluk itu berkata: “Amin.” Dan tua-tua itu jatuh tersungkur dan menyembah. (Why 5:11-14)
Nah, inilah ibadah yang sejati. Mereka berada dalam ketakjuban akan keagungan Tuhan Allah yang kekal, sehingga mereka menyembah-Nya siang dan malam. Dari dasar hati, mereka mengucapkan syukur dan pujian kepada Anak Domba yang telah dikorbankan.
Kadang-kadang, kita tidak merasa terilhami meskipun kita membaca Alkitab, menyanyi, dan berdoa. Ini karena hati kita belum memasuki ruang tahta Sang Raja. Kita belum membuka mata kita untuk memandang keindahan dan kemegahan Tuhan. Kita terlalu sibuk untuk menghargai karya besar penciptaan-Nya atau mujizat-mujizat yang kita anggap biasa saja. Kita sudah lupa mencamkan bekas paku di tangan-Nya dan alasan mengapa luka itu ada di sana.
Tetapi jika Anda menyediakan waktu setiap hari untuk membubung ke hadirat Tuhan, Dia akan mengilhami Anda dan menggerakkan hati Anda. Teduhkan jiwa Anda dan datanglah di kaki-Nya untuk mendengarkan firman-Nya. Berpalinglah dari daya tarik dunia yang berumur pendek dan tataplah wajah-Nya. Anda akan terpukau pada karya-Nya dan kehendak-Nya. Serahkan semua beban dan kecemasan Anda kepada-Nya, dan duduklah dalam pelukan kasih-Nya. Dia akan berbicara dengan lembut kepada Anda dan menghibur jiwa Anda dengan roh-Nya.
Ruang tahta Tuhan selalu terbuka. Setiap saat di hidup kita adalah kesempatan untuk beribadah. Bahkan saat Anda tidak sedang berlutut berdoa atau memegang Alkitab, Anda masih bisa mempersembahkan ibadah yang sejati kepada Tuhan. Datanglah ke hadirat Tuhan kapan saja. Dia tidak akan pernah gagal mengilhami Anda, entah itu melalui satu kata yang membangkitkan semangat, sebuah pengingat akan kasih-Nya yang abadi, atau pelukan hangat oleh roh-Nya. Di sanalah dan saat itulah, Anda akan tersungkur di hadapan-Nya dalam penyembahan yang rendah hati.
👉Ibadah Diakhiri dengan Penyerahan Diri
Tanggapan alami penyembahan kepada Tuhan adalah berserah sepenuhnya.
Dalam penglihatan surgawi Yohanes, dua puluh empat orang tua-tua duduk di atas tahta, berpakaian jubah putih; dan kepala mereka bermahkota emas (Why. 4:4). Mereka diberi kehormatan dan kemuliaan yang besar. Namun demikian, Yohanes mencatat bahwa mereka “tersungkur di hadapan Dia yang duduk di atas tahta itu, dan mereka meyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya. Dan mereka melemparkan mahkotanya di hadapan tahta itu” (Why. 4:10). Kata “melemparkan” artinya “membuang”. Para tua-tua ini membuang mahkota-mahkota emas mereka sewaktu menyembah Tuhan! Di hadapan kemuliaan dan kemegahan Tuhan, satu-satunya tempat yang sesuai untuk mahkota mereka adalah tanah.
Di hadapan Tuhan kita Yang Mahakuasa, harta-karun kita menjadi sampah (ref: Flp. 3:8); hikmat kita menjadi kebodohan; kekuatan kita menjadi kelemahan (ref: 1Kor. 1:25); dan pakaian saleh kita menjadi kain kotor (Yes. 64:6). Begitu kita datang ke tempat kudus dan menundukkan diri kepada Sang Raja segala raja, tak bisa tidak kita pasti mengakui kekurangan kita dan melemparkan segala hal yang kita banggakan di hadapan tahta-Nya.
Tuhan Yesus mengajar kita bahwa ibadah yang sejati tidak tergantung pada tempat kita beribadah tetapi pada apakah kita beribadah di dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4: 21-24). Di satu sisi, Tuhan ingin agar kita menundukkan diri di hadapan-Nya bukan hanya secara lahiriah, melainkan dengan setulus manusia batiniah kita dan dan dalam segenap kejujuran.
Di sisi lain, dan untuk membawa ibadah kita selangkah lagi lebih maju, sangatlah penting bagi kita untuk menyerahkan roh kita kepada roh-Nya dan kejujuran kita kepada kebenaran-Nya. Ketulusan saja tidaklah cukup. Seseorang bisa tulus tapi keliru. Kita tidak dapat beribadah dan melayani Tuhan sesuai dengan cara dan kehendak kita; kita harus berserah pada cara-Nya dan kehendak-Nya. Itulah ibadah, dan ini merupakan tindakan sehari-hari.
Demikian juga, Paulus menjelaskan ibadah dalam pengertian penyerahan diri total kepada Tuhan.
Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah; itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Rm. 12:1-2)
Ibadah adalah melepaskan diri kita dan membiarkan Tuhan mengambil kendali atas hidup kita. Artinya mengikuti cara-cara Tuhan, bukannya budaya populer.
Sering kali cara-cara dan kehendak Tuhan jauh melampaui kemampuan pemahaman kita. Kita hanya dapat berserah kepada cara-cara dan kehendak-Nya itu dengan rendah hati dan sikap takjub. Selagi Paulus menjabarkan pemilihan Tuhan, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menyatakannya dengan pujian dan penuh rasa hormat:
Oh, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!
Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya?
Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Rm. 11:33-36)
Pikiran-pikiran dan cara-cara Tuhan jauh lebih tinggi daripada milik kita. Dia melihat dari kekekalan sampai kekekalan, sedangkan kita, tentang hari esok pun tidak tahu. Dia menopang seluruh ciptaan dengan firman-Nya yang berkuasa, sementara kita, menambah tinggi badan seinci pun tidak mampu. Kita hanya dapat mempercayakan diri sepenuhnya kepada Pencipta dan Tuhan kita.
Bahkan ketika bencana menimpa kita, penyembah Tuhan yang sejati terus menekuk lutut di hadapan-Nya. Ayub adalah penyembah semacam ini.
Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah, katanya:
“Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!”
Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut. (Ayb. 1:20-22)
Ibadah Ayub adalah satu contoh penyerahan diri total. Di tengah-tengah tragedi mendadak yang dialami, ia tersungkur ke tanah menyembah dan memuji Allah. Dia taat kepada kehendak tertinggi Allah, tanpa keluh kesah atau perlawanan. Inilah jenis penyembah sejati yang dicari Bapa.
👉Kehidupan Penuh Ibadah
Ibadah tidak dibatasi oleh dinding-dinding gereja. Bukan hanya dimulai atau berakhir bersama kebaktian gereja. Melainkan, merupakan penundukan hati sepanjang hidup kita di hadapan Tuhan, mengagungkan Dia dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya. Seorang penyembah Tuhan beribadah di hadapan tahta siang dan malam, bukan hanya pada saat berada di dalam gedung gereja.
Tuhan kita adalah alasan utama keberadaan kita. Kepada Dia dan melalui Dia dan bagi Dialah segala sesuatu. Dia layak menerima segala kemuliaan dan hormat.
Kiranya setiap hari dalam hidup kita dipenuhi dengan pujian, syukur, dan keajaiban. Kiranya seluruh diri kita dengan rendah hati dipersembahkan kepada Tuhan untuk melayani-Nya.
💁♂️FIDES QUAERENS INTELLECTUM🧏♂️
✋Salam Hyper Grace dalam Bapa Yesus










