Dalam penulisan ini, saya mencoba cara berpikir yang tidak biasa—tidak mengaplikasikan pemikiran, doktrin, atau ajaran yang telah diwariskan turun-temurun untuk dimasukkan ke dalam pikiran saya. Tulisan ini lahir dari perenungan yang mendalam, berfondasikan kebenaran teks Alkitab itu sendiri, tanpa asumsi dan spekulasi. Dengan pendekatan ini, saya berharap para pembaca dapat memperoleh pengertian tentang Sang Keberadaan itu sendiri, yaitu Yesus.
Kristus dan Keberadaan-Nya: Kesaksian Alkitab tentang Sang Firman
Kristologi tidak dimulai dari apa yang Yesus lakukan, melainkan dari siapa Yesus itu. Segala pembahasan tentang keselamatan, karya penebusan, dan pengharapan manusia hanya dapat dipahami dengan benar apabila keberadaan Kristus dipahami terlebih dahulu. Alkitab tidak memperkenalkan Yesus sebagai makhluk yang bermula di dalam sejarah, melainkan sebagai Keberadaan yang sudah ada sebelum sejarah itu sendiri ada.
Kesalahan dalam memahami keberadaan Kristus akan menghasilkan dua Pandangan yang berlebihan: menurunkan Yesus menjadi sekadar makhluk ciptaan, atau menjadikan-Nya figur simbolis tanpa realitas kuasa ilahi. Kesaksian Alkitab menolak keduanya dan secara konsisten menyatakan satu kebenaran: Yesus adalah Tuhan, Sang Firman, Sang Keberadaan itu sendiri.
1. Pra-Eksistensi Kristus: Sang Firman yang Kekal
Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa keberadaan Kristus tidak dimulai di dunia ini.
Ἐν ἀρχῇ ἦν ὁ Λόγος
En ar-khē ēn ho Ló-gos
καὶ ὁ Λόγος ἦν πρὸς τὸν Θεόν
Kai ho Ló-gos ēn pros ton The-ón
καὶ Θεὸς ἦν ὁ Λόγος
Kai The-ós ēn ho Ló-gos
“Pada mulanya Firman itu ada, dan Firman itu mengarah kepada Allah, dan Firman itu adalah Allah.”
(Yohanes 1:1)
Ayat ini menegaskan satu realitas mendasar:
Kristus adalah Firman yang sudah ada sebelum segala sesuatu dijadikan. Ia bukan hasil ciptaan, bukan makhluk yang muncul dalam waktu, dan bukan pribadi yang bergantung pada sejarah.
Yesus sendiri menyatakan kesadaran akan keberadaan kekal-Nya:
καὶ νῦν δόξασόν με σύ, πάτερ, παρὰ σεαυτῷ
kai nyn dóxasón me sý, páter, pará seautō
kai nyn dóxasón me sý, páter, pará seautō
τῇ δόξῃ ᾗ εἶχον πρὸ τοῦ τὸν κόσμον εἶναι παρὰ σοί
tē dóxē hē eíkhon pró tou tón kósm on eínai pará soí
tē dóxē hē eíkhon pró tou tón kósm on eínai pará soí
“Dan sekarang, ya Bapa, muliakanlah Aku di sisi-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Aku miliki di sisi-Mu sebelum dunia ada”
(Yohanes 17:5)
Pernyataan ini tidak membuka ruang bagi anggapan bahwa Yesus baru “menjadi” Tuhan setelah peristiwa tertentu. Ia sudah memiliki kemuliaan sebelum dunia ada. Dengan demikian, pra-eksistensi Kristus menunjukkan bahwa Ia adalah Keberadaan yang tidak bergantung pada ciptaan, melainkan sumber dari segala yang ada.
2. Pra-Kenosis: Keberadaan Ilahi dalam Kepenuhan Kemuliaan
Jika pra-eksistensi menjawab kapan Kristus ada, maka pra-kenosis menjawab dalam keadaan apa Ia ada.
“Yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan.”
(Filipi 2:6)
Ayat ini tidak berbicara tentang perubahan hakikat, melainkan tentang sikap keberadaan. Kristus berada dalam rupa Tuhan, memiliki kemuliaan dan otoritas ilahi sepenuhnya, namun tidak mempertahankan kemuliaan itu sebagai alat untuk memuliakan diri.
Pra-kenosis menunjukkan bahwa sebelum masuk ke dalam sejarah keselamatan, Kristus berada dalam kepenuhan kemuliaan ilahi, tidak terbatas oleh ruang, waktu, atau kondisi ciptaan.
3. Kenosis: Pengosongan Diri sebagai Penyataan dalam Sejarah
Kenosis tidak berbicara tentang kehilangan keilahian, melainkan pembatasan ekspresi kemuliaan.
ἀλλ᾽ ἑαυτὸν ἐκένωσεν,
all’ heautòn ekénōsen,
all’ heautòn ekénōsen,
μορφὴν δούλου λαβών,
morphḕn doúlou labṓn,
ἐν ὁμοιώματι ἀνθρώπων γενόμενος·
en homoiṓmati anthrṓpōn genómenos
“melainkan Ia mengosongkan diri-Nya sendiri, dengan mengambil rupa seorang hamba, dalam keserupaan manusia.”
(Filipi 2:7)
Pengosongan ini bukan perubahan hakikat keberadaan, melainkan perubahan cara penyataan. Sang Firman tidak berhenti menjadi Tuhan, tetapi menyatakan diri-Nya dalam rupa yang dapat dijangkau manusia.
ὁ Λόγος σὰρξ ἐγένετο καὶ ἐσκήνωσεν ἐν ἡμῖν
ho Lógos sarx egéneto kai eskḗnōsen en hēmîn
“Firman itu telah menjadi daging dan tinggal di antara kita.”
(Yohanes 1:14)
Teks ini tidak menegaskan bahwa Sang Firman berhenti sebagai Tuhan atau berubah menjadi makhluk ciptaan, melainkan bahwa Firman hadir secara nyata di tengah manusia, dalam bentuk yang dapat dilihat, didengar, dan dialami.
Kenosis menunjukkan bahwa Tuhan tidak menyelamatkan dari kejauhan. Ia hadir, menyatakan diri, dan bertindak langsung dalam sejarah manusia tanpa kehilangan identitas-Nya sebagai Tuhan.
4. Pasca-Kenosis: Pemuliaan yang Menyatakan Siapa Dia Sejak Semula
Setelah karya ketaatan-Nya dinyatakan, Alkitab mencatat pemuliaan Kristus:
“Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama.”
(Filipi 2:9)
Pemuliaan ini bukanlah perubahan status ontologis, melainkan penyingkapan terbuka tentang siapa Kristus sebenarnya. Yang disingkapkan dalam kebangkitan dan kenaikan bukan identitas baru, melainkan identitas yang sejak kekekalan sudah ada.
“Yesus ini… akan datang kembali dengan cara yang sama.”
(Kisah Para Rasul 1:11)
Kristus yang ditinggikan adalah Kristus yang sama—Tuhan yang hidup, berkuasa, dan akan menyatakan diri-Nya kembali.
5. Keberadaan Kristus yang Kekal dan Tidak Berubah
Alkitab menegaskan bahwa keberadaan Kristus tidak bersifat sementara atau kontekstual.
“Sebab di dalam Dialah berdiam seluruh kepenuhan ke-Allahan.”
(Kolose 2:9)
Kristus tidak mengalami evolusi keberadaan. Ia tidak naik menjadi Tuhan, dan tidak turun menjadi ciptaan. Ia adalah Keberadaan yang tetap, yang menyatakan diri-Nya dalam sejarah tanpa kehilangan apa pun dari diri-Nya.
“Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.”
(Ibrani 13:8)
Kristologi sebagai Kesaksian Keberadaan
Kristologi bukan sekadar kerangka ajaran, melainkan kesaksian Alkitab tentang Tuhan yang menyatakan diri-Nya.
Kristus adalah:
- Sang Firman yang kekal
- Sang Keberadaan yang tidak berubah
- Tuhan yang hadir dan bertindak dalam sejarah
- Tuhan yang akan menyatakan diri-Nya kembali
Keselamatan bukan berangkat dari perubahan Tuhan, melainkan dari penyataan Tuhan kepada manusia. Dan di dalam Yesus, Alkitab menyatakan Sang Keberadaan itu secara penuh dan nyata.
“Akulah Alfa dan Omega,” firman Tuhan Allah, “yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.”
(Wahyu 1:8)
Haleluya, Bapa Yesus memberkati kita semua,
—Ps. Christian Moses

0 comments:
Posting Komentar