Halaman

Rabu, 10 Desember 2025

BAGIAN I DASAR KEFILSAAFAN: YESUS SEBAGAI SANG KEBERADAAN

BAB 1

SEBELUM TUHAN ADA: EKSISTENSI SANG KEBERADAAN

Untuk sampai pada pemahaman tentang identitas Allah, seseorang harus mundur jauh melampaui kategori “Tuhan” — karena kata Tuhan bukan nama diri, bukan hakikat, bukan esensi, melainkan relasi antara Sang Pencipta dengan ciptaan-Nya. Maka untuk mengetahui “siapa Dia sebelum menjadi Tuhan”, pertanyaannya bukan: Siapa Tuhan? tetapi: Apa yang ada sebelum istilah Tuhan menjadi mungkin?

Jawabannya tidak ditemukan dalam teologi sistematik, tetapi langsung dalam pengakuan Alkitab tentang diri-Nya: Ia menyebut diri-Nya bukan ‘Tuhan’, melainkan ‘AKU ADA’ (Kel. 3:14). Ini bukan nama, bukan gelar, tetapi penyingkapan eksistensial: bahwa sebelum segala sesuatu ada, sebelum relasi Pencipta–ciptaan muncul, sebelum ada penyembah, sebelum ada dunia — Dia adalah Keberadaan itu sendiri.

 

1. “Aku adalah Aku” bukan pernyataan agama, tetapi  deklarasi eksistensial

Ketika Musa bertanya siapa nama-Nya di dalam Kejadian 3:14, Tuhan tidak memberikan nama, tetapi ontologi.

“Ehyeh Asher Ehyeh” – AKU ADALAH AKU

Ini bukan jawaban teologis. Ini jawaban metafisik.

Ia tidak berkata, “Aku adalah Tuhan,” sebab saat itu belum ada bangsa Israel yang memanggil Dia demikian. Ia berkata:
“Aku adalah Keberadaan itu sendiri — yang ada, karena Dia ada.”

  • Ia tidak bergantung pada apa pun.
  • Ia tidak berasal dari mana pun.
  • Ia tidak berubah dari apa pun
  • Ia  adalah “yang-ada” karena keberadaan-Nya adalah asli, tak  bertumpu, tak terproses, tak menjadi, dan tak dimulai.

 Inilah eksistensi yang mendahului konsep Tuhan.

 

2. Alfa–Omega: Pernyataan Keberadaan di luar kronologi

Dalam Wahyu 1:8 dan 22:13, Dia menyatakan diri:

“Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir.”

Ini bukan pernyataan tentang Tuhan sebagai pribadi keagamaan, tetapi tentang Keberadaan yang berada di luar waktu, lalu hadir ke dalam waktu.

Jika Dia adalah “Awal sebelum awal”, maka istilah “Tuhan” belum ada sebelum ada ciptaan, sebab:

  • “Tuhan” adalah istilah relasional
  • tidak mungkin ada Tuhan tanpa ciptaan yang menempatkan diri sebagai makhluk
  • sebelum ada makhluk, tidak ada relasi Tuhan–ciptaan

  • maka sebelum ciptaan, Ia bukan “Tuhan” tetapi “Keberadaan”.

3.    Keberadaan yang tidak berawal mengimplikasikan esensi tunggal

Eksistensi yang tidak berasal dari apa pun dan tidak menjadi apa pun adalah eksistensi yang:

  • tunggal (indivisible)
  • absolut (tidak memiliki bagian)
  • non-komposit (tidak tersusun)
  • non-relasional secara ontologis (karena relasi membutuhkan yang lain)
  • tidak memiliki identitas selain keberadaan-Nya sendiri
  • Inilah alasan mengapa doktrin yang membagi diri-Nya menjadi tiga pribadi mustahil secara ontologis — sebab:

  1. yang ada sebelum segala sesuatu tidak mungkin memiliki “pribadi-pribadi” internal
  2. “pribadi” menuntut relasi internal, padahal sebelum segala sesuatu, relasi belum mungkin
  3. “pribadi” menuntut distingsi kesadaran, padahal itu
  4. untut komposisi tetapi Keberadaan absolut tidak tersusun, tidak berbagian, dan tidak bisa dipecah

 

Maka, sebelum Tuhan ada, tidak ada “Bapa”, “Anak”, atau “Roh Kudus”. Yang ada hanyalah Sang Ada.

 

4.    Keberadaan mendahului nama, fungsi, dan relasi

Di seluruh Alkitab, gelar-gelar Allah muncul setelah tindakan Allah terjadi:

  •    Elohim muncul ketika Ia mencipta (Kej. 1:1)
  •    YHWH muncul ketika Ia mengikat perjanjian (Kel. 6:3)
  •    Tuhan muncul ketika manusia menyembah Dia (Kej. 4:26)
  •    Bapa muncul ketika Yesus memperkenalkan hubungan penyelamatan
  •    Anak muncul ketika Sang Keberadaan memasuki sejarah
  •    Roh Kudus muncul ketika Ia menyertai manusia dalam imanensi pasca-kenaikan

 

Semua gelar itu adalah fungsi dan relasi, bukan esensi.

Esensinya hanya satu:
Sang Keberadaan itu sendiri.

 

5. Keberadaan tidak mempunyai masa lalu, masa kini, atau masa depan

Sang Keberadaan:

  tidak menunggu menjadi “Tuhan”

  tidak mengalami proses untuk menjadi “Bapa”

  tidak mengalami perubahan untuk menjadi “Yesus”\

  dan tidak berpindah keadaan untuk menjadi “Roh Kudus”

Yang berubah bukan hakikat-Nya, tetapi modus kehadiran-Nya dalam sejarah.

Karena itu Yesus dapat berkata:

“Sebelum Abraham ada, AKU ADA.” (Yoh. 8:58)

Ia tidak berkata, “Aku ada sebelum Abraham.”
Ia berkata, “AKU ADA.”
— bentuk present-tense yang menunjuk pada kehadiran abadi Keberadaan yang melampaui waktu.

Yesus tidak menambahkan gelar baru bagi Allah.
Yesus mendemonstrasikan Keberadaan itu sendiri secara imanensi.

6. Sebelum Tuhan ada, Keberadaan sudah sempurna dalam diri-Nya sendiri

Keberadaan tidak memerlukan:

       Dunia

       Malaikat

       Makhluk

       Penyembah

       Relasi

       Dialog

       ekspresi diri

Keberadaan adalah realitas yang cukup-diri, lengkap, tak terkurangi, dan tak tersentuh oleh kebutuhan.

Maka ketika Ia mencipta, Ia tidak sedang melengkapi sesuatu yang kurang. Ia mencipta sebagai ekspresi kedaulatan Keberadaan, bukan sebagai usaha menjadi Tuhan.

Setelah ciptaan ada, Keberadaan menjadi “Tuhan”.

Tetapi sebelum ciptaan ada, tidak ada “Tuhan”.

Yang ada hanyalah AKU ADA.

Kesimpulan Eksistensial Besar

Sebelum istilah Tuhan, sebelum gelar Elohim, sebelum nama YHWH, sebelum konsep Bapa–Anak–Roh Kudus, sebelum kategori agama, sebelum metafisika manusia — yang ada hanyalah:

Sang Keberadaan Murni
yang:

       tidak berawal

       tidak berakhir

       tidak terbagi

       tidak menjadi

       tidak tersusun

       tidak berevolusi

       tidak bergantung

       tidak butuh relasi

       tidak memiliki nama selain “AKU ADA”

Inilah Dia yang kemudian tampil sebagai Bapa, hadir sebagai Yesus, dan menyertai sebagai Roh Kudus tetapi ketiga tampilan itu tidak mengubah Sang Keberadaan yang satu, tunggal, absolut, dan tidak terpecah.

Bapa Yesus memberkati kita semua

—Ps. Christian Moses

1 comments:

  1. Narasi yang mudah dimengerti sangat tepat bagi yang mau belajar

    BalasHapus