“Tuhan” adalah istilah relasional — sebuah gelar yang muncul ketika ciptaan mengenali, menanggapi, dan berelasi dengan Keberadaan yang sudah ada. Itu bukan istilah yang mendeskripsikan hakikat terdalam (ontologi) Allah sebelum ada ciptaan. Membolak-balikkan prioritas ini — menjadikan gelar relasional sebagai definisi ontologis — menghasilkan kebingungan teologis besar (mis. pemecahan hakikat menjadi beberapa oknum) dan mengaburkan pesan Alkitab tentang aseitas (ada-oleh-diri) Sang Keberadaan.
1. Perbedaan kategoris: ontologi vs relasi
Ontologi (being): bertanya “apa/siapa sesuatu itu pada tingkat paling dalam?” Ini menyelidiki eksistensi murni — dalam kasus Allah: aseitas, ketidakberhinggaan, non-komposisi.
Relasi (relation/function): bertanya “bagaimana sesuatu berinteraksi, berperan atau diberi nama dalam konteks hubungan?” Ketika ciptaan berhadapan dengan sumber eksistensi, lahirlah istilah-istilah yang mengatur relasi itu: Pencipta, Tuhan, Bapa, Pemelihara, Penebus.
Menukar kedua domain ini (menganggap gelar relasional = definisi ontologis) adalah category mistake yang membuat pembacaan Kitab Suci dan metafisika menjadi kacau.
2. Bukti naratif: Alkitab menunjuk prioritas being → relation
Alkitab memberi petunjuk praktis tentang urutan ini:
Eksistensi pra-kekal: “AKU ADALAH AKU” (Kel. 3:14) — pernyataan tentang keberadaan, bukan nama relasional.
Penciptaan → Gelar muncul: setelah penciptaan dan saat relasi perjanjian dimulai, muncul nama-nama yang bermakna bagi ciptaan (Elohim untuk fungsi pencipta, YHWH sebagai nama wahyu dalam konteks perjanjian).
Penyingkapan lebih lanjut (Yesus, Roh): muncul ketika cara relasi berubah (imanensi dalam sejarah, lalu indwelling pasca-inkarnasi).
Narasi ini menunjukkan: keberadaan sudah ada; istilah ‘Tuhan’ muncul sebagai respons relasional ciptaan.
3. Mengapa gelar bersifat relasional — linguistik dan semiotic Singkat
Nama/gelar berfungsi komunikasi. Nama lahir karena ada pihak lain yang perlu menunjuk, memanggil, berdoa, atau terikat perjanjian. Tanpa interlocutor, nama tidak relevan.
Gelar mencerminkan fungsi. Elohim menekankan kuasa pencipta; YHWH menonjolkan komitmen perjanjian; Bapa mengekspresikan sumber/asal dalam relasi anak-umat; Anak menandai modus penyingkapan. Semua ini adalah deskripsi fungsi, bukan klaim tentang “bagian” dalam substansi ilahi.
Secara semiotik: gelar adalah tanda dalam jaringan relasi — bukan bagian dari substansi tanda-yang-ditunjuk.
4. Konsekuensi pemahaman yang terbalik (gelar = ontologi)
Jika kita memperlakukan gelar relasional sebagai definisi ontologis, beberapa masalah muncul:
Fragmentasi hakikat: “Tuhan” yang dibagi menjadi beberapa gelar bisa disalahtafsirkan menjadi beberapa oknum substantif (mis. trinitas sebagai tiga pribadi yang berdiri sendiri), yang bertentangan dengan kesederhanaan ilahi.
Paradoks numerikal: klaim “satu Tuhan” versus “Bapa, Anak, Roh” menjadi problematik tanpa klarifikasi kategori.
Hermeneutik yang memaksa teks: teks-teks tentang fungsi (Bapa mengutus Anak; Roh diutus) diperlakukan sebagai bukti struktur intra-ilahi, padahal konteksnya ekonomis/historis.
Ibadah terfragmentasi: umat berisiko menyembah “gelar” terpisah alih-alih merespon satu Keberadaan yang menampakkan diri dalam berbagai cara.
5. Bagaimana memahami istilah-istilah Alkitab secara sehat
Prinsip hermeneutik praktis:
Prioritaskan pernyataan eksistensial (mis. “AKU ADA”) ketika membahas siapa Allah pada tingkat paling dalam.
Baca gelar sebagai modus/ fungsi: Elohim (wewenang pencipta), YHWH (nama perjanjian), Bapa (sumber relasi), Anak (penyingkapan imaneni), Roh (modus indwelling).
Bedakan ekonomi vs ontologi: apa yang Allah lakukan dalam sejarah (economy of salvation) berbeda dari siapa Dia secara ontologis; teks sering berbicara dalam bahasa ekonomi untuk memanggil tanggapan moral dan iman.
Hindari over-philosophizing teks semata: kategori filsafat boleh membantu, tetapi jangan sampai kategori asing mengubah apa yang teks Suci ungkap.
6. Implikasi teologis, liturgis, dan etis
Teologi: menuntun ke arah Kristomonos atau monoteisme eksistensial yang menekankan satu Keberadaan yang menampakkan diri secara beragam tanpa terpecah.
Ibadah: menyembah bukan “salah satu gelar” tetapi Keberadaan yang menampakkan dirinya — pujian harus merangkul transendensi sekaligus imanensi.
Etika: relasi ilahi yang digelar memanggil respons etis konkret (percaya, bertobat, mengasihi). Gelar-gelar itu ada agar ciptaan dapat merespons, bukan agar teolog membuat struktur metafisik rumit.
7. Contoh analogis (hati-hati dengan keterbatasan analogi)
Bayangkan Matahari: secara ontologis ia adalah satu bintang; secara relasional bagi makhluk di Bumi, ia tampil sebagai sumber cahaya, sumber panas, penentu musim, dll. Menyebutnya “matahari = sumber panas” bukanlah menyatakan sifat ontologisnya, melainkan fungsi-nya dalam relasi dengan Bumi. Sama halnya, gelar-gelar ilahi menandai fungsi relasional, bukan lapisan-lapis substansi Tuhan.
Analoginya tidak sempurna (Allah bukan ciptaan seperti bintang), tetapi membantu melihat perbedaan antara apa sesuatu itu dan bagaimana sesuatu bekerja dalam relasi.
Tuhan sebagai istilah adalah alat relasional yang lahir dari kebutuhan ciptaan untuk mengenali, memanggil, dan berperjanjian.
Keberadaan (AKU ADA) adalah primer: dialah realitas aseit yang mendahului gelar apa pun.
Menjaga pembedaan ini menyelamatkan teologi dari kontradiksi kategori dan membawa pembacaan Alkitab kembali ke kesetiaan pada wahyu: bahwa satu Keberadaan yang tunggal memilih untuk menampakkan diri dalam cara-cara yang dapat diterima ciptaan demi rekonsiliasi dan partisipasi.
Haleluyah, Bapa Yesus memberkati kita semua,
—Ps. Christian Moses

0 comments:
Posting Komentar