BAB 1
SEBELUM TUHAN ADA:
EKSISTENSI SANG KEBERADAAN
Untuk sampai pada pemahaman tentang identitas Allah, seseorang harus mundur jauh melampaui kategori “Tuhan” — karena kata Tuhan bukan nama diri, bukan hakikat, bukan esensi, melainkan relasi antara Sang Pencipta dengan ciptaan-Nya. Maka untuk mengetahui “siapa Dia sebelum menjadi Tuhan”, pertanyaannya bukan: Siapa Tuhan? tetapi: Apa yang ada sebelum istilah Tuhan menjadi mungkin?
Jawabannya tidak ditemukan dalam
teologi sistematik, tetapi langsung dalam pengakuan Alkitab tentang diri-Nya: Ia menyebut diri-Nya bukan ‘Tuhan’, melainkan
‘AKU ADA’ (Kel. 3:14). Ini bukan nama, bukan gelar, tetapi penyingkapan eksistensial:
bahwa sebelum segala sesuatu ada, sebelum relasi Pencipta–ciptaan muncul,
sebelum ada penyembah, sebelum ada dunia — Dia adalah Keberadaan itu sendiri.
1. “Aku adalah Aku” bukan pernyataan agama, tetapi deklarasi eksistensial
Ketika Musa bertanya siapa
nama-Nya di dalam Kejadian 3:14, Tuhan tidak memberikan nama, tetapi ontologi.
“Ehyeh Asher Ehyeh” – AKU
ADALAH AKU
Ini bukan jawaban
teologis. Ini jawaban metafisik.
- Ia tidak bergantung pada apa pun.
- Ia tidak berasal dari mana pun.
- Ia tidak berubah dari apa pun
- Ia adalah “yang-ada” karena keberadaan-Nya adalah asli, tak bertumpu, tak terproses, tak menjadi, dan tak dimulai.
Inilah eksistensi yang mendahului konsep Tuhan.
2. Alfa–Omega: Pernyataan Keberadaan di luar
kronologi
Dalam
Wahyu 1:8 dan 22:13, Dia menyatakan diri:
“Aku adalah Alfa dan Omega,
Yang Awal dan Yang Akhir.”
Ini bukan pernyataan tentang
Tuhan sebagai pribadi keagamaan, tetapi tentang Keberadaan yang berada di luar waktu, lalu hadir ke dalam
waktu.
Jika Dia adalah “Awal sebelum
awal”, maka istilah “Tuhan” belum ada sebelum ada ciptaan, sebab:
- “Tuhan” adalah istilah relasional
- tidak mungkin ada Tuhan tanpa ciptaan yang menempatkan diri sebagai makhluk
- sebelum ada makhluk, tidak ada relasi Tuhan–ciptaan
- maka sebelum ciptaan, Ia bukan “Tuhan” tetapi “Keberadaan”.
3.
Keberadaan yang tidak berawal mengimplikasikan
esensi tunggal
Eksistensi yang tidak berasal dari apa pun dan tidak menjadi apa pun adalah eksistensi yang:
- tunggal (indivisible)
- absolut (tidak memiliki bagian)
- non-komposit (tidak tersusun)
- non-relasional secara ontologis (karena relasi membutuhkan yang lain)
- tidak memiliki identitas selain keberadaan-Nya sendiri
- Inilah alasan mengapa doktrin yang membagi diri-Nya menjadi tiga pribadi mustahil secara ontologis — sebab:
- yang ada sebelum segala sesuatu tidak mungkin memiliki “pribadi-pribadi” internal
- “pribadi” menuntut relasi internal, padahal sebelum segala sesuatu, relasi belum mungkin
- “pribadi” menuntut distingsi kesadaran, padahal itu
- untut komposisi tetapi Keberadaan absolut tidak tersusun, tidak berbagian, dan tidak bisa dipecah
Maka,
sebelum Tuhan ada, tidak ada “Bapa”, “Anak”, atau “Roh Kudus”. Yang ada
hanyalah Sang Ada.
4.
Keberadaan mendahului nama, fungsi, dan relasi
Di seluruh Alkitab, gelar-gelar
Allah muncul setelah tindakan
Allah terjadi:
- Elohim muncul ketika Ia mencipta (Kej. 1:1)
- YHWH muncul ketika Ia mengikat perjanjian (Kel. 6:3)
- Tuhan muncul ketika manusia menyembah Dia (Kej. 4:26)
- Bapa muncul ketika Yesus memperkenalkan hubungan penyelamatan
- Anak muncul ketika Sang Keberadaan memasuki sejarah
- Roh Kudus muncul ketika Ia menyertai manusia dalam imanensi pasca-kenaikan
Semua gelar itu adalah fungsi dan relasi, bukan
esensi.
Esensinya hanya satu:
Sang Keberadaan itu
sendiri.
5. Keberadaan tidak mempunyai masa lalu, masa kini,
atau masa depan
Sang Keberadaan:
• tidak menunggu menjadi “Tuhan”
• tidak mengalami proses untuk menjadi “Bapa”
• tidak mengalami perubahan untuk menjadi
“Yesus”\
• dan tidak berpindah keadaan untuk menjadi “Roh
Kudus”
Yang berubah bukan
hakikat-Nya, tetapi modus
kehadiran-Nya dalam sejarah.
Karena
itu Yesus dapat berkata:
“Sebelum Abraham ada, AKU
ADA.” (Yoh. 8:58)
6. Sebelum Tuhan ada, Keberadaan sudah sempurna dalam
diri-Nya sendiri
Keberadaan
tidak memerlukan:
• Dunia
• Malaikat
• Makhluk
• Penyembah
• Relasi
• Dialog
• ekspresi
diri
Keberadaan adalah realitas yang cukup-diri,
lengkap, tak terkurangi, dan tak tersentuh oleh kebutuhan.
Maka ketika Ia mencipta, Ia
tidak sedang melengkapi sesuatu yang kurang. Ia mencipta sebagai ekspresi kedaulatan Keberadaan,
bukan sebagai usaha menjadi Tuhan.
Setelah ciptaan ada,
Keberadaan menjadi “Tuhan”.
Tetapi sebelum ciptaan ada, tidak ada “Tuhan”.
Yang ada hanyalah AKU ADA.
Kesimpulan Eksistensial Besar
Sebelum istilah Tuhan, sebelum
gelar Elohim, sebelum nama YHWH, sebelum konsep Bapa–Anak–Roh Kudus, sebelum kategori
agama, sebelum metafisika manusia — yang ada hanyalah:
• tidak
berawal
• tidak
berakhir
• tidak
terbagi
• tidak
menjadi
• tidak
tersusun
• tidak
berevolusi
• tidak
bergantung
• tidak
butuh relasi
• tidak
memiliki nama selain “AKU ADA”
Inilah Dia yang kemudian
tampil sebagai Bapa, hadir sebagai Yesus, dan menyertai sebagai Roh Kudus — tetapi ketiga tampilan itu tidak
mengubah Sang Keberadaan yang satu, tunggal, absolut, dan tidak terpecah.
Bapa Yesus memberkati kita semua

Narasi yang mudah dimengerti sangat tepat bagi yang mau belajar
BalasHapus