Halaman

Rabu, 26 November 2025

CURAHAN KASIH KARUNIA 👉(Seri-1️⃣9️⃣) - ⛔TAMAT⛔

 

PARTISI EMPAT (FINISH)

h MOTIVASI AKHIR g

 

 

 

            Kisah paling dramatis yang mengundang berbagai tafsiran dan menimbulkan polemik – mungkin sejak awalnya – hingga kini, yang disampaikan Yesus pada murid-muridNya adalah perumpamaan tentang anak yang terhilang.

 

            Saya menyebutnya sebagai perumpamaan sensasional  dan unik yang ada dalam Alkitab dan hanya “dokter” Lukas yang sempat mencatatnya. Berpindahlah beberapa menit ke Lukas 15:11-32, agar dapat mengikuti detailnya dengan baik, sehingga memudahkan Anda memahami penjelasan berikut, sebab di sinilah akhir dari kebersamaan kita dalam ziarah mencari solusi atas “iman yang bermasalah”.

 

            Dalam kisah tersebut, anak yang bungsu menggunakan hak warisnya untuk mendesak ayahnya memberi bagiannya.

 

            Yesus tidak secara detail menceritakan alasan anak bungsu meminta haknya kemudian pergi meninggalkan ayahnya dan semua penghuni rumah lainnya. Saya bisa membantu menggambarkan alasannya bagi Anda.

 

            Dalam penalaran sehat, tidak mungkin anak bungsu itu secara tiba-tiba meminta hak warisnya kemudian pergi tanpa alasan apa pun. Sama seperti Hawa memiliki alasan untuk memakan buah di tengah-tengah taman dan kemudian memberikannya pada Adam, anak bungsu ini pun sepertinya telah tergoda oleh bujuk rayu kemanisan dan kesenangan dunia.

 

Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya."  – Kejadian 4:7 –

 

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: "Pencobaan ini datang dari Allah!" Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun.

Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. – Yakobus 1:13-14 –

 

            Itulah alasan Alkitabiah, seorang anak dapat tergoda untuk keluar dari jalur imannya. Anda atau setiap kita, mulai berpikir, mengapa ayahnya mengabulkan permintaannya dan membiarkan dia pergi, padahal ia (ayahnya) tahu benar bahwa anak bungsu ini akan mengalami banyak masalah dan suatu saat tidak mampu lagi mengatasinya. Semuanya, terpaksa dipenuhi ayahnya karena kekerasan hati anak ini. TUHAN Yesus pernah memberi jawaban yang tepat dan tegas pada para Farisi atas pertanyaan, “…, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?" Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian (Matius 19:7-8).

 

            Si bungsu pun memulainya dengan langkah pertama memasuki kenikmatan dunia,  memenuhi hawa nafsu kedagingannya (Galatia 5:19-21a). Ayahnya termasuk penghuni lainnya tak berdaya menahannya dan hanya bisa menatap tiap tapak kakinya sampai bayangan anak yang sangat dikasihi pun lenyap dari pandangannya. Namun sebenarnya anak itu “tidak sendirian” pergi meninggalkan ayahnya. Cinta dan pengampunan telah pula dilepaskan sang Ayah sebagai “teman dalam perjalanan panjang” yang tidak disadarinya. Memang benar, ayahnya terluka, sedih, kecewa, menderita serta merasa kehilangan tapi ia tidak berkeinginan atau pun berencana untuk mengurangi atau menarik kembali kasihnya terhadap anak itu.

 

            Anak yang tidak tahu berterima kasih itu terus menjauhkan diri dari rumah ayahnya dan tidak ingin mengingat-ingatnya lagi. Dan, bisa jadi, ia sudah mulai “belajar” melupakan wajah ayahnya, saudara tuanya, apa lagi para pembantu setianya. Semakin jauh kakinya membawa dia pergi, semakin terkikis pula imannya.

 

            Keinginan mata dan keinginan daging yang disodorkan dunia telah benar-benar menenggelamkannya dalam kenikmatan yang memuncak, sehingga jangankan beribadah atau baca Kitab Suci, untuk mengucapkan beberapa kalimat doa pribadi saja pun tidak pernah lagi. Yang namanya TUHAN, telah dengan sengaja dilupakannya supaya dapat bersenang-senang dalam indahnya dosa. Sampai akhirnya, dunia dan si iblis penggoda tersebut menampakkan wajah aslinya. Si bungsu mulai dihempaskan dan ditinggalkan oleh “teman-teman seprofesi” karena harta warisan andalannya telah habis ditelan para pelacur, dipakai berfoya-foya – dan Anda boleh menambahkan beberapa perbuatan menjijikkan lainnya.

 

            Sang Tuan yang telah terjerembab tak berdaya, terpaksa memilih pekerjaan sebagai penjaga babi pada seorang majikan asing. Setiap harinya memberi makan pada babi-babi majikaannya di ladang, sementara ia sendiri kelaparan. Dalam melaksanakan pekerjaan, ia selalu diawasi oleh pekerja-pekerja lainnya. Beberapa kali hendak mengisi perutnya dengan ampas atau sisa-sisa makanan babi tapi penjaga-penjaga itu melarangnya dan sama sekali tidak mau memberi.

 

            Tamatlah riwayat si “manja”. Semua telah berakhir, iman dan harapan masa depannya pun telah sirna. Tidak ada orang yang peduli dengan keadaannya lagi – sudah tentu termasuk orang-orang yang pernah di tolongnya.

 

            Saya ingatkan sekali lagi, setiap jejak kakinya yang menjauh, menceritakan detail kehilangan dari apapun yang dimilikinya. Bukan saja materi, kasih pada ayahnya pun sudah tiada – disini, Anda boleh turut menambah daftar kehilangan yang dialami oleh anak ini – kecuali, walau ia sendiri tidak menyadarinya, ia tidak pernah kehilangan kasih sejati ayahnya. Suatu anugerah yang tidak dapat ditarik, dicoret, dibatalkan demi alasan apa pun atau dihilangkan darinya.

 

            Kejadian memalukan di kandang babi telah sangat menamparnya, menoreh luka penghinaan atas harga dirinya dan menempatkannya pada kebuntuan akan bantuan apa pun dari orang-orang asing di sekitarnya. Kesadaran pun mulai merambat masuk sampai menyentuh nuraninya yang terdalam.

 

            “Kalau di sini terus dalam keadaan seperti ini, pastilah aku mati”, demikian ia berkata pada diri sendiri. “Aku harus bangkit dan kembali pada bapa, walau apa pun resikonya”, ia berusaha untuk meyakinkan diri. “Aku harus memohon ampun akan segala kesalahan dan dosa-dosaku walau nantinya aku hanya dijadikan sebagai salah seorang upahan bapa”. Ia nampak sangat ragu dengan kedudukannya sebagai anak bapa. Dan… dengan terus menghafal kata-kata yang akan disampaikan pada acara “reuni” tanpa undangan ini, ia, kembali membuat langkah awal dengan sisa-sisa tenaga untuk kembali, – tidak seperti waktu ia keluar dari rumahnya – mencoba mengetuk dan memohon belas kasihan bapa, yang entah sudah berapa tahun tidak lagi dipikirkannya.

 

            Dengan tertatih-tatih sambil menyeret kakinya yang hampir tidak bisa digunakan untuk berdiri karena laparnya, ia terus mendekat dan semakin mendekat. Dari jauh, bapa telah mengenalinya. Sejak kepergian anaknya, sang ayah dengan tidak pernah rasa jenuh ataupun capek, tetap berdiri di pintu rumah untuk memperhatikan kalau-kalau hari itu anaknya pulang. Dan kini, penantian panjang pun berakhir sudah. Walaupun anak itu nampak sangat kumuh, berbau busuk dan menjijikkan, namun tak ada yang dapat menghalangi kerinduan bapa untuk segera memeluk dan menciumnya. Sang ayah berlari menyongsong kedatangan anaknya. Ia (ayah anak ini) tidak peduli dengan kedudukan, harga diri, gengsi, wibawa, rasa malu dan berbagai perasaan negatif lainnya.

 

            Anak malang itu mengerahkan seluruh keberaniannya untuk menyampaikan kata-kata penyesalannya saat dalam pelukan bapa. Ada sedikit harapan yang terbetik waktu menyadari bahwa ia telah berada dalam pelukkan kasih ayahnya. Mungkin ayah akan mendengar dan mengabulkan permohonannya dengan satu kalimat pendek, “ya, aku mengampunimu dan mengabulkan permintaanmu”.

 

            Semoga saya tidak sementara membuat kesalahan dalam memaparkan adegan “happy ending”, ayah-anak, seperti tercatat dalam Alkitab. Tapi memang, Alkitab tidak mencatat satu kata pun dari jawaban yang diharapkan dan yang mungkin keluar dari mulut sang ayah pada anaknya. Ayahnya tidak sedang berpikir tentang apa pun, kecuali pesta penyambutan yang telah lama dipersiapkan bila ia pulang kelak.

 

            Mungkin ada sedikit argumentasi akhir yang mengganggu, “yah…, anak itu yang mau kembali karena sadar akan keadaannya. Bagaimana kalau ia tidak memilih untuk itu? Pesta pastilah tidak mungkin di adakan bagi mereka yang tidak mau sadar dan bertobat”. Sepintas, nampaknya benar argumentasi ini, tapi tidak seluruhnya. Marilah kita periksa kembali apa yang dikatakan Yesus, sesaat sebelum Ia naik ke sorga.

 

Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,

yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. 

… Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.

Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.

Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya daripada-Ku.

– Yohanes 14:16-17, 26; 16:13-14 –

 

            Jadi, Alkitab menegaskan pada kita bahwa kejadian yang sesungguhnya bukan karena anak itu sendiri yang menjadi sadar tapi Roh Kuduslah yang telah lebih dahulu proaktif “mengingatkan”, sekaligus “menyadarkan” dia akan segala kepahitan dan kebuntuan hidup yang telah disodorkan dunia dan kemudian Roh Kudus menyodorkan perbandingan atas semua kebaikan hati dan kehangatan kasih bapa yang pernah memenuhi hari-hari hidupnya beberapa tahun lalu.

 

            Sebentar…, jangan menyela dulu. Bila “kemauan dan tindakan” anak itu yang mengganjal dalam bentuk pertanyaan di benak Anda, silahkan baca referensi di bawah ini :

 

karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. – Filipi 2:13 –

 

            Jadi jawabannya sangat jelas. Saya sarankan, Anda tidak perlu bersusah payah menyusun beberapa pertanyaan tambahan sebagai intrepretasi anti-tesis terhadap narasi ini.

 

            Anda boleh menafsirnya lebih jauh tentang segala bentuk penyimpangan, kemorosotan moral, kejahatan, dan penderitaan yang menyayat dari yang dapat saya paparkan. Namun, satu hal yang harus benar-benar diperhatikan yakni sangatlah keliru dan pasti salah bila kita mencoba menafsirkan kepulangannya karena kehendak bebas atau alasan apapun selain dari kasih karunia Allah, pemeteraian abadi Roh Kudus dan jaminan kekal oleh Yesus Kristus, TUHAN kita.         

            Yesus memilih perumpaan ini untuk memberitahukan pada kita bahwa tidak ada lagi cerita yang lebih menyayat sebagai akibat dari suatu kekalahan spritual, yang fatal.

 

Sebenarnya, bila jeli memperhatikan perumpaan tersebut, maka bukan cuma si bungsu tapi anak sulung pun bermasalah dengan imannya. Keadaan seperti ini mungkin sedang dialami oleh orang-orang beriman pada masa-masa dimana hedonis, humanis dan degrasi moral begitu dominan seperti sekarang ini.

 

TUHAN Yesus mengisahkannya untuk menggambarkan dan menegaskan posisi kita sebagai “anak-anak TUHAN” yang tak akan pernah tergantikan oleh apa dan siapa pun. Sekali anak, selama-lamanya tetaplah anak.

 

            Sebagai motivasi pamungkas, – menurut pengalaman ziarah rohani saya – masuklah ke “pusat solusi” kebenaran firman Allah, tempatkanlah diri Anda dalam format ilahi ini dan mengalirlah bersamanya. Luangkan waktu untuk kembali berpikir tentang kehangatan kasih Bapa, segala berkat yang pernah Anda dapatkan dan nikmati di dalam Yesus Kristus dan kesetiaan Roh Kudus yang tidak pernah meninggalkan Anda. Dengarkanlah rintihan nurani Anda dan ambillah keputusan untuk kembali.

 

“Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan”.

 

            Camkan ini …, tidak sepatutnya Anda “membenarkan diri” karena ketidak-mampuan atau kegagalan dalam menyelesaikan berbagai bentuk persoalan  di bawah matahari ini dan kemudian bertindak sebagai “pendakwa” yang tak henti-hentinya menuduh, menyalahkan bahkan memvonis TUHAN sebagai penyebab ambruknya atau hilangnya iman Anda. Atau sebaliknya, menghukum diri sendiri atas semua kepahitan yang menerpa Anda.

 

Karena kita akan mengetahui kebenaran dan kebenaran itu pasti memerdekakan dan memampukan kita untuk kembali memiliki iman yang sejati .

 

            Akhirnya, apabila Yesus Kristus memerdekakan kita, kita pun benar-benar merdeka. Tanpa Kristus hidup ini tiadalah berarti – nil nissi cristum –




h  REFERENSI BACAAN g

 

 

Allen, Tom, 10 Hambatan Terhadap Pertumbuhan Iman, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 2000.

Arnott, John, Revolusi Iman, Andi Offset, Yogyakarta,  2005.

Arthur, Kay, Tuhan, Aku Perlu Kasih Karunia Agar Menang, Gospel Press, Batam Centre, 2007.

Baker, D.R.E., Warren, The Complete Word Study Old Testament, AMG Publishers, Chattanooga, USA, 1994.

Barnes, Emilie, Tolong Saya Mempercayai-Mu, TUHAN, Gospel Press, Batam Centre,  2005.

Booklet, You Can Have Living Faith, Thomas Nelson, Inc., Publishers, USA, 2004.

Bunyan, John, Anugerah Berlimpah Bagi Pendosa Terbesar, Penerbit Momentum, Surabaya,  2005.

Carlson, G. Raymond, Apa Yang Diajarkan Alkitab Mengenai Keselamatan, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 2001.

Cauley, Ray Mc, Allah Kita Dahsyat, Yayasan Pekabaran Injil Immanuel, Jakarta,  2000.

Cornish, DR. Rick, 5 Menit Apologetika, Pionir Jaya, Bandung, 2007.

Cornish, DR. Rick, 5 Menit Teologi, Pionir Jaya, Bandung, 2007.

Crosby, Dr. Stephen, Silent Killers of Faith, Andi Offset, Yogyakarta, 2006.

Dake, Finis Jennings. Dake’s Annotated Reference Bible, Dake Bible Sales, Inc. Georgia, USA, 1998.

Dobson, DR. James, Ketika ALLAH Melakukan Sesuatu Yang Tidak Masuk Akal, Gospel Press, Batam Centre, 2006.

Dollar, DR. Creflo A., Aku Tetap Percaya, Andi Offset, Yogyakarta,  2005.

Dunn, Ronald, Jangan Duduk Saja… Berimanlah!, Nafiri Gabriel, Jakarta,  2002.

Eberle, Harold R., Kekristenan Tanpa Belenggu, Andi Offset, Yogyakart, 2011.

Ekman, Ulf, Iman Yang Mengalahkan Dunia, Media Injil Kerajaan, Semarang,  2005.

Evans, Tony, Janji Allah, Immanuel Publishing House, Jakarta,  1999.

Evans, Tony, The Perfect Christian, Gospel Press, Batam Centre, 2003.

Evans, Tony, Sungguh-sungguh Diselamatkan, Gospel Press, Batam Centre,  2005.

Evans, Tony, Bebas Dari Belenggu Dosa, Gospel Press, Batam Centre, 2003.

Frame, John M., Apologetika bagi Kemuliaan Allah : Sebuah Pengantar, Penerbit Momentum, Surabaya,  2005.

Geisler, Norman dan Ron Brooks, Ketika Alkitab Dipertanyakan, Andi Offset, Yogyakarta, 2006.

Grudem, Wayne A., Kebenaran Yang Memerdekakan, Metanoia Publishing, Jakarta, 2009.

Hoekema, Anthony A., Diselamatkan oleh Anugerah, Penerbit Momentum, Surabaya,  2001.

Hagee, John, Penyataan Kebenaran, Yayasan Pekabaran Injil Immanuel, Jakarta, 2002.

Hughes, R. Kent, 1001 Kisah Inspirasi dan “Kutipan”, Penerbit Interaksara, Batam Centre,  2005.

Ingram, Chip, The Invisible War, Andi Offset, Yogyakarta, 2009.

Jackson, Tim, Lepas Dari Belenggu Ketakutan, Yayasan Gloria, Yogyakarta,  2003.

Jackson, John Paul, Membuka Topeng Roh Izebel, Imanuel Publishing House, Jakarta,  2004.

Jeremiah, David, Membunuh Raksasa Dalam Hidup Anda, Immanuel Publishing House, Jakarta,  2003.

Jeremiah, DR. David, God In You, Gospel Press, Batam Centre, 2002.

Junimen, Jenus, Dapatkah Keselamatan Orang Percaya Hilang?, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2012.

Kennedy, D. James, Mengungkap Misteri-misteri Dalam Alkitab, Gospel Press, Batam Centre,  2003.

King, Paul L., Iman Yang Memindahkan Gunung, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 2006.

Lewis, C.S., Mere Christianity, Pionir Jaya, Bandung, 2006.

Lewis, C.S., The Problem of Pain, Pionir Jaya, Bandung, 2008.

Lucado, Max, He Chose the Nails, Gospel Press, Batam Centre,  2002.

Lucado, Max, Just Like Jesus, Interaksara, Batam Centre, 2000.

Lucado, Max, Next Door Savior, Immanuel Publishing House, Jakarta, 2004.

Metzger, Will, Tell The Truth, Penerbit Momentum, Surabaya, 2005.

Moore, Beth, Ketika Orang Percaya Melakukan Hal Yang Berdosa, Light Publishing, Jakarta, 2009.

Mounce, William D., Mounce’s Complete Expository Dictionary of Old and New Testament Words, Zondervan, Grand Rapids, Michigan, 2006.

Murphree, Jon Tal, A Loving God and A Suffering World, Lembaga Literatur Baptis, Bandung, 2004.

Murray, John, Penggenapan dan Penerapan Penebusan, Penerbit Momentum, Surabaya, 1999.

Pierce, Chuck D., Robert Heidler, Mengembalikan Perisai Iman Anda, Immanuel Publishing House, Jakarta, 2005.

Pink, Arthur W., The Sovereignty of God, Penerbit Momentum, Surabaya, 2005.

Prince, Derek, Iman Yang Olehnya Kita Hidup, Derek Prince Ministries Indonesia, 2005.

Prince, Derek, Bertobat dan Percaya, Seri 2, Yayasan Pekabaran Injil “Immanuel”, Jakarta, 1995.

Prince, Joseph, Grace Revolution, Faith Words, Hachette Book Group, New York, 2015.

Redick Michael A. Progressive Faith, Mencapai Kedewasaan Rohani Yang Maksimal, Andi Offset, Yogyakarta, 2010.

Salim, Drs. Peter, M.A., The Contemporary English-Indonesian Dictionary, Modern English Press, Jakarta,  1996.

Salim, Drs. Peter, M.A., Yenny Salim, B.Sc., Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, Modern English Press, Jakarta,  1991.

Scataglini, Sergio, 12 Pelanggaran, Immanuel Publishing House, Jakarta,  2003.

Sittser, Gerald L., Kehendak Allah sebagai Jalan Hidup, Gospel Press, Batam Centre,  2004.

Skolfield, Ellis H., Iblis Dalam Gereja, Penerbit Kerygma Komunika, Indonesia.

Sproul, R.C., Kebenaran-kebenaran Dasar Iman Kristen, Departemen Literatur SAAT, Malang,  2002.

Sproul, R.C., Mengapa Percaya, Departemen Literatur SAAT, Malang,  1999.

Spurgeon, Charles, Semua Adalah Anugerah, Light Publishing, Jakarta, 2008.

Stanley, Charles, Jaminan Kekal, Gospel Press, Batam Centre,  2004.

Stott, John, Kristus Yang Tiada Tara, Penerbit Momentum, Surabaya, 2007.

Stott, John, Allah, Dosa, Anda, Metanoia Publishing, Jakarta, 2009.

Strobel, Lee, Pembuktian Atas Kebenaran Iman Kristen, Gospel Press, Batam Centre,  2005.

Strong, LLD., S.T.D., James, The Strongest Strong’s Exhaustive Concordance of The Bible, Zondervan, Grand Rapids, Michigan, 2001.

Swindoll, Charles R., Pengharapan Yang Tidak Pernah Pudar,YAKIN, Surabaya,  2002.

Swindoll, Charles R., Kehidupan di Tepi Tebing Yang Rapuh, YAKIN, Surabaya.

Tada, Joni Eareckson, Steven Estes, Penerbit Interaksara, Batam Centre, 2001.

Torrey, R.A., Kebenaran Yang Memerdekakan, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 2004.

Tucker, Ruth A., Batas-batas Iman, Andi Offset, Jogja, 2005.

Wells, David F., No Place for Truth, Penerbit Momentum, Surabaya, 2004.

Wilkerson, David, Apakah Anda Sedang Putus Asa, Harvest Publication House, Jakarta, 2002.

Wommack, Andrew, Otoritas Orang Percaya, Light Publishing, Jakarta, 2009.

Wongso, Dr. Peter, Soteriologi, Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, 1996.

Vine, W.E., Merrill F. Unger, William White,Jr. VINE’S, Complete Expository Dictionary of Old and New Testament Words, Thomas Nelson Publishers, Nashville Camden, New York, 1985.

Yancey, Philip, Bukan Yesus Yang Saya Kenal, Professional Books, Jakarta, 1997.

Yancey, Philip, Dimanakah TUHAN di Saat Kita Menderita?, Nafiri Gabriel, Jakarta,  2000.

Yancey, Philip, Keajaiban Kasih Karunia, Interaksara, Batam Centre,  1999.

Yancey, Philip, Kekecewaan Terhadap Allah, YAKIN, Surabaya.

Yancey, Philip, Soul Survivor, Metanoia Publishing, Jakarta, 2004.

Zodhiates Th.D., Spiros, The Complete Word Study Dictionary New Testament, AMG Publishers, Chattanooga, USA, 1993.


Salam Hyper Grace dalam Bapa Yesus... 💝

0 comments:

Posting Komentar