
PARTISI EMPAT (FINISH)
h MOTIVASI AKHIR g
Kisah paling dramatis yang
mengundang berbagai tafsiran dan menimbulkan polemik – mungkin sejak awalnya –
hingga kini, yang disampaikan Yesus pada murid-muridNya adalah perumpamaan
tentang anak yang terhilang.
Saya menyebutnya sebagai perumpamaan
sensasional dan unik yang ada dalam
Alkitab dan hanya “dokter” Lukas yang sempat mencatatnya. Berpindahlah beberapa
menit ke Lukas 15:11-32, agar dapat mengikuti detailnya dengan baik, sehingga
memudahkan Anda memahami penjelasan berikut, sebab di sinilah akhir dari
kebersamaan kita dalam ziarah mencari solusi atas “iman yang bermasalah”.
Dalam kisah tersebut, anak yang
bungsu menggunakan hak warisnya untuk mendesak ayahnya memberi bagiannya.
Yesus tidak secara detail
menceritakan alasan anak bungsu meminta haknya kemudian pergi meninggalkan
ayahnya dan semua penghuni rumah lainnya. Saya bisa membantu menggambarkan
alasannya bagi Anda.
Dalam penalaran sehat, tidak mungkin
anak bungsu itu secara tiba-tiba meminta hak warisnya kemudian pergi tanpa
alasan apa pun. Sama seperti Hawa memiliki alasan untuk memakan buah di
tengah-tengah taman dan kemudian memberikannya pada Adam, anak bungsu ini pun
sepertinya telah tergoda oleh bujuk rayu kemanisan dan kesenangan dunia.
Apakah
mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak
berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau,
tetapi engkau harus berkuasa atasnya." – Kejadian 4:7 –
Apabila
seorang dicobai, janganlah ia berkata: "Pencobaan ini datang dari
Allah!" Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri
tidak mencobai siapa pun.
Tetapi
tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan
dipikat olehnya. – Yakobus 1:13-14 –
Itulah alasan Alkitabiah, seorang
anak dapat tergoda untuk keluar dari jalur imannya. Anda atau setiap kita,
mulai berpikir, mengapa ayahnya mengabulkan permintaannya dan membiarkan dia
pergi, padahal ia (ayahnya) tahu benar bahwa anak bungsu ini akan mengalami
banyak masalah dan suatu saat tidak mampu lagi mengatasinya. Semuanya, terpaksa dipenuhi ayahnya karena
kekerasan hati anak ini. TUHAN Yesus pernah memberi jawaban yang tepat dan
tegas pada para Farisi atas pertanyaan, “…, apakah
sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan
Si bungsu pun memulainya dengan
langkah pertama memasuki kenikmatan dunia,
memenuhi hawa nafsu kedagingannya (
Anak yang tidak tahu berterima kasih
itu terus menjauhkan diri dari rumah ayahnya dan tidak ingin mengingat-ingatnya
lagi. Dan, bisa jadi, ia sudah mulai “belajar” melupakan wajah ayahnya, saudara
tuanya, apa lagi para pembantu setianya. Semakin jauh kakinya membawa dia
pergi, semakin terkikis pula imannya.
Keinginan mata dan keinginan daging
yang disodorkan dunia telah benar-benar menenggelamkannya dalam kenikmatan yang
memuncak, sehingga jangankan beribadah atau baca Kitab Suci, untuk mengucapkan
beberapa kalimat doa pribadi saja pun tidak pernah lagi. Yang namanya TUHAN,
telah dengan sengaja dilupakannya supaya dapat bersenang-senang dalam indahnya
dosa. Sampai akhirnya, dunia dan si iblis penggoda tersebut menampakkan wajah
aslinya. Si bungsu mulai dihempaskan dan ditinggalkan oleh “teman-teman
seprofesi” karena harta warisan andalannya telah habis ditelan para pelacur,
dipakai berfoya-foya – dan Anda boleh menambahkan beberapa perbuatan
menjijikkan lainnya.
Sang Tuan yang telah terjerembab tak
berdaya, terpaksa memilih pekerjaan sebagai penjaga babi pada seorang majikan
asing. Setiap harinya memberi makan pada babi-babi majikaannya di ladang,
sementara ia sendiri kelaparan. Dalam melaksanakan pekerjaan, ia selalu diawasi
oleh pekerja-pekerja lainnya. Beberapa kali hendak mengisi perutnya dengan
ampas atau sisa-sisa makanan babi tapi penjaga-penjaga itu melarangnya dan sama
sekali tidak mau memberi.
Tamatlah riwayat si “manja”. Semua
telah berakhir, iman dan harapan masa depannya pun telah sirna. Tidak ada orang
yang peduli dengan keadaannya lagi – sudah tentu termasuk orang-orang yang
pernah di tolongnya.
Saya ingatkan sekali lagi, setiap
jejak kakinya yang menjauh, menceritakan detail kehilangan dari apapun yang
dimilikinya. Bukan saja materi, kasih pada ayahnya pun sudah tiada – disini,
Anda boleh turut menambah daftar kehilangan yang dialami oleh anak ini –
kecuali, walau ia sendiri tidak menyadarinya, ia tidak pernah kehilangan kasih
sejati ayahnya. Suatu anugerah yang tidak dapat ditarik, dicoret, dibatalkan
demi alasan apa pun atau dihilangkan darinya.
Kejadian memalukan di kandang babi
telah sangat menamparnya, menoreh luka penghinaan atas harga dirinya dan
menempatkannya pada kebuntuan akan bantuan apa pun dari orang-orang asing di sekitarnya.
Kesadaran pun mulai merambat masuk sampai menyentuh nuraninya yang terdalam.
“Kalau di sini terus dalam keadaan
seperti ini, pastilah aku mati”, demikian ia berkata pada diri sendiri. “Aku
harus bangkit dan kembali pada bapa, walau apa pun resikonya”, ia berusaha
untuk meyakinkan diri. “Aku harus memohon ampun akan segala kesalahan dan
dosa-dosaku walau nantinya aku hanya dijadikan sebagai salah seorang upahan
bapa”. Ia nampak sangat ragu dengan kedudukannya sebagai anak bapa. Dan… dengan
terus menghafal kata-kata yang akan disampaikan pada acara “reuni” tanpa
undangan ini, ia, kembali membuat langkah awal dengan sisa-sisa tenaga untuk
kembali, – tidak seperti waktu ia keluar dari rumahnya – mencoba mengetuk dan
memohon belas kasihan bapa, yang entah sudah berapa tahun tidak lagi
dipikirkannya.
Dengan tertatih-tatih sambil
menyeret kakinya yang hampir tidak bisa digunakan untuk berdiri karena
laparnya, ia terus mendekat dan semakin mendekat. Dari jauh, bapa telah
mengenalinya. Sejak kepergian anaknya, sang ayah dengan tidak pernah rasa jenuh
ataupun capek, tetap berdiri di pintu rumah untuk memperhatikan kalau-kalau
hari itu anaknya pulang. Dan kini, penantian panjang pun berakhir sudah.
Walaupun anak itu nampak sangat kumuh, berbau busuk dan menjijikkan, namun tak
ada yang dapat menghalangi kerinduan bapa untuk segera memeluk dan menciumnya.
Sang ayah berlari menyongsong kedatangan anaknya. Ia (ayah anak ini) tidak
peduli dengan kedudukan, harga diri, gengsi, wibawa, rasa malu dan berbagai perasaan
negatif lainnya.
Anak
Semoga saya tidak sementara membuat
kesalahan dalam memaparkan adegan “happy ending”, ayah-anak, seperti tercatat
dalam Alkitab. Tapi memang, Alkitab tidak mencatat satu kata pun dari jawaban
yang diharapkan dan yang mungkin keluar dari mulut sang ayah pada anaknya.
Ayahnya tidak sedang berpikir tentang apa pun, kecuali pesta penyambutan yang
telah lama dipersiapkan bila ia pulang kelak.
Mungkin ada sedikit argumentasi
akhir yang mengganggu, “yah…, anak itu yang mau kembali karena sadar akan
keadaannya. Bagaimana kalau ia tidak memilih untuk itu? Pesta pastilah
tidak mungkin di adakan bagi mereka yang tidak mau sadar dan bertobat”.
Sepintas, nampaknya benar argumentasi ini, tapi tidak seluruhnya. Marilah kita
periksa kembali apa yang dikatakan Yesus, sesaat sebelum Ia naik ke sorga.
Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan
memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu
selama-lamanya,
yaitu
Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia
dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan
akan diam di dalam kamu.
…
Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah
yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.
Tetapi
apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh
kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi
segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan
memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.
Ia
akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya
daripada-Ku.
–
Yohanes 14:16-17, 26; 16:13-14 –
Jadi, Alkitab menegaskan pada kita
bahwa kejadian yang sesungguhnya bukan karena anak itu sendiri yang menjadi
sadar tapi Roh Kuduslah yang telah lebih dahulu proaktif “mengingatkan”, sekaligus “menyadarkan”
dia akan segala kepahitan dan kebuntuan hidup yang telah disodorkan dunia dan
kemudian Roh Kudus menyodorkan perbandingan atas semua kebaikan hati dan
kehangatan kasih bapa yang pernah memenuhi hari-hari hidupnya beberapa tahun
lalu.
Sebentar…, jangan menyela dulu. Bila
“kemauan dan tindakan” anak itu yang mengganjal dalam bentuk pertanyaan di
benak Anda, silahkan baca referensi di bawah ini :
karena
Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan
menurut kerelaan-Nya. – Filipi 2:13 –
Jadi jawabannya sangat jelas. Saya
sarankan, Anda tidak perlu bersusah payah menyusun beberapa pertanyaan tambahan
sebagai intrepretasi anti-tesis terhadap narasi ini.
Anda boleh menafsirnya lebih jauh
tentang segala bentuk penyimpangan, kemorosotan moral, kejahatan, dan
penderitaan yang menyayat dari yang dapat saya paparkan. Namun, satu hal yang
harus benar-benar diperhatikan yakni sangatlah keliru dan pasti salah bila kita
mencoba menafsirkan kepulangannya karena kehendak bebas atau alasan apapun
selain dari kasih karunia Allah, pemeteraian abadi Roh Kudus dan jaminan kekal
oleh Yesus Kristus, TUHAN kita.
Yesus memilih perumpaan ini untuk
memberitahukan pada kita bahwa tidak ada lagi cerita yang lebih menyayat
sebagai akibat dari suatu kekalahan spritual, yang fatal.
Sebenarnya,
bila jeli memperhatikan perumpaan tersebut, maka bukan cuma si bungsu tapi anak
sulung pun bermasalah dengan imannya. Keadaan seperti ini mungkin sedang
dialami oleh orang-orang beriman pada masa-masa dimana hedonis, humanis dan
degrasi moral begitu dominan seperti sekarang ini.
TUHAN
Yesus mengisahkannya untuk menggambarkan dan menegaskan posisi kita sebagai “anak-anak TUHAN” yang tak akan pernah
tergantikan oleh apa dan siapa pun. Sekali anak,
selama-lamanya tetaplah anak.
Sebagai motivasi pamungkas, –
menurut pengalaman ziarah rohani saya – masuklah ke “pusat solusi” kebenaran firman Allah, tempatkanlah diri Anda dalam
format ilahi ini dan mengalirlah bersamanya. Luangkan waktu untuk kembali
berpikir tentang kehangatan kasih Bapa, segala berkat yang pernah Anda dapatkan
dan nikmati di dalam Yesus Kristus dan kesetiaan Roh Kudus yang tidak pernah
meninggalkan Anda. Dengarkanlah rintihan nurani Anda dan ambillah keputusan
untuk kembali.
“Sebab
itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah
lagi apa yang semula engkau lakukan”.
Camkan ini …, tidak sepatutnya Anda
“membenarkan diri” karena
ketidak-mampuan atau kegagalan dalam menyelesaikan berbagai bentuk
persoalan di bawah matahari ini dan
kemudian bertindak sebagai “pendakwa”
yang tak henti-hentinya menuduh, menyalahkan bahkan memvonis TUHAN sebagai
penyebab ambruknya atau hilangnya iman Anda. Atau sebaliknya, menghukum diri
sendiri atas semua kepahitan yang menerpa Anda.
Karena
kita akan mengetahui kebenaran dan kebenaran itu pasti memerdekakan dan
memampukan kita untuk kembali memiliki iman yang sejati .
Akhirnya,
apabila Yesus Kristus memerdekakan kita, kita pun benar-benar merdeka. Tanpa
Kristus hidup ini tiadalah berarti – nil nissi cristum –
h REFERENSI BACAAN g
Allen, Tom, 10 Hambatan Terhadap Pertumbuhan Iman, Yayasan Kalam
Hidup,
Arnott, John, Revolusi Iman,
Andi Offset,
Arthur, Kay, Tuhan, Aku Perlu
Kasih Karunia Agar Menang, Gospel Press, Batam Centre, 2007.
Baker, D.R.E., Warren, The
Complete Word Study Old Testament, AMG Publishers, Chattanooga, USA, 1994.
Barnes, Emilie, Tolong Saya
Mempercayai-Mu, TUHAN, Gospel Press,
Booklet, You Can Have Living
Faith, Thomas Nelson, Inc., Publishers, USA, 2004.
Bunyan, John, Anugerah
Berlimpah Bagi Pendosa Terbesar, Penerbit Momentum,
Carlson, G. Raymond, Apa Yang
Diajarkan Alkitab Mengenai Keselamatan, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang,
2001.
Cauley, Ray Mc, Allah Kita
Dahsyat, Yayasan Pekabaran Injil Immanuel,
Cornish, DR. Rick, 5 Menit
Apologetika, Pionir Jaya, Bandung, 2007.
Cornish, DR. Rick, 5 Menit
Teologi, Pionir Jaya, Bandung, 2007.
Crosby, Dr. Stephen, Silent
Killers of Faith, Andi Offset, Yogyakarta, 2006.
Dake, Finis
Dobson, DR. James, Ketika ALLAH
Melakukan Sesuatu Yang Tidak Masuk Akal, Gospel Press, Batam Centre, 2006.
Dollar,
DR. Creflo A., Aku Tetap Percaya, Andi Offset,
Dunn,
Ronald, Jangan Duduk Saja… Berimanlah!, Nafiri Gabriel,
Eberle,
Harold R., Kekristenan Tanpa Belenggu, Andi Offset, Yogyakart, 2011.
Ekman,
Ulf, Iman Yang Mengalahkan Dunia, Media Injil Kerajaan,
Evans,
Tony, Janji Allah, Immanuel Publishing House,
Evans,
Tony, The Perfect Christian, Gospel Press, Batam Centre, 2003.
Evans,
Tony, Sungguh-sungguh Diselamatkan, Gospel Press,
Evans,
Tony, Bebas Dari Belenggu Dosa, Gospel Press, Batam Centre, 2003.
Frame,
John M., Apologetika bagi Kemuliaan Allah : Sebuah Pengantar, Penerbit
Momentum,
Geisler,
Norman dan Ron Brooks, Ketika Alkitab Dipertanyakan, Andi Offset, Yogyakarta,
2006.
Grudem,
Wayne A., Kebenaran Yang Memerdekakan, Metanoia Publishing, Jakarta, 2009.
Hoekema,
Anthony A., Diselamatkan oleh Anugerah, Penerbit Momentum,
Hagee,
John, Penyataan Kebenaran, Yayasan Pekabaran Injil Immanuel, Jakarta, 2002.
Hughes,
R. Kent, 1001 Kisah Inspirasi dan “Kutipan”, Penerbit Interaksara, Batam
Centre, 2005.
Ingram,
Chip, The Invisible War, Andi Offset, Yogyakarta, 2009.
Jackson,
Tim, Lepas Dari Belenggu Ketakutan, Yayasan Gloria,
Jeremiah,
David, Membunuh Raksasa Dalam Hidup Anda, Immanuel Publishing House,
Jeremiah,
DR. David, God In You, Gospel Press, Batam Centre, 2002.
Junimen,
Jenus, Dapatkah Keselamatan Orang Percaya Hilang?, Penerbit Andi, Yogyakarta,
2012.
Kennedy,
D. James, Mengungkap Misteri-misteri Dalam Alkitab, Gospel Press,
King,
Paul L., Iman Yang Memindahkan Gunung, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 2006.
Lewis,
C.S., Mere Christianity, Pionir Jaya, Bandung, 2006.
Lewis,
C.S., The Problem of Pain, Pionir Jaya, Bandung, 2008.
Lucado,
Max, He Chose the Nails, Gospel Press,
Lucado,
Max, Just Like Jesus, Interaksara, Batam Centre, 2000.
Lucado,
Max, Next Door Savior, Immanuel Publishing House, Jakarta, 2004.
Metzger,
Will, Tell The Truth, Penerbit Momentum, Surabaya, 2005.
Moore,
Beth, Ketika Orang Percaya Melakukan Hal Yang Berdosa, Light Publishing,
Jakarta, 2009.
Mounce,
William D., Mounce’s Complete Expository Dictionary of Old and New Testament
Words, Zondervan, Grand Rapids, Michigan, 2006.
Murphree,
Jon Tal, A Loving God and A Suffering World, Lembaga Literatur Baptis, Bandung,
2004.
Murray,
John, Penggenapan dan Penerapan Penebusan, Penerbit Momentum, Surabaya, 1999.
Pierce,
Chuck D., Robert Heidler, Mengembalikan Perisai Iman Anda, Immanuel Publishing
House, Jakarta, 2005.
Pink,
Arthur W., The Sovereignty of God, Penerbit Momentum, Surabaya, 2005.
Prince,
Derek, Iman Yang Olehnya Kita Hidup,
Prince,
Derek, Bertobat dan Percaya, Seri 2, Yayasan Pekabaran Injil “Immanuel”,
Jakarta, 1995.
Prince,
Joseph, Grace Revolution, Faith Words, Hachette Book Group, New York, 2015.
Redick
Michael A. Progressive Faith, Mencapai Kedewasaan Rohani Yang Maksimal, Andi
Offset, Yogyakarta, 2010.
Salim, Drs. Peter, M.A., The
Contemporary English-Indonesian Dictionary, Modern English Press,
Salim, Drs. Peter, M.A., Yenny
Salim, B.Sc., Kamus Bahasa
Scataglini,
Sergio, 12 Pelanggaran, Immanuel Publishing House,
Sittser, Gerald L., Kehendak
Allah sebagai Jalan Hidup, Gospel Press, Batam Centre, 2004.
Skolfield,
Ellis H., Iblis Dalam Gereja, Penerbit Kerygma
Sproul,
R.C., Kebenaran-kebenaran Dasar Iman Kristen, Departemen Literatur SAAT,
Sproul,
R.C., Mengapa Percaya, Departemen Literatur SAAT,
Spurgeon,
Charles, Semua Adalah Anugerah, Light Publishing, Jakarta, 2008.
Stanley,
Charles, Jaminan Kekal, Gospel Press,
Stott,
John, Kristus Yang Tiada Tara, Penerbit Momentum, Surabaya, 2007.
Stott, John, Allah, Dosa, Anda,
Metanoia Publishing, Jakarta, 2009.
Strobel, Lee, Pembuktian Atas
Kebenaran Iman Kristen, Gospel Press,
Strong, LLD., S.T.D., James,
The Strongest Strong’s Exhaustive Concordance of The Bible, Zondervan, Grand
Rapids, Michigan, 2001.
Swindoll,
Charles R., Pengharapan Yang Tidak Pernah Pudar,YAKIN,
Swindoll,
Charles R., Kehidupan di Tepi Tebing Yang Rapuh, YAKIN,
Tada,
Joni Eareckson, Steven Estes, Penerbit Interaksara, Batam Centre, 2001.
Torrey,
R.A., Kebenaran Yang Memerdekakan, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 2004.
Tucker,
Ruth A., Batas-batas Iman, Andi Offset,
Wells,
David F., No Place for Truth, Penerbit Momentum, Surabaya, 2004.
Wilkerson,
David, Apakah Anda Sedang Putus Asa, Harvest Publication House,
Wommack,
Andrew, Otoritas Orang Percaya, Light Publishing, Jakarta, 2009.
Wongso,
Dr. Peter, Soteriologi, Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, 1996.
Vine,
W.E., Merrill F. Unger, William White,Jr. VINE’S, Complete Expository
Dictionary of Old and New Testament Words, Thomas Nelson Publishers, Nashville
Camden, New York, 1985.
Yancey,
Philip, Bukan Yesus Yang Saya Kenal, Professional Books, Jakarta, 1997.
Yancey,
Philip, Dimanakah TUHAN di Saat Kita Menderita?, Nafiri Gabriel,
Yancey,
Philip, Keajaiban Kasih Karunia, Interaksara,
Yancey, Philip, Kekecewaan
Terhadap Allah, YAKIN,
Yancey, Philip, Soul Survivor,
Metanoia Publishing, Jakarta, 2004.
Zodhiates Th.D., Spiros, The
Complete Word Study Dictionary New Testament, AMG Publishers, Chattanooga, USA,
1993.
0 comments:
Posting Komentar