Halaman

Kamis, 27 November 2025

💰PERSEPULUHAN 👉 ALKITABIAH TAPI TIDAK INJILI [PARTISI 1 D-F]📕

D. SISTEM MANAJEMEN PERSEPULUHAN DALAM BAIT ALLAH

Bila melihat kembali rekomendasi tentang persembahan persepuluhan, maka Alkitab Perjanjian Lama tidak hanya memberi instruksi kepada bangsa Israel untuk taat melakukannya, tapi juga mengajarkan suatu sistem pengaturan atau manajemen yang efektif dan transparan pada para Imam dan Lewi yang menerimanya supaya terdapat keseimbangan dalam penggunaannya.

Kutipan referensi II Tawarikh 31:2-20 di bawah ini dapat dikatakan sebagai struktur manajemen yang ditetapkan dan diterapkan oleh Hizkia, raja Yehuda :

31:2. Hizkia menetapkan rombongan para imam dan orang-orang Lewi, rombongan demi rombongan, masing-masing menurut tugas jabatannya sebagai imam atau sebagai orang Lewi, untuk mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, untuk mengucap syukur dan menyanyikan puji-pujian dan untuk melayani di pintu-pintu gerbang di tempat perkemahan TUHAN.

31:3. Raja memberi sumbangan dari harta miliknya untuk korban bakaran, yakni: korban bakaran pada waktu pagi dan pada waktu petang, korban bakaran pada hari-hari Sabat dan pada bulan-bulan baru dan pada hari-hari raya, yang semuanya tertulis di dalam Taurat TUHAN.

31:4. Ia memerintahkan rakyat, yakni penduduk Yerusalem, untuk memberikan sumbangan yang menjadi bagian para imam dan orang-orang Lewi, supaya mereka dapat mencurahkan tenaganya untuk melaksanakan Taurat TUHAN.

31:5. Segera setelah perintah ini tersiar, orang Israel membawa dalam jumlah yang besar hasil pertama dari pada gandum, anggur, minyak, madu dan segala macam hasil bumi. Mereka membawa juga persembahan persepuluhan dari segala sesuatu dalam jumlah yang besar.

31:6. Orang Israel dan orang Yehuda yang tinggal di kota-kota Yehuda juga membawa persembahan persepuluhan yang terdiri dari lembu sapi dan kambing domba, dan persembahan persepuluhan yang terdiri dari persembahan kudus yang telah dikuduskan bagi TUHAN Allah mereka. Semuanya itu diletakkan mereka bertimbun-timbun.

31:7. Mereka mulai membuat timbunan itu pada bulan yang ketiga, dan mereka selesai pada bulan yang ketujuh.

31:8. Hizkia dan para pemimpin datang melihat timbunan itu, dan mereka memuji TUHAN dan umat-Nya, orang Israel.

31:9. Hizkia menanyakan para imam dan orang-orang Lewi tentang timbunan itu,

31:10. dan dijawab oleh Azarya, imam kepala keturunan Zadok demikian: "Sejak persembahan khusus mulai dibawa ke rumah TUHAN, kami telah makan sekenyang-kenyangnya, namun sisanya masih banyak. Sebab TUHAN telah memberkati umat-Nya, sehingga tinggal sisa yang banyak ini."

31:11. Kemudian Hizkia menyuruh menyediakan bilik-bilik di rumah TUHAN dan mereka menyediakannya. 

31:12. Dan dengan setia mereka membawa segala persembahan khusus, persembahan persepuluhan dan persembahan-persembahan kudus itu ke sana. Konanya, seorang Lewi, mengawasi semuanya, dan Simei, saudaranya, adalah orang kedua,

31:13. sedang Yehiel, Azazya, Nahat, Asael, Yerimot, Yozabad, Eliel, Yismakhya, Mahat dan Benanya adalah penilik di bawah Konanya dan Simei, saudaranya itu, sesuai dengan petunjuk raja Hizkia dan Azarya, kepala rumah Allah.

31:14. Dan Kore bin Yimna, seorang Lewi, penunggu pintu gerbang di sebelah timur, mengawasi pemberian-pemberian sukarela untuk Allah, serta membagi-bagikan persembahan khusus yang untuk TUHAN dan persembahan-persembahan maha kudus.

31:15. Di kota-kota imam ia dibantu dengan setia oleh Eden, Minyamin, Yesua, Semaya, Amarya dan Sekhanya dalam pembagian itu kepada saudara-saudara mereka menurut rombongan, kepada orang dewasa dan anak-anak,

31:16. kecuali kepada setiap orang yang masuk ke rumah TUHAN, menurut hari-hari yang ditetapkan, menurut tugas jabatan yang ditugaskan kepadanya, dan menurut rombongannya, yakni mereka yang tercatat dalam daftar sebagai laki-laki yang berumur tiga tahun ke atas. 

31:17. Para imam dicatat dalam daftar menurut puak-puak mereka, sedang orang-orang Lewi yang berumur dua puluh tahun ke atas dicatat menurut tugas dan rombongan mereka.

31:18. Para imam terdaftar dengan seluruh keluarga mereka, yakni isteri, anak laki-laki dan perempuan, seluruh kaum itu, karena dengan setia mereka menguduskan diri untuk persembahan kudus.

31:19. Bagi keturunan Harun, yakni imam-imam, yang tinggal di padang-padang penggembalaan sekitar kota-kota mereka, di setiap kota ada orang-orang yang ditunjuk dengan disebut namanya, untuk mengadakan pembagian kepada setiap orang laki-laki dari keluarga imam dan kepada setiap orang Lewi yang terdaftar.

31:20. Demikianlah perbuatan Hizkia di seluruh Yehuda. Ia melakukan apa yang baik, apa yang jujur, dan apa yang benar di hadapan TUHAN, Allahnya.

Setelah mempelajari bagaimana Hizkia dengan disiplin manajemen yang baik, jujur dan benar di hadapan Tuhan, – semoga Anda tidak melewatkan satu ayat pun di atas – maka dapatlah dipastikan bahwa para Imam dan Lewi tidaklah lagi harus berusaha memperoleh penghasilan tambahan untuk menopang atau memenuhi kebutuhan pribadi ataupun keluarga mereka. Mereka memberi seluruh hidup – full life, full heart, full time – untuk pelayanan dalam Tabernakel dan demi kepentingan seluruh bangsa Israel.

Ya… tak dapat dipungkiri, seringkali kita meremehkan sistem manajemen purba yang tidak “up to date” – ketinggalan zaman dan kadaluwarsa; namun pada banyak kasus lapangan kita sering kecolongan, kebablasan dan sering berakhir pada kebangkrutan karena arogansi modernisme. Salomo, sang Pengkhotbah, oleh hikmat Tuhan dengan suatu tujuan mulia mengingatkan kita, “yang sekarang ada dulu sudah ada dan yang akan ada sudah lama ada.”

Mari sejenak kita melirik ke dalam sistem manajemen gereja zaman “iptek” (ilmu pengetahuan dan teknologi) yang serba komputerisasi saat ini. Apakah telah sesuai dengan prinsip manajemen Alkitabiah seperti yang diterapkan Hizkia? Sebaiknya, Anda menjawabnya sesuai dengan pikiran dan hati nurani yang telah diterangi oleh kebenaran Firman Allah; tetapi kalau ada sedikit keraguan, cobalah baca sekali lagi kutipan referensi ayat-ayat tersebut di atas yang sengaja diberi penegasan (cetak miring).

E. PERALIHAN HAK ATAS PERSEPULUHAN

Hingga saat ini gereja tetap mengakui dan mengklaim bahwa persembahan persepuluhan adalah masih tetap “milik Tuhan” dengan berpijak pada Imamat 27:30.

“Demikian juga segala persembahan persepuluhan dari tanah, baik dari hasil benih di tanah maupun dari buah pohon-pohonan, adalah milik TUHAN; itulah persembahan kudus bagi TUHAN.”

Mereka mungkin lupa atau sengaja mengabaikan pernyataan tertulis mengenai peralihan hak atas persepuluhan yang ditetapkan oleh Tuhan sendiri dalam Bilangan 18:21,23b,24a.

“mengenai bani Lewi, sesungguhnya Aku berikan kepada mereka segala persembahan persepuluhan di antara orang israel sebagai milik pusakanya, untuk membalas pekerjaan yang dilakukan mereka, pekerjaan pada kemah pertemuan.

itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya bagimu turun-temurun; sebab persembahan persepuluhan yang dipersembahkan orang Israel kepada TUHAN sebagai persembahan khusus Kuberikan kepada orang Lewi sebagai milik pusakanya.”

Saya akan menguraikan kalimat-kalimatnya (parsing) agar lebih dapat dipahami dengan benar bahwa telah terjadi peralihan hak atas persepuluhan dari TUHAN kepada kaum Lewi dan keturunannya.

Dalam frase, “mengenai bani Lewi, sesungguhnya Aku berikan kepada mereka segala persembahan persepuluhan di antara orang Israel sebagai milik pusakanya”, Anda dapat mengertinya dengan mudah bahwa Tuhan telah merelakan milik-Nya (Imamat 27:30) kepada bani Lewi dan hal itu ditetapkan sebagai suatu aturan atau hukum yang sah yang tercatat dalam Torah Musa. Dalam anak kalimat tersebut haruslah dipahami bahwa TUHAN bukan sekedar memberikan “milik-Nya”, tetapi Tuhan mengatakan bahwa persembahan persepuluhan itu telah menjadi “milik pusaka” bani Lewi untuk selamanya, turun temurun. Aturan tertulis ini harus dipatuhi oleh seluruh Israel.

Frase, “untuk membalas pekerjaan yang dilakukan mereka, pekerjaan pada kemah pertemuan”, merupakan alasan mengapa persembahan persepuluhan itu dialihkan kepada bani Lewi. Tuhan berfirman, “sebab upahmulah itu, untuk membalas pekerjaanmu di Kemah Pertemuan.” (Bilangan 18:31). Frase ini tentunya tidaklah dimaksudkan ditujukan pada Gembala sidang yang melayani dalam gedung gereja.

Dari keterangan kedua frase di atas, jelaslah bahwa persembahan persepuluhan bukan lagi milik Tuhan tetapi telah dialihkan sendiri oleh Tuhan (Ketetapan Hukum Tuhan) menjadi milik pusaka bani lewi untuk selama-lamanya, turun temurun.

Menurut Hukum Taurat, persepuluhan hanya dipungut dari umat Israel (bukan dari jemaat Tuhan dalam gedung/organisasi gereja) oleh anak-anak Lewi yang punya legitimasi hukum Tuhan.

Jadi, bila gereja – gembala sidang jemaat tidak punya legitimasi hukum Tuhan – memungut dan menikmati persembahan persepuluhan dari jemaat maka telah melanggar ketetapan hukum Tuhan.

Sebagai sesama pekerja di ladang Tuhan, sudah seharusnya kita tidak boleh menerobos hak atas upah yang sudah sepantasnya diterima dan menjadi milik orang lain lalu mengakuinya sebagai bagian kita. Saya ingin mengingatkannya kembali, “persembahan persepuluhan adalah haknya bani Lewi dan itu adalah milik pusaka mereka seperti yang telah diatur oleh hukum Taurat” (Ibrani 7:5).

F. PRAKTEK PERPULUHAN DALAM SEJARAH GEREJA

Beberapa sumber menyebutkan bahwa Cyprian pada abad ke-3 mulai memperkenalkan konsep persepuluhan untuk menyokong kehidupan para penginjil, tetapi konsep ini sama sekali tidak populer karena gereja pada waktu itu masih berbentuk gereja rumah. Perubahan besar terjadi ketika kaisar Konstantin bertobat pada abad ke-4 dan segera gelombang kristenisasi melanda seluruh eropa. Hasilnya, gedung-gedung gereja mulai didirikan. Imam-imam diangkat dan ditahbiskan. Akhirnya, lahirlah institusi gereja, yang kemudian menjelaskan asal-muasalnya gaji kependetaan, yaitu diambil dari persembahan-persembahan jemaat, termasuk persepuluhan. Baru pada akhirnya pada tahun 800-an, persembahan persepuluhan menjadi semacam kewajiban yang harus dibayarkan oleh jemaat.

Persepuluhan (Inggris kuno, teogothian) merupakan suatu kebiasaan yang ditarik dari masa Perjanjian Lama dan diadopsi oleh gereja Kristen dimana orang awam menyumbangkan persepuluh dari pendapatan mereka untuk tujuan agama, suatu kewajiban di bawah hukum gerejawi. Uang (atau setara dengan itu berupa hasil pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, dll) digunakan untuk mendukung pendeta, memelihara gereja-gereja, dan membantu orang miskin. Persepuluhan juga merupakan sumber utama subsidi untuk pembangunan katedral megah di Eropa.

Meskipun mendapat perlawanan serius dari kalangan jemaat awam dan juga dari berbagai kelompok masyarakat Kristen, persepuluhan menjadi wajib dalam agama Kristen yang menyebar di seluruh Eropa. Hal itu diperintahkan oleh hukum gereja dari abad keSelama reformasi Protestan abad ke-16, Martin Luther menyetujui pemberlakuan pembayaran perpuluhan secara umum ke pemegang perpuluhan sementara, dan pengenaan perpuluhan lanjutan untuk kepentingan gereja Protestan maupun gereja Katolik Roma. Secara bertahap, mulai muncul perlawanan/oposisi terhadap praktek persepuluhan. Persepuluhan itu dicabut di Perancis selama Revolusi (1789), tanpa kompensasi kepada pemegang perpuluhan. Negara-negara lain menghapuskan beberapa jenis perpuluhan dan ganti rugi pemegang. Tahun 1887 perpuluhan telah diakhiri di Italia. Perpuluhan dihapuskan di Irlandia pada saat goyangnya kekuasaan gereja Anglikan tahun 1871, dan secara bertahap mati di Gereja Skotlandia . Di Inggris tahun 1836, praktek perpuluhan itu diulang lagi untuk biaya sewa gedung tergantung pada harga gandum, dan pada tahun 1936 biaya sewa gedung yang diambil dari perpuluhan dihapuskan. Metode baru sistem perpajakan dikembangkan di negara-negara yang memberi dukungan keuangan pada gereja di luar dana pemerintah. Sisa-sisa dari sistem persepuluhan memang ada, namun, dalam beberapa negara-negara Eropa Protestan. Di Jerman , misalnya, warga harus membayar pajak gereja kecuali mereka secara resmi meninggalkan keanggotaan mereka sebagai anggota jemaat gereja.

Persepuluhan tidak pernah menjadi persyaratan hukum di Amerika Serikat . Anggota2 gereja tertentu, termasuk Orang-orang Suci Zaman Akhir dan Advent Hari Ketujuh, diwajibkan untuk membayar perpuluhan, dan beberapa orang Kristen di gereja-gereja lain melakukannya dengan sukarela. Gereja-gereja Ortodoks Timur tidak pernah menerima ide tentang-6 dan ditegakkan di Eropa oleh hukum sekuler dari abad ke-8. Di Inggris pada abad ke-10, pembayaran perpuluhan wajib dilakukan sesuai keputusan hukum gerejawi oleh Edmund I dan di bawah hukum temporal oleh Edgar. Pada abad ke-14 Paus Gregorius VII, dalam upaya untuk mengontrol pelanggaran, awam/jemaat dinyatakan tidak sah memiliki perpuluhan (yang berhak menerima/ memiliki hak perpuluhan hanyalah Gereja).

Selama reformasi Protestan abad ke-16, Martin Luther menyetujui pemberlakuan pembayaran perpuluhan secara umum ke pemegang perpuluhan sementara, dan pengenaan perpuluhan lanjutan untuk kepentingan gereja Protestan maupun gereja Katolik Roma. Secara bertahap, mulai muncul perlawanan/oposisi terhadap praktek persepuluhan. Persepuluhan itu dicabut di Perancis selama Revolusi (1789), tanpa kompensasi kepada pemegang perpuluhan. Negara-negara lain menghapuskan beberapa jenis perpuluhan dan ganti rugi pemegang. Tahun 1887 perpuluhan telah diakhiri di Italia. Perpuluhan dihapuskan di Irlandia pada saat goyangnya kekuasaan gereja Anglikan tahun 1871, dan secara bertahap mati di Gereja Skotlandia . Di Inggris tahun 1836, praktek perpuluhan itu diulang lagi untuk biaya sewa gedung tergantung pada harga gandum, dan pada tahun 1936 biaya sewa gedung yang diambil dari perpuluhan dihapuskan. Metode baru sistem perpajakan dikembangkan di negara-negara yang memberi dukungan keuangan pada gereja di luar dana pemerintah. Sisa-sisa dari sistem persepuluhan memang ada, namun, dalam beberapa negara-negara Eropa Protestan. Di Jerman , misalnya, warga harus membayar pajak gereja kecuali mereka secara resmi meninggalkan keanggotaan mereka sebagai anggota jemaat gereja.

Persepuluhan tidak pernah menjadi persyaratan hukum di Amerika Serikat . Anggota2 gereja tertentu, termasuk Orang-orang Suci Zaman Akhir dan Advent Hari Ketujuh, diwajibkan untuk membayar perpuluhan, dan beberapa orang Kristen di gereja-gereja lain melakukannya dengan sukarela. Gereja-gereja Ortodoks Timur tidak pernah menerima ide tentang persepuluhan, dan anggota jemaat Ortodoks tidak pernah membayar perpuluhan pada gereja.

Melkisedek, dalam Perjanjian Lama, seorang tokoh penting dalam tradisi alkitabiah karena ia adalah raja dan imam, yang dihubungkan dengan Yerusalem, dan dihormati oleh Abraham, yang membayar persepuluhan kepadanya. Ia muncul sebagai satu pribadi (merupakan cerita sisipan) dalam kisah Abraham (Kejadian 14:18-20) menyelamatkan Lot, keponakannya, dengan mengalahkan koalisi raja-raja Mesopotamia di bawah Kedorlaomer.

Dalam episode, Melkisedek bertemu Abraham kembali dari pertempuran, memberinya roti dan anggur (yang telah ditafsirkan oleh beberapa sarjana Kristen sebagai pelopor dari Ekaristi, sehingga nama Melkisedek memasuki kanon masa Romawi), dan memberkati Abraham dalam nama "Tuhan Maha Tinggi" (dalam bahasa Ibrani El-Elyon). Sebagai imbalannya, Abraham memberinya perpuluhan barang jarahan.

Melkisedek adalah nama orang Kanaan tua yang berarti "saya Raja [dewa] Sedek" atau "Saya Raja Kebenaran" (yang mirip dengan arti dalam bahasa Ibrani secara kognitif). Salem, di mana ia dikatakan raja, sangat mungkin menunjuk pada Yerusalem. Mazmur 76:2 merujuk ke Salem dengan cara yang menyiratkan bahwa itu adalah identik dengan Yerusalem, dan referensi dalam Kejadian 14:17 untuk "King's Valley" menegaskan identifikasi ini. Dewa yang berfungsi sebagai imam Melkisedek adalah "El-Elyon" merupakan nama asal Kanaan, mungkin menunjuk pada dewa tinggi mereka (dikemudian hari, orang Ibrani mengadaptasi nama lain dari orang Kanaan sebagai sebutan bagi Allah).

Bagi Abraham, untuk dapat mengenal otoritas dan keaslian raja-imam orang Kanaan adalah mengejutkan dan tidak memiliki paralel dalam literatur Alkitab. Kisah ini mungkin telah mencapai formulasi akhir pada masa pemerintahan Raja Daud, dengan menjadikan Yerusalem sebagai markas besarnya dan menyiapkan pelayanan keimamatan di sana. Abraham membayar upeti ke-imam raja Yerusalem sebagai bentuk antisipasi waktu dimana keturunan Abraham akan membawa perpuluhan kepada para imam dari Yerusalem yang melayani dalam tempat kudus di kota Daud. Cerita ini juga dapat dihubungkan dengan konflik antara para imam Lewi keturunan dari Abraham dan para imam Zadok dari Yerusalem, yang kemudian berubah kesetiaan mereka kepada Yahweh, Allah Ibrani. Para Zadokites memonopoli keimamatan di Yerusalem sampai mereka diambil secara paksa ke Babel, pada saat itu para imam Lewi menegaskan hegemoni mereka sendiri; episode Melkisedek bisa mengungkapkan kembalinya pengaruh kekuasaan Zadok.

Terdapat masalah tekstual menurut catatan Alkitab. Abraham membayar persepuluhan kepada Melkisedek adalah interpretasi, walaupun salah satu mungkin, dari teks Alkitab yang asli, di mana masalah ini rancu, tampaknya aneh bahwa Abraham memberikan sepersepuluh dari jarahan untuk Melkisedek dan kemudian menolak untuk mengambil semua itu untuk diri sendiri (ayat 22-23). Sekali lagi, beberapa sarjana telah menegaskan bahwa akan luar biasa bagi seorang penulis zaman Daud untuk membangun sebuah narasi dengan protagonis (pemeran utama) orang Kanaan.

Dalam kitab Mazmur 110, menubuatkan tentang Mesias yang akan datang dari garis keturunan Daud; menyinggung raja-imam Melkisedek sebagai prototipe dari mesias tersebut. Kiasan ini memimpin penulis Surat kepada orang Ibrani dalam Perjanjian Baru untuk menerjemahkan nama Melkisedek sebagai "raja kebenaran" dan Salem sebagai "perdamaian," sehingga Melkisedek dijadikan sebagai bayangan Kristus yang dinyatakan sebagai raja kebenaran sejati dan perdamaian (Ibrani 7:2). Sesuai dengan analogi, sama seperti Abraham, nenek moyang bani Lewi, membayar persepuluhan kepada Melkisedek dan karena itu diikuti oleh yang lebih rendah darinya, sehingga Melkisedek seperti halnya keimamatan Kristus adalah lebih tinggi dari keimamatan orang Lewi. Lagi pula, Perjanjian Lama tidak memberikan tanggal lahir dan hari kematian dari Melkisedek, maka keimamatan Kristus pun kekal.

Sebuah laporan yang dirilis tahun lalu mengenai pemberian gereja negara sepanjang 2009 mengungkapkan bahwa persepuluhan umat Protestan mencapai tingkat terendah dalam 41 tahun terakhir. Umat hanya memberikan sekitar 2,38% dari pendapatan mereka ke gereja pada tahun 2009, turun dari 2,43% pada tahun 2008, menurut laporan yang dirilis empty tomb.inc.

Sebuah survei di tahun 2011 juga menemukan bahwa mayoritas pemimpin injili tidak percaya bahwa Alkitab memerintahkan persepuluhan. Survei dari The National Association of Evangelical mengungkapkan bahwa 58% tidak percaya akan persepuluhan sementara hanya 42% yang melakukannya. Meskipun demikian, sebagian besar pemimpin NAE mengatakan mereka memberikan setidaknya 10% dari penghasilan mereka dan menyatakan bahwa orang Kristen harus memberikan dengan murah hati.

Pete Wilson, senior pastor dari Cross Point Church di Nashville, memiliki pandangan yang serupa. "Jika Anda bertanya kepada saya apakah Anda harus memberikan perpuluhan, saya akan menjawab: Mungkin saja tidak. Menurut saya Anda harus memberikan proporsi yang lebih besar dari penghasilan Anda," ungkapnya dalam postingan blognya di bulan Mei. "Kasih karunia Yesus Kristus seharusnya memaksa kita untuk memberikan lebih dari yang diperintahkan oleh hukum Taurat!"

Dengan cara yang sama, Greear percaya bahwa dalam Injil yang menyentuh jiwa, perpuluhan seharusnya tidak menjadi atap dari pemberian mereka, melainkan menjadi dasar. Dan orang Kristen seharusnya menyisihkan "perpuluhan" terlebih dahulu dan bukannya sisa setelah menghitung segala pengeluaran. Bagi Greear, prinsip "buah sulung" juga berarti perpuluhan sebelum pajak.

"Sebagian besar dari kita, bahkan mereka yang memiliki penghasilan berlebih, akan selalu merasa bahwa kita tidak dapat memenuhi tuntutan 10%. Saya tidak pernah dapat mengakhiri bulan dengan menyisakan 10% dari penghasilan saya. Itulah sebabnya saya pikir bahwa prinsip buah sul ung sangat penting untuk gaya hidup di bawah otoritas Tuhan," tulisnya. "Buah sulung harus ditujukan kepada Tuhan, dan 10% adalah sesuatu yang tepat untuk memulai."

Menyadari bahwa argumennya tentang perpuluhan dapat dianggap sebagai "egois" dan "manipulatif", mengingat perannya sebagai pendeta, Greear menghimbau kepada mereka yang memiliki perasaan curiga untuk memberikan perpuluhan di tempat lain.

"Jika hal ini mengganggu Anda, kami tidak memerlukan uang Anda. Berikan ke tempat lain, namun saya ingin Anda mengalami sukacita dari ketaatan dan iman dalam area ini," ungkapnya menegaskan.

Dalam menanggapi pembaca yang berkeyakinan bahwa perintah perpuluhan telah berakhir di kayu salib dan mereka yang lebih lanjut menolak argumen bahwa bagi yang tidak memberikan perpuluhan telah merampok Allah, Greear membuat sebuah pernyataan yang jelas: "Tuhan tidak membutuhkan uang kita atau penyembahan kita atau komitmen kita atau apapun."

"Ibadah gereja sepenuhnya tentang apa yang telah Tuhan berikan kepada kita di dalam Kristus dan bagaimana kita secara bebas menanggapi melebihi penyembahan, pengorbanan dan uang kita," ungkapnya. "Tuhan tidak membutuhkan apapun yang ditawarkan dalam ibadah. Kitalah pihak yang membutuhkan hal itu. Jadi, pemberian kita adalah untuk Tuhan, namun dalam meresponi apa yang telah Tuhan lakukan dalam hidup kita dengan menggunakannya untuk menyebarkan secara lebih lagi dari apa yang telah Tuhan berikan kepada kita."

Pendeta dari The Summit Church ini memberikan lebih dari 10% penghasilannya untuk gereja. Sementara ia dan istrinya telah memulainya dengan 10%, ia mengatakan mereka telah meningkatkan persentase pemberian setiap tahun dan saat ini pemberian mereka "jauh di atas perpuluhan gereja, dan lebih lagi" bagi pelayanan lain.


berrsambung ... PARTISI 1 👉G. LEWI TABERNAKEL vs LEWI GEREJA

0 comments:

Posting Komentar