KEBENARAN ABSOLUT YANG DIREDUPKAN
Tak seorang pun bisa membicarakan kebenaran; jika dia masih belum menguasai dirinya sendiri. Dia tidak bisa membicarakannya; - tetapi bukan karena dia tidak cukup pandai. Kebenaran hanya bisa dikatakan oleh seseorang yang telah berada di dalamnya; bukan oleh seseorang yang masih hidup di dalam kesalahan dan hanya sekali-sekali keluar dari kesalahan kepada kebenaran. - Ludwig Wittgenstein
“Manusia sesuai naturanya berhasrat untuk mengetahui”, kata Aristoteles, filsuf Yunani ketika memulai karya besarnya Metaphysics. Lama setelah itu, T.S. Eliot, sastrawan dan penulis drama mencatat, “Umat manusia tidak bisa menampung banyak realitas.” Ternyata kedua ungkapan tersebut benar. Dari ketegangan dan polaritas yang terlalu manusiawi ini lahirlah paradoks pencarian akan kebenaran sekaligus pelarian dari kebenaran yang terus-menerus terjadi. Kebenaran merupakan hal yang mengecilkan hati dan sukar dipahami; tetapi kebenaran juga merupakan hal terbaik di dalam kehidupan. Namun sayangnya kita selalu bersikap ambivalen terhadap kebenaran. Kita mencari-cari kebenaran …. tetapi kita takut berhadapan dengannya. Sisi baik, diri kita ingin mengejar kebenaran ke mana pun kebenaran itu membawa kita; sisi gelapnya, kita ingin melawan ketika kebenaran mulai membawa kita ke tempat yang tidak sesuai keinginan kita. Biarlah kebenaran itu terkutuk jika kebenaran itu akan mengutuk kita. Kita ingin melayani kebenaran dengan ketulusan hati tetapi pada saat yang sama kita pun ingin dilayani oleh kebenaran itu.
Filsuf dan rasul Perjanjian Baru, Paulus berbicara tentang pengetahuan kita akan kebenaran Allah yang tak terhindarkan dan sekaligus pelarian kita darinya :
Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman.
Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka.
Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. [Roma 1:18-20]
Hal yang mendasari perpecahan yang mendalam di dalam keberadaan kita, peperangan di dalam batin kita ini, bukanlah sekedar pertanyaan-pertanyaan mengenai apa yang kita anggap benar atau salah, tetapi menyangkut pandangan kita tentang natur dari kebenaran. Apakah kebenaran secara tidak terpisahkan berkaitan dengan realitas obyektif, ataukah kebenaran merupakan satu hal yang lebih lentur, bisa berubah-ubah dan beradaptasi dengan keadaan? Apakah kita yang mengkonstruksi kebenaran – baik secara individual maupun sebagai suatu budaya – ataukah kita menerima kebenaran sebagai suatu karunia, betapapun tidak mengenakkannya hal ini? Bisakah bahasa menangkap realita-realita yang ada di luar bahasa ataukah bahasa hanya bisa mengacu kembali kepada dirinya sendiri seperti suatu permainan ular tangga legalitas?
Gaung pertanyaan sang Gubernur Romawi kuno, Pilatus masih bergema dari zaman Yesus; belum dijawab tuntas di zaman kita, “apakah kebenaran itu?”. Kata-kata Pilatus berdering dengan nada sinisme terdengar oleh telinga Yesus hingga ke telinga kita tetapi tidak pernah mendapat jawaban yang memuaskan. Pilatus tidak sendirian. Banyak orang telah mengikuti jalan yang sama, jadi apa yang diajarkan di sekolah adalah kesimpulan sinis yang sama. Tidak ada kebenaran.
Bagi orang Kristen, pandangan itu bukan suatu pilihan. Yesus berkata, “Firman-Mu itulah kebenaran [Yohanes 17:17], dan Ia berkata lagi, “Akulah …. kebenaran [Yohanes 14:6]. Ada kebenaran; tetapi bagaimana sifat kebenaran itu? Yang lebih penting bagaimana kita dapat mengenal dan memahami kebenaran itu?
Anda mungkin pernah mendengar, “Apa yang benar bagimu belum tentu benar juga bagi saya.” Atau Anda ju
ga pernah mendengar versi yang lebih halus, “Saya sungguh-sungguh senang Anda menemukan sesuatu yang bekerja untuk Anda.” Apa untungnya menceritakan tentang Yesus kepada seseorang bila ia tidak menyadari bahwa Anda sedang berkata, “Ini benar bagi setiap orang dimanapun juga, sepanjang waktu, dan ini tidak sama dengan sistem kepercayaan lainnya yang bertentangan.” Jika kita mau memberitahu dunia bahwa kita memiliki kebenaran absolut, sebaiknya kita lebih dulu memiliki ide tentang apakah kebenaran absolut itu.
Sola Scriptura.

0 comments:
Posting Komentar