
Kedaulatan YESUS❗ Apa makna dari ungkapan tersebut? Cukup banyak orang yang mempergunakannya sebagai ungkapan retorika dalam berbagai diskusi teologia. Ungkapan ini telah dikerdilkan maknanya hingga hampir tak memiliki arti lagi dalam kehidupan Kristen. Namun sesungguhnya, ketika kita menggunakan ungkapan istimewa ini mengandung pengertian supremasi YESUS, keberkuasaan YESUS serta keilahian YESUS. Menyebut YESUS berdaulat sama halnya dengan menyebut-Nya sebagai Yang Mahatinggi, yang berbuat menurut kehendak-Nya terhadap bala tentara langit dan penduduk bumi; dan tidak ada seorang pun yang dapat menolak tangan-Nya dengan berkata kepada-Nya, “Apa yang Kau perbuat?” (Daniel 4:35). Menyebut YESUS berdaulat sama halnya dengan mengumumkan baha Ia adalah Yang Mahakuasa yang empunya segala kuasa di sorga dan di bumi, sehingga tak seorang pun dapat menggagalkan keputusan-keputusan-Nya, menghalangi tujuan-tujuan-Nya ataupun menentang kehendak-kehendak-Nya (Mazmur 115:3). Menyebut YESUS berdaulat sama halnya dengan menyebut-Nya sebagai yang “memerintah atas bangsa-bangsa” (Mazmur 22:29) yang menegakkan kerajaan, yang meruntuhkan kerajaan-kerajaan dunia, dan yang menggariskan jalan kehidupan dinasti-dinasti sesuai dengan perkenan-Nya. Menyebut YESUS berdaulat sama halnya dengan menyatakan bahwa Dia adalah “Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja, Tuan di atas segala tuan” (1 Timotius 6:15). Demikianlah YESUS yang berdaulat yang digambarkan di dalam Alkitab.
Betapa berbedanya YESUS yang terdapat di dalam Alkitab dengan YESUS yang diberitakan di dalam kekristenan masa kini. Konsep tentang YESUS yang berlaku umum sekarang ini – bahkan di antara mereka yang mengaku teolog atau yang menyelidik Kitab Suci – merupakan suatu karikatur yang menyedihkan, suatu olok-olokan yang menyakitkan terhadap Kebenaran Alkitabiah. YESUS abad milenia adalah keberadaan yang tak berdaya dan kewanita-wanitaan, yang tidak membangkitkan rasa hormat orang-orang yang berpengertian. YESUS yang ada dalam konsep popular sekarang semata-mata merupakan kreasi dari suatu sentimentalitas cengeng. YESUS yang diberitakan di kebanyakan mimbar sekarang ini merupakan obyek yang lebih membangkitkan rasa kasihan daripada membangkitkan rasa hormat. Dengan mengatakan bahwa YESUS, Bapa telah merencanakan suatu karya keselamatan bagi seluruh umat manusia, bahwa YESUS Anak telah mati untuk menyelamatkan seluruh umat manusia dan bahwa YESUS Roh Kudus sekarang ini sedang bekerja untuk memenangkan dunia bagi Kristus, ketika dalam kenyataannya, yang begitu umum terlihat, banyak manusia binasa dalam dosa, dan sedang menuju pada kekekalan yang tak berpengharapan, adalah sama halnya dengan mengatakan bahwa YESUS Bapa itu tidak dapat diandalkan, bahwa YESUS Anak itu mengecewakan dan bahwa YESUS Roh Kudus itu memang pecundang. Kita telah mengungkapkan masalah ini secara gambling, namun kita tidak bisa melarikan diri dari kesimpulannya. Argumen yang menyatakan bahwa YESUS telah “mengupayakan yang terbaik” untuk dapat menyelamatkan seluruh umat manusia, namun sebagian besar umat manusia tidak mengizinkan-Nya menyelamatkan mereka, akan sama halnya dengan menyatakan secara tidak langsung bahwa kehendak Sang Pencipta tidak ada artinya atau tidak memiliki kuasa dan bahwa kehendak ciptaan-Nyalah yang lebih berkuasa. Menimpkan kesalahan pada Iblis, sebagaimana dilakukan banyak orang, sama sekali tidak menyelesaikan persoalan, sebab bila Iblis diyakini dapat menggagalkan rencana YESUS, maka berarti Iblislah Sang Perkasa itu dan YESUS bukan lagi Yang Mahakuasa.
Mengatakan bahwa rencana semula Sang Pencipta telah dikacaukan oleh dosa sama artinya dengan menurunkan YESUS dari takhta. Menyatakan bahwa YESUS terperanjat dengan peristiwa di Taman Eden itu dan bahwa sekarang sedang berupaya mengatasi suatu bencana tak terduga berarti menurunkan Yang Mahatinggi ke derajat yang sama dengan manusia fana yang terbatas. Argumen yang menyatakan bahwa manusia merupakan penentu nasibnya sendiri dan, dengan demikian, memiliki kuasa untuk mengalahkan Penciptanya, sama artinya dengan menanggalkan atribut Kemahakuasaan YESUS. Dengan mengatakan bahwa ciptaan telah berhasil melanggar batas-batas yang telah ditetapkan oleh sang pencipta, dan bahwa YESUS sekarang ini hanyalah penuntun yang tanpa daya melihat dosa dan berbagai penderitaan yang diakibatkan oleh kejatuhan Adam kedalam dosa, itu sama artinya dengan mengingkari pernyataan Kitab Suci ysng berbunyi, “Sesungguhnya panas hati manusia akan menjadi syukur bagi-Mu, dan sisa panas hati itu akan kuperikatpinggangkan” (Mzm. 76:11). Kesimpulan, menyangkal kedaulatan YESUS itu sama artinya dengan melewati sebuah jalan setapak yang bila diikuti akn menghantar kita pada atheisme.
Kedaulatan YESUS menurut Kitab Suci itu bersifat mutlak, memiliki daya tarik, dan tak terbatas. Ketika menyatakan bahwa YESUS berdaulat, sebenarnya kita sedang menegaskan hak-Nya untuk memerintah alam semesta, yang telah Dia ciptakan bagi kemulian Nya serta menurut kerelaan kehendak-Nya. Kita menegaskan bahwa Dia memiliki hak layaknya hak seorang tukang periuk atas tanah liatnya, yakni Dia berhak membentuk tanah liatnya menjadi bentuk apa pun seturut kehendak-Nya, membuat dari gumpalan yang sama satu bejana untuk tujuan yang mulia dan satu bejana lain untuk tujuan yang biasa. Kita menegaskan bahwa Dia tidak dibatasi oleh otoritas hukum atau peraturan apapun kecuali oleh keberadaan serta kehendak-Nya sendiri, bahwa YESUS adalah hukum bagi diri-Nya sendiri, dan bahwa Dia tidak memilki kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban dalam bentuk apapun, kepada siapapun.
Kedaulatan mencirikan seluruh keberadaan YESUS. Dia berdaulat dalam seluruh atribut-Nya. Dia berdaulat dalam menjalankan kuasa-Nya. Kuasa-Nya dinyatakan seturut kehendak-Nya dimanapun dan kapanpun Dia berkehendak. Amin.
✋Salam Hyper Grace dalam Bapa Yesus.🖐
0 comments:
Posting Komentar